Translate

Tampilkan postingan dengan label SAJARAH JATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJARAH JATI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Agustus 2024

Sajarah Jati (29): Ulah Kyai Ageng Pengging Menjadi Perhatian Sultan Bintara

Alkisah, Sultan Bintara sudah mendengar berita suami Kangjeng Ratu Pembayun, yakni Kyai Andayaningrat di Pengging tidak mau menghadap ke Bintara. Malah mengumpulkan orang-orang agar berguru kepadanya tentang pengetahuan muksanya tubuh. Namun pengajaran ilmunya menyimpang dari ajaran para wali. Pengetahuannya bersumber dari ajaran Syekh Sitijenar yang murtad. Ajaran itu tidak mengakui kekuasaan Allah, keluar dari ajaran Al Qur’an. Bahkan Sitijenar berani mengaku sebagai Tuhan. Banyak orang sudah hanyut dalam ajaran yang menyimpang dari agama Islam ini. Sungguh akan merusak syari’at Al Mustafa Rasul yang terpilih. Ajaran yang diperuntukkan bagi seluruh umat sampai hari kiamat.

Apa yang diajarkan Sitijenar dan Kyai Ageng Pengging telah melampaui batas syari’at dengan membicarakan hal-hal yang di luar kewenangan manusia. Kyai Ageng Pengging telah menyelisihi ajaran dari tanah Arab itu, dan membantah syari’at.

Sultan sangat marah mendengar sepak terjang Kyai Ageng Pengging. Diam-diam Sultan memanggil Pengulu Katib Anom dan Patih Wanasalam. Kedua punggawa telah menghadap.

Sultan bertanya kepada Ki Patih Wanasalam, “Paman, di Pengging ada berita apa?”

Ki Wanasalam berkata, “Duh Kangjeng Sultan, mohom maaf, saya belum mendengar kabar selain berita yang menyebutkan bahwa kakak paduka Kyai Andayaningrat bersikeras tak mau tunduk kepada paduka. Dia bersikukuh menjadi petani sehingga tak perlu menghadap kepada raja.”

Sultan berkata lagi, “Itu benar, Paman. Namun ada berita lain yang menyebutkan bahwa dia telah berguru kepada Sitijenar dan telah mendapat wejangan ilmu. Dia kini murtad dari agama Rasul. Dia membantah kekuasaan Allah. Malah menurut berita dia mengaku sebagai Tuhan. Dia melecehkan ajaran wali sanga, menyanggah kekuasaan raja dan mengajarkan kesesatan. Hai Patih, andai saja dia ingin menjadi raja itu tidak aneh karena dia keturunan raja. Namun itu tidak bisa dibiarkan. Seumpama api, sekarang ini masih kecil. Sebaiknya segera disiram air. Paman, berangkatlah ke Pengging membawa pasukan. Tangkaplah Kyai Ageng Pengging.”

Ki Patih Wanasalam berkata, “Paduka, jangan dulu dipukul perang. Dia hanya orang menetap di desa tanpa pasang bendera dan membentuk pasukan. Kesalahannya hanya melanggar syari’at. Itu termasuk perkara sipil. Sebaiknya dipanggil dulu dengan cara yang baik agar mau menghadap ke Bintara.”

Sultan menyetujui usul Patih Wanasalam. Dua mantri lalu dikirim ke Pengging. Singkat cerita mereka berdua sudah sampai di Pengging dan bertemu Kyai Ageng. Pada waktu itu Kyai Ageng sedang berada di langgar. Kedua mantri berterus terang bahwa kedatangan mereka diutus Sultan Bintara untuk memanggil Kyai Ageng Pengging. Kyai Ageng diminta ikut bersama kedua mantri ke negeri Demak untuk bertemu Sultan.

Kyai Ageng berkata, “Hai utusan, saya diminta bertemu Sultan apa keperluannya? Saya tak punya perkara apapun berkait kenegaraan. Saya di sini hanya menanam padi dan mencari nafkah sesuai kehendak Tuhan. Jika saya panen kentang, jagung dan ketela, saya minta kepada Tuhan yang telah memerintah menanam. Ketika mencangkul saya juga bersama Tuhan, memanen saya bersama Tuhan. Itu yang saya lakukan di desa. Maka kalau saya dipanggil saya tidak mau kalau tidak bersama Tuhan yang pembimbing saya. Walau saya mau tapi jika Tuhan tidak mau saya datang, maka mustahil saya sampai di Demak. Saudara, katakan kepada Sultan, Kyai Ageng tidak menolak dipanggil, tapi Tuhan tak berkenan.”

Dua utusan kembali ke Bintara tanpa hasil. Keduanya melapor kepada Sultan semua yang dikatakan Kyai Ageng Pengging dari awal sampai akhir. Sultan kaget, merasa bahwa Kyai Ageng telah nyata-nyata melawan perintah raja. Sultan lalu memanggil Ki Patih Wanasalam dan memberi tahu kepadanya semua yang terjadi.

Kyai Patih berkata, “Paduka, bila diizinkan saya sendiri yang akan berangakat ke Pengging menemui Kyai Andayaningrat. Saya akan menyamar sebagai orang kecil dan mencari tahu keadaan di sana. Nanti saya bisa menilai keinginan Kyai Ageng yang sebenarnya.”

Sultan berkata, “Jika demikian Patih, baik jika engkau sendiri yang menemuinya. Selesaikanlah masalah ini. Aku memberimu tiga pertanyaan. Suruh dia menguraikannya.”

Ki Patih Wanasalam menyatakan kesiapan. Hanya dengan tiga pembantu Ki Patih berangkat. Setelah sampai di Pengging Ki Wanasalam bertanya keberadaan Kyai Ageng Pengging kepada seseorang yang sedang mencangkul di halaman. Orang tersebut menjawab bahwa Kyai Ageng Pengging berada di langgar sedang bercakap-cakap dengan Yang Menguasainya.

Kyai Patih kaget ketika mendengar jawaban orang tersebut. Dalam hati Ki Patih heran mengapa orang yang terlihat sederhana itu bisa memberi jawaban yang sangat filosofis. Kyai Patih laju ke langgar dan mengucap salam kepada Kyai Ageng sampai tiga kali. Kyai Ageng diam tak menjawab. Pada saat itu Kyai Ageng tak terlihat karena berada di balik tabir.

Kyai Patih lalu berkata, “Hai Allah, saya diutus Yang Maha Suci, yang menguasai keraton Bintara, untuk menemui Anda Yang Maha Melihat.”

Kyai Ageng menoleh dan menganggukkan kepala. Lalu keluar menemui Patih Wanasalam. Keduanya lalu bersalaman. Keduanya lalu beramath-tamah seperlunya, kemudian duduk nyaman.

Kyai Ageng Pengging berkata, “Hai utusan, saya ingin tahu arti perkataan Anda. Anda katakan sebaga utusan Yang Maha Suci yang menguasai keraton Bintara, untuk menemui Yang Maha Melihat di sini. Bagaimana itu maksudnya?”

Ki Patih tanggap dan berkaa, “Kangjeng Sultan itu bersifat hawadits semua perbuatannya atas kehendak Yang Maha Suci di dalam jiwanya. Ini berarti perintah datang ke sini bersih atas kehendak Tuhan. Lalu mengutus saya datang ke sini untuk menemui Anda Yang Maha Melihat. Artinya sebagai utusan saya hanya melaksanakan kehendak Yang Maha Suci. Dan Anda jika bukan atas kehendak Yang Maha Melihat pasti juga tidak akan menemui saya.”

Kyai Ageng menganggukkan kepala karena merasa sepakat dengan pernyataan Ki Patih. Kyai Ageng menduga si utusan seorang bijaksana karena perkataannya runtut, raut mukanya tenang dan kata-katanya bersahabat.

Kyai Patih kembali berkata, “Duh Kyai, saran saya Anda penuhi panggilan adik Anda. Beliau merasa mempunyai saudara ipar di desa dan merasa rindu kedatangan Anda. Dan sekarang adik Anda mendengar Anda mengaku sebagai Tuhan dan mengajarkan keyakinan Anda itu kepada orang banyak. Kalau melantur-lantur perbuatan Anda, pasti merusak agama. Sebaiknya Anda hentikan. Bila memang Anda mengajarkan kepada orang banyak, mereka bisa salah mengerti dan tersesat. Mereka menjadi abai terhadap perbuatan baik dan tidak takut siksa neraka.”

Kyai Ageng Pengging berkata, “Saya tidak mau menghadap kepada raja karena saya hanya seorang petani yang pekerjaannya menanam. Adapun persoalan Sang Raja melarang saya mengajarkan ilmu, itu tidak tepat. Orang mengajarkan ilmu sesuai keyakinan mengapa dilarang. Dan seorang raja tidak berhak mengakui bumi dan langit ini sebagai miliknya. Yang menjadi miliknya hanya sebatas pajak yang dibayarkan karena itu menghasilkan pendapatan negara. Adapu diri saya bukan bawahan dari siapa pun, kecuali Allah yang berada di dalam diri saya. Itulah yang kulakukan setiap hari. Jika bukan atas kehendak Allah sungguh diri ini tak mampu melakukan apapun. Meski sekuat tenaga saya berusaha jika Allah tidak menghendaki pasti tidak terjadi. Namun walau saya kecapaian, jika Allah menghendaki pasti sanggup melangkahi gunung Merapi. Bila Allah menghendaki, jangankan hanya Bintara, ke Mekkah atau Madinah pun mampu. Maka, apapun yang saya lakukan hanya sekedar menjalani perintah.”

Ki Patih berkata, “Jika demikian Kyai,  kita tidak akan sepakat. Seorang raja itu berkuasa di dunia, berwenang mengusai dan menghukum kepada yang berbuat jahat. Apa yang Kyai lakukan itu tidak lazim. Kita hidup di dunia tentu menurut aturan orang banyak. Kita hidup bersama orang banyak tentu harus menurut aturan yang lazim. Jika tidak, tentu tidak akan terjadi kesepatakan. Orang yang berbuat nyleneh, beda dengan orang lain pasti akan tersingkir meski dia kuat. Maka, saya minta Anda menghadap kepada Sultan di Bintara. Saya membawa perintah Sultan, bila Anda bersikeras mengaku sebagai Allah, maka Anda diminta memecahkan tiga teka-teki ini. Salah satu atau syukur bisa ketiganya.”

Kyai Ageng berkata, “Apa tiga pertanyaan itu, katakanlah. Barangkali saya bisa memecahkan.”

Kyai Patih berkata, “Perintah Sang Raja, Anda diminta memecahkan tiga pertanyaan; pertama, hidup ada di mana letaknya, kedua, apa yang disebut ilmu, dan ketiga, yang mengajak tidur itu apa?”

Kyai Ageng Pengging tersenyum dan berkata pelan menguraikan pertanyaan, “Yang disebut ilmu adalah pengetahuan tentang yang tidak terlihat. Seperti pengetahuan saya tentang negeri Demak yang tidak terlihat dari sini. Adapun yang kedua, di mana letak hidup, letaknya di alam ananing ananung. Dan yang mengajak tidur adalah air suci. Dalam bahasa Arab disebut air hayat. Air itulah yang dahulu dicari Bina Sena. Dalam agama Buddha disebut banyu perwira. Adapun tempat di terot tottot tottot jing tongjing. Silakan dinilai jawaban saya benar atau salah.”

Kyai Patih berkata, “Benar atau salahnya Sultan yang akan menilai. Tidak lebih saya berharap paduka berangkat ke Demak dan bertemu saudara paduka. Karena masih saudara. Kapan waktunya tidak ditentukan. Bila paduka berdalih masih menunggu kehendak Allah, itu saya khawatirkan menjadi salah paham. Barangkali keterlambatan paduka menghadap ke Demak akan ditafsirkan sebagai melawan raja. Paduka putra raja, tidak mustahil berkehendak menjadi raja pula. Bila ada orang mengadu domba, akan berakhir tidak elok. Begini saja Kyai, paduka minta waktu tiga tahun supaya tidak dianggap membantah. Saya yang akan menanggung. Namun setelah tiga tahun paduka segera menghadap.”

Kyai Ageng berkata, “Saya bersikeras tidak datang. Saya ini sudah dalam keadaan mati. Baru akan hidup kalau sudah meninggalkan dunia.”

Kyai Patih kaget, lalu berkata, “Bagaimana bisa paduka berkata seperti itu. Itu sungguh keliru. Lazimnya orang menyebut di dunia ini kita hidup, sesuah mati baru ke akhirat. Di sana hidup mulia dalam kelanggengan.”

Kyai Ageng Pengging berkata, “Sekarang hidup, kelak mati, lalu hidup mulia di akhirat. Itu kepercayaan santri musibah. Perkataan orang yang mengharap sesuatu yang belum pasti. Hai utusan, segeralah pulang.”

Kyai Patih pamit, tapi tak dijawab Kyai Ageng. Denan tangan hampa Ki Patih kembali ke Demak. Sesampai di kota Bintara segera menghadap Sang Raja.

Kyai Patih berkata, “Duh Sang terpilih di jagad raya, perjalanan hamba sudah berhasil bertemu Ki Andayaningrat. Dia tetap bersikeras tak mau menghadap ke Bintara. Adapun tiga pertanyaan paduka sudah saya sampaikan dan dijawab dengan tepat. Saya lalu menyarankan agar Ki Pengging minta tempo tiga tahun untuk menghadap. Setelah tiga tahun saya minta menghadap tanpa harus dipanggil lagi. Namun dia tampaknya tidak berkenan. Hamba beri waktu tiga tahun karena hamba pikir setelah tiga tahun kita punya alasan untuk menyelesaikan nanti. Karena jika dia tidak menghadap, terbukti dia menolak perintah raja.”

Sultan berkata, “Hai Patih, yang engkau lakukan sudah bagus.”


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/22/sajarah-jati-29-ulah-kyai-ageng-pengging-menjadi-perhatian-sultan-bintara/

Sajarah Jati (27): Sultan Bintara Mengutus Adipati Pecattanda Menaklukkan Blambangan

Patih Wanasalam berkata, “Duh paduka, bila paduka berkehendak memukul Blambangan, adik paduka Adipati Pecattanda paduka perintahkan untuk berangkat. Sekarang beliau belum menghadap, sebaiknya segera paduka panggil.”

Sultan setuju dengan usulan Patih Wanasalam. Dua gandek segera diperintahkan memanggil Adipati Terung. Singkat cerita dua gandek sudah sampai di Terung dan bertemu sang adipati. Kedua gandek menyampaikan perintah Sultan: Adipati Terung dipanggil menghadap ke Bintara dan diminta berangkat bersama kedua gandek. Adipati Terung menyatakan kesanggupan. Kedua gandek lalu ditempatkan di gedung timur dan diberi jamuan beraneka warna. Sang adipati lalu memerintahkan kepada para bupati sekitar yang baru saja menyerah agar bersama-sama menghadap ke Bintara. Mereka pun bersiap untuk berangkat.

Ketiba tiba harinya para bupati sudah bersiap berangkat di bawah pimpinan Adipati Terung. Sang Adipati naik kuda teji dengan busana serba keemasan. Para bupati beriringan di belakang. Jika dilihat Adipati Terung tampak seperti putra Raden Bima. Dalam rombongan itu dibawa serta berbagai harta benda sebagai tanda tunduk kepada Bintara, berupa emas, perhiasan dan hasil bumi sesuai wilayah masing-masing.

Singkat cerita rombongan dari Terung sudah sampai di Bintara. Yang pertama dituju adalah kediaman Ki Patih. Di rumah Ki Patih, Adipati Terung dan para bupati beristirahat dan menikmati jamuan. Ki Patih lalu melaporkan kedatangan mereka kepada Sultan. Sultan sudah mengizinkan mereka semua menghadap. Seorang gandek diperintahkan untuk menjemput.

Adipati Terung dan para bupati menghadap Sultan dengan penuh takzim. Sultan memberi salam kepada para bupati yang hadir. Semua tertunduk dan siap menerima perintah. Adipati Terung lalu menghaturkan barang-barang bawaan berupa emas dan perhiasan serta hasil bumi.

Sultan berkata, “Aku terima dengan senang hati, Dinda. Dan kepada kalian para bupati yang telah tunduk, kalian boleh tetap menduduki jabatan kalian seperti sediakala. Dinda, tanah mereka jangan ada yang kurang dari kemarin, bahkan berikan tambah sepantasnya.”

Adipati Terung menyatakan kesiapan melaksanakan perintah. Para bupati sudah diizinkan undur diri dan kembali ke pondokan masing-masing. Ki Patih kemudian menjamu para bupati di Kepatihan. Pertunjukan tari bedaya kemudian digelar untuk memeriahkan suasana. Jamuan dari Ki Patih sangat pantas dan terus mengalir.

Selama di kotaraja Bintara para bupati disambut dengan hangat. Ki Patih sangat memuliakan mereka. Selain jamuan yang elok, Ki Patih juga memberi hadiah berupa kain batik. Ketika mandi mereka diberi air ledeng dan sabun wangi. Setiap hari selalu ada bupati keraton yang menemui mereka.

Sementara itu Sultan selalu memikirkan peristiwa di Blambangan. Adipati Blambangan tidak mau tunduk, bahkan berani membunuh utusan. Pada suatu hari Sultan memanggil Adipati Terung dan para bupati untuk membicarakan masalah ini.

Sultan berkata, “Dinda Adipati dan para bupati dari mancanegera, ketahuilah. Dahulu aku mengirim dua utusan dengan membawa surat kepada Adipati Blambangan Siunglaut. Dua utusan adalah mantri Tohjaya dan Tohjiwa disertai pengawal sejumlah tiga ratus prajurit. Dalam surat aku menghimbau agar Adipati Siunglaut tunduk secara damai ke Bintara. Dan aku meminta dua keris dhapur Sangkelat yang mereka miliki sebagai tanda tunduk. Namun Adipati Siunglaut malah mengumbar keberanian. Dua utusan dan pengawalnya dibantai. Dari tiga ratus prajurit hanya beberapa yang selamat. Mereka kemudian pulang dan melaporkan kejadian tersebut. Dinda, bagaimana saranmu menyikapi peristiwa ini?”

Adipati Pecattanda setelah mendengarkan uraian Sultan segera menanggapi, “Paduka, sebaiknya Blambangan segera dipukul perang. Jangan sampai mereka mencari dukungan untuk melawan paduka. Bila mereka semakin besar pasti akan semakin sulit ditaklukkan. Kapan paduka perintahkan, kami siap berangkat.”

Para bupati bawahan Terung menyambung, “Benar perkataan Ki Lurah, kami semua siap berangkat. Walau kami hancur menjadi tanah, bila paduka perintahkan kami akan berangkat. Kelak atau sekarang, jiwa kami sudah kami serahkan ke hadapan paduka Sultan.”

Sultan berkata, “Dinda, berangkatlah besok. Tidak usah pulang ke Terung. Aku beri kalian doa selamat.”

Pertemuan selesai. Sultan kembali ke puri, Adipati Terung dan para bupati kembali ke pondokan. Sesampai di pondokan Adipati Terung segera mengumumkan kepada para prajurit agar bersiap. Pagi hari pasukan Adipati Terung dan para bupati mancanegara telah berbaris. Sejumlah 8.000 prajurit telah siap berangkat.

Tanda berangkat telah dipukul. Adipati Terung sudah naik ke atas kuda. Pasukan Terung segera berangkat. Bergemuruh suara barisan di sepanjang jalan. Perlahan mereka melewati Besuki, Bandawasa, Bajulmati dan sampailah di Banyuwangi. Pasukan Terung kemudian berhenti untuk menata barisan. Adipati Terung dan para bupati sepakat untuk mengirim utusan kepada Siunglaut. Sebuah surat lalu dikirim.

Isi suratnya: Surat dariku, Pecattanda dari Terung, andalan perang Sultan Adi Panata Agami di Bintara, kepada Sang Adipati Blambangan Siunglaut yang perwira. Suratku memberi tahu bahwa kedatanganku ke Blambangan diutus Sultan Bintara untuk mengajak engkau berdamai. Rajaku memanggilmu dengan cara baik-baik. Menghadaplah ke Bintara dengan membawa dua keris dhapur Sangkelat bila engkau ingin tetap lestari hidup mulia sebagai adipati di Blambangan.”

Dua mantri kemudian diutus menyampaikan surat kepada Adipati Siunglaut. Pada waktu itu Sang Adipati sedang tampil di hadapan para bupati di wilayah Banyuwangi. Surat sudah diterima oleh Sang Adipati dan dibaca dengan seksama. Selesai membaca surat Adipati Siunglaut sangat murka. Bibir bergetar, mata memerah karena menahan amarah yang sangat.

Berkata Sang Adipati, “Hai Patih Cluring, ketahuilah. Pecattanda disuruh si santri dari Bintara. Tidak tahu malu. Kurang ajar. Hai Patih, tangkap dua utusan itu. Bunuhlah. Penggal lehernya.”

Ki Patih berkata, “Jangan berbuat yang tidak baik, paduka. Utusan tidak boleh dianiaya apalagi dibunuh. Itu merusak tatakrama. Akan berakhir tidak baik. Belum pernah terjadi seorang utusan dibunuh. Kecuali dia prajurit sandi yang mencuri, pantas bila dihukum mati. Bahkan jika dia melakukan itu dan tertangkap, lebih baik dia dilepaskan dan diberi hadiah. Ketika zaman Sri Ramawijaya berbaris di Swelagiri, menangkap prajurit sandi Sokasrana utusan Raja Dasamuka. Walau demikian si utusan dimaafkan dan dilepaskan. Paduka sedang marah, maka paduka berbuat yang tidak sepantasnya. Nista keraton kita jika paduka berbuat demikian. Nanti hamba ikut bersalah.”

Adipati Siunglaut tak reda amarahnya. Bahkan semakin kesetanan. Ki Patih dimaki-maki dengan bengis.

“Hai Cluring, engkau sungguh tak bisa membalas kebaikanku. Aku mengangkatmu dari derajat sudra menjadi punggawa negeri. Sekarang engkau berani mengguruiku. Engkau sok pintar layaknya pendeta agung. Sebenarnya engkau hanya takut mati. Engkau orang hina yang tak mengerti arti hidup mulia. Engkau hanya tahu makan enak, tak tahu apa itu harga diri seorang perwira. Engkau sudah hidup enak dan dimuliakan. Sekarang negeri meminta karyamu, engkau tak jadi teman malah berani melawan perintah. Jika demikian sebaiknya aku bunuh dulu engkau,” kata Adipati Siunglaut sambil menarik kerisnya.

Patih Cluring waspada. Keris segera direbut. Namun sarung keris itu berisi dua bilah keris kembar. Adipati Siunglaut masih membawa bilah yang satunya. Keduanya kini sama-sama membawa keris Sangkelat yang persis sama. Siunglaut menerjang, Patih Cluring menangkis. Tangan Siunglaut tertusuk, lalu tewas. Leher Patih Cluring sedikit tergores, lalu juga tewas. Keduanya tewas bersamaan.

Para punggawa Blambangan segera melapor kepada permaisuri. Seketika permaisuri menjerit dan berlari ke Panangkilan. Permaisuri memeluk jenazah sang suami. Jenazah lalu dibawa ke dalam puri. Seketika puri Blambangan hujan tangis.

Sementara itu istri Patih Cluring sudah diberi tahu bahwa suaminya tewas. Nyai Patih segera berlari ke Panangkilan bersam anak-anaknya yang masih kecil. Jenazah Patih Cluring segera dibawa ke Kapatihan.

Sementara itu, dua utusan Adipati Terung telah meloloskandiri dan lari kencang ke barisan. Tidak lama kemudian mereka telah sampai ke hadapan Adipati Terung. Sang Adipati mengira mereka lari ketakutan.

“Hai utusan, mengapa kalian berlari ketakutan?” tanya Adipati Terung.

Dua utusan menceritakan apa yang terjadi di balai Panangkilan Kadipaten Blambangan dari awal sampai akhir. Adipati Terung heran dengan kejadian aneh ini. Sang Adipati segera memerintahkan agar tanda perang dipukul. Bergemuruh suara pasukan Terung. Adipati Terung memberangkatkan pasukan bersenjata lengkap ke kota Blambangan.

Sementara itu di kota Blambangan, berita kedatangan pasukan Terung sudah mereka terima. Seorang bupati bawahan Blambangan dari Ragajampi, masih saudara dengan Adipati Siunglaut. Dia bermaksud membela negeri dan menghadang pasukan Adipati Terung. Terjadi pertempuran antara pasukan Terung dan Blambangan. Namun tidak lama kemudian pasukan bupati Ragajampi kocar-kacir. Tinggal si bupati sendiri yang masih tersisa. Bupati Ragajampi menyerah dan memohon ampun. Adipati Terung memaafkannya. Pasukan Adipati Terung kemudian masuk kota. Jenazah Adipati Siunglaut kemudian diberikan upacara sesuai keyakinannya. Juga jenazah Ki Patih sudah diberi upacara menurut agama Buddha. Blambangan sudah takluk sepenuhnya kepada Adipati Terung. Pasukan Adipati Terung kemudian mengambil harta benda Kadipaten Blambangan. Peralatan upacara kadipaten diambil, seperti singgasana, kacu emas, kijang emas dan ardawalika. Peralatan upacara Blambangan lengkap karena Siunglaut telah mengangkat diri sebagai raja. Semua kini dirampas. Tak ketinggalan dua keris dhapur Sangkelat buatan Ki Supa atau Empu Pitrang.

Adipati Terung memutuskan untuk menjadikan permaisuri Blambangan dan para putrinya sebagai boyongan. Para putri tak kuasa menolak. Meski permaisuri sudah sepuh, tetapi tetap dibawa ke Bintara. Adapun Nyai Patih Cluring dan anak-anaknya tidak dijadikan boyongan. Malah karena jasa mendiang Patih Cluring yang telah membuat penaklukan Blambangan menjadi mudah, anak Patih Cluring diangkat sebagai adipati di Blambangan. Namun dia harus memeluk agama Islam. Putra Ki Patih tidak keberatan. Semua sudah terlaksana. Di Blambangan lalu didirikan sebuah masjid.

Sementara itu beberapa bupati bawahan Blambangan yang masih mengungsi ke gunung antara lain para tumenggung Kraksaan, Lumanjang, Setubanda, Prabalingga dan Besuki sepakat untuk menyerah dan berganti agama Islam. Mereka juga ingin mengabdi ke Bintara, karena Sultan Bintara tak lain putra Prabu Brawijaya Majapahit. Setelah semua mufakat mereka kemudian turun gunung menemui Adipati Terung. Kedatangan para tumenggung diterima Adipati Terung dengan suka hati.

Adipati Terung berkata, “Kawan-kawan semua, sudah saya terima pernyataan tunduk kalian. Namun sebaiknya kalian tetap menghadap ke Bintara bersama kepulanganku. Sesudah sampai di sana semua terserah kehendak Sultan. Dan sebaiknya kalian semua memeluk agama Islam.”

Para bupati menyatakan kesanggupan. Mereka kembali ke tempat masing-masing untuk bersiap. Ketika tiba harinya Adipati Terung dan para bupati bawahan Blambangan bersiap berangkat. Harta benda dan peralatan upacara Blambangan telah dimuat dan diletakkan di depan barisan. Lalu di belakangnya permaisuri Blambangan naik tandu bersama para putri. Di belakang Adipati Terung bersama para bupati. Rombongan besar dari Blambangan berangkat.

Singkat cerita, rombongan dari Blambangan sudah tiba di kota Bintara. Mereka menuju Kapatihan. Ki Patih Wanasalam menmpatkan mereka dalam pondok-pondok yang telah disediakan. Ki Patih sudah melaporkan kedatangan Adipati Terung dan para bupati yang hendak menyatakan kesetiaan kepada Sultan Bintara. Sultan Adi Natapraja sangat bersukacita. Semua sudah diizinkan menghadap.

Adipati Terung menceritakan penugasan yang dia emban sejak awal sampai akhir. Harta benda dan boyongan kemudian diserahkan kepada Sultan. Permaisuri Blambangan dan para putri sudah dibawa masuk menemui permaisuri Bintara. Kangjeng Sultan lalu mempersilakan para bupati maju ke depan. Sultan sendiri yang menuntun mereka mengucapkan kalimah syahadat sebagai pernyataan mememuk agama Islam. Para bupati sudah mendapat izin tetap berkuasa seperti sebelumnya. Namun mereka diharuskan membuat masjid di kabupaten masing-masing. Pada kesempatan itu Sultan juga mewisuda putra Patih Cluring sebagai adipati di Blambangan. Kepada semua punggawa yang baru juga diminta menepati suarat perjanjian sebagaimana punggawa Bintara lainnya. Setelah pertemuan selesai para bupati diizinkan kembali negeri masing-masing.

Sultan juga menetapkan bahwa permaisuri Blambangan diberikan kepada Patih Wanasalam. Perayaan pernikahan dilaksanakan dengan meriah seperti pengantin gadis. Sang putri sudah nyaman berada di Kapatihan.

Negeri Bintara semakin hari semakin makmur dan berkembang. Wilayahnya kini sudah mencakup tanah Jawa bagian timur sampai ke ujung di Blambangan. Sejak Bintara berdiri berbondong-bondong penduduk tanah Jawa memeluk agama Islam. Masjid-masjid berdiri si setiap wilayah. Banyak para durjana dan penjahat bertobat dan melaksanakan syari’at. Negeri Bintara tumbuh menjadi negeri yang aman dan sentausa. Rakyat merasa aman dari segala tindak kejahatan. Mereka dapat berkarya dengan leluasa. Pertanian dan peternakan berkembang pesat. Hasil bumi melimpah. Pertanian maju pesat. Banyak tanah-tanah baru dibuka. Juga rawa-rawa dan sungai-sungai diberdayakan untuk memelihara ikan. Para petani mendapat hasil yang menggembirakan. Para fakir dan orang telantar mendapat santunan yang cukup dari negara. Banyak kaum miskin diangkat derajatnya menjadi lebih bermartabat. Penduduk tanah Jawa tak kurang sandang pangan.

Kemasyhuran negeri Bintara terdengar sampai ke mancanegara. Banyak pedagang mengadu nasib ke negeri Bintara. Perdagangan menjadi berkembang pesat. Para pendatang merasa aman karena semua tindak kejahatan segera mendapat penyelesaian. Si penjahat segera ditangkap dan diadili.

Selain penghidupan yang lebih baik, Sultan juga mengupayakan kemajuan dalam pendidikan. Sultan gemar mengundang para guru dari berbagai wilayah. Bahkan para ajar di gunung-gungung pun diminta sumbangsih membagi ilmunya kepada masyarakat. Walau orang desa jika pandai dalam sastra akan diminta karyanya. Sultan juga berkenan menata penanggalan. Nama-nama hari dan bulan diganti menjadi nama-nama bulan dalam bahasa Arab. Ahi-ahli ilmu falak bekerja keras mengerjakannya. Setelah selesai para punggawa diminta mengundangkan ke seluruh negeri.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/22/sajarah-jati-27-sultan-bintara-mengutus-adipati-pecattanda-menaklukkan-blambangan/

Sajarah Jati (26): Adipati Pecattandha Lestari Berkuasa di Kadipaten Terung

 Sultan Bintara berkehendak memuliakan sang ibu Kangjeng Ratu Dwarawati. Sultan lalu meminta agar sang ibu bersedia menikah lagi. Yang ditunjuk sebagai suami adalah Kangjeng Sunan Kudus, seorang wali yang masih muda usia. Walau Kangjeng Ratu Dwarawati sudah sepuh, tidak jadi soal. Pada zaman dahulu ada contoh kejadian seperti itu, yakni Siti Wuryan di tanah Ajam.

Sunan Kudus mempunyai adik perempuan bernama Retna Salamah. Oleh Sultan kemudian dinikahkan dengan Adipati Pecattanda dari Terung. Pernikahan kedua pengantian dilaksanakan bersamaan. Kedua pengantin sudah hidup berumah tangga dengan rukun.

Kangjeng Sultan kemudian berkata kepada Adipati Terung, “Dinda, engkau pulanglah ke negerimu. Wilayah di kanan kiri Terung ajaklah masuk Islam. Dan perintahkan agar mereka menghadap ke Bintara. Bila ada yang melawan selesaikanlah. Istri ajaklah serta pulang ke Terung. Adapun para mantri dari Majapahit, mana yang engkau kehendaki bawalah serta menjadi punggawamu. Adapun barang peninggalan ayah Prabu Brawijaya, aku ingin memakai bale witana sebagai tempat pisowanan luar. Agar berkah negeri besar Majapahit membuat Bintara bersinar kelak. Lalu bangsal pengrawit akan aku jadikan serambi. Sudah hanya itu pesanku. Pulanglah engkau segera ke Terung.”

Adipati Terung menyatakan kesanggupan. Segera kembali ke pondokan untuk bersiap. Pagi hari berikutnya sang adipati kembali menghadap Sultan untuk minta pamit. Sang kakak Sunan Kudus juga memberi restu dan doa selamat.

Singkat cerita Raden Arya Pecattanda sudah sampai di Terung. Para abdi menyambut kedatangan tuan mereka. Para tetua di Terung juga ikut menyambut. Mereka tak mengira masih akan bertemu setelah Majapahit sirna. Ki Adipati segera menata kembali para punggawa dan pasukan. Sudah terkumpul prajurit sejumlah 5000 orang.

Sementara itu, Kangjeng Sunan Kalijaga mengunjungi Bintara dan bertemu Sultan Adi Natapraja. Pada waktu itu Sultan sedang duduk sendirian di pendapa. Sultan menyambut kedatangan Sunan Kalijaga dan mempersilakan duduk.

Sunan Kalijaga berkata, “Anakku, keraton Bintara semaki makmur dan masyhur. Tidak ada lagi yang mengimbangi kekuasaanmu di tanah Jawa. Namun aku menyimpang kekhawatiran terhadap negeri Blambangan. Setelah Majapahit surut adipati Blambangan punya niat menjadi raja dan menguasai tanah Jawa. Mereka percaya diri karena mempunyai dua pusaka kembar berupa keris Kyai Sangkelat. Keris itu buatan Empu Supa. Mereka sudah mulai memperluas wilayah dengan menaklukkan wilayah sekitar, mulai Bandawasa, Lumanjang, Kraksan, Puger sampai Prabalingga. Maka dari itu segeralah bertindak. Ambillah kedua keris dengan cara halus. Namun bila mereka melawan segera pukul dengan perang. Juga aku memberi tahu kepadamu bahwa di Mataram hidup Ki Supa atau Pangeran Sendhang. Dia adalah wali yang tekun beribadah di Mataram karena mengikuti nasihatku. Istrinya adalah adikku si Rasawulan. Dulu ketika Majapahit akan kita serang dia aku minta meninggalkan negeri dan hidup di Mataram. Dia seorang empu yang mumpuni. Maka sebaiknya engkau panggil agar membantumu sebagai aparat negara. Nah, anakku, cukup itu pesanku. Aku hendak meneruskan perjalanan.”

Dalam sekejap Sunan Kalijaga sudah menghilang. Sultan lalu masuk ke puri dan memberi perintah kepada dua mantri untuk pergi ke Mataram. Mereka ditugaskan membawa Ki Supa dan anak istrinya. Setiap hari mereka membuat keris dan senjata.

Ki Supa sudah berhasil di bawa ke Bintara dan dihadapkan kepada Sultan. Sultan menerima kedatangan Ki Supa sekeluarga. Ki Supa kemudian diberi rumah dan tanah. Ki Supa sangat bersyukur dapat mengabdi di Bintara.

Pada suatu hari Sultan bertahta di hadapan para punggaa. Ki Patih, jaksa dan pengulu telah hadir. Juga para bupati dan panewu.

Sultan berkata kepada Ki Patih, “Bagaiman pendapatmu, aku ingin mengirim utusan ke Blambangan untuk mengambil dua bilah keris dhapur Sangkelat dari tangan Adipati Siunglaut. Jika tak diberikan akan aku  pukul perang. Hai Patih, siapa yang seyogyanya berangkat?”

Ki Patih berkata, “Si Ngabei Tohjaya dan Tohjiwa mampu melaksanakan tugas itu, paduka. Mereka luwes dalam bicara dan cakap.”

Ngabei Tohjaya dan Tohjiwa sudah diberi perintah. Sang Raja lalu meminta juru tulis segera membuat surat. Setelah surat selesai lalu diserahkan kepada kedua utusan. Kedua punggawa Bintara segera berangkat.

Sementara itu Adipati Terung telah melaksanakan tugas yang diberikan Kangjeng Sultan. Wilayah sekitar Terung telah diajak untuk bergabung ke Bintara. Yang menolak segera dipukul perang. Harta mereka dijarah dan para wanitanya diboyong. Semua harta rampasan dan boyongan kemudian dikirim ke Bintara. Sultan sangat bersukacita melihat hasil pekerjaan Adipati Terung. Sang Adipati semakin bersemangat menaklukkan wilayah. Tempat-tempat yang jauh pun sudah tunduk, Ponorogo, Trenggalek, Ngrawa, Kediri, Brebeg, Kartasana, Malang, Gembong, Bangil, Gresik, Lamongan, Japan, Surabaya dan Madura. Semua wilayah tadi sudah tunduk dan menyerahkan upeti kepada Sultan Adi Natagama di Bintara.

Kembali ke dua utusan yang dikirim ke Blambangan. Mereka berdua sudah sampai di Blambangan dan dibawa menghadap Adipati Siunglaut pada hari pisowanan. Para punggawa hadir ketika sang adipati menerima surat dari Bintara. Surat sudah dibaca sang adipati dengan seksama.

Isi suratnya: “Surat dari Sultan Natagama di Bintara, yang perkasa dan menguasai tanah Jawa tiada duanya. Perintahku kepadamu Adiapti Siunglaut di Blambangan. Aku mendengar engkau memiliki dua keris kembar yang sama persis. Kerismu aku minta. Kirimkan ke Bintara pada hari ini. Dan, aku mendengar Paman Siunglaut berdiri menjadi raja di Blambangan. Bila benar demikian, aku tak memberi izin. Kecuali jika negeri yang Paman pimpin tunduk ke Bintara dan mengirim upeti. Jika Paman bersikeras, aku akan menjatuhkan hukuman. Silakan memperkuat benteng dan melapisinya dengan baja karena pasukanku akan datang. Tamat isi surat, tertanggal 8 Sura, tahun Dal, dengang sengkalan tahun: janma nir catur bupati[1]. Tertanda Kangjeng Sultan Natapraja.”

Selesai membaca surat terlihat raut muka Adipati Siunglaut menahan marah.

“Hai dua utusan, katakan mengapa tuanmu berani memberi surat tanpa sopan santun. Basi-basi dan tatakrama hilang sama sekali. Aku takkan menghadap ke Bintara. Bahkan aku tak sudi berkenalan dengan santri nista seperti dirinya. Semestinya orang mengirim surat kepada sesama raja memakai bahasa yang baik, tuanmu ini tak tahu tatakrama. Apakah belum lama mengaji sehingga berkirim surat layaknya tukang kuda?” kata Siunglaut bengis.

Kedua utusan mundur tanpa pamit. Mereka lalu membawa pasukan Bintara ke tempat yang bagus. Adipati Siunglaut memerintahkan pasukan Blambangan mengejar kedua utusan. Pasukan Blambangan segera bersiap. Sejumlah 6.000 prajurit telah berbaris di alun-alun. Pasukan Blambangan dipimpin Ki Patih Cluring mengejar pasukan Bintara.

Pasukan Blambangan berhasil menyusul pasukan Bintara. Kedua pasukan sudah berhadap-hadapan. Jumlah pasukan Bintara hanya tiga ratus, dipimpin dua mantri. Merasa prajuritnya tak mampu melawan pasukan Blambangan Ngabei Tohjaya dan Tohjiwa perlahan membawa pasukannya mundur. Namun pasukan Blambangan terus mengejar. Terjadi pertempuran sengit antara kedua kubu. Dalam  waktu tak terlama lama pasukan Bintara berhasil dihancurkan. Kedua mantri tewas. Ada beberapa prajurit yang lolos dari maut. Mereka segera lari melapor ke Bintara.

Di Bintara, Sultan dan para punggawa sedang menyaksikan pemasangan bangsal pangrawit yang dibawa dari keraton Majapahit. Bangsal witana sudah didirikan sebaga tempat para punggawa menghadap. Adapun bangsal pangrawit dipasang sebagai serambi masjid Demak. Belum selesai pemasangan bangsal pangrawit mendadak datang para prajurit yang kalah dari Blambangan. Mereka memberi tahu bahwa kedua utusan Sultan sudah tewas. Semua peristiwa sudah dilaporkan dari awal sampai akhir.

Sultan berkata kepada Ki Patih, “Hai Patih, bagaimana rencanamu sekarang? Blambangan ternyata melawan. Tak hendak tunduk kepadaku.”

[1] 8 Sura, Dal: janma nir catur bupati (1401)


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/21/sajarah-jati-26-adipati-pecattandha-lestari-berkuasa-di-kadipaten-terung/

Sajarah Jati (25): Prabu Brawijaya Muksa Bersama Seluruh Keluarga

Kyai Empu Supasujana memanggil kedua putranya, Ki Anom bupati Guling dan Ki Surengrana bupati Jenu. Keduanya sudah berkumpul di kediaman Ki Supa atau Pangeran Sendhang.

Berkata Ki Supa, “Nah, anak-anakku, ayo kalian aku bawa ke tanah Mataram. Kita patuhi pesan Kangjeng Sunan Kalijaga.”

Ki Anom menyatakan kesanggupan, tapi Ki Surengrana tidak mau ikut.

Berkata Ki Surengrana, “Saya tidak ikut. Bila yah sekarang hendak menyingkir, saya doakan selamat. Saya juga minta doa restu agar selamat di sini.”

Ki Supa lalu membawa istri dan Ki Anom pergi ke Mataram. Pada waktu malam mereka berangkat. Para siswa dan pembantu banyak yang ikut serta. Hanya Ki Surengrana saja yang tertinggal. Ki Surengrana lalu masuk ke kedaton Majapahit bergabung dengan para punggawa. Sang Raja sangat gembira melihat kedatangan Adipati Surengrana.

Berkata Sang Raja, “Surengrana, engkau keluarkan budidayamu untuk mengusir para santri.”

Ketika Sang Raja dan Ki Surengrana sedang berbincang datang laporan yang menyebut bahwa Pangeran Sendhang dan istri telah meninggalkan kota. Kepergiannya banyak diikuti para siswa dan pelayannya. Ki Adipati Guling juga ikut pergi. Sang Raja sangat marah mendengar laporan itu.

Sang Raja lalu menjatuhkan larangan, “Kelak, seorang raja tidak boleh mengambil tukang pandai besi sebagai menantu!”

Sabda Sang Raja disambut kilatan halilintar di angkasa. Maka sejak saat itu sampai sekarang tidak ada lagi pandai besi menjadi bupati.

Pagi hari berikutnya, Ki Patih Wahan sudah memerintahkan agar sisa prajurit Majapahit berbaris di alun-alun. Hati ini mereka akan melakukan perang habis-habisan untuk mengusir pasukan santri yang mengepung kota. Namun Ki Patih kaget karena jumlah prajurit yang terkumpul sangat sedikit. Ki Patih merasa pasukan Majapahit tak sebanding dengan besarnya pasukan musuh. Ki Patih merasa ciut hatinya.

Para punggawa berkata, “Ki Lurah, sebaiknya kita pilih bagian yang terkuat musuh lalu kita serang. Tidak usah dipikirkan siapa panglima perang kita. Kita semua maju bersama-sama dan berperang sampai tetes darah terakhir. Tidak usah kita pikirkan harta dan sanak keluarga kita. Apa lagi yang kita takutkan. Bila kita semua tewas sungguh akan menemui kemuliaan di alam baka. Kita akan disambut Hyang Otipati dan diganjar surga sebagai ksatria yang gugur dalam medan perang.”

Ki Patih Adipati Wahan mendengar pernyataan para punggawa menjadi bangkit keberaniannya. Bersama Adipati Terung Ki Patih berganti pakaian dan memakai hiasan bunga sebagai tanda siap mati. Para prajurit Majapahit yang tersisa sudah pasrah hidup mati kepada Hyang Dwandakala. Tidak ada lagi yang menoleh ke belakang.

Pasukan Majapahit bergerak mendekati pasukan Bintara yang mengepung kota. Hanya tinggal 300 prajurit yang tersisa. Sebelum bertempur mereka meletakkan senjata dan mengheningkan cipta. Tampak dalam angan mereka indahnya surga. Para bidadari sekan memanggil mereka untuk segera masuk. Para prajurit kembali meraih senjata mereka dan menerjang barisan pasukan Bintara.

Pasukan Bintara menahan serangan terakhir pasukan Majapahit dengan tangguh. Ibarat satu banding seratus. Satu persatu prajurit Majapahit bertumbangan. Ketika hari menjelang sore yang hidup tinggal Adipati Terung yang meratapi mayat-mayat prajuritnya. Pasukan Bintara kembali ke barak mereka.

Di kedaton Majapahit, Prabu Brawijaya malam itu memerintahkan kepada juru tulis untuk menuliskan sastra dalam bahasa Sanskerta pada sebuah batu dan diberi sengkalan tahun. Isinya berupa kisah dari awal sampai akhir Majapahit yang berusia 120 tahun.

Sang Raja terkakhir agama Buddha lalu berkata kepada Ratu Dwarawati, “Ketahuilah, aku hendak pergi ke alam Tejamaya, ke kahyangan Bethara Indra. Anakumu Bondhan Surati aku ajak serta. Adapun dirimu tidak boleh ikut karena batinmu Islam. Nah, engkau keluarlah dan pergilah ke Genthan. Semoga mendapat petunjuk Tuhan.”

Sang Ratu menjerit dan sungkem ke kaki Sang Raja sambil berkata, “Duhai paduka, di dunia sampai alam Tejamaya saya ingin tetap mengabdi paduka. Tak bisa hamba paduka tinggalkan sendirian.”

Sang Raja berkata, “Itu bukan yang aku kehendaki. Jangan engkau mengganggu perjalananku ke Endralaya. Petunjuk dewata takkan berubah walau serambut pun. Kelak engkau akan mendapat jodoh sesama Islam dan menjadi wali. Engkau tak bisa mencegahku.”

Pada malam Kamis Legi, wuku Julungkembang, Hyang Pramesti berkenan membuka pintu langit. Sang Raja berdiri bersiap berangkat.

“Dinda, segeralah keluar menuju Genthan,” kata Sang Raja kepada permaisuri Dwarawati.

Ratu Dwarawati keluar dari pura. Sang Raja bersama para putra mengucap mantra dan mengheningkan cipta. Segera mereka melesat ke alam Tejamaya. Semua isi kedaton tak ada yang tersisa. Mereka sama sekali tak merasakan kematian, yang ada kehidupan penuh nikmat di surga. Yang tertinggal kini hanya Ratu Dwarawati.

Pagi hari, Adipati Pecattanda terbangung di antara tumpukan mayat prajurit Majapahit. Mendapati dirinya masih hidup, Adipati Pecattanda merangkak perlahan-lahan. Dengan mengendap-endap supaya tak terlihat orang, Adipati Terung meninggalkan medan perang. Dia ingin segera sampai di kedaton dan melapor kepada Sang Raja. Namun ketika sampai di kedaton dia mendapati seisi istana telah raib. Gedung Prabasuyasa telah lenyap. Gedung pusaka beserta isinya tak tampak lagi. Namun gedung harta masih terlihat. Adipati Pecattanda mengubres seisi istana, barangkali masih mendapati orang yang tertinggal. Ketika sampai di Genthan dia mendapati permaisuri Ratu Dwarawati duduk sambil menangis. Beberapa pelayan mendampingi sang ratu.

Ratu Dwarawati masih terduduk meratapi kepergian Sang Raja Prabu Brawijaya. Semua kenangan hadir kembali. Sejak awal mula kedatangannya di Majapahit dari negeri Cempa. Semua seperti mimpi, kini dia mendapati dirinya sendiran. Sungguh sang permaisuri sangat bersedih karena tidak dizinkan ikut ke alam baka.

Adipati Pecattanda mendekati permaisuri dan berkata, “Duh Kangjeng Ratu, janganlah bersedih karena semua yang terjadi sudah kehendak dewata. Kita hanya sekadar menjalani. Sudah lazim bila kalah perang semua wanita menjadi boyongan. Paduka seorang wanita, tidak mampu berperang. Jadi tidak ada lagi yang dapat paduka lakukan sekarang. Sebaliknya, hamba sangat bersedih mendapati diri hamba hidup sendirian. Hamba seorang prajurit dan sudah diberi kedudukan adipati. Namun, ketika negeri ini sirna hamba masih hidup. Sungguh hamba akan menjadi bahan tertawaan orang seluruh negeri. Hidup hamba serasa sampah.”

Ketika keduanya sedang berbincang mendadak Sunan Kudus masuk ke puri bersama Kyai Getaspandawa, Ki Suranata dan Ki Anggaranu. Mereka mencari boyongan dan harta benda serta pusaka Majapahit. Harta benda berhasil mereka kumpulkan, tapi pusaka-pusaka Majapahit tak mereka temukan. Gedung pusaka telah kosong. Gong Kyai Sekardelima juga ikut raib. Sunan Kudus lalu masuk ke Genthan dan mendapati seorang lelaki muda bersama beberapa wanita.

Sunan Kudus bertanya, “Hai manusia, siapa namamu? Engkau masih muda mengapa berada di puri? Dan wanita cantik ini istri siapa?”

Arya Pecattanda menjawab bengis, “Hai Santri, jangan engkau pura-pura tak tahu. Aku Pecattanda dari Terung. Walau telah kalah, sekalian aku akan membela kawan-kawanku.”

Arya Pecattanda memutar keris Segarawedang dan berusaha menghunusnya. Namun Kyai Segarawedang tak mau keluar dari sarungnya.

Sunan Kudus berkata, “Hai Dinda, kedatanganku ke sini diutus kakakmu Adipati Natapraja di Bintara. Engkau dipanggil menghadap segera bersamaku. Engkau menjadi wakil Sang Raja untuk menyerahkan kedaton Majapahit. MEngapa engkau menganggu perjalananku? Sudah lazim orang menang perang membawa boyongan dan jarahan. Jika engkau hendak berbela kepada kawan-kawanmu, sungguh itu tanpa guna. Lebih baik engkau menyerah dan bergabung dengan kakakmu. Sudah banyak contoh orang kalau perang mengabdi kepada yang menang. Engkau jangan salah paham. Para wali tetap menjalani jalan keutamaan seperti Budha, tapi hanya berganti nama. Agama Islam juga mengajarkan jalan keutamaan. Allah itu sejatinya satu. Kalian menyebutnya Hyang Otipati. Sesungguhnya tidak ada penguasa jagad yang lain. Kalian mempunyai surga, kami mempunyai alam akhirat yang kekal.  Jadi apa keberatanmu mengikuti ajaran kami? Kami mendasarkan hidup pada syari’at nabi yang mengajarkan kemuliaan hidup di alam akhirat. Jadi apa bedanya? Nah Dinda, ikutlah denganku sekarang ke Bintara. Kakakmu sudah menunggu! Ingatlah masa-masa dulu ketika kalian berangkat bersama-sama dari Palembang. Kalian menderita dalam perjalanan. Sekarang kalian telah hidup mulia. Kakakmu sebentar lagi akan menjadi raja di tanah Jawa. Jadi mengapa engkau tidak bergabung?”

Adipati Terung ketika mendengar ucapan Sunan Kudus yang lembut dan bersahabat seketika luluh. Ingatannya kembali melayang ke masa-masa puluhan tahun lalu. Saat itu dia bersama sang kakak Raden Patah berangkat bersama-sama dari Palembang. Lalu mampir di Cirebon menemui Pangeran Modang. Tanpa terasa air mata Arya Pecattanda mengalir deras.

Arya Pecattanda berkata pelan, “Duh Kanda Pangeran Kudus, saya menurut perkataan Anda. Saya sadar bermusuhan dengan saudara tidak baik. Saya sangat menyesal. Sekarang Majapahit tempat saya mengabdi sudah sirna. Sudah semestinya saya menggantungkan hidup kepada kakakku.”

Sunan Kudus berkata, “Baiklah Dinda. Kita berangkat ke Bintara. Namun aku ingin tahu, siapa wanita cantik ini?”

Arya Pecattanda berkata, “Inilah permaisuri Majapahit, Kangjeng Ratu Dwarawati. Beliau tidak ikut muksa karena beliau menganut ajaran Islam. Sekarang terserah paduka, bagaimana selanjutnya.”

Sunan Kudus berkata, “Jika demikian pasti Adipati Natapraja akan sangat gembira karena sang ibu selamat. Nah, marilah Kangjeng Ratu, kita berangkat ke Bintara. Putra paduka pasti sangat bersyukur paduka berkenan datang ke Bintara. Kangjeng Ratu ingin naik apa?”

Kangjeng Ratu menjawab pelan, “Terserah Anda.”

Kangjeng Ratu lalu dinaikkan ke tandu. Adipati Pecattanda naik kuda. Rombongan segera berangkat ke Bintara. Semua harta benda jarahan sudah dibawa serta. Juga para wanita yang tidak ikut muksa bersama Prabu Brawijaya. Adapun perwira Majapahit beberapa menjadi tawanan. Mereka yang masih hidup adalah; Kanduruan Kyai Bobos, Pangalasan Arya Simping, Ki Buyut Tejamantri, Demang Blagedur Ki Sumbul dan Pandlegan Arya Tiron. Mereka telah menyatakan bersedia masuk Islam.

Selain para pembesar prakurit, banyak prajurit Majapahit yang juga menyerah. Sejumlah 2.000 prajurit yang ketakutan dan berceceran sepanjang jalan telah berkumpul. Mereka ingin segera menyerah kepada putra Sang Raja yang sudah lama memisahkan diri di luar negeri. Ketika Sang Raja sudah hengkang dari keraton, konon berpindah ke gunung Lawu dan bergelar Sunan Lawu. Namun sudah masuk ke alam gaib.

Prabu Brawijaya berputra sepuluh orang. Putra sulung adalah seorang putri yang menikah dengan Adipati Andayaningrat Pengging. Yang kedua, Arya Damar yang menjadi adipati di Palembang. Ketiga, Raden Adipati Natapraja yang akan segera menjadi raja. Keempat, Raden Bondan Kajawan yang tinggal di desa Tarub. Kelima seorang putra yang bergelar Batara Katong. Keenam, Kangjeng Pangeran Adipati Bondan Surati, ikut muksa sang ayah. Ketujuh, Raden Jaran Panolih. Kedelapan Raden Guntur yang tinggal di Bali. Kesembilan seorang putri yang menjadi istri Ki Supa Anom di Guling. Kesepuluh seorang putri yang menjadi istri Ki Jaka Sura bupati Jenu.

Para putri boyongan sudah sampai di kota Bintara. Sang Retna Dwarawati sudah masuk ke puri belakang, para wanita mengikutinya. Sudah disambut istri Raden Adipati Natapraja, putri Sunan Ampel. Sang Adipati pun sangat hormat kepada Ratu Dwarawati meski ibu tiri.

Raden Adipati Natapraja lalu keluar menemui Adipati Terung dan para pembesar Majapahit. Raden Adipati Natapraja menyambut sang adik. Sang adik menghaturkan sungkem.

Adipati Pecattanda berkata, “Kanda, saya beritahukan kepada paduka. Dulu sewaktu mendapat perintah melawan para wali, saya diberi pusaka oleh Sang Raja berupa keris Kyai Segarawedang. Keris berdapur seribu inilah wujudnya. Saya sekedar membawanya. Sekarang saya serahkan kepada paduka sebagai pewaris negeri.”

Keris sudah diterima Raden Adipati Natapraja, lalu dihunus dan diperiksa dengan seksama.

“Aku terima Dinda, semoga semua mendapat pertolongan Tuhan,” kata Adipati Natapraja.

Sang Adipati lalu memberi selamat kepada para pembesar Majapahit yang baru saja menyerah. Mereka telah menyatakan tunduk dan pasrah atas segala yang akan terjadi pada mereka. Bila akan dibunuh pun tidak menolak.

Raden Adipati Natapraja berkata, “Jika musuh menyerah maka menjadi larangan untuk membunuhnya. Aku ingin bertanya apakah kalian bersedia masuk agama Islam mengikuti syari’at Rasul?”

Para pembesar Majapahit bersahutan menyatakan bersedia. Raden Adipati lalu memerintahkan kepada Ki Patih Wanasalam untuk membawa mereka ke hadapan para wali. Secara bersama-sama dibimbing para wali semua mengucap kalimat syahadat. Kemudian mereka diberi bimbingan ilmu agama oleh para santri di beberapa desa. Di desa Mersan ditempatkan Kasanreja. Kasanmunangin di desa Dawi. Kasanwiradi di desa Butuh. Dan di desa Pundhong ditempatkan Mustakim. Mereka diajarkan zikiran empat macam. Zikir Satariyah, zikir Satari Alip, zikir Allah dan zikir Naqsabandiyah dengan menyebut hu, hu, hu.

Semua punggawa Majapahit yang menyerah telah masuk Islam. Mereka semua kemudian diberi pakaian santri. Jubah, peci dan berbagai pakaian lain seperti yang dipakai penduduk Bintara.

Pada kesempatan itu Sunan Kudus juga menyerahkan harta benda jarahan dari kedaton Majapahit. Permata, emas, perak berdacin-dacin ditumpuk di pendapa Kadipaten Bintara. Adipati Natapraja kemudian menemui para wali untuk menyerahkan harta jarahan tersebut. Juga nasib Adipati Terung dan permaisuri Ratu Dwarawati.

Sunan Benang berkata, “Hai Nak Adipati, karena sekarang kerajaan Majapahit sudah lenyap, sebaiknya engkau segera berdiri menjadi raja di tanah Jawa. Hanya engkau yang pantas untuk mengelola tanah Jawa. Lagipula engkau menjadi ahli waris dari raja terdahulu. Lalu setelah engkau menjadi raja buatlah peraturan berkaitan dengan segala hal. Pengangkatan para wali dan ulama, pembentukan angkatan perang dan pengangkatan para punggawa negeri. Maka tetapkanlah hari apa engkau akan mengadakan acara pengangkatan tersebut. Tanyakan kepada para guru untuk mempersiapkan segala sesuatunya.”

Raden Adipati menyatakan kesanggupan. Segera memanggil juru emas untuk membuat singgasana dan berbagai peralatan upacara keraton. Ada banyak dalang, sawunggaling, ardawalika dan lain-lain sebagai simbol negeri. Juga payung dan pakaian resmi kerajaan. Beberapa hari kemudian peralatan upacara yang diperlukan sudah siap.

Pada hari yang ditentukan penobatan akan dimulai. Adipati Natapraja duduk di kursi menghadap ke selatan. Para calon-calon punggawa dan Arya Pecattanda duduk di sebelah kiri menghadap ke barat. Para wali duduk di sebelah kanan menghadap ke timur. Singgasana sudah dipersiapkan dengan dipayungi payung gilap lengkap dengan segala peralatan upacara.

Kangjeng Sunan Benang lalu membawa surat peraturan yang diambil dari negeri Majapahit. Beberapa aturan zaman Budha masih akan dilestarikan untuk menjaga kesinambungan pemerintahan.

Kangjeng Sunan lalu berkata, “Wahai segenap yang hadir, baik para pembesar maupun kawula tanah Jawa. Saksikanlah, para wali dan para guru sudah sepakat bahwa Adipati Natapraja sekarang menggantikan kedudukan sebagai raja di Bintara yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan gelar Sultan Adi Natapraja.”

Para wali dan para guru menyambut dengan doa dan restu. Ki Pengulu kemudian membaca doa-doa. Semua mendukung dengan ikut mengucap amin. Setelah doa selesai dipanjatkan, Sultan dipersilakan duduk di singgasana emas. Payung kebesaran kemudian dikembangkan. Para wali bergiliran bersalaman dengan raja yang baru. Lalu disusul para punggawa dimulai dari Patih Wanasalam, Ki Pengulu Iman Semantri, Arya Pecattanda, dan jaksa serta para bupati.

Kangjeng Sunan Benang lalu membacakan janji pernyataan raja yang baru. Isinya berupa empat pernyataan. Pertama, raja diberi kuasa tapi bukan miliknya pribadi, semua milik Allah yang Maha Kuasa. Kedua, raja diberi kewajiban memutuskan hukuman. Ketiga raja diberi wewenang mengelola harta negara. Keempat raja harus mampu mengelola negeri.

Sultan lalu memberi Ki Patih Wanasalam kedudukan Adipati dan lestari menjadi patih di Kasultanan Bintara. Kemudian kepadanya dibacakan tugas dan janji seorang patih. Ada lima belas macam. Sunan Benang lalu membacakan janji seorang patih. Setelah dibaca surat perjanjian kemudian diserahkan kepada Patih Adipati Wanasalam.

Sultan Adi Natapraja kemudian mewisuda Kyai Pengulu sebagai pengulu Kasultanan. Ada dua puluh janji yang harus dipatuhi. Jaksa Ki Iman Semantri juga diangkat kembali sebagai jaksa negara dengan janji sejumlah tiga puluh dua. Semua punggawa baru sudah sepakat dan menyimpan pernjanjian masing-masing.

Sulan Adi Natapraja berkata, “Wahai Patih, aku putuskan Dinda Pecattanda lestari menjadi adipati di Terung. Dan kepadanya aku beri tugas menaklukkan wilayah timur. Mana saja negeri yang tidak mau tunduk aku beri kepadanya wewenang untuk menghukum.”

Adipati Terung menyatakan kesanggupan. Semua punggawa yang hadir siap melaksanakan perintah Sultan. Kemudian jamuan dikeluarkan. Setelah didahulu doa para yang hadir menikati jamuan. Rangkaian acara penobatan selesai. Sultan kembali ke dalam puri. Para wali dan para punggawa membubarkan diri kembali ke tempat masing-masing.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/21/sajarah-jati-25-prabu-brawijaya-muksa-bersama-seluruh-keluarga/

Sajarah Jati (24): Pasukan Bintara Kembali ke Medan Perang Dipimpin Sunan Kudus

Setelah menyerahkan pusaka Kyai Macan Guguh, Sunan Kalijaga menemui Sunan Benang. Pada waktu itu Sunan Benang sedang berbincang dengan para wali di serambi masjid. Sunan Kalijaga lalu melaporkan hasil lawatannya ke Majapahit. Semua wali mendoakan agar upaya yang telah dilakukan Sunan Kalijaga mendapat hasil.

Pagi hari, Adipati Natapraja sudah memukul tanda perang. Pasukan Bintara segera berkumpul dengan senjata lengkap. Ada yang membawa panah, senapan, tombak, candrasa, keris, gada dan lembing. Alun-alun Bintara tampak seperti hamparan bunga oleh warna-warni pakaian para prajurit. Banyak dari prajurit santri berpakaian cara Arab dengan memakai jubah dan sorban. Panglima pasukan Bintara adalah Kangjeng Sunan Kudus muda. Dibantu oleh tiga panglima: Kyai Getaspandawa, Kyai Suranata dan Kyai Anggaranu. Mereka memakai jubah dan sorban putih sebagai pertanda siap menyerahkan jiwa raga. Jumlah prajurit Bintara tinggal 2.200 orang. Mereka telah bertekad melakukan perang sabil, jihad fi sabilillah. Mereka tak lagi memikirkan anak istri di rumah. Tekad mereka sudah iklas dan memilih berperang sampai mati.

Sementara itu di markas pasukan Majapahit, Adipati Pecattanda sudah diberi tahu bahwa pasukan Bintara kembali menyerang. Sang Adipati segera memerintahkan untuk menabuh tanda perang. Sejumlah 8.000 prajurit Majapahit telah berbaris menunggu perintah. Adipati Pecattanda naik kuda berkeliling memeriksa barisan. Tampak gagah dan beribawa seperti sang Banaparta. Sungguh sang adipati perwira dan tangguh seperti Klana Jayengmurti.

Adipati Pecattanda memberi isyarat agar pasukan berangkat. Pasukan Majapahit sudah bergerak menghadang pasukan Demak. Kedua kubu sudah saling berhadapan.

Adipati Pecattanda berseru menantang, “Ayo majulah pasukan santri. Kalian seperti anak gembala yang tuna budi. Tak urung nasi kendurimu berserakan. Inilah andalan Sang Raja Majapahit. Aku pastikan kalian menemui ajal karena ulahmu yang merusak negeri itu. Kalian belum tahu luasnya jagad. Berani memulai perang tapi tak becus. Awalnya memakai dalih agama, tapi tak mengerti tatanan pemerintahan. Kalian hanya mabuk lafadz Qur’an dan Hadits sampai berani melawan rajamu. Apa bedanya para dewata dan Allah Tuhanmu sehingga kalian berganti agama? Ayo, lawanlah Arya Pecattanda. Jangankan engkau anak kecil putra Kudus, ayahmu saja menemui ajal.”

Ketika para santri mendengar Adipati Terung mencela mereka, seketika bangkit keberaniannya. Pasukan kaum santri mengamuk dan menerjang pasukan Majapahit. Mereka telah satu tekad untuk mati. Sambil menerjang musuh mereka tak henti melafadzkan kalimat la illaha ilallah. Pasukan Majapahit kerepotan menahan serangan kaum santri yang bergelombang. Tembakan peluru meriam sudah tak menjangkau karena kaum santri telah merangsek ke depan. Peluru jatuh di belakang musuh. Pasukan Majapahit terdesak oleh amukan kaum santri.

Adipati Terung waspada. Segera memberi perintah agar pasukan Majapahit mundur perlahan. Namun para perwira salah mengerti. Mereka mengira disuruh lari dari medan perang. Seketika meriam dan kalantaka mereka tinggalkan begitu saja. Para prajurit Majapahit yang melihat pasukan garis depan mundur sambil berlari menjadi ikut-ikutan lari. Dalam waktu singkat barisan Majapahit sudah tak dapat dikendalikan.

Adipati Terung ditinggalkan para prajuritnya. Sendirian di depan Adipati Terung mencambuk kudanya mengejar pasukannya yang lari. Adipati Terung memanggil mereka agar kembali maju. Namun tak satu pun prajurit Majapahit yang menggubrisnya. Banyak dari mereka lari mengungsi ke hutan-hutan.

Para prajurit santri terus mengejar dan tidak memberi kesempatan Adipati Terung menata kembali pasukannya. Pasukan Majapahit yang tersisa tinggal 500 prajurit. Adipati Terung kehilangan pasukan. Sudah tak ada lagi semangat untuk melawan. Azimat yang dipasang Sunan Kalijaga berhasil. Para prajurit Majapahit menjadi kebingungan. Hati mereka ciut dan keberanian mereka sirna.

Pasukan Majapahit terus lari ke timur. Di sepanjang jalan jumlah mereka terus menyusut karena banyak yang melarikan diri ke hutan-hutan. Sementara di kubu pasukan Bintara, jumlah mereka terus bertambah. Orang-orang muslim di setiap tempat yang mereka lewati ikut-ikutan mengejar prajurit Majapahit. Adipati Terung masih termangu-mangu di atas kuda. Dia tidak habis pikir pasukan Majapahit menjadi pengecut dalam waktu sekejap. Sebagian prajurit Majapahit yang lari sudah masuk kota. Mereka mengabarkan kekalahan pasukan Majapahit di medan perang. Seketika kota Majapahit geger.

Sementara itu pasukan Bintara sudah mendekati kota Majapahit. Panglima Sunan Kudus memerintahkan agar pasukan Bintara mengepung kota.

“Kanda Getaspandawa mari kita kepung kota Majapahit. Anda berbarislah di barat kota. Di timur kota saya sendiri yang akan menjaga. Sebelah selatan dijaga Ki Suranata. Dan, di utara Ki Anggaranu yang menjaga. Bila ada prajurit Majapahit keluar, penggallah leher mereka. Namun bila dia mengucap kalimat syahadat, biarkan dia hidup.”

Ketiga pembesar pasukan Bintara menyatakan kesiapan. Pasukan Bintara bergerak sesuai perintah panglima Sunan Kudus. Kota Majapahit telah dikepung rapat dari empat penjuru.

Sementara itu, Adipati Terung sudah menemui Ki Patih Wahan. Sudah diceritakan dari awal sampai akhir jalannya perang di Demak. Ki Patih sangat heran atas semua yang terjadi.

Ki Patih berkata, “Aku akan laporkan kepada Sang Raja, Nak.”

Ki Patih masuk ke dalam puri bersama Arya Pecattanda. Sesampai di pendapa mereka memberi tahu penjaga. Namun mereka mendapat jawaban bahwa Sang Raja sedang semedi sehingga tak dapat diganggu. Ki Patih dan Arya Pecattanda lalu kembali ke Pagelaran. Bersama para punggawa yang ada mereka berembug mencari cara untuk memundurkan pasukan Bintara. Namun mereka tak kunjung mendapat cara karena hati para punggawa sudah dipenuhi rasa takut.

Pangeran Adipati Bondansurati keluar dari puri untuk memeriksa keadaan.

Pangeran menemui Patih Wahan dan bertanya, “Pasukan dari Bintara sangat banyak dan mengepung kota. Bagaimana saranmu Ki Patih?”

Ki Patih berkata, “Duh Tuan Pangeran, saya putuskan besok saya sendiri yang akan menghadapi mereka. Paduka jangan keluar dari puri kalau saya masih hidup.”

Pangeran Adipati Bondansurati lalu kembali ke puri. Suasana di kedaton Majapahit sangat mencekam.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/21/sajarah-jati-24-pasukan-bintara-kembali-ke-medan-perang-dipimpin-sunan-kudus/

Sajarah Jati (23): Panglima Bintara Sunan Ngudung Gugur di Medan Perang

 Sunan Cirebon berkata kepada Sunan Ngudung dari Kudus, “Hai Kudus, apa engkau sanggup melawan Adipati Terung?”

Sunan Ngudung dari Kudus berkata, “Saya sanggup melawan Pecattanda dari Terung. Siang malam saya tidak takut bila memakai Antrakusuma. Sangat besar pengaruhnya. Walau dikeroyok berjuta prajurit Majapahit, saya tak takut bila memakai pakaian Sultan Antrakusuma.”

Adipati Natapraja segera menabuh tanda perang. Para perwira perang telah dipanggil; Kyai Ageng Getaspandawa, Ngabei Anggaranu dan Ki Suranata yang memakai sorban putih. Pagi hari pasukan Bintara sudah bersiap. Kangjeng Sunan Kudus sudah memakai baju Kyai Antrakusuma dan sorban ungu, serta berkaos kaki tinggi. Penampilannya tampak seperti malaikat pencabut nyawa. Tiga ribu prajurit santri sudah bersenjata. Segera berangkat ke medan perang. Kangjeng Sunan Kudus naik kuda. Bergemuruh suara prajurit selama perjalanan. Mereka selalu melantunkan shawalat. Bedug dan terbang terus dipukul sepanjang jalan. Empat santri memandu mendendangkan lagu.

Di markas pasukan Majapahit, Adipati Terung bersiap memukul perang. Waktu dua hari yang diberikan kepada sang kakak telah lewat tanpa ada kabar beritanya. Adipati Terung sudah mantap hendak memukul Bintara. Mendadak datang seorang prajurit yang melapor bahwa pasukan Bintara sudah datang dipimpin seorang wali memakai sorban ungu dan berpayung putih dihias benang emas. Kaget sang adipati, bergegas memberangkatkan pasukan.

Prajurit Majapahit dan pasukan Bintara sudah berhadap-hadapan. Tidak lama kemudian pertempuran pun pecah. Kedua pasukan sama-sama berani. Tombak-tombak telah beradu. Setelah seharian bertempur panglima Bintara Sunan Kudus terluka di dada lalu gugur. Pasukan Bintara mundur karena panglimanya tewas. Pasukan Majapahit tidak mengejar karena hari menjelang malam.

Pasukan Binta segera melapor kepada Adipati Natapraja dan para wali bahwa Sunan Ngudung gugur di medang perang. Para wali heboh. Bersama-sama mereka membaca shalawat dan memanjatkan doa.

Kangjeng Sunan Benang berkata, “Nak Sunan Ngudung rupaya takabur karena memakai baju Antrakusuma sehingga kurang hati-hati. Walau telah memakai baju Antrakusuma sehatusnya tetap berhati-hati. Ujub dan riya’ tidak boleh. Sudah ada banyak contoh. Seperti ketika perang Uhud. Kaum muslim merasa unggul karena musuh sudah terdesak. Mereka hilang kewaspadaan sehingga musuk berbalik menyerang. Hamzah paman Kangjeng Nabi gugur. Nak Sunan Ngudung tidak ingat, meski memakai baju Antrakusuma bukan berarti lolos dari takdir. Namun kita hatus bersyukur Nak Sunan Ngudung gugur sebagai syuhada yang berjuang fi sabilillah. Sungguh pahalanya besar.”

Raden Adipati Natapraja berkata, “Sekarang siapa yang harus menggantikan sebagai panglima Bintara? Apakah saya sendiri yang harus maju ke medan perang?”

Sunan Benang berkata, “Sekarang tatalah dahulu para prajurit Bintara. Besarkan hati mereka agar kembali berani perang. Namun jangan engkau sendiri yang maju. Siapa yang  nanti akan menjadi panglima, serahkan pada para wali.”

Jenazah Sunan Ngudung lalu dipulasara dan dimakamkan di sebelah barat masjid agung Demak. Sebagai pengganti panglima Bintara para wali menunjuk putra Sunan Ngudung yang bernama Bagus Kusman. Sudah diwisuda menjadi wali menggantikan sang ayah dan memakai nama Sunan Kudus.

Sunan Benang berkata kepada Bagus Kusman, “Hai anakku, engkau mendapat kepercayaan para wali.”

Bagus Kusman berkata, “Saya siap, paduka.”

Pada malam Jum’at para wali bersidang di masjid Demak. Raden Adipati Natapraja, Kyai Ageng Getaspandawa, Ki Wanasalam dan Sunan Kudus yang baru diangkat sudah hadir.

Syekh Maulana Maghrib berkata, “Bagaimana agar kita unggul dalam perang. Banyak perwira Majapahit yang tangguh dan perwira dalam perang. Walau seluruh orang di Bintara dikerahkan kita masih kalah jauh dari mereka. Ibarat satu dibanding seratus kekuatan kita dibanding Majapahit. Prajurit kita banyak yang tidak terlatih. Panglima kita sudah gugur sehingga banyak prajurit merasa ciut hatinya.”

Kangjeng Sunan Benang menyambung, “Dalam perang ini hanya ada dua langkah yang bisa kita lakukan. Pertama, pasrah atas segala kehendak Tuhan Yang Agung. Kedua, memasang sarana agar kekuatan musuh kendur. Nak Kalijaga sebaiknya pergi ke Majapahit untuk melakukan itu dengan cara menyamar. Adapun terhadap pasukan kita, aku serahkan kepada empat orang untuk memberi mereka semangat. Pertama, panglima perang yang baru Nak Sunan Kudus. Kedua Suranata, Ketiga Ki Getaspandawa, dan keempat Ki Anggaranu. Kita serahkan kepada keempatnya untuk membentuk pasukan yang kuat.”

Keempat orang menyatakan kesanggupan. Walau hancur menjadi debu di medan perang mereka telah siap.

Sunan Benang berkata, “Baiklah, sekarng kalian mundur untuk mempersiapkan diri. Nak Kalijaga, segera engkau berangkat ke Majapahit untuk memasang sarana agar kita unggul dalam perang.”

Sunan Kalijaga menyatakan kesanggupan. Segera berangkat ke arah timur menuju kota Majapahit tanpa teman. Tempat yang pertama dituju adalah kediaman Ki Supa atau Pangeran Sendhang. Pada waktu itu Ki Supa sedang berada di rumah.

Ki Supa bergegas sungkem kepada Kangjeng Sunan. Mereka kemudian duduk nyaman dan berbincang.

Kangjeng Sunan berkata, “Hai Supa, kedua anakku undanglah. Katakan ada pekerjaan penting. Jangan sampai ada orang lain yang tahu.”

Ki Supa sudah tanggap maksud Kangjeng Sunan. Segera Ki Supa mengirim siswanya untuk memanggil kedua anaknya dari Jenu dan Guling. Si utusan sudah sampai dan kembali membawa kedua putra Ki Supa.

Kangjeng Sunan Kalijaga berkata, “Ketahuilah, sudah dekat datangnya ramalan bahwa pusat tanah Jawa akan berpindah dari Majapahit. Tinggal beberapa hari lagi hal itu akan terjadi. Peristiwa itu sudah diramalkan para guru, pendeta, resi dan para wali. Negeri Majapahit akan berganti menjadi negeri Islam. Maka dari itu, sebaiknya engkau Ki Supa beserta istri dan anak-anakmu segera pergi dari Mahapahit. Jangan tinggal di sini karena akan ada perang besar. Bawalah anak istrimu ke Mataram. Kelak Mataram akan menjadi sebuah negeri. Sekarang masih berupa hutan. Kalian buka pemukiman di sana. Yang kedua, aku ke Majapahit hendak memasang azimat agar Sang Raja segera lengser dari tahta Majapahit. Ki Supa, antarkan aku ke tempat yang baik untuk menanam zimat.”

Pada malam hari Kangjeng Sunan diiringi Ki Supa memasang azimat di beberapa tempat. Lima penjuru sudah dipasang, lalu satu di pasang di tengah, tepat di antara dua pohon beringin alun-alun Majapahit. Menjelang pagi pemasangan azimat sudah selesai. Kangjeng Sunan dan Ki Supa kembali ke rumah Ki Supa. Kedua putra Ki Supa telah menunggu.

Kangjeng Sunan Kalijaga berkata kepada Ki Surengrana, “Hai Adipati Jenu, engkau sudah masyhur dapat mengolah besi dari baitul makmur. Coba buatkan aku sebuah keris yang pantas untuk aku sandang. Terserah bagaimana bentuknya.”

Ki Surengrana menyatakan kesanggupan, lalu mengheningkan cipta. Kedua tangan bersidekap dan pancaindera ditutup. Lalu besi baja dipegang dan dilipat menjadi sebuah keris luk tiga. Keris itu bergandik panjang, ada greneng, kembang kacang dan lambe gajah. Bilah keris tampak merah kehijauan.

Kangjeng Sunan berkata, “Ini keris dapur apa?”

Surengrana berkata, “Terserah paduka, hamba tidak tahu. Hamba hanya mencocokkan dengan perintah paduka.”

Kangjeng Sunan berkata, “Keris ini berdapur Kebo Lajer. Aku beri nama keris ini Maesa Panular. Sekarang buatkan lagi sebuah kendali kuda dari besi seperti ini.”

Ki Surengrana menyatakan kesanggupan. Tangannya kembali diputar dan sekelebat sudah muncur sebuah kendali kuda. Oleh Kangjeng Sunan kendali itu diberi nama Kyai Macan Guguh. Kelak kendali ini juga akan menjadi pusaka para raja di tanah Jawa.

Kangjeng Sunan berkata, “Ki Supa, aku pamit kembali ke Demak. Kalian tinggallah dengan selamat.”

Dalam sekejap Kangjeng Sunan sudah hilang dari pandangan. Sunan Kalijaga langsung menuju Demak. Pada waktu itu Raden Adipati Natapraja sedang mempersiapkan pasukan. Melihat Kangjeng Sunan datang Raden Adipati duduk dan memberi hormat.

Kangjeng Sunan berkata, “Nak Adipati, segera berangkatkan pasukan. Jangan khawatir, di tempat musuh sudah aku beri sarana. Empat penjuru dan satu pusat sudah aku tanam azimat. Sudah pasti Prabu Brawijaya akan lengser dari kedatonnya. Dan lagi, aku beri kalian pusaka berupa kendali kuda. Kendali ini bernama Kyai Macan Guguh.”


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/21/sajarah-jati-23-panglima-bintara-sunan-ngudung-gugur-di-medan-perang/

Sajarah Jati (22): Prabu Brawijaya Mengutus Arya Pecattandha Memanggil Adipati Natapraja

Di kedaton Majapahit, Sang Raja masih berada di belakang kedaton. Belum hilang rasa kaget atas peristiwa yang baru saja terjadi. Kyai Condongcampur yang hendak dilebur mendadak melesat ke angkasa dan menghilang dengan meninggalkan ramalan yang kurang menggembirakan.

Para punggawa, empu dan para pendeta masih duduk di hadapan Sang Raja, bersiap menerima perintah selanjutnya. Mereka semua sudah mendengar perkataan Kyai Condongcampur yang cocok dengan ramalan yang telah mendengar dari Sang Raja dengar sesuai pesan Hyang Triyatra.

Ki Patih Wahan berkata, “Duhai paduka yang penuh kasih kepada para hamba, jangan paduka berkata hendak maju ke medan perang. Kami para punggawa yang akan menghadang datangnya musuh. Paduka silakan tinggal di istana dan menikmati tarian bedaya. Hamba dan teman-teman yang akan berperang sampai mati. Paduka tidak boleh ke medan perang. Bila kami kalah paduka sebaiknya meloloskan diri dari istana. Nista bila seorang raja gugur di medang perang. Menurut cerita Ramayana, ketika Sri Dasamuka raja Alengka berperang melayan Sri Rama titisan Wisnu dan gugur di medang perang, para dewa bersorak dan mencelanya. Maka tidak seyogyanya paduka berperang. Hamba pribadi sudah tak sabar menanti datangnya ramalan, tentang  negeri yang akan menyerang Majapahit. Di Bintara ada orang yang selalu membujuk putra paduka. Mereka adalah para santri yang sungguh merupakan musibat negeri. Putra paduka terus didorong untuk melawan paduka. Putra paduka sudah mabuk lafadz dan mematuhi perintah palsu. Sekarang Bintara sudah mulai menaklukkan negeri di kanan-kiri. Putra paduka sudah menyiapkan pasukan perang dan berlatih olah keprajuritan. Maka, hamba meminta izin paduka. Sebaiknya sekarang Bintara segera dipukul perang. Ibarat api belum membesar dapat mudah mati disiram air. Bila terlambat akan sulit dipadamkan.”

Sang Raja berkata, “Benar katamu, Patih.”

Adipati Pecattanda menyembah dan berkata, “Dun Tuanku, bila paduka izinkan, sepertinya belum saatnya Ki Patih maju ke medan perang bila hamba masih ada. Bagi hamba Ki Patih ibarat raja, tugasnya sangat banyak di istana. Mengelola negeri dan memerintah seluruh punggawa. Bila hamba masih ada, sebaiknya hamba yang menyelesaikan urusan di medan perang.”

Sang Raja sangat gembira menyambut usulan Adipati Pecattanda.

“Bila demikian, aku minta engkau ke medan perang. Namun sebaiknya engkau bujuk kakakmu dengan perkataan manis agar mau menghadap ke Majapahit. Bila mangkir, aku serahkan kepadamu untuk menyelesaikannya. Nah, berangkatlah. Bawalah seluruh pasukan. Dan engkau aku izinkan membawa keris Kyai Segarawedang,” titah Sang Raja.

Adipati Terung menyembah dan sungkem kepada Sang Raja lalu bergegas keluar menuju alun-alun. Tanda perang telah dipukul. Para prajuti heboh, segera berkmpul dengan senjata lengkap. Ki Patih menyusul ke alun-alun. Para prajurit telah berbaris sesuai kesatuan masing-masing. Alun-alun telah penuh prajurit berseragam warna-warni. Dari kejauhan tampak seperti hamparan bunga. Ki Patih didampingi Adipati Terung berkeliling memeriksa kesiapan pasukan Majapahit.

Ki Patih berkata, “Hai kawan-kawan para prajurit Majapahit. Kalian sudah lama hidup mulia di bawah kemasyhuran negeri Majapahit. Sandang pangan tiada kurang, juga kedudukan dan harta benda. Sekarang negeri Majapahit meminta baktimu. Ada musuh yang bersiap menyerang. Negeri Demak dibantu para santri telah menyiapkan pasukan hendak menyerang negeri kalian. Sang Raja telah menyerahkan keselamatan negeri pada kalian. Serahkan hidupmu, darah dan dagingnya untuk Majapahit. Jangan serahkan negerimu ke tangan musuh bila lehermu belum putus. Walau aku Patih dan para punggawa juga akan melakukan hal yang sama. Lebih suka hancur menjadi tanah daripada harus menyerah.”

Para prajurit menyambut seruan Ki Patih dengan penuh semangat. Mereka lebih suka mati di medan perang. Mereka sudah berniat takkan kembali. Kapanpun berangkat mereka telah siap. Adipati Pecattanda lalu membubarkan barisan. Pasukan Majapahit kembali ke barak, bersiap menerima perintah selanjutnya.

Sementara itu para wali sudah tiba di Bintara. Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Benang, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, Pangeran Tembayat, Syekh Domba, Pangeran Modan Cirebon, Sunan Muryapada, Syekh Maulana Maghrib, Sunan Geseng, Syekh Benthong dan Syekh Majaagung sudah berkumpul di Masjid Demak. Adipati Natapraja menyambut mereka dan menghaturkan sungkem. Para wali dan Raden Adipati kemudian mengadakan sidang.

Raden Adipati Natapraja berkata, “Saya beritahukan bahwa sekarang Sang Raja di Majapahit sudah mengumpulkan para prajurit. Yang bertindak sebagai panglima adalah Adipati Terung Arya Pecattanda. Adipati Terung diberi tugas untuk memanggil saya. Bila saya tidak mau hadir diizinkan untuk memukul perang.”

Sunan Ampel berkata, “Bila demikian persiapkan pasukanmu. Tapal batas di selatan berilah prajurit pengintai. Tempatkan prajurit yang muda dan cakap. Perintahkan bila melihat pasukan Majapahit tiba segera melapor. Adapun pasukan Bintara yang bersiap ke medan perang sebaiknya dipimpin Sunan Ngudung. Dia yang akan menghadang Adipati Terung dengan memakai baju pusaka Kyai Antrakusuma. Mintalah baju itu kepada Nak Syekh Malaya. Bila dia memberikan kelak dapat menjadi penguat hati para prajurit. Dan engkau mintalah bantuan kepada orang dari Tarub yang saat ini dipimpin Ki Getaspandhawa. Seberapa jumlahnya mintalah untuk ikut serta berperang. Latihlah para prajurit untuk berperang habis-habisan karena musuh kali ini berat. Sekarang mundurlah Nak Adipati, persiapkan segala sesuatunya.”

Adipati Natapraja undur diri dan kembali ke puri Bintara. Segera Raden Adipati memerintahkan Ki Patih Wanasalam untuk melaksanakan saran dari para wali.

Pada saat yang sama Adipati Terung sudah bersiap memberangkatkan pasukan Majapahit. Para prajurit sudah berbaris rapi sejumlah 4.000 orang. Sebelum berangkat Adipati Terung melapor kepada Ki Patih Wahan.

“Ki Lurah, pasukan saya sudah bersiap berangkat,” kata Adipati Terung.

Patih Wahan berkata, “Nak, sebaiknya minta pamit kepada Sang Raja agar mendapat restu.”

Kedua pembesar Majapahit lalu masuk ke istana untuk menghadap Sang Raja.

“Duh paduka, abdi paduka Adipati Terung siap melaksanakan perintah menangkap para santri yang ikut agama sia-sia. Bila mereka melawan sungguh akan hamba pukul sampai tuntas,” kata Adipati Terung.

Sang Raja berkata, “Hai Adipati Terung, kakamu si Patah walau melawan raja, panggillah dengan perkataan yang baik. Namun bila melawan terserah apapun kehendakmu, walau sampai terjadi peperangan. Sudah hukumnya orang memberontak diperangi. Aku serahkan padamu seberapa banyak prajurit yang akan kau bawa. Sekarang berangkatlah.”

Adipati Terung menyatakan kesiapan. Adipati Terung lalu minta pamit undur diri. Ki Patih dan para punggawa turut memberi doa restu. Pasukan Majapahit berangkat ke arah barat menuju Demak Bintara. Bergemuruh suara pasukan Majapahit memenuhi jalan. Senjata mereka bermacam-macam. Ada tombak, pistul, kalantaka, keris dan lain-lain. Adipati Terung naik kuda sebagai panglima besar.

Pasukan Majapahit telah mencapai perbatasan negeri Bintara. Prajurit pengintai dari Demak segera memberi tahu ke pasukan induk. Tanda perang lalu dipukul. Para prajurit bergegas mengumpul. Seluruh prajurit sudah bersiap dengan persenjataan lengkap. Para punggawa Bintara sudah hadir.

Adipati Natapraja berkata, “Wahai Paman Patih, bagaimana sebaiknya. Kita hadang atau kita tunggu mereka menyerang?”

Ki Wanasalam berkata, “Bila paduka setuju, sebaiknya paduka kirim surat dulu kepada panglima perang mereka, yang tak lain adik paduka sendiri, Arya Pecattanda dari Terung. Bujuklah agar dia memilih berpihak ke Bintara. Jangan mengikuti raja kafir. Di Bintara dia tidak akan kehilangan kemuliaan.”

Raden Adipati Natapraja menuruti saran Patih Wanasalam. Rontal sudah diambil dan ditulis surat kepada Adipati Terung. Empat mantri senior kemudian diutus untuk menyampaikan surat kepada Arya Pecattanda yang bermarkas di perbatasan. Tidak lama keempatnya sudah bertemu Adipati Pecattanda. Surat segera diserahkan dan dibaca sang adipati dengan seksama.

Setelah membaca surat Adipati Pecattanda tersenyum dan berkata, “Hai para utusan, aku berterima kasih dipanggil menghadap Kanda Adipati. Katakan, bila Majapahit sudah sirna saya bersedia.”

Adipati Terung kemudian membuat surat balasan. Setelah selesai lalu diserahkan kepada keempat utusan. Keempat utusan sudah diizinkan kembali ke Bintara. Keempat utusan sudah menghadap Adipati Natapraja. Surat sudah diserahkan dan dibaca oleh Sang Adipati.

Isi suratnya: “Sembah dari adik paduka di Terung, Arya Pecattanda yang menjadi panglima pasukan Majapahit. Saya sudah memahami surat paduka yang memanggil saya agar berpihak kepada paduka dan memusuhi Sang Raja karena kafir. Saya sangat berterima kasih atas belas kasih paduka. Namun saya keturunan bangsawan yang tidak bisa begitu saja mengingkari kesetiaan yang telah terucap. Sang Raja sangat berbelas kasih kepada saya dan telah memberi kedudukan dan amanat. Sekarang bumi Majapahit memanggil dan membutuhkan pengabdian saya. Tidak ada yang bisa saya persembahkan selain jiwa dan raga. Saya tidak berhitung pada sanak saudara. Seorang ksatria harus berhati kokoh dan mantap dalam kesetiaan. Maka saya bertekad membela negeri Majapahit walau bersama seorang raja yang memeluk agama Buddha. Saya sekali-kali tidak akan berbalik atau menyerah kepada Bintara. Saya menepati watak ksatria dan menghindari watak nista. Sungguh saya sayangkan bahwa paduka tergesa-gesa dalam melangkah. Andai paduka tidak menuruti keinginan para santri yang ingin segera menguasai negeri, maka sudah pasti Majapahit akan menjadi milik paduka. Tidak pantas meminta negeri dengan cara paksa. Saya telah diutus Sang Raja agar membawa paduka menghadap ke Majapahit. Bila paduka menolak, saya diberi kuasa untuk memerangi paduka. Wahai Kanda, marilah bersama saya menghadap ke Majapahit. Paduka pasti kelak menjadi raja, tidak harus berperang dengan alasan agama. Bila paduka tetap menolak sudah pasti kita akan berhadapan dalam perang. Sudah ada contoh kejadian di zaman lalu dua orang saudara bertempur. Dahulu Sang Dananjaya berebut hidup melawan Suryatmaja. Padahal keduanya saudara satu ibu seperti paduka dan saya. Semua itu terjadi karena Suryatmaja sudah mengenyam kemuliaan di Astina. Dia harus membalas kebaikan raja Astina dengan nyawanya. Seperti itulah jalan keperwiraan yang saya tempuh. Walau saya sudah tahu ramalan Sri Jayabaya bahwa ayah paduka Sang Raja Brawijaya adalah raja terakhir di Majapahit. Namun kami tidak akan menyerah begitu saja. Walau menjadi debu kami tetap akan melawan. Saya ulangi lagi Kanda, marilah bersama saya menghadap ke Majapahit. Bila dalam dua hari tidak ada jawaban, akan ada kalantaka meletus.

Tamat isi surat, tertanggal 1 Kasa, Julungpujud, Taliwangke, Mawulu, ditandai suryasangkala: nembah janma tri karsa[1]. Tertanda Adipati Terung, adik paduka Arya Pecattanda.”

Setelah selesai membaca Adipati Natapraja menyerahkan surat kepada Kangjeng Sunan Ampel, lalu diedarkan merata kepada para wali.

Sunan Cirebon berkata, “Hai Adipati Natapraja, adikmu Adipati Terung sungguh pandai merangkai kata. Pantas bila dia diserahi tanggung jawab. Ingat, jangan engkau sakit hati. Sekarang susunlah siasat untuk menyambutnya di medang perang. Adapun yang menjadi panglima adalah Sunan Ngudung dari Kudus yang bijaksana. Dengan memakai baju Antrakusuma dan dibantu para wali. Karena engkau yang menjadi pemimpin kami semua, jangan engkau maju ke medan perang. Engkau harus tetap berada di dalam puri sebagai simbol kejayaan negeri.”

[1] 1312 tahun surya.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/21/sajarah-jati-22-prabu-brawijaya-mengutus-arya-pecattandha-memanggil-adipati-natapraja/

Sajarah Jati (21): Keris pusaka Majapahit Kyai Condhongcampur Diketahui Mempunyai Cacat

Sang Raja Majapahit Prabu Brawijaya berkenan mengadakan upacara siraman pusaka kerajaan. Pusaka-pusaka kerajaan berupa keris, tombak, golok, lembing, panah, perisai, gada sudah dikeluarkan dari gedung pusaka. Para brahmana, pendeta dan wiku sudah masuk ke dalam puri bagian belakang. Tempat penyiraman pusaka telah penuh oleh para punggawa Majapahit.

Sang Raja duduk di balai Sasana Cipta. Tak lama kemudian peti-peti pusaka sudah disiapkan di tempat siraman. Sang Raja sendiri yang akan memulai acara siraman. Sang Raja lalu mengambil keris Kyai Condongcampur dari peti dan menghunusnya. Kaget Sang Raja ketika melihat keris Kyai Condongcampur. Sampai beberapa saat Sang Raja tak mampu berkata-kata, tertegun seperti orang dari bangun dari mimpi. Keris Kyai Condongcampur putus kembang kacangnya dan patah ujungnya sepanjang tiga luk. Bilah keris tampak pucat, biru seperti logam aus.

Sang Raja berkata kepada Patih Wahan dengan menahan air mata, “Wahan, majulah ke sini. Ada perkara besar. Apa sebab Kyai Condongcampur sampai cacat seperti ini. Pasti ada pencuri masuk dan merusaknya. Kembang kacangnya lepas dan patah ujungnya sepanjang tiga luk. Mustahil bila tidak ada orang yang merusaknya. Coba perhatikan!”

Patih Wahan maju dan memeriksa keris Kyai Condongcampur.

“Ini bukan perbuatan pencuri, paduka. Mustahil bila sampai berani masuk ke puri dan melakukan perbuatan ini. Bila tidak atas kehendak dewata semua ini tidak akan terjadi,” kata Patih Wahan.

Sang Raja lalu bertanya kepada para guru yang hadir, apa sebab Kyai Condongcampur sampai menderita seperti ini.

Ajar Cemaratunggal berkata, “Rusaknya pusaka ini menjadi tanda akan muncul huru-hara besar. Pertanda dari Tuhan Yang Maha Tinggi ini cocog dengan isi rontal Jayabaya yang berisi perjumpaan antara Prabu Jayabaya dan Kangjeng Sultan Ali Syamsu. Disebutkan bahwa rusaknya negeri Majapahit, diawali tanah Jawa berganti agama.”

Sang Raja mengangguk-angguk dan berkata, “Hai Paman guru, apa yang Anda utarakan cocog dengan pesan Hyang Triyatra yang aku terima. Nanum bagi seorang raja, tidak elok bila lari dari peperangan. Lebih baik musuh dihadapi dalam medan perang.”

Ki Patih menyela, “Duh Tuanku, benar apa yang paduka katakan. Patih pun tiada beda, walau hancur tetap bertekad membela negeri. Darah yang mengucur ke tanah menjadi pupuk negeri Majapahit. Sudah sekian lama menjadi panutan dan sesembahan orang seluruh negeri, sepantasnya menunjukkan bakti kepada negara. Sudah lazim orang berperang akan kalah atau menang. Yang menang menguasai, yang kalah menjadi tawanan. Namun, itu tidak terjadi jika kami kalah. Kami akan bertempur sampai hancur.”

Heboh para bupati menyahut pernyataan Ki Patih, “Apa yang dikatakan Ki Lurah benar. Kami para punggawa tidak beda dalam tekad dan kesetiaan. Kami memilih mati membela negeri.”

Sang Raja terharu mendengar pernyataan Ki Patih dan para punggawa Majapahit. Mereka tampak kompak dan siap berperang membela negeri.

Sang Raja melanjutkan, “Hai Patih, bagaimana perkara Kyai Condongcampur ini. Dan para pendeta, apa pendapat kalian? Apakah keris ini dilarung di lautan, atau disimpan saja? Karena wujudnya sudah tidak patut lagi.”

Ki Tumenggung Supadriya berkata, “Duh dewata di bumi, bila paduka setuju sebaiknya dilebur dan dibentuk ulang. Jika dilarung tidak elok, karena ibarat membuang pusaka. Jika disimpan juga tidak baik karena sudah cacat. Pasti menimbulkan hawa buruk. Maka sebaiknya dilebur dan diperbaiki agar dapat digunakan lagi. Dan yang akan melakukan saya dan Kanda Supagati.”

Sang Raja sepakat, lalu memerintahkan agar segera dilaksanakan. Ki Supagati, Ki Supadriya, Pangeran Sendhang, Ki Supa Anom dan Adipati Surengrana sudah berkumpul untuk melaksanakan pekerjaan melebur Kyai Condongcampur. Perapian sudah dinyalakan. Sang Raja menyerahkan keris kepada Tumenggung Supadriya.

Ki Tumenggung Supadriya menghunus keris Kyai Condongcampur dan meletakkan ke dalam api. Api terus membesar sehingga keris memans. Semakin lama semakin panas hingga berwarna jingga kehijauan, lalu memerah agak  kebiruan. Ki Supadrinya bersiap mengangkat dan meletakkan ke paron. Palu telah disiapkan untuk membentuk ulang Kyai Condongcampur. Namun tiba-tiba Kyai Condongcampur melesat ke angkasa dan berputar-putar di atas kedaton. Sang Raja dan para punggawa kaget.

Keris terus berputar-putar di atas kedaton, lalu terdengar suara keluar dari keris itu, “Hai Prabu Brawijaya, engkau  berbuat aniaya dengan berniat menghancurkanku. Aku tak berbuat kerusakan, mengapa dihancurkan? Aku melakukan semua atas perintah Sang Pencitpa. Hai Prabu Brawijaya, engkau akan mendapat hukuman Tuhan. Sirna keutamaanmu. Para kawulamu akan kebingungan dan lari ke timur barat utara selatan mencari hidup. Negerimu akan sirna tanpa ada penolaknya. Hai Prabu Brawijaya, segera pergilah. Tinggalkan negerimu. Aku akan pulang ke asal-usulku di alam Tejamaya.”

Kyai Condongcampur menghilang tak terlihat lagi. Terus menapak alam gaib dan bermaksud masuk ke Tejamaya. Namun Hyang Endra mencegahnya.

“Hai Condongcampur, kembalilah. Engkau sudah menjadi racun dan menimbulkan kerusakan besar di Majapahit. Engkau menjadi teluh atas kehendakmu sendiri. Perintah Hyang Sidajati, engkau sekarang menjadi pusaka hina. Tempatmu berada di antara langit dan bumi. Menjadi teluh bajra. Kediamanmu di bintang berekor, selamanya sampai hari kiamat. Jika engkau kebetulan lewat di bumi, akan banyak penyakit; gabag dan gatal-gatal,” titah Hyang Endra.

Demikian nasib keris Kyai Condongcampur, selamanya menjadi teluh braja yang menyebarkan penyakit ke seluruh orang di bumi.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/21/sajarah-jati-21-keris-pusaka-majapahit-kyai-condhongcampur-diketahui-mempunyai-cacat/

Sajarah Jati (20): Adipati Bintara Mempersiapkan Pasukan Untuk Menggempur Majapahit

Alkisah, Raden Adipati Natapraja di Bintara berada dalam kebimbangan. Sang ayah Prabu Brawijaya di Majapahit tidak berkenan masuk Islam mengikuti syariat Rasul, Kangjeng Nabi Muhammad Rasulullah.  Adipati Natapraja merasa kerepotan mengajak Sang Raja masuk Islam. Siapa yang sebaiknya melakukan itu. Sebagai putra sudah selayaknya mengajak sang ayah kepada keyakinan yang benar. Namun Sang Raja merasa malu jika berganti keyakinan. Adipati Natapraja berpikir dirinya sudah tidak durhaka bila Sang Raja menolak. Yang dapat dilakukan kini hanya menunggu akhir cerita.

Sementara itu di Demak sedang ada pekerjaan membuat serambi masjid agung. Para santri dan para wli berkumpul. Setelah pekerjaan membuat serambi selesai mereka melakukan musyawarah. Pada kesempatan Sunan Kalijaga mendekati Sunan Benang dan berbisik.

“Paduka, pindahnya kiblat dunia sudah dekat waktunya. Sang Adipati saya lihat agak kendor dalam mengupayakan ini. Masih ada rasa sungkan kepada sang ayah. Meski sudah diramalkan kejadiannya, bila kita tidak melangkah mendekati bisa saja ramalan itu lepas. Sebaiknya Ki Adipati paduka panggil,” kata Sunan Kalijaga.

Sunan Benang sepakat, lalu menunjuk seorang sahabat untuk memanggil Adipati Bintara. Tidak lama kemudian yang dipanggil sudah menghadap.

Sunan Benang berkata, “Hai Nak Adipati Natapraja, sudah hampir tiba waktu pergantian zaman. Ramalah harus didekati. Jangan sampai terlena dan kurang waspada. Hilangkan pikiran yang bukan-bukan. Wajib bagi kita untuk berusaha mencari cara. Ketahuilah, negeri Majapahit sudah tua. Sebaiknya engkau segera mempersiapkan pasukan dan piranti kerajaan. Yakni empat perkara; jaksa, pengulu, patih dan raja. Itulah piranti wajib yang menjadi rukun sebuah kerajaan. Aku lihat engkau masih merasa segan melawan ayahmu Sang Raja. Sudah kehendak Tuhan Yang Maha Suci peralihan kekuasaan ini harus terjadi. Engkau tidak bisa mangkir. Bahwa engkau akan berlawanan dengan ayahmu, itu sudah kemestian sejarah. Ayahmu Sang Raja Majapahit juga sudah tahu bahwa negerinya akan digempur para wali. Sudah berkali-kali dewata memberi pesan kepada ayahmu bahwa Majapahit akan diserang anak raja. Nah, anakku sekarang pulanglah dan persiapkan pasukan.”

Adipati Natapraja menyatakan kesanggupan. Segera pulang ke Bintara dan memberi perintah kepada para punggawa Bintara agar melakukan persiapan.

Adipati Bintara berkata kepada para punggawa, “Aku memutuskan mengangkat Paman Kyai Wanasalam sebagai patih. Dia yang akan mengelola negeri dan menjadi pemuka para punggawa. Adapun sebagai pengulu aku angkat Ki Katib Anom. Ki Iman Semantri aku angkat sebagai jaksa yang akan mengadili dan memutus perkara,”

Raden Adipati lalu membentuk pasukan penjaga keamanan negeri. Beberapa kesatuan prajurit dibentuk. Talangpati berbendera hitam, merah, kuning dan putih. Bendera merah melambangkan keberanian menjaga negeri. Bendera merah juga melambangkan kuatnya budi, tidak menghindar dari tugas. Bendera kuning melambangkan watak prajurit yang suka pada keperwiraan. Wajib bagi prajurit untuk mengutamakan watak perwira sebagai benteng negeri. Bendera putih melambangkan watak prajurit yang ikhlas mati dalam perang. Tumpahnya darah menjadi pupuk yang menyuburkan negeri. Bendera putih juga melambangkan keikhlasan berjuang fi sabilillah. Bahwa orang mati bisa di mana saja, mati dalam perang adalah kematian yang utama. Seperti itulah filosifi dari kesatuan prajurit yang dibentuk Adipati Natapraja. Semua prajurit sudah menyatakan kesiapan menjalankan semua perintah. Pasukan Bintara telah siap tempur. Kyai Patih Wanasalam segera menghadap Raden Adipati Natapraja.

Ki Patih Wanasalam berkata, “Duh Kangjeng Adipati, persiapan prajurit Bintara ini tak urung akan dilaporkan kepada ayah paduka Sang Raja di Majapahit. Bila itu terjadi maka mereka mempunyai waktu untuk bersiap. Maka sebaiknya sebelum mereka bersiap lebih baik kita mendahului. Sebaiknya paduka segera memberi tahu kepada para wali bahwa pasukan Bintara telah siap. Yang kedua, paduka minta sarat sarana kepada para wali agar pasukan kita kuat dan semangat dalam perang.”

Raden Adipati sepakat dengan usulan Patih Wanasalam.

“Jika demikian aku akan berangkat dengan menyamar. Jangan seorang pun tahu kepergianku,” kata Adipati Natapraja.

Sang adipati berganti pakaian seperti orang sudra, lalu berangkat ke Ampeldenta. Singkat cerita Adipati Natapraja sudah sampai di padepokan Sunan Ampel. Pada saat itu Kangjeng Sunan sedang berada di masjid. Raden Adipati mendekati dan sungkem. Kangjeng Sunan terkejut, kemudian mengangguk-angguk dan tersenyum.

Raden Adipati berkata, “Pasukan Bintara sudah siap. Mereka sudah siap tempur menggempur Majapahit. Hamba mohon doa restu paduka, serta minta sarana agar pasukan hamba tangguh dan kuat.”

Kangjeng Sunan Ampel berkata, “Ini sudah waktunya. Aku beri sarana berupa rajah kalimah thayibah. Kalian bakar dan abunya diminum seluruh prajurit. Agar bangkit keberaniannya dan hilang rasa khawatir di hati. Nah, Nak Adipati, segera pulanglah.”

Raden Adipati segera undur diri. Sebelum kembali ke Bintara mampir dulu di Giripura. Sudah bertemu dengan Kangjeng Sunan Giri dan meminta doa restu. Sunan Giri sangat mendukung dan mendoakan. Setelah diizinkan lalu Raden Adipati pergi ke Benang untuk menemui Sunan Benang. Sunan Benang pun sangat mendukung dan mendoakan. Kelak bila sudah tiba waktunya para wali akan berangkat ke Bintara untuk membantu mendoakan pasukan Bintara yang akan berangkat perang.

Raden Adipati Natapraja sudah kembali ke Bintara. Segera memerintahkan Ki Patih Wanasalam untuk bersiap. Pasukan sudah digelar dan dibagi-bagi sesuai kesatuan masing-masing. Ada yang berwahana kuda dan ada yang berjalan darat. Semua perabot perang telah siap. Tinggal menunggu komando untuk berangkat.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/20/sajarah-jati-20-adipati-bintara-mempersiapkan-pasukan-untuk-menggempur-majapahit/

Sajarah Jati (19): Jaka Sura Membuat Keris Dapur Jangkung Mangkurat

Alkisah di negeri Majapahit, Prabu Brawijaya pada malam Rabu Legi bermimpi kedatangan dewata Hyang Triyatra.

Sang dewata memberi pesan: “Hai Raja utama, engkau akan mengalami masa prihatin.”

Seketika Sang Raja terbangun. Mimpi itu berisi pesan yang belum sempurna, tetapi keburu Sang Raja bangun. Sang Raja kemudian menuju tempat pemujaan. Dupa telah dinyalakan, Sang Raja mengheningkan cipta meminta petunjuk dewata.

Tidak lama datang pesan dari Hyang Otipati, “Hai Sang Prabu Brawijaya, atas kehendak Hyang Suksma Kawekas, sekarang aku beri tahu kamu bahwa keraton Jawa akan berpindah. Engkaulah raja terakhir di Majapahit. Kelak akan terjadi pergantian raja. Namanya memakai bahasa Arab. Akan ada kerusuhan. Adapun siapa yang akan menjadi raja berikutnya masih samar. Kalau belum hilang keraton Majapahit jangan engkau khawatir. Semua yang terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun ada sarana agar anak keturunanmu yang menjadi raja kelak. Engkau carilah pusaka berupa keris dapur Jangkung Mangkurat, yang dibuat tanpa api. Bukan terbuat dari besi surga atau bumi, tapi dari saripati ruh insan. Yang membuat adalah seorang anak berusia tujuh tahun, keturunan empu pilihan yang mendapat wejangan Empu Ramadi dari zaman Budhawaka. Tidak usah engkau cari, besok akan datang. Sudah kehendak dewata, tak akan berubah. Hai anakku, Sang Raja. Terimalah takdir ini. Hentikan semadimu.”

Sang Raja sudah turun dari tempat pemujaan. Pagi hari Sang Raja mengadakan tarian badaya.

Ganti cerita, ketika Pangeran Sendhang pulang dari Blambangan dan menikah dengan putra Sang Adipati serta menguasai kota Sidayu, pada waktu itu Dyah Sugiyah telah mengandung usia kandungan tujuh bulan. Ki Supa alias Pangeran Sendhang pamit kepada sang istri dengan pesan kelak bila lahir lelaki si anak diberi nama Jaka Sura. Adapun bila lahir perempuan terserah kepada sang ibu. Ki Supa juga meninggalkan  bakal keris sejumlah 20 bilah. Peristiwa itu sudah berlalu tujuh tahun. Putra Ki Supa telah lahir laki-laki dan sesuai pesan sang ayah diberi nama Jaka Sura.

Jaka Sura sudah berusia tujuh tahun. Kegemarannya adalah menjelajah hutan dan bertapa tanpa makan. Juga suka naik gunung turun jurang. Pada suatu waktu Jaka Sura sampai di tepi samudera dan bertemu Empu Ramadi, lalu diberi pelajaran membuat senjata dan berbagai pengetahuan lain. Sudah mahir membuat senjata hanya dengan cipta dan memberi pamor dengan mata. Itulah pengaruh pengajaran Empu Ramadi. Ki Jaka Sura sudah menguasai semuanya. Jaka Sura kemudian diizinkan pulang oleh sang guru.

Sesampai di rumah Jaka Sura bertemu sang ibu yang selalu memangisi kepergiannya.

“Duh anakku, engkau pergi ke mana saja,” ratap sang ibu.

Jaka Sura menceritakan pengalamannya selama pergi. Sang ibu merasa tenang hatinya. Meski baru berusia tujuh tahun Jaka Sura sudah mumpuni dalam membuat senjata. Juga cakap dalam susastra.

Pada suatu hari Jaka Sura menghadap sang ibu. Dengan menyembah dan memeluk kaki sang ibu Jaka Sura bertanya, “Duh Ibu, saya ingin tahu apakah saya mempunyai ayah? Kalau punya siapa namanya, di mana rumahnya? Apakah masih hidup?”

Mendengar pertanyaan sang putra Dyah Sugiyah menangis, lalu berkata, “Engkau bertanya tentang ayahmu, namanya Pangeran Sendhang. Semula bernama Ki Pitrang. Sekarang sedang pergi ke Tuban, wilayah negeri Majapahit. Raja Majapahit adalah Prabu Brawijaya. Ketika ayahmu pergi engkau baru tujuh bulan dalam kandungan. Namamu Jaka Sura juga atas pesan dari ayahmu. Sudah tujuh tahun ayahmu pergi, sampai sekarang aku belum mendengar kabar beritanya. Dulu ayahmu meninggalkan bakal keris 20 bilah. Entah apa dapurnya, semua dibungkus dalam peti. Sekarang coba telitilah.”

Peti berisi bakal keris lalu diambil dan diserahkan kepada Jaka Sura. Jaka Sura lalu memeriksa satu per satu.

Jaka Sura berkata, “Ibu, saya ingin tahu ayah saya Pangeran Sendhang masih hidup atau sudah meninggal. Bila sudah meninggal saya ingin tahu kuburnya.”

Demikian Jaka Sura bersikeras melacak jejak sang ayah ke Majapahit. Sang ibu berusaha mencegahnya.

“Jangan anakku, Majapahit letaknya sangat jauh. Harus melalu hutan lebat. Banyak halangan untuk sampai ke sana,” kata Dyah Sugiyah.

Jaka Sura berkata, “Tidak Ibu, saya harus mencari ayah. Calon keris 20 bilah saya bawa sebagai tanda saya anak Pangran Sendhang. Keris itu juga nanti menjadi bukti bahwa saya benar-benar anak Ki Pitrang.”

Sang ibu tak kuasa mencegah. Jaka Sura lalu bersiap. Dua puluh bakal keris dipikul dan segera berangkat. Sepanjang jalan Jaka Sura banyak bertanya jalan menuju Majapahit. Setiap bertanya dia memberi upah sebilah calon keris itu. Akhirnya Jaka Sura sampai di Majapahit. Bakal keris sejumlah 20 tinggal sebilah. Jaka Sura lalu menuju bawah pohon beringin kembar. Jaka Sura duduk bersila seperti layaknya orang yang hendak menghadap Sang Raja. Perilakunya tak menceriminkan seorang bocah berusia tujuh tahun.

Pada waktu itu sedang ada pisowanan hari Senin. Sang Raja bertahta di hadapan para punggawa. Para tumenggung dari mancanegara dan dari dalam kota lengkap hadir. Para tukang pandai besi dan perajin emas juga hadir.

Sang Raja melihat ada seorang anak yang melakukan pepe di bawah pohon beringin.

Sang Raja berkata, “Aku melihat ada anak duduk bersila di bawah pohon beringin. Aku duga sudah lama dia di situ.”

Para bupati dan tumenggung pun heran melihat anak kecil duduk bersila di bawah beringin kembar alun-alun Majapahit.

Mereka berkata, “Benar sabda paduka, ada seorang bocah di bawah pohon beringin kembar.”

Sang Raja memerintahkan seorang pelayan untuk memanggil bocah tersebut. Yang disuruh segera membawa Jaka Sura menghadap ke Sitinggil. Sesampai di hadapan Sang Raja, Jaka Sura duduk menunduk menatap tanah. Sang Raja berpikir, apakah bocah ini yang disebut dalam pesan ketika melakukan puja.

Sang Raja berkata, “Hai bocah, siapa namamu? Di mana rumahmu? Engkau duduk di bawah beringin ada keperluan apa, katakan apa yang menjadi ganjalan hatimu.”

Si bocah menyembah dan berkata, “Duh paduka dewata di dunia, hamba bocah yang terlunta-lunta. Nama hamba Jaka Sura. Menurut ibu hamba, semula ada pandai besi dari Gresik namanya Pitrang yang mengabdi di Blambang. Pengabdiannya diterima dan diberi anugerah sebagai bupati di kota kecil Sidayu. Lalu diberi gelar Pangeran Sendhang dan diberi istri anak Raja Blambangan yang bernama Retna Sugiyah. Terlaksana mereka membangun rumah tangga dengan rukun sehingga sang istri mengandung. Ketika usia kandungan tujuh bulan, Pangeran Sendhang pamit pergi ke Tuban. Dia mempunyai anak lelaki di kota itu. Setelah beberapa bulan Retna Sugiyah melahirkan putra lelaki, itulah hamba. Setelah tujuh tahun berlalu Pangeran Sendhang tidak kunjung datang. Hamba bertanya kepada ibu siapa ayah hamba. Ibu menceritakan kisah seperti yang sudah hamba ceritakan tadi. Hamba kemudian minta pamit untuk mencari ayah hamba. Namun ketika hamba sampai di Majapahit, tidak seorang pun yang tahu nama Kyai Pitrang. Juga tidak ada yang pernah mendengar nama Pangeran Sendhang. Hamba sangat bingung ke mana lagi hendak mencari. Lalu hamba bermaksud menghadap paduka. Barangkali paduka sudi mengabdikan hamba sehingga hamba tidak terlunta-lunta. Akhirnya hamba sampai di alun-alun dan duduk di bawah pohon beringin. Duhai paduka, apakah paduka mengetahui ayah hamba yang bernama Pangeran Sendhang?”

Sang Raja kerepotan karena juta tidak mengetahui dua nama yang disebut si bocah. Namun Sang Raja berpikir, di Tuban pandai besi yang mumpuni hanya si Supa. Apakah si Supa pernah berkelana sampai Blambangan?

Sang Raja berkata kepada wadana pandai besi, “Apakah si Supa menghadap?”

Wadana pandai berkata, “Ada, paduka.”

Sang Raja berkata, “Hai Supa, majulah ke hadapanku.”

Empu Supasujana segera maju ke depan.

Sang Raja berkata, “Hai Supa, ini ada anak bertanya bapaknya. Katanya namanya Pangeran Sendhang. Ketika di Blambangan namanya Pitrang.”

Ki Supa berkata, “Sungguh, hamba pernah mendapat nama Pangeran Sendhang dan menjadi adipati di Sidayu. Ketika magang di Blambangan hamba memakai nama Pitrang. Waktu itu Raja Blambangan memberi hamba putrinya yang bernama Retna Sugiyah. Namun terhadap bocah ini hamba ragu karena mustahil sudah sebesar ini. Dan bagaimana dia dapat menempuh perjalanan sejauh ini.”

Sang Raja berkata, “Anakku, engkau mengaku sebagai anak Pitrang, apa bukti yang engkau bawa?”

Jaka Sura berkata, “Hanya ini bukti yang hamba bawa. Satu bilah bakal keris. Semula jumlahnya 20 bilah. Namun setiap hamba minta tolong seseorang menunjukkan jalan ke Majapahit, hamba memberinya hadiah satu bilah sehingga tinggal satu. Inilah bukti bahwa hamba anak Ki Pitrang.”

Jaka Sura menyerahkan bakal keris kepada Sang Raja. Sang Raja tak samar lagi, segera tahu bakal keris ini karya Ki Supa. Postur bilah keris, kembang kacang, ganja dan sogokan khas buatan Ki Supa.

Sang Raja berkata, “Hai Supa, sudah nyata bakal keris ini buatanmu. Coba engkau teliti.”

Ki Supa menerima bakal keris dan memeriksanya. Memang benar, Supa yakin ini buatan tangannya.

Ki Supa berkata, “Tidak ragu lagi, ini buatan hamba. Jadi bocah ini benar anak hamba. Namanya pun sesuai. Dulu hamba berpesan kepada ibunya bila lahir lelaki supaya diberi nama Jaka Sura.”

Sang Raja berkata, “Hai Jaka Sura, orang inilah ayahmu. Di sini namanya Kyai Supa. Aku tidak tahu dia juga bernama Pangeran Sendhang. Mulai hari ini aku mengizinkan dia memakai nama itu.”

Sang Raja berkata lagi, “Hai Jaka Sura, engkau sudah bertemu dengan ayahmu dalam keadaan selamat. Sekarang aku minta karyamu. Aku sedang kerepotan. Aku mendapat pesan dewata agar membuat keris sebagai sarana keselamatan negeri. Sebilah keris dengan dapur Jangkung Mangkurat. Aku belum pernah mengetahui ada keris dapur seperti itu. Aku telah mencari para pandai besi yang dapat membuatnya. Namun tak satu pun yang bisa. Walau ayahmu si Supa juga belum mengetahui keris seperti itu. Barangkali engkau bisa membuat keris seperti itu.”

Jaka Sura berkata, “Hamba sanggup, semoga berkah paduka membuat pekerjaan hamba berhasil. Namun hamba minta tempat yang sepi untuk mengerjakannya. Jangan sampai terlihat orang.”

Sang Raja mengangguk, lalu berkata, “Hai Sura, engkau kerjakan di tempat sepi di gedung sebelah barat alun-alun. Engkau Ki Supa, anakmu bawalah ke sana.”

Sudah terlaksana Jaka Sura mengerjakan keris Jangkung Mangkurat. Selama pembuatan keris Ki Supa dan Sang Raja menunggui di luar. Di dalam Jaka Sura mengerjakan dengan cipta. Besi diambil dari baitul makmur. Bilah besi diurut dengan jari-jari Ki Jaka Sura. Selama pengerjaan Jaka Sura selalu mengingat pengajaran Empu Ramadi. Akhirnya jadilah keris Jangkung Mangkurat luk tiga, dengan kembang kacang, sogokan, greneng belakang, dan mempunyai ada-ada di sepanjang bilah. Setelah selesai Jaka Sura mengetuk pintu dan keluar dari gedung. Jaka Sura kaget karena sang ayah dan Sang Raja selalu menunggui selama pengerjaan keris.

Jaka Sura duduk bersila di hadapan Sang Raja, keris segera dihaturkan. Sang Raja mengamati keris dengan seksama. Memang benar ini bocah yang berada dalam pesan dewata.

Sang Raja lalu masuk ke puri sambil mengandeng Jaka Sura. Ki Patih, para tumenggung dan punggawa yang menghadap sudah diizinkan pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang jalan pulang mereka tak henti membicarakan anak berumur tujuh tahun yang sangat mumpuni dalam sastra. Dia bahkan dapat berbahasa cara keraton, ngoko, madya, krama dan kawi tanpa cela. Pengucapannya pun tepat dan intonasinya tenang. Sungguh tak seperti perilaku seorang bocah.

“Aku duga dia kesurupan dewata. Mustahil bisa melakukan itu. Dalam berbahasa dan berperilaku mengalahkan para tetua. Sikapnya sangat mengesankan ketika berhadapan dengan Sang Raja. Sungguh, sudah pasti dia calon bupati,” kata seorang punggawa.

“Dan lagi, kemampuannya sungguh menakjubkan. Mampu membuat pusaka keraton dengan sarana puja. Keris Jangkung Mangkurat dapat dia buat dengan cara apa, entahlah kita tidak tahu. Ini sungguh keajaiban dari dewata,” timpal punggawa lain.

Sementara itu Sang Raja sudah masuk ke dalam puri dan bertemu permaisuri.

Permaisuri berkata, “Duh Sang Raja, siapa bocah yang paduka gandeng ini?”

Sang Raja berkata, “Ketahuilah Dinda, bocah ini anak si Supasujana Tuban. Dia anak Supa dari istri putri Blambangan, anak Adipati Siunglaut. Dia ke Majapahit hendak mencari ayahnya. Namanya Jaka Sura. Umurnya baru tujuh tahun. Dialah yang telah membuat keris seperti yang aku kehendaki, keris berdapur Jangkung Mangkurat. Keris yang diminta Hyang Triyatra sebagai sarana keselamatan negeri Majapahit. Hai Mbok Ratu, anak ini biarlah tinggal di puri.”

Sang Raja kemudian berkata kepada Jaka Sura, “Hai Sura, jangan engkau pulang ke kotamu. Tetaplah di sini. Kelak engkau aku beri kedudukan dan kemuliaan. Sungguh seorang raja takkan ingkar janji.”

Jaka Sura menyembah dan menyatakan kesanggupan. Selama tinggal di puri permaisuri Ratu Dwarawati sangat mengasihinya. Jaka Sura seorang bocah yang sopan dan pandai membawa diri. Dia juga patuh dan setia, selayaknya orang mengabdi kepada raja.

Beberapa tahun berlalu. Jaka Sura sudah tumbuh menjadi remaja. Pada waktu itu Sang Raja mempunyai seorang putri bungsu yang sudah waktunya berumah tangga. Sang Raja bermaksud menikahkan putri bungsu dengan Jaka Sura. Sang Raja kemudian memanggil Patih Adipati Wahan.

Berkata Sang Raja, “Wahai Patih, ketahuilah. Aku ingin menikahkan putri bungsuku dengan si Sura anak Supa Tuban. Engkau persiapkan segala sesuatunya. Si Sura bawalah ke Kapatihan untuk memulai tatacara pernikahan. Undanglah para adipati, panewu dan seluruh punggawa Majapahit.”

Ki Patih menyatakan kesanggupan. Jaka Sura lalu dibawa ke Kapatihan. Sesampai di dalem Kepatihan para punggawa segera mempersiapkan acara pernikahan. Setelah temu pengantin kedua mempelai diarak keliling kota. Jaka Sura nai kuda yang berhias indah dengan pakaian yang mencolok. Raden Ayu memakai wahana tandu. Para kawula Majapahit berbondong menyaksikan arak-arakan pengatin yang seperti dewa turun ke dunia.

Setelah selesai acara temu pengantin Jaka Sura diberi kedudukan adipati di Jenu dengan nama Raden Adipati Surengrana. Sang adipati lalu memboyong sang istri ke Jenu. Para mantri dan panewu berbondong-bondong mengantar. Adipati Surengrana lestari memimpin Jenu sehingga menjadi kadipaten yang makmur. Adipati Surengrana cakap dan mumpuni sehingga hutan, desa-desa dan tanah yang angker dapat diberi penawar.

Raden Adipati Surengrana lalu memboyong sang ibu Retna Sugiyah yang masih berada di Sidayu. Sang ayah Pangeran Sendhang juga diminta datang ke Jenu. Rombongan penjemput sudah berangkat. Satu rombongan berangkat ke timur menuju Sidayu. Satu rombongan menuju ke Tuban di barat. Singkat cerita kedua orang tua sang adipati sudah berkumpul di Jenu. Raden Adipati Surengrana sangat bersuka cita. Kini terlaksana ditunggui kedua orang tua.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/11/19/sajarah-jati-19-jaka-sura-membuat-keris-dapur-jangkung-mangkurat/

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...