Pada (bait) ke-85-87, Pupuh ke-5 Maskumambang, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Dipun gemi nastiti ngati-ati,
gemi mring kagungan.
Ing Gusti ywa sira wani,
anggegampang lawan aja,
wani-wani nuturken wadining Gusti.
Den bisa rerawat,
ing wewadi sang siniwi,
nastiti barang parentah.
Ngati-ati ing rina kalawan wengi,
ing rumeksanira.
Lan nyadhong karsaning Gusti,
dudukwuluhe kang tampa.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Diharap hemat, teliti, berhati-hati,
dan cermat merawat milik Raja.
Pada Raja jangan engjau berani,
meremehkan dan jangan
berani membocorkan rahasia Raja.
Harus bisa menjaga selalu,
dalam hal rahasia sang Raja,
teliti dalam semua perintah.
Berhati-hati di siang dan malam,
dalam penjagaanmu.
Dan mengharap kehendak Raja,
duduk bersiap menerima.
Kajian per kata:
Dipun (Diharap) gemi (gemi, hemat) nastiti (teliti) ngati–ati (berhati-hati), gemi (gemi, cermat merawat) mring (pada) kagungan (milik raja). Diharap hemat, teliti, berhati-hati, dan cermat merawat milik Raja.
Bait ini melanjutkan uraian bait yang lalu tentang bagaimana cara menjaga Raja agar dapat menjalankan pemerintahan dengan adil dan belandaskan hukum. Seberapa pun kecil tugas seseorang di kerajaan akan sangat membantu Raja sesuai porsi masing-masing.
Harap semua gemi nastiti ngati-ati dalam melakukan pekerjaan. Gemi adalah sebutan untuk seseorang yang mampu memaksimalkan kegunaan suatu barang, tidak cepat-cepat membuangnya jika masih bisa dipakai. Nastiti adalah teliti dalam melakukan pekerjaan, tidak sering salah atau tercecer. Ngati–ati adalah melakukan pekerjaan dengan hati-hati supaya hasilnya sempurna, tidak perlu mengulang.
Ing (pada) Gusti (Raja) ywa (jangan) sira (engkau) wani (berani), anggegampang (meremehkan) lawan (dan) aja (jangan), wani-wani (berani) nuturken (membocorkan) wadining (rahasia pribadi) Gusti (Raja). Pada Raja jangan engjau berani, meremehkan dan jangan berani membocorkan rahasia Raja.
Terhadap Raja jangan sekali-kali berani meremehkan dan jangan berani membocorkan rahasia pribadinya. Raja adalah simbol negara. Apa yang ada padanya sangat berkaitan dengan keamanan negara. Maka segala urusan yang berkaitan dengannya jangan dianggap remeh. Semua hal-hal kecil layak untuk diperhatikan dan dijaga kerahasiannya. Amat banyak contohnya suatu negara hancur karena rajanya diperdaya, yang berawal dari persoalan sepele. Misalnya tentang kebiasaan raja sehari-hari, apa kesukaan raja dalam hal makan, jam berapa raja tidur, hobby apa yan disukai raja, tempat favorit raja untuk berlibur, dll.
Den (harap) bisa (bisa) rerawat (menjaga selalu), ing (dalam hal) wewadi (rahasia) sang (sang) siniwi (yang terhormat, Raja), nastiti (teliti) barang (dalam semua) parentah (perintah). Harus bisa menjaga selalu, dalam hal rahasia sang Raja, teliti dalam semua perintah.
Oleh karena itu hendaklah selalu waspada dan menjaga selalu rahasia sang Raja. Dalam segala perbuatan hendaklah teliti ketika menjalankan perintah.
Ngati-ati (berhati-hati) ing (di) rina (diang) kalawan (dan) wengi (malam), ing dalam) rumeksanira (penjagaanmu). Berhati-hati di siang dan malam, dalam penjagaanmu.
Berhati-hati dalam menjalankan pekerjaan yang berkaitan dengan Raja, baik di siang hari maupun malam. Jangan sampai lengah dalam penjagaan.
Lan (dan) nyadhong (mengharap) karsaning (kehendak) Gusti (Raja), Dudukwuluhe kang tampa (duduk bersiap menerima). Dan mengharap kehendak Raja, duduk bersiap menerima.
Dan bersiap sedialah, selalu mengharap perintah Raja. Apa saja yang dia kehendaki hendaknya ditunggu dalam keadaan siaga, duduk bersiap menerima perintahnya. Duduk wuluh adalah kode untuk beralih ke Pupuh Duduk Wuluh atau Megatruh.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/07/kajian-wulangreh-8587-rerawat-wadine-kang-siniwi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar