Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (135:139): Kalakuane Wong Madat

 Pada (bait) ke-135;139, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Dene ta wong kang madati,
kesedan kaworan lumuh.
Amung ingkang dados senengipun,
ngadep diyan sarwi,
linggih ngamben jejegang,
sarwi leleyang bedudan.

Yen angantuk sarwi dhidhis,
netrane pan merem karo,
yen wus ndadi awake akuru.
Cahya biru putih,
njalebut wedi toya,
lambe biru untu pethak.

Beteke satron lan gambir,
jambe suruh arang wanuh,
ambekane sarwi melar mingkus.
Watuke anggigil,
jalagra aneng dhadha,
tan wurung metu bolira.

Yen gering nganggo ndalinding,
suprandene nora kapok,
iku padha singgahana patut.
Ja ana nglakoni,
wong mangan apyun ala,
uripe dadi tontonan.

Iku kabeh nora becik,
aja na wani anganggo,
panggawe patang prakara iku.
Den padha pakeling,
aja na wani nerak,
kang nerak tan manggih arja.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Adapaun tentang watak orang yang nyandu,
pemalas bercampur enggan.
Kesenangannya hanya,
menghadap lampu serta,
duduk di divan bersilang kaki,
bersandar sambil ngebong.

Kalau mengantuk sambil mencari kutu,
matanya akan terpejam dua-duanya,
kalau sudah menjadi-jadi badannya kurus.
Mukanya biru putih,
kumal seperti takut air,
bibir biru gigi putih.

Karena tak kenal gambir,
jambe dan sirih (tak pernah nginang),
nafasnya serba tersengal-sengal.
Batuknya bertubi-tubi,
ingusnya memenuhi dada,
tak urung keluar ususnya.

Kalau sakit disertai ngebrok,
walau demikian tidak kapok,
yang seperti itu sepatutnya singkirilah.
Jangan ada yang melakukan,
orang memakai madat buruk,
hidupnya jadi tontonan.

Itu semua tidak baik,
jangan ada yang berani melakukan,
perbuatan empat perkara itu.
Harap semua ingat,
jangan ada yang berani melanggar,
yang melanggar takkan menemui kebahagiaan.


Kajian per kata:

Dene ta (adapun tentang) wong (orang) kang (yang) madati (nyandu), kesedan (pemalas) kaworan (campur) lumuh (enggan). Adapaun tentang watak orang yang nyandu, pemalas bercampur enggan.

Kesed adalah melakukan sesuatu serba terlambat, kalau tidak diteriaki tidak akan berangkat. Lumuh adalah enggan melakukan sesuatu, tidak semangat dan loyo. Kedua watak itu serupa dan sering berada dalam satu tubuh, karena seperti yang diuraikan dalam Serat Wedataman watak ala pan ngumpul gegolonganira, watak buruk akan berkumpul dengan sesamanya.

Amung (hanya) ingkang (yang) dados (menjadi) senengipun (kesenangannya), ngadep (menhadap) diyan (lampu) sarwi (serta), linggih (duduk) ngamben (di divan) jejegang (sesilang kaki), sarwi (sambil) leleyang (bersandar) bedudan (ngebong, memakai pipa opium). Kesenangannya hanya, menghadap lampu serta, duduk di divan bersilang kaki, bersandar sambil ngebong.

Yang menjadi kesenangannya hanya: menghadap lampu, duduk di divan sambil silang kaki, bersandar sambil ngebong. Itu bisa dilakukan sendirian atau dengan teman. Namun mereka asyik dengan dunianya, bersama khayalan masing-masing. Menyendiri dalam kegelapan bersama mimpi-mimpi, lari dari dunia nyata. Menciptakan dunia sendiri dalam angan-angan.

Yen (kalau) angantuk (mengantuk) sarwi (sambil) dhidhis (mencari kutu), netrane (matanya) pan (akan) merem (terpejam) karo (dua-duanya), yen (kalau) wus (sudah) ndadi (menjadi-jadi) awake (badannya) akuru (kurus). Kalau mengantuk sambil mencari kutu, matanya akan terpejam dua-duanya, kalau sudah menjadi-jadi badannya kurus.

Jika mengantuk sambil mencari kutu di kepala. Matanya terpejan keduanya. Jika sudah parah badannya akan kurus, tanda tubuhnya telah rusak oleh candu. Kebiasaannya semakin lama semakin parah, membuat ketergantungan yang semakin dalam dengan candu.

Cahya (air muka, tampaknya) biru (biru) putih (putih), njalebut (kumal) wedi (takut) toya (air), lambe (bibir) biru (biru) untu (gigi) pethak (putih). Mukanya biru putih, kumal seperti takut air, bibir biru gigi putih.

Air muka tampak biru putih. Biru tanda kurangnya oksigen, putih tanda kurang darah. Jelas ada masalah dengan fungsi faal tubuhnya. Mukanya dan sekujur tubuhnya tampak kumal seolah orang yang takut air. Memang kalau sudah begitu mandi pun jarang karena lebih indah mengejar mimpi. Bibirnya kebiruan, giginya putih. Bibir biru tanda sudah kritis keadannya, gigi putih tanda tak lagi menjaga kesehatan. Namun kata lambe biru sering dipakai sebagai kiasan untuk orang yang suka bohong. Ada ungkapan lambe biru linyok barang kardi, bibir biru berbohong sembarang pekerjaan.

Mengenai gigi putih itu kalau di zaman dahulu bukanlah pertanda baik karena orang dahulu umumnya nginang, jadi gigi mereka agak kecoklatan. Seperti halnya rokok kretek yang pada awalnya dikira dapat menjaga kebugaran, nginang juga dipercaya dapat menjaga kesehatan mulut. Konon orang yang nginang gigi mereka sehat dan kuat, tidak gampang keropos. Jaman itu memang belum ada odol dan sikat gigi, jadi alternatifnya memang hanya itu.

Beteke (karena) satron (bermusuhan) lan (dengan) gambir (gambir), jambe (jambe) suruh (sirih) arang (jarang) wanuh (mengenal). Karena tak kenal gambir, jambe dan sirih (tak pernah nginang).

Karena yang bersangkutan tidak mengenal nginang lagi maka kesehatan organ mulutnya kurang terjaga.

Ambekane (nafasnya) sarwi (serba) melar mingkus (tersengal-sengal). nafasnya serba tersengal-sengal.

Napasnya tersengal-sengal, terengah-engah. Melar mingkus adalah gerakan dada yang seperti susah payah mengambil udara. Terlihat sekali tarikan napasnya seperti memaksakan diri. Biasanya yang mengalami ini adalah orang yang sudah tua atau orang yang sedang sakit, disebabkan karena kemampuan paru-paru mengambil oksigen sudah berkurang.

Watuke (batuknya) anggigil (bertubi-tubi), jalagra (ingus, lendir) aneng (di) dhadha (dada), tan (tak) wurung (urung) metu (keluar) bolira (usus besar). Batuknya bertubi-tubi, ingusnya memenuhi dada, tak urung keluar ususnya.

Watuk nggigil adalah batuk yang bertubi-tubi tak henti-henti, tanda paru-parunya beermasalah. Apa yang diharapkan kalau paru-paru setiap hari diasapi dengan racun, lama-lama layulah organ-organnya. Jalagra adalah ingus atau lendir, biasanya terjadi pada orang yang sakit paru-paru atau saluran napasnya.

Bol adalah usus besar yang keluar waktu berak, seperti orang kena wasir. Orang Jawa menyebutnya dobolen dari kata bol (usus besar). Kalau dipikir-pikir ini kok seperti mengumpulkan seribu penyakit dalam satu tubuh saja.

Yen (kalau) gering (sakit) nganggo (pakai, disertai) ndalinding (ngebrok, berak di tempat),  suprandene (walau demikian) nora (tidak) kapok (kapok), iku (seperti itu) padha singgahana (singkirilah) patut (patut).  Kalau sakit disertai ngebrok, walau demikian tidak kapok, yang seperti itu sepatutnya singkirilah.

Selain dobolen kalau sakit juga ngebrok atau berak di tempat karena sudah rusaklah organ dalamnya akibat candu. Walau terkena hal memalukan ini tetap saja tidak kapok. Orang kecanduan sudah tidak punya akal sehat untuk berpikir. Oleh karena itu hal yang demikian hindarilah, jangan pernah cob-coba. Kalau telanjur kena takkan sembuh oleh segala obat.

Ja (jangan) ana (ada) nglakoni (melakukan), wong (orang) mangan (memakai) apyun (madat) ala (buruk), uripe (hidupnya) dadi (jadi) tontonan (tontonan). Jangan ada yang melakukan, orang memakai madat buruk, hidupnya jadi tontonan.

Jangan sampai terjerumus ke dalam perilaku ini. Orang madat buruk hidupnya, hanya menjadi tontonan orang. Takkan ada kepercayaan lagi padanya. Manakah kebaikannya dalam perilaku orang madat di atas? Kalau masih ada yang melakukan sebenarnya otaknya ditaruh dimana?

Iku (itu) kabeh (semua) nora (tidak) becik (baik), aja (jangan) na (ada) wani (berani) anganggo (memakai, melakukan), panggawe (perbuatan) patang (empat) prakara  (perkara) iku (itu). Itu semua tidak baik, jangan ada yang berani melakukan, perbuatan empat perkara itu.

Yang sudah disebutkan di atas, empat perkara tersebut, itu semua tidak baik. Jangan sampai ada yang berani melakukan perbuatan tersebut. Terlebih yang terakhir ini sangat merusak, baik pada raga maupun jiwa.

Den (harap) padha (semua) pakeling (ingat), aja (jangan) na (ada) wani (berani) nerak (melanggar), kang (yang) nerak (melanggar) tan (takkan) manggih (menemui) arja (kebahagiaan). Harap semua ingat, jangan ada yang berani melanggar, yang melanggar takkan menemui kebahagiaan.

Perhatikan, ingatlah! Jangan berani melanggar. Yang melanggar takkan menemui kebahagiaan.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-135139-kalakuane-wong-madat/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...