Pada (bait) ke-34, Pupuh ke-3 Gambuh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Dene tetelu iku,
si kidang suka ing panitipun.
Pan si gajah alena patinireki.
Si ula ing patinipun,
ngandelaken upase mandos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Maka dari ketiganya itu,
si kijang dalam kegembiraan ketika matinya.
Si gajah mati teledor hingga ajalnya.
Sedangkan ular matinya,
karena terlalu mengandalkan keganasan bisanya.
Kajian per kata:
Dene (maka) tetelu (ketiga) iku (itu), si kidang (si kijang) suka (dalam kegembiraan) ing (ketika) panitipun (matinya). Maka dari ketiganya itu, si kijang dalam kegembiraan ketika matinya.
Masih melanjutkan bahasan tentang tiga watak buruk yang mencelakakan. Si kijang sebagai kiasan watak adigang tadi karena lalai hilang kewaspadaan akan mati dalam keadaan tidak menyangka sama sekali. Dia akan mati ketika sedang berlarian ke sana kemari dengan lincahnya, seakan marabahaya tak menjangkaunya. Dia lupa bahwa musuh-musuhnya senantiasa mengancam dan menunggu saat yang tepat. Ketika dia lalai sedikit saja, habislah nasibnya.
Pan (kalau) si gajah (si gajah) alena (teledor) patinireki (ajalnya). Si gajah mati teledor hingga ajalnya.
Si gajah akan mati karena keteledorannya. Saat ia mengira takkan ada yang mampu mengalahkan kewaspadaannya menurun. Di saat itulah musuh menyerang tanpa ampun dengan membawa penuh dendam kesumat. Sebagai pelampiaan akumulasi hinaan yang telah ia terima, musuh-musuhnya akan menyerang dengan ganas tanpa memberi kesempatan padanya.
Si ula (si ular) ing patinipun (matinya), ngandelaken (terlalu mengandalkan) upase (bisanya) mandos (yang ganas). Sedangkan ular matinya, karena terlalu mengandalkan keganasan bisanya.
Si ular pun bernasib sama, terlalu umuk memamerkan bisanya yang ganas membuat musuh-musuhnya waspada dan mempelajari kelemahannya. Di situlah kemudian mereka menyerang dengan serangan yang mematikan.
Dari ketiga tamsil kehidupan di atas, ketiganya menemui ajal ketika kewaspadaan hilang. Ketika mereka meremehkan musuh, maka musuh semakin mengasah kemampuan dan mencari strategi. Di situlah terlihat siapa sebenarnya yang lebih piawai dalam bertarung. Yang lalai dan teledor akan dihabisi.
Yang demikian ini hendaklah selalu diingat agar menjadi pelajaran, wahai anak-anak muda!
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/15/kajian-wulangreh-34-lena-temah-lampus/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar