Pada (bait) ke-154;155, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Yen tan mantun binendonan nggone malincur,
nuli patrapana.
Sapantese lan dosaning.
Kang santosa dimene dadi tuladha.
Kang wong liya darapon wedia iku.
Kang padha ngawula,
ing batine wedi asih,
pan mangkono lelabuhane dadi wong tuwa
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Kalau tak berhenti ketika dimarahi dari sifat malas,
segera jatuhkan tindakan.
Sepantasnya dengan kesalahannya.
Yang kuat (dalam mendidik) agar menjadi teladan.
Yang lain supaya menjadi jera karena itu.
(Jika demikian) yang mengikuti,
dalam batin merasa segan dan hormat.
Memang demikianlah pengabdian sebagai orang yang dituakan.
Kajian per kata:
Yen (kalau) tan (tidak) mantun (sembuh, berhenti) binendonan (ketika dimarahi) nggone (dari sifat) malincur (malas), nuli (segera) patrapana (berilah tindakan). Kalau tak berhenti ketika dimarahi dari sifat malas, segera jatuhkan tindakan.
Jika kepada yang nakal dan tidak disiplin tadi sudah diberi nasihat dan dimarahi namun tak juga jera maka perlu diambil tindakan. Bentuk tindakan tersebut bisa bermacam-macam sesuai dengan kesepakatan sesepuh keluarga.
Sapantese (sepantasnya) lan (dengan) dosaning (kesalahannya). Sepantasnya dengan kesalahannya.
Yang harus diingat tindakan tersebut sifatnya membina dan mendidik. Jadi sesuaikanlah dengan kesalahannya. Upayakan agar tindakan tersebut membuat seseorang terpacu untuk memperbaiki diri. Karena tindakan yang bersifat hukuman tampaknya tak mungkin dilakukan. Itu bukan ranah keluarga lagi, tapi sudah menjadi urusan negara.
Kang (yang) santosa (kuat mendidiknya) dimene (agar) dadi (menjadi) tuladha (teladan). Yang kuat (dalam mendidik) agar menjadi teladan.
Bagi keluarga yang mempunyai power kuat tindakan seperti ini amat efektif, anggota yang dianggap menyimpang akan kehilangan dukungan dan akan sulit dalam hidupnya. Hal itu akan menjadi pertimbangan.
Kang (yang) wong (orang) liya (lain) darapon (supaya) wedia (jera) iku (itu). Yang lain supaya menjadi jera karena itu.
Perlunya dilakukan tindakan adalah supaya yang lain jera, tidak meniru perbuatan serupa. Jika tidak ada tindakan dan permisif terhadap sifat buruk dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan keluarga. Anak-anak muda akan meniru dan lambat laun keluaga itu akan penuh dengan orang berkelakuan buruk.
Kang (yang) padha ngawula (mengikuti), ing (dalam) batine (batin) wedi asih (takut tapi sayang, hormat). (Jika demikian) yang mengikuti, dalam batin merasa segan dan hormat.
Namun jika disiplin ditegakkan para anggota keluarga akan segan dan hormat, tidak berani bertingkah sembarangan, berperilaku yang tak terpuji, dll. Wibawa keluarga dengan demikian tetap akan terjaga, martabat trah dihormati oleh masyarakat luas.
Pan (memang) mangkono (demikian) lelabuhane (pengabdian) dadi (sebagai) wong (orang) tuwa (yang dituakan). Memang demikianlah pengabdian sebagai orang yang dituakan.
Begitulah seharusnya para tetua mengasuh dan membimbing yunior dalam keluarga besar. Itulah pengabdian yang benar sebagai sesepuh yang dituakan dalam suatu trah.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-154155-dimen-dadi-tuladha/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar