Pada (bait) ke-124-126, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Lawan padha den pakeling,
teguhna lahir batos.
Aja ngalap randhaning sedulur,
sanak miwah abdi,
rowang ing sapangandhap,
miwah maring pasanakan.
Gawe salah graitaning,
ing liyan kang sami anon.
Nadyan lilaa lanangipun,
kang angrungu elik.
Ing batin tan pitaya,
masa kuranga wanodya.
Tan wurung dipun cireni,
ing batin ingaran rusoh,
akeh jaga-jaga jroning kalbu.
Arang ngandel batin,
ing tyase padhasuda,
pangandele mring bendara.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dan semua harap mengingat,
kuatkan lahir batinnya.
Jangan mengambil janda dari saudara,
kerabat serta bawahan,
teman dan seterusnya,
serta dari persaudaraan.
Membuat salah anggapan,
orang lain yang melihat.
Walau mantan suaminya rela,
yang mendengar merasa itu tak pantas.
Dalam hati tak percaya (bertanya-tanya),
masa iya sih kurang wanita?
Tak urung diciri sebagai watak kurang baik,
dalam hati mereka menganggap saru (tak pantas),
sehingga berjaga-jaga dalam hati.
Jarang yang percaya,
dalam hatinya berkuranglah,
kepercayaannya kepada majikan.
Kajian per kata:
Lawan (dan) padha (semua) den (harap) pakeling (mengingat), teguhna (kuatkan) lahir (lahir) batos (batin). Dan semua harap mengingat, kuatkan lahir batinnya.
Dan ingatlah semuanya, kuatkan lahir dan batin. Arti kuat adalah tahan terhadap godaan, baik lahir atau batin. Kukuh dalam melaksanakan keutamaan, yang memang besar godaannya.
Aja (jangan) ngalap (mengambil) randhaning (jandanya) sedulur (saudara), sanak (kerabat) miwah (serta) abdi (bawahan), rowang (teman) ing (dan) sapangandhap (seterusnya), miwah (serta) maring (dari) pasanakan (persaudaraan). Jangan mengambil janda dari saudara, kerabat serta bawahan, teman dan seterusnya, serta dari persaudaraan.
Jangan mengambil janda saudaramu, kerabat, serta bawahan, teman dan orang-orang dekat seterusnya. Walau hal itu adalah boleh menurut aturan agama, tetapi sebaiknya jangan dilakukan. Kalau mencari istri carilah wanita lain, selain daripada itu.
Apakah anjuran ini bertentangan dengan ajaran agama? Tentu saja tidak karena sifatnya hanya kebolehan, artinya hukumnya mubah saja, bukan merupakan kewajiban. Dalam hal yang mubah hukum bisa berubah menjadi makruh atau wajib tergantung kepada situasi dan kondisi. Dalam bait ini ada anjuran untuk tidak melakukan, artinya dihukumi makruh kalau menurut hukum Islam. Mengapa? Tentu ada alasannya, sebagai berikut ini.
Gawe (membuat) salah (salah) graitaning (anggapan), ing (pada) liyan (orang lain) kang (yang) sami anon (melihat). Membuat salah anggapan, orang lain yang melihat.
Karena bisa membuat salah anggpan orang lain yang melihat. Bisa menimbulkan kecurigaan atau salah duga. Misalnya diduga jangan-jangan sudah lama mengincar istri saudara, dll. Nah daripada timbul hal-hal seperti ini lebih baik tidak dilakukan.
Nadyan (walau) lilaa (rela) lanangipun (mantan suaminya), kang (yang) angrungu (mendengar) elik (merasa tak pantas). Walau mantan suaminya rela, yang mendengar merasa itu tak pantas.
Walau mantan suami membolehkan, yang mendengar merasa itu tak pantas. Elik adalah lawan dari elok. Elik artinya agak-agak jelek, tidak pantas, kurang seyogya. Bisa menimbulkan kikuk, canggung atau kurang enak. Masak mau menikahi janda adik atau teman sendiri, nanti kan masih sering ketemu. Tentu timbul perasaan tidak enak yang akan mengganggu hubungan keluarga.
Ing (dalam) batin (hati) tan (tak) pitaya (percaya), masa (masa iya) kuranga (kurang) wanodya (wanita). Dalam hati tak percaya (bertanya-tanya), masa iya sih kurang wanita?
Dalam hati akan ada banyak orang yang tak percaya, kok sama itu sih? Masa iya dunia ini sudah kurang wanita? Jadi bagi yang melihat atau mendengar pun akan terasa gimana gituh.
Tan (tak) wurung (urung) dipun (di) cireni (diciri, diingat hal buruknya), ing (dalam) batin (hati) ingaran (mereka menganggap) rusoh (rusuh, tabu, saru), akeh (banyak) jaga-jaga (berjaga-jaga) jroning (dalam) kalbu (hati). Tak urung diciri sebagai watak kurang baik, dalam hati mereka menganggap saru (tak pantas), sehingga berjaga-jaga dalam hati.
Tak urung akan diciri banyak orang. Dalam hati dikira rusuh atau ada apa-apa yang tidak baik. Banyak yang kemudian berjaga-jaga dalam hatinya terhadap orang seperti itu.
Arang (jarang) ngandel (percaya) batin (batin), ing (dalam) tyase (hatinya) padhasuda (berkurang), pangandele (kepercayaannya) mring (kepada) bendara (majikan). Jarang yang percaya dalam hatinya, berkuranglah kepercayaannya kepada majikan.
Banyak yang kemudian tidak percaya dalam hatinya. Jika dilakukan oleh atasan atau majikan dalam hati berkuranglah kepercayaannya kepada atasannya itu. Jadi sudah dicap kurang baik orang yang melakukan itu.
Di sini kita dikenalkan dengan praktik kehidupan yang disebut sayogya (seyogya). Apa itu? Adalah dalam melakukan sesuatu pilihlah yang lebih utama dari segi kepantasan, meski ada banyak pilihan dalam kehidupan yang sama-sama boleh dilakukan. Menikahi janda saudara, teman atau kerabat dekat itu dibolehkan tetapi sayogyane (seyogyanya) tidak dilakukan karena mengingat akibat yang bisa ditimbulkannya.
Apa bedanya sayogya dengan prayoga? Beda tipislah. Prayoga mencari yang lebih baik, sayogya mencari yang lebih pantas.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-124-126-aja-ngalap-randaning-sedulur/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar