Pada (bait) ke-113;114, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Ingkang eling iku padha angelingna,
marang sanak kanca kang lali,
den nedya raharja.
Mangkono tindakira,
yen tan nggugu liya uwis,
teka menenga,
mung aja sok ngrasani.
Nemu dosa gawanen sakpadha-padha.
Dene wong ngalem ugi,
yen durung pratela,
ing temen becikira,
aja age nggunggung kaki.
Meneh tan nyata,
dadi cirinireki.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Yang ingat itu sama-sama mengingatkanlah,
kepada sanak saudara atau teman yang lupa,
supaya mendapat kebahagiaan.
Demikian itulah (seharusnya) tindakanmu,
kalau tidak menurut sudahlah,
diam sajalah,
hanya jangan sekalipun menggunjing.
Menemui orang berdosa bawalah sebagai sesama manusia.
Adapun dalam hal memuji juga demikian,
kalau belum nyata,
dalam kesungguhan kebaikannya,
jangan lekas memuji anakku.
Dan jika tak nyata (kebenarannya),
(malah) menjadi cela yang diingat orang.
Kajian per kata:
Ingkang (yang) eling (ingat) iku (itu) padha (sama-sama) angelingna (mengingatkanlah), marang (kepada) sanak (sanak saudara) kanca (teman) kang (yang) lali (lupa), den (agar) nedya (supaya mendapat) raharja (bahagia). Yang ingat itu sama-sama mengingatkanlah, kepada sanak saudara atau teman yang lupa, supaya mendapat kebahagiaan.
Siapapun yang ingat, ingatkanlah kepada sanak saudara, teman, sepersaudaraan yang sedang lupa, agar sama-sama bisa mencapai bahagia, hidup mulia, dunia akhirat. sebaik-baik orang adalah yang mempunyai teman yang mampu memberi peringatan jika berbuat salah. Itu adalah anugrah yang besar. Demikian juga, ingatkanlah jika engkau merasa saudaramu sedang menapak di jalan yang salah.
Mangkono (demikian) tindakira (tindakanmu), yen (kalau) tan (tidak) nggugu (menurut) liya (lain) uwis (sudah), teka menenga (diam sajalah), mung (hanya) aja (jangan) sok (kadang, sekalipun, suka) ngrasani (menggunjing). Demikian itulah (seharusnya) tindakanmu, kalau tidak menurut sudahlah, diam sajalah, hanya jangan sekalipun menggunjing.
Itulah tindakan yangseharusnya diambil oleh orang berbudi luhur, saling mengingatkan dalam kebenaran. Adapun jika peringatan atau saran nasihat kita tidak diturut lebih baik diam saja, tak perlu menggunjing mereka. Ini pun juga sikap yang terpuji dan pakaian orang mulia.
Nemu (menemui) dosa (orang dosa) gawanen (bawalah) sakpadha–padha (sebagai sesama manusia). Menemui orang berdosa bawalah sebagai sesama manusia.
Jika menemui orang berdosa, bawalah kesalahannya untuk diri sendiri. tidak perlu diberitakan ke mana-mana. Jika bisa dinasehati, jika tidak tak perlu bergunjing membuka aib sesama manusia. itu tidak baik dan memerosotkan akhlak sendiri.
Dene (adapun) wong (orang) ngalem (memuji) ugi (juga), yen (kalau) durung (belum) pratela (nyata), ing (dalam) temen (kesungguhan) becikira (kebaikannya), aja (jangan) age (lekas) nggunggung (memuji) kaki (anakku). Adapun dalam hal memuji juga demikian, kalau belum nyata, dalam kesungguhan kebaikannya, jangan lekas memuji anakku.
Demikian juga yang berkaitan dengan memuji orang lain. Jika belum tampak nyata dan sungguh-sungguh kebenarannya tampak, janganlah dulu tergesa-gesa memuji seseorang. Justru akan tampak aneh, seolah sedang bari muka jika berlaku demikian.
Meneh (dan lagi) tan (tak) nyata (nyata kebenarannya), dadi (menjadi) cirinireki (cela yang diingat orang). Dan jika tak nyata (kebenarannya), (malah) menjadi cela yang diingat orang.
Apalagi jika terbukti kemudian bahwa yang kita pujikan tidak benar, maka akan menjadi celaan yang selalu diingat orang, menjadi ciri dari perilaku kita yang dianggap kurang baik oleh khalayak.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-113114-aja-sok-ngrasani/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar