Translate

Senin, 13 Januari 2025

Kajian Wulangreh (94-96): Kepenake Wong Ngindung

 Pada (bait) ke-94-96, Pupuh ke-6, Megatruh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Mung yen ana tongtonan metu ing lurung,
kemul bebede sasisih,
sarwi mbanda tanganipun.
Glindhang-glindhung tanpa keris,
andhodhok pinggiring bango.

Suprandene jroning tyas anglir tumenggung,
mengku bawat Senen Kemis.
Mankono ambekireku,
nora kaya wong ngabdi,
wruh plataraning Sang Katong.

Lan keringan sarta ana aranipun,
lan ana lungguhe ugi,
ing salungguh-lungguhipun.
Nanging ta dipunpakeling,
mulane pinardi kang wong.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Hanya kalau ada tontonan ke luar ke gang,
berselimut kain bebed satu sisi,
sambil mengikat tangan.
Kelihatan polos tanpa memakai keris,
duduk-duduk di pinggir warung.

Walau demikian dalam hati seolah seorang tumenggung,
menguasai payung (kebesaran) Senin-Kamis.
Demikian itu kelakuannya,
tidak seperti orang mengabdi,
yang melihat halamannya sang Raja.

Dan dihargai serta ada gelarnya,
dan ada kedudukan juga,
dalam seberapapun kedudukannya.
Tetapi harap diperhatikan,
oleh karena harus dipelajari dengan sungguh-sungguh.

Kajian per kata:

Mung (hanya) yen (kalau) ana (ada) tongtonan (tontonan) metu (keluar) ing (ke) lurung (gang), kemul (berselimut) bebede (bebed, kain bawahan) sasisih (satu sisi), sarwi (sambil) mbanda (mengikat) tanganipun (tangannya). Hanya kalau ada tontonan ke luar ke gang, berselimut kain bebed satu sisi, sambil mengikat tangan.

Sama-sama bekerja pada kerajaan orang ngindung lebih bebas daripada orang suwita, jika ada tontonan bisa keluar ke gang, beerselimut kain bebed satu sisi (menandakan gaya pakaian yang santai) dan mbanda tangan, santai berkeliling.

Bebed adalah kain bawahan yang sebenarnya ada aturan pakainya tersendiri. Bagi orang ngindung bisa dipakai suka-suka dia gayanya. Bagi orang suwita cara berpakaian tidak boleh sembarangan, dan juga segala tingkah lakunya. Karena orang suwita adalah calon pejabat, calon priyayi yang harus menjaga diri dalam adab dan sopan santun yang tinggi.

Mbanda tangan adalah sikap tubuh berdiri dengan kedua tangan mengait di punggung seperti orang yang diikat tangannya, dibanda. Sikap ini menunjukkan gestur tubuh arogan, dan biasa ditunjukkan oleh atasan yang sedang meninjau bawahan.

Glindhang-glindhung (klonthang-klanthung, kelihatan lugu, polos) tanpa (tanpa) keris (memakai keris), andhodhok (duduk-duduk) pinggiring (di pinggir) bango (warung). Kelihatan polos tanpa memakai keris, duduk-duduk di pinggir warung.

Dengan gaya pakaian seenaknya orang ngindung kelihatan polos, tanpa memakai keris. Walau bentuknya senjata keris sering disebut sebagai ageman, artinya kelengkapan pakaian. Senjata keris menunjukkan prestise sebagai pejabat istana yang disegani. Duduk di pinggir warung juga merupakan perilaku yang tidak boleh dilakukan seorang pejabat atau calon pejabat, bagi orang ngindung itu tak masalah.

Suprandene (walau demikian) jroning (dalam) tyas (hati) anglir (seolah) tumenggung (seorang tumenggung), mengku (menguasai) bawat (payung) Senen Kemis (senin-kamis). Walau demikian dalam hati seolah seorang tumenggung, menguasai payung (kebesaran) Senin-Kamis.

Perilaku yang bebas dari orang ngindung tadi seolah sudah seperti kelakuan pejabat tinggi. Seperti sudah seperti orang sukses, layaknya orang berpangkat tumenggung saja, yang menguasai payung senin-kamis. Hari senin dan kamis adalah hari pisowanan atau seba, pada hari itu Raja berkenan untuk keluar menemui pejabat untuk memberi perintah dan menerima laporan. Para pejabat datang dengan gaya masing-masing, berpayung kebesaran, menunjukkan keberhasilan mereka.

Mankono (demikian) ambekireku (kelakuannya itu), nora (tidak) kaya (seperti) wong (orang) ngabdi (mengabdi), wruh (melihat) plataraning (halamannya) Sang Katong (Sang Raja). Demikian itu kelakuannya, tidak seperti orang mengabdi, yang melihat halamannya sang Raja.

Demikian itulah kelakuan orang ngindung yang bisa bebas, tanpa banyak aturan dan bisa santai. Tidak seperti orang yang mengabdi kepada Raja tiap hari hanya melihat halaman kraton saja. Juga tidak bisa bebas keluyuran karena setiap saat perintah bisa datang dari majikan, pejabat yang membawahinya. Segala tingkah laku juga harus dikontrol karena sebagai calon pejabat harus menjaga keluhuran dan martabat Raja. Namun walau sulit orang mengabdi punya kelebihan yang tidak dipunyai orang ngindung, seperti berikut ini.

Lan (dan) keringan (dihargai) sarta (serta) ana (ada) aranipun (gelarnya), lan (dan) ana (ada) lungguhe (kedudukan) ugi (juga), ing (dalam) salungguh-lungguhipun (seberapapun kedudukannya). Dan dihargai serta ada gelarnya, dan ada kedudukan juga, dalam seberapapun kedudukannya.

Dihargai dimanapun, walau bagaimanapun, serendah apapun jabatan di kraton, walau baru tahap suwita seseorang sudah mendapat penghargaan yang tinggi di masyarakat. Apalagi kalau sudah lulus dan menjabat, akan banyak gelar tersemat, juga mempunyai kedudukan dan tanah yang luas sebagai bengkok (tanah garapan, apanage). Seberapapun luas tanahnya, sesuai dengan jenjang jabatan yang diraih, itu masih lebih baik dari orang ngindung yang takkan punya apa-apa.

Nanging (tetapi) ta dipun (harap) pakeling (diingat, diperhatikan), mulane (oleh karena) pinardi (dipelajari) kang (oleh) wong (orang). Tetapi harap diperhatikan, oleh karena harus dipelajari dengan sungguh-sungguh.

Namun harap diingat semua itu sangat sulit dan dituntut tekad yang kuat, hati yang mantap. Sebelum diputuskan hendak mengabdi kepada Raja segala hal yang berkaitan harap dipelajari terlebih dahulu.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/07/kajian-wulangreh-94-96-kepenake-wong-ngindung/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...