Pada (bait) ke-108, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Bener luput ala becik lawan beja,
cilaka mapan saking,
ing badan priyangga,
dudu saking wong liya.
Mulane den ngati-ati,
sakeh dirgama,
singgahana den eling.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Benar salah, buruk baik, dan beruntung,
atau celaka sebenarnya berasal dari,
diri sendiri,
bukan dari orang lain.
Maka dari itu berhati-hatilah,
semua fitnah,
dihindari dan diingat selalu.
Kajian per kata:
Bener (benar) luput (salah) ala (buruk) becik (baik) lawan (dan) beja (beruntung), cilaka (celaka) mapan (sebenarnya) saking (dari), ing badan (diri) priyangga (sendiri), dudu (bukan) saking (dari) wong (orang) liya (lain). Benar salah, buruk baik, dan beruntung, atau celaka sebenarnya berasal dari, diri sendiri, bukan dari orang lain.
Yang dimaksud adalah bahwa kita membaw nasib kita sendiri, segala hal yang menimpa kita, benar atau salah, buruk atau baik, beruntung atau celaka, sumbernya ada pada diri kita sendiri. Itu bagian dari rahasia Allah dalam mendidik kita, membimbing kita ke jalan yang benar.
Memang benar bahwa kita sehari-hari selalu berinteraksi denga sesama manusia. namun harap diingat semua orang juga hanya menjalankan peran yang sama sebagai makhluk Allah yang sama-sama dibawah kendali Sang Penguasa. Dialah yang menggerakkan hati kita untuk berbuat dan berkehendak, memberi rasa lapar agar kita tergerak untuk makan, memberi rasa haus agar kita minum, memberi rasa takut agar kita menghindari bencana, memberi kita rasa suka agar hati kita semangat. Meski semua itu dibungkus dalam format nafsu dan akal budi, hakekatnya semua itu hanyalah tentara Allah yang dipinjamkan menjadi kekuatan kita.
Namun demikian ada wilayah kecil bagi kita untuk berkreasi, berkehendak bebas, di situlah kita diberi kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas segala pilihan kita sendiri. Anda lapar dan perlu makan, apa yang akan dilakukan? Bekerja atau mencuri, itulah pilihannya. Dalam hal-hal yang seperti itulah manusia dinilai dan digolongkan.
Maka tidak aneh jika pilihan yang tersaji pada masing-masing orang berbeda-beda bentuknya. Semua menyesuaikan dengan keadaan masing-masing. Ada yang diberi pilihan antara menjadi kaya dengan korupsi atau miskin dengan hormat, silahkan pilih sendiri. Ada yang diberi pilihan kesulitan hidup dalam mencari harta benda, namun diberi rejeki anak yang banyak. Dan sebaliknya, kaya raya tapi tak punya anak. Ada yang miskin tapi sehat, kaya tapi sakit. Dan segala macam kombinasi permasalahan orang hidup, semua itu bergantung pada apa yang sesuai dengan diri masing-masing. Dengan itu semua Allah menguji dan membimbing kita agar mendapatkan hasil yang baik.
Mulane (maka dari itu) den ngati–ati (berhati-hatilah), sakeh (semua) dirgama (fitnah, kelicikan orang), singgahana (dihindari) den eling (diingat selalu). Maka dari itu berhati-hatilah, semua fitnah, dihindari dan diingat selalu.
Setelah kita menyadari itu semua, semestinya kita mengerti bahwa semua realita yang kita alami di dunia ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara kita bersikap, apa pilihan kita terhadap opsi yang disajikan. Di situ kemudian muncul istilah benar dan salah, baik dan buruk, bagus dan jelek. Di satu sisi ada kutub yang dekat dengan sifat-sifat ketuhanan yang jika kita arahkan hidup kita ke sana, kita akan makin dekat denganNya. Sebaliknya jika kita arahkan ke arah sebaliknya maka kita akan jauh darinya. Padahal yang selain Dia tidak ada, maka mengarah ke sana jelas menuju ketiadaan diri.
Kini sudah jelas arah kita akan kemana, berhati-hatilah dalam perjalanan ini terhadap fitnah yang muncul, hindarilah dengan selalu mengingat hal-hal itu.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-108-saking-badan-priyangga/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar