Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (150;151): Kang Tuwa Aja Botsih

 Pada (bait) ke-150;151, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Luwih bakuh wong sugih sanak sadulur,
ji – tus tadhingira,
yen golong sabarang pikir,
becik uga lan wong kang tan duwe sanak

Lamun bener lan pinter pamomonganipun,
kang ginawa tuwa,
aja nganggo abot sisih,
dipun sabar pamengku mring santana.

 

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Lebih kuat orang yang banyak sanak saudara,
satu dengan seratus perbandingannya.
Jika bersatu dalam pikiran,
lebih baik jika dibandingkan dengan orang tak punya saudara.

Jika benar dan pintar mengarahkannya.
Yang menempati posisi tua,
jangan berlaku berat sebelah,
diharap sabar memperlakukan kerabat (yang lebih muda).


Kajian per kata:

Luwih (lebih) bakuh (kuat) wong (orang) sugih (banyak) sanak (sanak) sadulur (saudara), ji – tus (satu dengan seratus) tadhingira (perbandingannya). Lebih kuat orang yang banyak sanak saudara, satu dengan seratus perbandingannya.

Walau bagaimanapun banyak saudara tetaplah lebih kuat. Perbandingan satu dan seratus dengan yang tidak punya saudara. Kalau saudara hanya sedikit tentu sembarang keperluan takkan mudah dilaksanakan, jauh berbeda dengan banyak saudara, banyak pula yang membantu.

Setelah kita mengetahui kenyataan ini, perlu kami perkenalkan dengan adat dan kebiasaan orang Jawa di perdesaan. Orang Jawa di perdesaan zaman dahulu dan juga zaman sekarang masih kita temui dalam kehidupan sehari-hari mempunyai hubungan khusus dengan sesama manusia yang namanya paseduluran. Dalam paseduluran ini orang lain akan dianggap saudara sendiri. Misalnya ketika di sebelah rumah kita tiba-tiba ada tetangga baru sesama orang Jawa, maka secara spontan kita akan mengidentifikasi orang tersebut, apakah lebih tua atau muda, apakah setara dalam kedudukan dan martabat. Jika kemudian kita sudah tahu kita akan menempatkan diri dalam relasi persaudaraan yang tulus.

Ketika kita mendapati tetangga baru tadi lebih tua, kita akan memanggilnya mas (kak). Dan anak-anak kita akan kita suruh memanggil Pakdhe. Ini adalah panggilan kepada saudara sekandung yang umum kita pakai sehari-hari. Dengan memanggilnya seperti saudara sendiri terbentuklah relasi persaudaraan. Hampir semua orang desa memanggil tetangganya dengan cara seperti itu. Inilah kearifan masyarakat perdesaan dalam mensikapi manusia lain, dan menempatkan dalam tatanan masyarakat. Tetapi orang zaman sekarang agak kendur sensitivitas persaudaraannya, mereka kadang memanggil tetangga baru dengan panggilan “Pak” saja. Ini terlalu formal dan kurang sumadulur sebenarnya.

Yang lebih penting untuk diketahui, persaudaraan dengan tetangga ini sering menyamai kedekatannya dengan saudara sendiri. Anda bisa ngutang dengan tetangga kalau butuh duit mendadak, misalnya seperti itu.

Yen (jika) golong (bersatu) sabarang (semua) pikir (pikiran), becik (baik) uga (juga) lan (dan) wong (orang) kang (yang) tan (tak) duwe (punya) sanak (saudara). Jika bersatu dalam pikiran, lebih baik jika dibandingkan dengan orang tak punya saudara.

Mempunyai saudara banyak dan dapat bersatu padu (golong-gilig) adalah lebih baik daripada tak punya saudara. Golong-gilig artinya bulat dan solid, tidak keropos di tengahnya, benar-benar bisa bersatu padu.

Lamun (jika) bener (benar) lan (dan) pinter (pintar) pamomonganipun (mengarahkannya). Jika benar dan pintar mengarahkannya.

Jika benar dan pintar dalam mengarahkannya, punya saudara banyak jelas lebih baik. Di sinilah peran tetua keluarga sangat menentukan. Apabila yang menjadi sesepuh dapat merangkul semua anggota, dan anggotanya pun patuh benar-benar kebaikan yang akan tercapai.

Kang (yang) ginawa (diposisi) tuwa  (tua), aja (jangan) nganggo (berlaku) abot (berat) sisih (sebelah), dipun (diharap) sabar (sabar) pamengku (memperlakukan) mring (pada) santana (kerabat). Yang menempati posisi tua, jangan berlaku berat sebelah, diharap sabar memperlakukan kerabat (yang lebih muda).

Oleh karena itu, yang di posisi tua jangan bersikap berat sebelah. Diharapkan sikap yang sabar dalam memperlakukan sanak saudara. Luaskan hati agar dapat menampung aneka kelakuan keluarga besar yang tentunya mempunyai tindak-tanduk, perilaku dan sifat yang berbeda-beda.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-150151-kang-tuwa-aja-botsih/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...