Pada (bait) ke-156;157, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Nggone mengku jembar amot tur rahayu,
den kaya sagara.
Tyase ngemot ala becik,
mapan ana pepancene sowang-sowang.
Jer sadulur tuwa kang wajib pitutur,
marang kadang taruna.
Wong anom wajibe wedi,
sarta manut wulange sadulur tuwa.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Cara mengasuhnya harus luas hati mampu memuat dan membawa keselamatan, seperti luasnya samudera.
Hatinya mampu menampung sikap buruk dan baik,
karena memang ada takdirnya masing-masing.
Memang saudara tua yang wajib memberi nasihat,
kepada saudara muda.
Orang muda wajib takut,
serta menurut petuah saudara tua.
Kajian per kata:
Nggone (cara) mengku (mengasuh) jembar (luas hati) amot (memuat) tur rahayu (baik, selamat), den kaya (seperti luasnya) sagara (samudera). Cara mengasuhnya harus luas hati mampu memuat dan membawa keselamatan, seperti luasnya samudera.
Cara mengasuhnya harus dengan luas hati, jembar atine. Artinya mampu menampug segala keluh, kesah, komplain, protes, gugat, dll. Jangan karena kekurangajaran anak muda yang tak tahu budi kemudian merasa disepelekan lantas marah-marah. Ini malah tidak baik. Mungkin ada yang bilang wajar kalau orang tua marah karena yang muda memang kurang ajar, tetapi sudah tua kok marah berlebihan adalah tanda belum beningnya hati. Oleh karena itu hendaknya berbesar hati. Layaknya samudera itu, meski padanya ditimpakan segala kotor dan limbah, takkan pernah protes. Bahkan segala kotor didaur ulang dalam proses korosi.
Tyase (hatinya) ngemot (mampu menampung) ala (buruk) becik (dan baik), mapan (memang) ana (ada) pepancene (takdirnya) sowang–sowang (masing-masing). Hatinya mampu menampung sikap buruk dan baik, karena memang ada takdirnya masing-masing.
Hatinya harus mampu menampung sikap buruk dan baik yang ditimpakan padanya. Lebih-lebih yang yunior kadang kurang dalam hak sopan santun dan unggah-ungguh. Dan pula setiap orang punya watak masing-masing yang berlainan. Siapa lagi yang akan ngemong kalau bukan yang tua-tua. Baik buruk di sini dalam arti tatakrama, sopan atau tidak, bukan dalam arti kejahatan. Kalau yang terakhir mestilah berurusan dengan yang berwajib.
Jer (memang) sadulur (saudara) tuwa (tua) kang (yang) wajib (wajib) pitutur (memberi nasihat), marang (kepada) kadang (saudara) taruna (muda). Memang saudara tua yang wajib memberi nasihat, kepada saudara muda.
Memang sebagai saudara tua punya kewajiban untuk tutur, memberi nasihat kepada yang muda. Adakalanya nasihatnya diterima dengan baik ada kalanya tidak. Ada kalanya justru disanggah dengan tidak sopan, namun tetap tak menggugurkan kewajiban tutur tersebut.
Wong (orang) anom (muda) wajibe (wajib) wedi (takut), sarta (serta) manut (menurut) wulange (petuah) sadulur (saudara) tuwa (tua). Orang muda wajib takut, serta menurut petuah saudara tua.
Sebaliknya orang muda wajibnya takut dan menurut, sedan dan hormat, kepada setiap petuah saudara tua. Jika tidak pastilah masuk dalam golongan orang durhaka. Ini adalah pengabdian anak muda juga. Semestinya hal seperti ini diketahui. Bahwa ada beberapa nasihat dari tetua yang tidak berkenan, mestinya dapat dipatahkan dengan argumen yang benar dan sikap yang sopan. Jika apa yang dikatakan tetua sudah benar maka wajib bagi anak muda untuk mengikuti.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-156157-jembar-amot-rahayu/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar