Pada (bait) ke-120;121, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Rowang sapocapan ugi,
kang pantes ngajak calathon,
aja sok metuwo wong celathu.
Ana pantes ugi,
rinungu mring wong kathah,
ana satengah micara.
tan pantes kanggo ngawruhi.
Milane lamon miraos,
dipun ngarag-ngarah ywa kabanjur.
Yen sampun kawijil,
tan kena tinututan,
milane dipun prayitna
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
(Walau) teman percakapan tadi juga,
(sudah dianggap) yang pantas mengajak bercakap,
jangan asal keluar pembicaraan.
Ada kepantasan juga,
yang didengar oleh orang kebanyakan,
ada setengah pembicaraan,
tak pantas baginya untuk mengetahui.
Maka dari itu kalau curhat,
agar mengira-ngira,
jangan sampai melantur.
Kalau sudah terucap keluar,
tak bisa ditarik lagi,
maka dari itu harap hati-hati.
Kajian per kata:
Rowang (teman) sapocapan (percakapan) ugi (juga), kang (yang) pantes (pantas) ngajak (mengajak) calathon (bercakap), aja (jangan) sok metuwo (asal keluar) wong (orang) celathu (bicara). (Walau) teman percakapan tadi juga, (sudah dianggap) yang pantas mengajak bercakap, jangan asal keluar pembicaraan.
Walau sudah mendapat teman bercakap untuk curhat menumpahkan isi hati, tetap janganlah asal berkata-kata. Perhatikan teman curhatnya, kenali sifatnya, dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bicara dengan orang yang berhati ember bocor tentang suatu rahasia dipastikan akan menyebar ke sudut-sudut dunia. Bisa mendatangkan bencana nantinya. Oleh karena itu perlu untuk mengenal dengan baik lawan curhat, jangan kepada sembarang orang kita menumpahkan isi hati.
Ana (ada) pantes (kepantasan) ugi (juga), rinungu (yang didengar) mring (oleh) wong (orang) kathah (kebanyakan), ana (ada) satengah (setengah) micara (pembicaraan), tan (tak) pantes (pantas) kanggo (baginya) ngawruhi (mengetahui). Ada kepantasan juga, yang didengar oleh orang kebanyakan, ada setengah pembicaraan, tak pantas baginya untuk mengetahui.
Meski sudah mendapat teman yang baik, tetap harus menjaga bicara kita. Ada hal-hal tertentu yang tidak pantas didengar orang lain. Ada yang terlalu pribadi untuk dibagi, entah itu berkaitan dengan rahasia diri sendiri ataupun rahasia orang lain. Maka bicaralah seperlunya sesuai maksud dan tujuan melakukan curhat. Pembicaraan jangan melebar kemana-mana. Jika hilang kontrol rahasia bisa hilang.
Oleh karena itu dalam budaya seorang teman yang sudah akrab akan berbagi rahasia diri, teman seperti ini disebut sedulur sinoroh wadi, saudara yang rahasia kita diserahkan. Namun sebaiknya rahasia diri atau rahasia orang lain yang kebetulan kita ketahui, jangan diserahkan semuanya. Karena pertemuan bisa saja putus, dan malah menjadi musuh.
Di zaman sekarang pun sering kita temui orang yang terlanjur menyerahkan rahasia diri, entah berujud apa saja, kepada sahabatnya yang kemudian menjadi celaka setelah keduanya tidak lagi bersahabat dekat. Rahasia yang merupakan aib kemudian disebar di dunia maya, membuat malu yang bersangkutan.
Milane (maka dari itu) lamun (kalau) miraos (curhat), dipun (agar) ngarag–ngarah (mengira-ngira) ywa (jangan) kabanjur (melantur). Maka dari itu kalau curhat, agar mengira-ngira, jangan sampai melantur.
Maka dari itu kalau curhat harus dikira-kira, mana yang pantas dan perlu dikatakan, mana yang tidak. Jangan sampai melantur kemana-mana, sampai hal-hal yang tidak perlu pun dikatakan.
Yen (kalau) sampun (sudah) kawijil (terucap keluar), tan (tk) kena (bisa) tinututan (ditarik lagi), milane (maka dari itu) dipun (harap) prayitna (hati-hati). Kalau sudah terucap keluar, tak bisa ditarik lagi, maka dari itu harap hati-hati.
Jika sudah begitu nanti bisa menyesal. Segala yang terucap tak dapat ditarik kembali, seperti anak panah yang sudah keluar dari busurnya. Itulah bahaya dari lidah. Selanjutnya akan kita sebut saja bahaya lidah, artinya bahaya yang ditimbulkan dari lidah yang tidak terkontrol. Kata ini mengingatkan kita pada satu bagian dari kitab Ihya Ulumuddin karya Al Ghazali yang khusus membahas bahaya lidah. Di sana diuraikan dengan detail dan gamblang tentang ini disertai contoh dan dalil-dalil yang berkaitan. Salah satu sifat yang dibahas oleh Ghazali dengan panjang lebar adalah soal ghibah atau menggunjing atau ngrasani. Ini memang kelihatan sepele namun ternyata efeknya luar biasa buruk. Al Ghazali mengutip sabda Nabi bahwa, ghibah itu laksana memakan bangkai saudaranya (yang dighibah). Maka dari itu berhati-hatilah, jangan sampai curhat menjadi ajang ghibah kepada orang lain.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-120121-yen-kawijil-tan-tinututan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar