Pada (bait) ke-91-93, Pupuh ke-6, Megatruh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Ing wurine yen ati durung tuwajuh,
angur sira ngabdi,
becik ngindunga karuhun.
Aja age nuli ngabdi,
yen durung eklas ing batos.
Anggur ngindung bae pan nora pakewuh,
lan nora nana kang ngiri.
Amungkul pakaryanipun,
nora susah tungguk kemit,
seba apan nora nganggo.
Nanging iya abote wong ngidung iku,
keneng patrol pinggir margi,
lamun norapatrol nglurung,
keneng lenga pendhak sasi,
katru lurahe sabotol.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
(Jika tak mau repot) di kemudian hari, kalau belum bulat tekad,
lebih baik daripada engkau mengabdi,
sebaiknya menumpang dahulu.
Jangan cepat segera mengabdi,
kalau belum ikhlas di dalam hati.
Lebih baik menumpang saja tak akan merasa repot,
dan tidak ada yang iri hati.
Mengutamakan pekerjaannya,
tidak usah tunggu berjaga,
tak pakai acara menghadap.
Tetapi beratnya orang menumpang itu,
kena patroli pinggir jalan,
kalau bukan patroli gang,
kena minyak tiap bulan,
kartu lurahe satu botol.
Kajian per kata:
Ing (di) wurine (kemudian hari) yen (kalau) ati (hati) durung (belum) tuwajuh (bulat tekad, mantap), angur (lebih baik, mendingan) sira (engkau) ngabdi (mengabdi), becik (baik) ngindunga (menumpang) karuhun (dahulu). (Jika tak mau repot) di kemudian hari, kalau belum bulat tekad, lebih baik daripada engkau mengabdi, sebaiknya menumpang dahulu.
Jika belum siap untuk repot di kemudian hari, dan hati belum mantap, tekad belum bulat maka jangan suwita terlebih dahulu. Lebih baik daripada mengabdi sebaiknya ngindung dahulu saja. Di sini ada dua istilah yang pada praktinya terdapat perbedaan yang besar. Suwita adalah belajar menjadi abdi dalem raja, jadi ada unsur pendidikan di situ. Sedangkan ngindung adalah ikut menumpang di rumah yang disediakan bagi para pekerja yang bekerja pada seorang pejabat tertentu, atau orang kaya tertentu.
Orang yang suwita mungkin saja belum berada di istana raja, tetapi masih ikut pada pejabat rendah, namun pola didiknya adalah agar kelak dapat menjadi abdi dalem. Jadi pelajaran yang diterima, tatakrama, adab serta kecakapan sudah baku. Apabila sudah mempunyai kecakapan orang yang suwita akan diikutkan magang, yakni menangani suatu perkara secara mandiri. Apabila sudah dapat diandalkan maka akan diangkat sebagai abdi dalem. Adapun yang mengangkat adalah raja.
Orang yang ngindung tidak mendapat pelajaran seperti itu. Mereka hanya bekerja sebagaimana perintah majikannya. Bagi mereka hanya upah dan tempat tinggal yang statusnya bukan hak milik, jadi hanya menumpang saja. Orang ngindung juga tidak dibebani aturan protokoler yang ketat, dan kewajiban semisal harus menghadap, dll. Contoh orang yang ngindung adalah magersari, yakni para pekerja yang bekerja pada rumah pejabat. Kepada mereka diberikan tempat menetap, ada yang berupa tanah saja dan mereka membangun rumah di atasnya, ada yang sudah ada rumahnya. Namun tanah itu bukan hak milik.
Aja (jangan) age (cepat) nuli (segera) ngabdi (mengabdi), yen (kalau) durung (belum) eklas (ikhlas) ing (di) batos (dalam hati). Jangan cepat segera mengabdi, kalau belum ikhlas di dalam hati.
Jangan cepat-cepat mendaftar sebagai abdi jika belum ikhlas dalam batin. Karena kewajiban dan kepatuhannya dituntut, kesetiannya harus nyata, dan harus bersungguh-sungguh mengabdi kepada raja. Tidak ada peluang untuk membantah atau ingkar atau ngeles dari perintah.
Anggur (lebih baik) ngindung (menumpang) bae (saja) pan (akan) nora (tidak) pakewuh (merasa repot), lan (dan) nora (tidak) nana (ada) kang (yang) ngiri (irihati). Lebih baik menumpang saja, tak akan merasa repot, dan tidak ada yang iri hati.
Lebih baik ngindung saja, tidak merasa repot dengan berbagai kewajiban dan tatakrama yang rumit dan banyak. Juga tidak akan ada yang merasa irihati, dari pihak-pihak lain yang merasa tersingkir. Lebih enak di pikiran dan hati lebih tenang.
Amungkul (mengutamakan) pakaryanipun (pekerjaannya), nora (tidak) susah (usah) tungguk kemit (berjaga malam), seba (menghadap) apan (juga) nora (tidak) nganggo (memakai). Mengutamakan pekerjaannya, tidak usah tunggu berjaga, tak pakai acara menghadap.
Hanya mengutamakan bekerja sesuai perintah majikan, tidak usah jaga malam, juga tidak pakai acara menghadap (seba) segala. Memang cara seperti ini lebih enak di pikiran, bagi sebagian orang ini lebih menenteramkan hati. Namun bagi orang yang mempunyai cita-cita tinggi, ketenteraman bukanlah tujuan hidup.
Nanging (tetapi) iya (ya) abote (berat) wong (orang) ngindung (menumpang) iku (itu), keneng (kena) patrol (patroli) pinggir (pinggir) margi (jalan), lamun (kalau) nora (bukan) patrol (patroli) nglurung (gang), keneng (kena) lenga (minyak) pendhak (tiap) sasi (bulan), katru (kartu?) lurahe (lurahe) sabotol (satu botol). Tetapi beratnya orang menumpang itu, kena patroli pinggir jalan, kalau bukan patroli gang, kena minyak tiap bulan, kartu lurahe satu botol.
Namun orang ngindung juga ada beratnya. Kena patroli di pinggir jalan. Kena penertiban, tidak boleh bertindak sembarangan. Hak-hak mereka terbatas karena hanya menumpang. Tidak punya kedudukan. Juga secara ekonomi seadanya.
Mohon maaf! Kami belum mendapatkan referensi tentang kehidupan para pengindung ini. Sementara kami tak bisa memberikan keterangan lebih jauh untuk menghindari penjelasan yang tidak akurat. Kami akan mencari bahan dan data berkaitan dengan kehidupan para pengindung ini. Kelak apabila sudah valid informasinya akan kami tambahkan keterangannya.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/07/kajian-wulangreh-91-93-ingkang-ikhlas-tuwajuh/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar