Pada (bait) ke-130;131, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Wong ati sudagar ugi,
sabarang prakara tamboh.
Amung yen ana wong teka iku,
anggegawe ugi,
gegadhen pan tumanggal,
ulate teka sumringah.
Dene wong durjana ugi,
nora ana den raos,
rina wengi mung kang den etung,
duweke liyan nenggih.
Dhahat datan prayoga,
kalamun wateke durjana.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Orang berhati pedagang juga,
dalam semua perkara pura-pura tidak tahu.
Hanya kalau ada orang datang,
membawa juga,
barang gadai yang akan dilepas,
wajahnya langsung cerah.
Adapaun seorang pencuri,
tidak ada yang dirasa,
siang malam hanya yang dihitung,
milik orang lain.
Sangat tidak terpuji,
jikalau berwatak pencuri.
Kajian per kata:
Wong (orang) ati (berhati) sudagar (pedagang) ugi (juga), sabarang (semua) prakara (perkara) tamboh (pura-pura tak tahu). Orang berhati pedagang juga, dalam semua perkara pura-pura tidak tahu.
Orang yang berhati pedagang itu dalam semua perkara pura-pura tidak tahu. Cuek dan tak acuh terhadap orang lain yang tidak berkepentingan. Berjiwa sosial rendah karena merasa kalau mencari duit itu harus sedikit demi sedikit dan mempunyai pengalaman tak enak soal ini. Biasanya para pedagang adalah orang yang bersusah payah dalam merintis usaha, sehingga pengalaman ini membekas dalam diri. Menganggap kalau jalan mencari rejeki hanya berusaha. Kalau disuruh berderma agak sulit. Sekali lagi, yang dibahas ini adalah sifat buruk dari pedagang, di samping itu pasti ada kebaikannya, namun kita sedang tidak membahas itu.
Amung (hanya) yen (kalau) ana (ada) wong (orang) teka (datang) iku (itu), anggegawe (membawa) ugi (juga), gegadhen (barang gadai) pan (akan) tumanggal (dilepas), ulate (wajahnya) teka (langsung) sumringah (cerah). Hanya kalau ada orang datang, membawa juga, barang gadai yang akan dilepas, wajahnya langsung cerah.
Tetapi kalau kedatangan orang yang membawa barang dan hendak melepasnya untuk digadaikan seketika wajahnya langsung cerah. Terbayang di benaknya keuntungan yang akan dia dapatkan. Memang kalau kita menemui pedagang di saat dia bekerja akan kurang ramah tanggapannya terhadap kita. Namun yang jadi masalah dia akan berdagang sepanjang hari, sejak lepas subuh sampai menjelang malam. Jadi kalau ada yang bertamu dia akan merasa masygul, kecuali kalau tamunya adalah relasi dagang atau seorang pembeli.
Walau seorang pedagang selalu sibuk menghitung uang, namun ada baiknya juga dalam hal ini. Uang yang dihitung adalah milik sendiri, sangat jauh berbeda dengan orang di bawah ini.
Dene (adapun) wong (orang) durjana (pencuri) ugi (juga), nora (tidak) ana (ada) den (di) raos (rasa), rina (siang) wengi (malam) mung (hanya) kang (yang) den (di) etung (hitung), duweke (milik) liyan nenggih (orang lain). Adapaun seorang pencuri, tidak ada yang dirasa, siang malam hanya yang dihitung, milik orang lain.
Berkebalikan dengan pedagang seorang pencuri, tidak ada yang dilakukan di siang malam kecuali menghitung-hitung harta orang lain. Si A punya apa ya, bagaimana cara mengambilnya dengan selamat. Si Bu baru saja menerima pembayaran, jumlahnya kira-kira 100 juta, menyimpannya dimana ya…, inilah pencuri. Menghitung sana, menghitung sini yang bukan milik sendiri.
Dhahat (sangat) datan (tidak) prayoga (terpuji), kalamun (jikalau) wateke (berwatak) durjana (pencuri). Sangat tidak terpuji, jikalau berwatak pencuri.
Yang demikian itu sungguh tidak terpuji. Pencuri itu sebelum mencuri saja sudah pikirannya jelek, apalagi kalau benar-benar dilakukan. Terkutuklah!
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-130131-sudagar-lan-durjana/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar