Pada (bait) ke-106, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Dipun sami ambanting ing badanira,
nyudha dhahar lan guling.
Darapon sudaa,
nepsu kang ngambra-ambra.
Rerema ing tyasireki,
dadya sabarang,
karyanira lestari.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Diharapkan semua melatih keras badannya,
dengan mengurangi makan dan tidur.
Supaya berkuranglah,
nafsu yang menggelora,
Tenangkan dalam hatimu,
jadikan semua,
pekerjaanmu langgeng.
Kajian per kata:
Dipun (diharapkan) sami (semua) ambanting (membanting, melatih dengan keras) ing badanira (badannya, tubuhnya), nyudha (mengurangi) dhahar (makan) lan (dan) guling (tidur). Diharapkan semua melatih keras badannya, dengan mengurangi makan dan tidur.
Ambanting ing badanira, artinya menekan kebutuhan tubuh fisik sampai batas minimum. Ini adalah metode kuno dalam menekan hawa nafsu. Caranya adalah mengurangi makan dan tidur. Dua kegiatan yang identik dengan sikap serakah dan malas. Mengapa dua kegiatan manusia ini dipilih sebagai pola pembinaan diri?
Makan adalah dorongan naluriah manusia untuk mencari kenikmatan. Setelah makan manusia akan merasa puas karena keinginannya terpenuhi. Namun di satu pihak ada manusia yang tak pernah puas dalam hal ini. Selalu ingin makan yang enak-enak, kalau tak enak dikit tak mau makan, padahal tetap harus makan juga, akhirnya tetap merogok kocek dalam-dalam demi memenuhi keinginannya tersebut. Padahal makan sekadarnya pun manusia bisa hidup lebih sehat. Jika makan melebihi kebutuhan dalam jumlah dan kadar gizi justru akan mendatangkan penyakit, ini perlu dikendalikan.
Sebaliknya tidur adalah kegiatan yang diperlukan bagi manusia untuk mengistirahatkan badan, agar badan kembali bugar dan dapat bekerja lagi. Namun jika kelebihan tidur mereka akan mengambil waktu yang seharusnya dipakai untuk berkarya, ini pertanda sikap malas. Maka tidur pun harus dikontrol juga. Jika kita bisa mengatur dua kegiatan pokok manusia tersebut niscaya hidup kita akan maksimal.
Darapon (supaya) sudawa (berkuranglah), nepsu (nafsu) kang (yang) ngambra–ambra (menggelora). Supaya berkuranglah, nafsu yang menggelora.
Metode mengurangi makan dan tidur sudah dipraktekkan nenek moyang sejak dahulu. Tujuannya agar hawa nafsu serakah dapat dokontrol melalui pola makan minimal, sedangkan mencegah tidur ditujukan untuk menghilangkan sifat malas. Jika kedua kecenderungan manusia itu, yakni serakat dan malas hilang maka hidup akan lebih produktif.
Rerema (tenangkan) ing (dalam) tyasireki (hatimu), dadya (jadikan) sabarang (semua), karyanira (pekerjaanmu) lestari (langgeng). Tenangkan dalam hatimu, jadikan semua pekerjaanmu langgeng.
Mengurangi makan tidur juga membuat hati lebih tenang, hidup lebih teratur, tidak melulu menuruti keinginan, sehingga setiap program atau target dapat terwujud. Ini membuat semua pekerjaan menjadi lestari, langgeng dalam kebaikan.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-106-samya-ambanting-raga/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar