Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (161;162): Ala Becik Dipun Weruh

Pada (bait) ke-161;162, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Lan maning ana ing pituturingsun,
yen sira amaca,
layang sabarang layanging,
aja pijer ketungkul ngelingi sastra.

Caritane ala becik dipun weruh,
nuli rasa kena,
carita kang muni tulis.
Den karasa kang becik sira anggowa.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Dan lagi ada nasihatku,
kalau engkau membaca-baca,
kitab segala kitab,
jangan selalu terpaku pada keindahan bahasanya.

Ceritanya buruk atau baik pahamilah,
lalu rasakanlah,
cerita yang tertulis.
Yang dirasa baik engkau pakailah.


Kajian per kata:

Lan (dan) maning (lagi) ana (ada) ing pituturingsun (nasihatku), yen (kalau) sira (engkau) amaca (membaca-baca), layang (kitab) sabarang (segala) layanging (serat, kitab), aja (jangan) pijer (selalu) ketungkul (terpaku) ngelingi (mengingat) sastra (keindahan bahasa). Dan lagi ada nasihatku, kalau engkau membaca-baca, serat segala serat, jangan selalu terpaku pada keindahan bahasanya.

Membaca adalah aktivitas intelek yang menggunakan sarana akal budi, mestinya outputnya adalah kebijaksanaan. Tetpi adakalanya kita hanya fokus pada aspek sastranya saja sehingga kurang perhatian pada aspek pendidikannya. Padahal hampir tidak ada pujangga zaman dahulu yang menulis semata-mata untuk tujuan sastrawi, hampir semua serat berisi ajaran atau pitutur, termasuk dalam hal ini adalah cerita-cerita atau epos seperti Mahabarata, Gatotkacasraya, Baratayudha, dll.

Oleh karena ada muatan didaktiknya, seyogyanya kalau membaca serat atau kitab dicari pesan moralnya apa. Jangan hanya terpaku pada alur cerita yang mengharu-biru. Layang dalam bait ini berarti kitab atau serat. Kata serat atau layang mulai umum dipakai sejak Islam menjadi agama resmi negara. Umumnya dipakai untuk menyebut kitab yang berisi ajaran atau pitutur. Kata serat sendiri tampaknya diambil dari kata surah yang terdapat dalam Al Qur’an.

Selain serat ada kitab lain yang juga merupakan produk masa Islam, yakni Babad, umumnya menceritakan tentang sejarah.

Pada masa pra Islam kitab sejenis serat ini disebut kakawin atau kidung. Penamaan ini mengikuti metrum yang dipakai dalam penulisan kitab-kitab tersebut. Contohnya kakawin Baratayudha formatnya kakawin, kidung Sorandaka formatnya kidung, dll.

Caritane (ceritanya) ala (buruk) becik (baik) dipun (di) weruh (tahu, paham), nuli (lalu) rasakena (rasakanlah), carita (cerita) kang (yang) muni tulis (tertulis). Ceritanya buruk atau baik pahamilah, lalu rasakanlah, cerita yang tertulis.

Ambilah pelajaran dari kitab-kitab itu tentang hal-hal yang baik atau buruk. Bagaimanakah yang disebut kebaikan itu, apa untungnya melakukan kebaikan, apa akibatnya jika berbuat sebaliknya, dll. Pasti ada dalam kitab-kitab itu pelajaran tentang watak dan perilaku manusia yang baik dan yang buruk.

Den karasa (dirasa) kang (yang) becik (baik) sira (engkau) anggowa (pakailah). Yang dirasa baik engkau pakailah.

Dicontoh dan diamalkan dalam kehidupan terhadap hal-hal yang baik, sebalik dijauhi terhadap hal-hal yang buruk. Itulah manfaat sebenarnya dari membaca. 


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-161162-ala-becik-dipun-weruh/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...