Translate

Senin, 13 Januari 2025

Kajian Wulangreh (79:81): Alane Wong Ngepluk Sungkanan

 Pada (bait) ke-79-81, Pupuh ke-5 Maskumambang, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Luwih ala-alane ing wong ngaurip,
wong ngepluk sungkanan,
tan patut ngawuleng aji,
angengera sapa-sapa.

Angengera ing bapa biyung pribadi,
yen ngepluk sungkanan,
nora wurung den srengeni,
binalang miwah pinala.

Apa kaya mangkono ngawuleng aji,
yen ngepluk sungkanan,
tan wurung manggih bilahi,
ing wuri aja ngresula.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Lebih buruk-buruknya bagi orang berkehidupan,
adalah orang yang bangun siang dan serba enggan.
Tak patut mengabdi kepada Raja,
ataupun mengikuti siapa saja.

Ikut pada ayah ibu sendiri pun,
kalau bangun siang dan serba enggan,
tak urung dimarahi,
dilempar serta dihajar.

Apa akan seperti itu mengabdi pada raja?
Kalau bangun siang dan serba enggan,
tak urung bertemu celaka,
kelak di kemudian hari jangan menyesal.

Kajian per kata:

Luwih (lebih) ala-alane (buruk-buruknya) ing (bagi) wong (orang) ngaurip (berkehidupan), wong (orang) ngepluk (bangun siang) sungkanan (dan serba enggan). Lebih buruk-buruknya bagi orang berkehidupan, adalah orang yang bangun siang dan serba enggan.

Seburuk buruk orang hidup adalah yang malas dan serba enggan. Ngepluk sering dikaitkan dengan bangun siang atau malas bangun. Inginnya selalu tidur, enggan untuk bekerja. Jika seseorang sudah malas bangun bagi itu pertanda sepanjang hari pun akan malas untuk melakukan apa saja.

Tan (tak) patut (patut) ngawuleng (mengabdi) aji (Raja), angengera (mengikuti) sapa-sapa (siapa-siapa, siapa saja). Tak patut mengabdi kepada Raja, ataupun mengikuti siapa saja.

Orang seperti itu tak patut untuk mengabdi pada Raja, menjadi pembesar kerajaan kelak. Ikut siapapun juga tidak patut jika kelakuannya demikian itu. Ngenger adalah ikut numpang makan dan tidur. Kata ini sifatnya umum termasuk kepada orang tua sendiri.

Angengera (ikut) ing (pada) bapa (ayah) biyung (ibu) pribadi (sendiri), yen (kalau) ngepluk (bangun siang) sungkanan (serba enggan), nora (tak) wurung (urung) den (di) srengeni (marahi), binalang (dilempar) miwah (serta) pinala (dihajar). Ikut pada ayah ibu sendiri pun, kalau bangun siang dan serba enggan, tak urung dimarahi, dilempar serta dihajar.

Ngenger kepada ayah dan ibu pun kalau malas dan serba enggan dalam pekerjaan tak urung akan kena marah. Membuat jengkel kedua orang tua. Salah-salah bisa kena lempar batu atau dihajar. Pinala dari kata pala, artiya dihajar secara fisik. Ini sering dilakukan orang tua kepada anak-anak mereka yang bandel. Dari dijewer sampai dicambuk kakinya, dengan maksud membuat jera. Kalau zaman sekarang mungkin yang demikian ini masuk tindakan tak pantas. Mungkin itu pula banyak anak-anak sekarang nakal-nakal, karena tak ada yang membuat jera.

Apa (apa) kaya (seperti) mangkono (demikian) ngawuleng (mengabdi pada) aji (raja)? Yen (kalau) ngepluk (bangun siang) sungkanan (serba enggan), tan (tak) wurung (urung) manggih (bertemu) bilahi (celaka), ing wuri (kelak di kemudian hari) aja (jangan) ngresula (mengomel, menyesal). Apa akan seperti itu mengabdi pada raja? Kalau bangun siang dan serba enggan, tak urung bertemu celaka, kelak di kemudian hari jangan menyesal.

Jangan seperti itu jika mengabdi pada Raja. Kalau bermalasan dan serba enggan tak urung akan menemui celaka. Mungkin bisa tidak mendapat jabatan karena watak buruknya itu. Mungkin akan dihindari para pejabat jika kelak mendapat kesempatan promosi jabatan. Tak ada yang mengajak untuk bergabung, dan akhirnya tersingkir. Ingatlah watak buruk akan selalu dikenang orang. Jika semua itu terjadi kelak jangan menyesal kemudian ngomel-ngomel mengungkit masa lalu. Maka dari itu rajin-rajinlah mulai sekarang.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/07/kajian-wulangreh-7981-alane-wong-ngepluk-sungkanan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...