Pada (bait) ke-152;153, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Pan ewuh wong tinitah dadi asepuh,
tan kena ginampang.
Mring sadulurira ugi,
tuwa nenom aja beda traping karya.
Kang saregep kalawan ingkang malincur,
iku kawruh ana,
sira alema kang becik,
ingkang malincur den age bendanana.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Memang repot orang terlahir sebagai yang tua,
tak bisa dianggap gampang.
Kepada saudara juga,
yang tua atau yang muda jangan ada beda dalam menerapkan perlakuan.
Yang rajin dan yang malas,
itu ketahuilah.
Engkau puji yang baik,
yang malas segera marahilah.
Kajian per kata:
Pan (memang) ewuh (repot)wong (orang) tinitah (terlahir) dadi (sebagai) asepuh (yang tua), tan (tak) kena (bisa) ginampang (dianggap gampang). Memang repot orang terlahir sebagai yang tua, tak bisa dianggap gampang.
Memang repot dan perlus kesabaran jika terlahir sebagai tetua atau sesepuh dalam keluarga. Walau dengan saudara sendiri sikap kita terhadap mereka tak boleh dianggap gampang. Tak boleh lalu disepelekan hanya karena saudara sendiri. Karena kadang saudara sendiri malah lebih sensitif daripada orang lain. Maka perlu diterapkan rasa keadilan, jangan botsih (abot sisih, berat sebelah) atau pilih kasih kepada saudara, terlebih kepada para anak mudanya.
Mring (kepada) sadulurira (saudara) ugi (juga), tuwa (yang tua) nenom (yang muda) aja (jangan) beda (beda) traping (menerapkan) karya (pekerjaan, perlakuan). Kepada saudara juga, yang tua atau yang muda jangan ada beda dalam menerapkan perlakuan.
Kepada para saudara itu, jangan membedakan sikap baik kepada yang tua-tua diantara mereka, juga kepada yang muda-muda diantara mereka. Antara mereka berikan sikap yang sama. Jika kemarin mengajak Paijo jajan bakso, besok kalau mengajak Sronto ya semestinya jajan bakso juga. Jangan karena Sronto orang pendiam lantas hanya diajak jajan gemblong. Jangan karena Pakdhe Naya seorang pejabat lalu dipunjung ingkung bebek, sedang Paklik Suta yang hanya petani yutun cuma dipunjung ingkung gemak. Wah nggak adil itu!
Kang (yang) saregep (rajin) kalawan (dan) ingkang (yang) malincur (malas), iku (itu) kawruhana (ketahuilah),. Yang rajin dan yang malas, itu ketahuilah.
Selain itu ketahuilah watak, tabiat dan perilaku anggota keluarga besar. Mana yang rajin, mana yang malas, mana yang ringan tangan, mana yang enggan, mana yang suka berderma, mana yang kikir, mana yang suka menolong, mana yang suka usil. Semua harus diketahui oleh tetua agar yang bersangkutan dapat melakukan pembinaan sepantasnya ataupun memberi nasihat dan saran-saran.
Sira (engkau) alema (puji, hargai) kang (yang) becik (baik), ingkang (yang) malincur (malas) den age (segera) bendanana (dimarahi). Engkau puji yang baik, yang malas segera marahilah.
Juga terhadap kelakuan anggota keluarga besar, tetua keluarga harus bisa bersikap tegas. Yang rajin dan ringan tangan harus diberi penghargaan, dipuji kebaikannya adar menjadi contoh bagi yang lain. Sedangkan bagi yang malas harus dimarahi agar memperbaiki diri.
Itulah yang perlu dilakukan oleh tetua trah, atau yang dituakan, atau para sesepuh dalam keluarga besar itu. Jika yang demikian itu dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya takkan rugi berbanyak keluarga, justru akan menjadi sarana beramal sholeh, memperbanyak pahala.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-152153-aja-beda-traping-karya/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar