Pada (bait) ke-132;134, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Dene bebotoh puniki,
sabarang pakaryan lumoh,
lawan kathah linyok para padu.
Yen pawitan enting,
tan wurung anggegampang,
ya marang darbeking sanak.
Nadyan wasiyating kaki,
nora wurung dipun edol.
Lamun menang lali gawe angkuh,
pan kaya bupati,
wewah tan ngarah-arah.
Punika awoning bangsat.
Kabutuhe nuli memaling,
tinitenan saya awon,
apan boten wonten panedhinipun.
Pramilane sami,
sadaya nyinggahana,
anggegulang ngabotohan.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Adapun berjudi ini,
semua pekerjaan enggan,
dan banyak bohong serta suka bertengkar.
Kalau modal judi habis,
tak urung menggampangkan,
pada milik saudara.
Walau peninggalah kakek moyang,
tak urung dijual juga.
Kalau menang menjadi lupa (lalu) bersikap angkuh,
seakan seperti bupati,
tambah tak kira-kira.
Itulah buruknya kelakuan bangsat.
Jika kepentok butuh sekalian mencuri,
akan diciri semakin buruk,
takkan ada penerimaan lagi baginya.
Oleh karena itu kalian,
semua menghindarlah,
dari menekuni perjudian.
Kajian per kata:
Dene (adapun) bebotoh (berjudi) puniki (ini), sabarang (semua) pakaryan (pekerjaan) lumoh (enggan), lawan (dan) kathah (banyak) linyok (bohong) para (suka) padu (bertengkar). Adapun berjudi ini, semua pekerjaan enggan, dan banyak bohong serta suka bertengkar.
Menang berjudi itu ibarat mendapat durian runtuh, rejeki nomplok tak terkira. Sangat mudah mendapatkannya, hanya mengeluarkan modal kecil, hasilnya berlipat ganda. Siapa yang tidak kepengin? Tentu semua orang kepengin menang. Namun masalahnya dalam perjudian yang kalah lebih banyak dari yang menang. Dan apa yang disebut judi itu karena yang menang siapa tidak dapat diramalkan.
Oleh karena sifatnya demikian itu berjudi menjadi larangan agama. Namun juga selain soal larangan watak pekerjaan berjudi itui sendiri juga tidak baik. Karena berjudi meniadakan nilai upaya seseorang. Dalam permainan judi kartu misalnya, walau tingkat kepandaian seseorang akan menentukan cara bermain namun peruntungan tetap ada pada kombinasi kartu yang didapat lewat undian. Jadi tetap saja menang kalahnya tak dapat diupayakan.
Selain itu berjudi membuat orang ketagihan dan penasaran. sekali menang dia akan ketagihan dan akhirnya suatu saat kalah juga. Sekalinya kalah melulu dia akan penasaran dan ingin mencoba lagi, dan juga takkan menang-menang. Tak ada kan orang menjadi kaya dalam berjudi, kalau ada itu pun bandarnya.
Yen (kalau) pawitan (modal judi) enting (habis) tan wurung (tak urung) anggegampang (mengampangkan), ya marang (pada) darbeking (milik) sanak (saudara). Kalau modal judi habis tak urung menggampangkan, pada milik saudara.
Yang parah kalau kalah melulu dan penasaran, sementara modal sudah ludes yang terjadi kemudian menggampangkan perkara. Utang dulu lah, pinjang barang saudara sebagai taruhan. Ada kisah dalam pewayangan yakni Pandawa Dadu, yang menceritakan kalau pandawa sampai kehilangan kerajaan hanya karena terbujuk ikut main judi, padahal keseharian mereka tak seperti itu. Memang judi membuat panas hati.
Nadyan (walau) wasiyating (peninggalah) kaki (kakek, moyang), nora wurung (tak urung) dipun edol (dijual). Walau peninggalah kakek moyang, tak urung dijual juga.
Kalau yang dipinjami sudah tak ada lagi yang mau kasih, warisan kakek pun bisa-bisa ikut terjual. Syetan membujuk dengan iming-iming kemenangan, jual saja nanti kalau menang dibeli lagi. Tapi akhirnya kalah lagi, kalah lagi.
Lamun (kalau) menang (menang) lali (menjadi lupa) gawe (berbuat, bersikap) angkuh (angkuh), pan (seakan) kaya (seperti) bupati (bupati), wewah (tambah) tan (tak) ngarah–arah (kira-kira). Punika (itulah) awoning (buruknya) bangsat (kelakuan bangsat). Kalau menang menjadi lupa (lalu) bersikap angkuh, seakan seperti bupati, tambah tak kira-kira. Itulah buruknya kelakuan bangsat.
Namun yang namanya judi pasti ada juga yang menang. Sekalinya menang lupa dia akan asal-usulnya. Sudah memegang uang banyak kelakuannya berganti. Berlagak seperti bupati yang punya kuasa. Tambah tak terkontrol, tak ada duga-duga, tak ada kira-kira. Itulah kelakuan bangsat! Tengik!
Kabutuh (kepentok butuh) pisan (sekalian) memaling (mencuri), tinitenan (diciri) saya (semakin) awon (buruk), apan (kemudian) boten (tak) wonten (ada) panedhinipun (penerimaannya). Jika kepentok butuh sekalian mencuri, akan diciri semakin buruk, takkan ada penerimaan lagi baginya.
Ketika kalah lagi, tak ada yang dipinjam, tak ada yang dijual, lalu nyolong, mencuri. Semakin hari kelakuan orang gemar berjudi semakin buruk dan dilihat banyak orang. Membuat orang tak menerimanya lagi, sebagai kawan atau kerabat. Takut kalau ikut dimakan juga. Karena orang kalau sudah begitu akan menjadi raja tega.
Pramilane (oleh karena itu) sami (kalian), sadaya (semua) nyinggahana (menghindarlah), anggegulang (dari menekuni) ngabotohan (perjudian). Oleh karena itu kalian, semua menghindarlah dari menekuni perjudian.
Oleh karena itu kalian semua. Jangan coba-coba ikut-ikutan berjudi. Singkirilah perbuatan ini sejak awal. Jangan beri kesempatan bagi diri sendiri untuk cenderung kepada perbuatan ini. Jauhilah sejauh-jauhnya.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-132-134-kalakuane-bebotoh/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar