Pada (bait) ke-140;141, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Lawan ana waler malih,
aja sok anggung kawuron,
nginum, sayeng tanpa masa iku.
Endi elingeki,
angombe saben dina,
pan iku watake ala.
Kalamun wong wuru ugi,
ilang prayitnaning batos,
nora ajeg barang pikiripun.
Elinge ning ati,
pan baliyar-baliyur,
endi ta ing becikira
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dan ada larangan lagi,
jangan sering-sering mabuk,
minum arak tanpa ingat waktu.
Mana kesadaranmu,
jika minum tiap hari,
yang demikian itu tabiat buruk.
Ketika orang mabuk,
hilang kehati-hatian batin,
tidak stabil sembarang pikirannya.
Ingatannya di hati,
akan lupa-lupa ingat,
manakah kebaikannya (dalam hal seperti itu)?
Kajian per kata:
Lawan (dan) ana (ada) waler (larangan) malih (lagi), aja (jangan) sok anggung (sering-sering) kawuron (mabuk), nginum (minum-minuman) sajeng (arak) tanpa (tanpa) masa (waktu) iku (itu). Dan ada larangan lagi, jangan sering-sering mabuk, minum arak tanpa ingat waktu.
Larangan yang satu ini hampir sama dengan madat, namun biasanya konsumennya dari jenis berbeda. Kalau madat biasanya dilakukan di tempat sepi dan tenang, kalau minum sering dilakukan di tempat keramaian. Minum-minum biasanya satu paket dengan pertunjukkan hedonis seperti tayub, lengger, cokek, dll.
Orang minum katanya untuk keberanian dan stamina. berani apa? Berani melakukan hal-hal yang memalukan, yang kalau dalam keadaan sadar takkan mau dia lakukan. Bermabuk-mabukan akan membuat tubuh lemah, imanjinasinya saja yang kuat. Merasa perkasa padahal loyo. Orang mabuk berhalusinasi sehingga mengira dirinya kuat padahal lemah, mengira dirinya pintar padahal bodoh. Efeknya mirip dengan madat, namun lebih lemah sebenarnya. Tetapi karena seringkali dilakukan di keramaian mabuk lebih berpotensi menimbulkan keributan. Orang mabuk akalnya hilang, kesopanan lenyap dan ingin menang sendiri. Ini yang menjadi pemicu huru-hara. Maka jangan lakukan hal ini.
Endi (yang mana) elingeki (ingatanmu, kesadaranmu), angombe (minum) saben (tiap) dina (hari), pan (yang demikian) iku (itu) watake (tabiat) ala (buruk). Mana kesadaranmu, jika minum tiap hari, yang demikian itu tabiat buruk.
Mana ingatanmu, mana kesadaranmu, mana akalmu? Kalau tidap hari mabuk kapan dapat berpikir dan bekerja dengan normal. Inilah tabiat dan laku yang buruk.
Kalamun (ketika) wong (orang) wuru (mabuk) ugi (juga), ilang (hilang) prayitnaning (kehati-hatian) batos (batin), nora (tidak) ajeg (stabil) barang (sembarang) pikiripun (pikirannya). Ketika orang mabuk, hilang kehati-hatian batin, tidak stabil sembarang pikirannya.
Ketika mabuk juga akan hilang kehati-hatiannya. Pikiran tidak stabil, kadang lupa kadang ingat. Apalagi yang namanya sopan santun, sudah melayang dihembus aroma tuak dan arak.
Elinge (ingatannya) ning (di) ati (hati), pan (akan) baliyar–baliyur (lupa-lupa ingat), endi ta (manakah) ing becikira (kebaikannya)? Ingatannya di hati, akan lupa-lupa ingat, manakah kebaikannya (dalam hal seperti itu)?
Ingatanya timbul tenggelam, lupa-lupa ingat. Jangankan berpikir jernih, kadang yang diingat saja lupa. Tak ada kebaikan dalam perbuatan yang demikian.
Dalam budaya Jawa ada gambaran orang mabuk berdasar banyaknya gelas (sloki) minuman yang dihabiskan. Berikut ini tahapan-tahapannya:
Eka padmasari, seperti sarinya bunga, gambaran orang minum tuak satu gelas akan terasa nikmat luarbiasa, seperti sari-sarinya bunga.
Dwi martani, marta artinya menyejukkan ramah kepada orang lain. Inilah gambaran orang minum dua sloki, masih bisa tertawa-tawa bercanda dengan teman minumnya.
Tri kawula busana, setelah minum tiga sloki dia merasa sangat percaya diri seperti abdi (kawula) yang mendapat baju (busana) bagus.
Catur wanara rukem, setelah empat sloki kelakuannya seperti kera mendapat buah-buahan, saling berebutan tanpa ingat sopan santun lagi.
Panca sura panggah, orang yang minum sloki kelima akan merasa berani (sura), hilang rasa takutnya, hilang rasa malunya.
Sad guna weweka, pada sloki ke-6 orang sudah mulai berhalusinasi, merasa ada yang mengancam, sehingga timbulah kecurigaan pada semua orang. Guna weweka artinya penuh waspada, jadi dia mulai waspada kepada semua orang.
Sapta kukila warsa, keadaan orang yng minum tujuh sloki seperti burung (kukila) kehujanan (warsa), njedhindhil kedinginan, gemetaran tanda tubuhnya tak terkontrol
Astha kacara-cara, pada tahap delapan sloki bicaranya sudah sembarangan (kacara-cara), tidak sadar lagi apa yang dikatakan, pandangan sudah kabur sehingga persepsi tidak jelas. Respon terhadap lingkungan menurun drastis.
Nawa wagra lupa, sembilan sloki membut keadaannya lemah lunglai dari yang tadinya gesit dan banyak gerak, sudah mirip macan (wagra) lelah (lupa), gemetar hampir roboh.
Dasa buta mati, sepuluh sloki membuatnya terkapar, mirip bangkai (mati) raksasa (buta).
Begitulah gambaran orang mabuk menurut orang Jawa yang dibagi dalam sepuluh tahap sesuai banyaknya gelas minuman yang diteguk. Kami perkenalkan agar semua waspada.
Sekarang ada pertanyaan menggelitik, kalau orang minum berhenti pada gelas pertama kan sangat enak, seperti menghisap sari bunga. Apakah dengan demikian dibolehkan minum satu sloki saja? Kami jawab, sangat sulit untuk berhenti pada gelas pertama karena watak dari minum adalah mencandui. Dan juga teman minum Anda takkan membiarkan Anda pergi setelah gelas pertama. Jadi yang paling aman adalah menghindarinya sama sekali.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-140141-aja-anggung-kawuron/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar