Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (122): Aja Ngakehaken Supaos

 Pada (bait) ke-122, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Lan maninge wong ngaurip,
aja ngakehken supaos,
iku gawe reged badanipun.
Nanging masa mangkin,
tan ana itungan prakara,
supata ginawe dinan.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Dan ada lagi bagi orang hidup,
jangan banyak-banyak menyumpah,
itu mengotor diri sendiri.
Tetapi zaman sekarang,
tak ada sebab perkara pun,
menyumpah dilakukan tiap hari.


Kajian per kata:

Ada satu lagi bahaya lidah yang sangat tidak baik dilakukan, yakni supata (supaos). Supata dalah menyumpah dengan laknat atau kutukan. Misalnya, jika engkau tak menurut kata-kataku semoga engkau celaka tujuh turunan. Biasanya dilakukan oleh orang tua atau orang berkedudukan kepada anak atau bawahan yang tidak menurut. Supata semacam ancaman dengan maksud agar orang yang dimaksud menurut kehendaknya. Harap diingat, yang demikian itu pun tidak baik dilakukan.

Sebelum kita masuk dalam kajian bait ini ada baiknya kita melacak asal-usul dari perilaku tak baik ini agar mendapat gambaran yang lebih jelas. Pada zaman dahulu seringkali didapat seseorang yang meninggalkan kehidupan dunia untuk bertapa dan mengasingkan diri, biasanya dilakukan oleh seorang guru atau resi. Mereka melatih diri sehingga mempunyai kemampuan lebih. Salah satu kemampuan itu adalah apa yang dikatakannya seketika akan terkabul. Ada kalanya sang resi ini bertemu dengan orang kurang ajar yang tidak mempan oleh nasihat, maka hilang kesabaran sang resi dan keluarlah perkataannya, “Engku tak mempan nasihat seperti monyet!” Seketika si orang nakal tadi menjadi monyet. Perkataan sang resi tadi dalam bahsa jawa disebut sot. Jadi kata disotake artinya dikutuk.

Sekedar info tambahan di kompleks pemakaman Sunan Tembayat ada satu makam yang agak terpisah dari yang lain. Konon itu adalah makam dari Syeh Domba. Dalam cerita rakyat yang beredar konon Syeh Domba ini adalah muazin di masjid pesantren Sunan Tembayat. Mengapa dinamakan Syeh Domba? Konon orang ini pernah kurang ajar hendak membegal Nyai Sunan Tembayat pada waktu sedang melakukan perjalanan dari Semarang. Karena Sunan Tembayat jalan duluan dan tak mungkin menghalangi (karena posisinya jauh tapi terlihat), maka sang Sunan berkata, “Orang itu kurang ajar seperi Wedhus!” Seketika kepala orang itu berubah menjadi kepala kambing. Dia kemudian bertobat dan menjadi murid Sunan Tembayat. Inilah salah satu contoh dari sot. Mengenai kebenaran cerita itu kami serahkan kepada pembaca untuk menilai. Yang jelas cerita itu berkembang dalam masyarakat sebagai inspirasi dari supata yang akan kita bahas dalam kajian ini.

Lan (dan) maninge (ada lagi) wong (orang) ngaurip (hidup), aja (jangan) ngakehken (banyak-banyak) supaos (menyumpah), iku (itu) gawe (membuat) reged (kotor) badanipun (diri sendiri).  Dan ada lagi bagi orang hidup, jangan banyak-banyak menyumpah, itu mengotori diri sendiri.

Supaos atau supata dalam arti mendoakan kejelekan bagi orang lain, janganlah sering dilakukan. Apakah dengan demikian supata kadang dibolehkan? Untuk kasus-kasus tertentu yang sangat keterlaluan memang dapat kita maklumi jika seseorang melakukan supata, namun tetap harus diingat yang lebih baik adalah tidak melakukannya. Mendoakan keburukan bagi orang lain tidak ada manfaatnya sama sekali bagi diri sendiri. Hanya memuaskan ego saja, hanya bersifat balas dendam. Orang yang kita benci akan celaka dan kita senang jika itu terjadi, bukankah itu tanda lemahnya jiwa?

Akan lebih baik jika doanya kita ganti dengan doa kebaikan untuk diri sendiri. Misalnya jika seseorang sedang berdagang, tiba-tiba ditipu oleh seorang pembeli. Padahal dia sangat mengharapkan keuntungan dari berdagang itu untuk biaya hidup sehari-hari yang sudah sangat sulit. Eee, lha kok malah ditipu sampai hilanglah keuntungan dan modalnya. Dia menjadi sangat sedih dan secara tak sadar ngomong, “Semoga hidupmu esok melarat!”

Kita maklum dengan ini, namun manakah yang lebih elok jika dia mengganti perkataannya tadi dengan doa yang tulus kepada Tuhan, “Ya Allah, seorang hambamu menipuku hingga aku bangkrut. Aku menerima dan bersabar atas hal ini. Namun untuk kehidupanku sehari-hari, gantilah dengan yang lebih banyak!”

Manakah dari kedua do’a tersebut yang lebih baik? Doa orang teraniaya itu makbul, maka pergunakanlah untuk berdoa yang mengarah pada kebaikan. Jangan memperbanyak supata dalam hidup. Itu pertanda lemahnya jiwa dan kurangnya sikap pasrah atas kehendak Allah. Inilah yang dimaksud dalam bait ini sebagai: supata mengotori diri.

Nanging (tetapi) masa (zaman) mangkin (sekarang), tan (tan) ana (ada) itungan (sebab) prakara (perkara), supata (menyumpah) ginawe (dilakukan) dinan (tiap hari). Tetapi zaman sekarang, tak ada sebab perkara pun, menyumpah dilakukan tiap hari.

Tapi di zaman sekarang, tak ada sebab perkara apapun supata dilakukan. Sedikit-sedikit supata keluar dari mulutnya. Lha bagaimana ini? Wong yang ada sebabnya yang pantas dan dimaklumi saja sebaiknya supata tidak dilakukan. Kok di zaman ini orang gampang sekali melakukan supata. Ini sangat tidak baik.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-122-aja-ngakehaken-supaos/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...