Pada (bait) ke-95;94, Pupuh ke-6, Megatruh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Dene begja cilaka utawa luhur,
asor iku pan wus pasthi,
ana ing bebadanira.
Aja sok amuring muring,
marang Gusti Sang Akatong.
Mundhak ngakehaken ing luputireku,
ing Gusti tuwin Hyang Widdhi,
Dene ta sabeneripun,
mupusa kalamun pasthi,
ing badan tan kena megoh.
Tulisane ing lohkil makpul kang rumuhun,
pepancen sawiji-wiji.
Tan kena owah sarambut.
Tulisan badan puniki,
aja na mundur ing kewoh.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Adapun beruntung celaka atau mulia,
hina itu memang sudah pasti,
ada di dirimu sendiri.
Jangan pernah marah-marah,
kepada Gusti sang Raja.
Agar tidak memperbanyak kesalahan,
pada Raja serta Tuhan Yang Maha Benar.
Maka yang benar,
pasrahlah jika sudah pasti,
pada dirimu tak bisa berubah.
Catatan di Lauhil Mahfud yang dahulu,
pasti satu-satunya.
Tak bisa berubah serambutpun.
Catatan diri ini,
janganlah mundur dari kesulitan.
Kajian per kata:
Dene (adapun) begja (beruntung) cilaka (celaka) utawa (atau) luhur (mulia), asor (hina) iku (itu) pan (memang) wus (sudah) pasthi (pasti), ana (ada) ing (di) bebadanira (dirimu). Adapun beruntung celaka atau mulia, hina itu memang sudah pasti, ada di dirimu sendiri.
Beruntung atau celaka, mulia atau hina, itu memang sudah pasti ada suratan pada diri kita sendiri, tidak bergantung pada belas kasih orang lain. Yang dimaksud adalah sudah ada ketentuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa perihal nasib kita kelak.
Aja (jangan) sok (pernah) amuring muring (marah-marah), marang (kepada) Gusti (Gusti) Sang (sang) Akatong (Raja). Jangan pernah marah-marah, kepada Gusti sang Raja.
Oleh karena itu jangan pernah marah-marah atau mengumpat kepada Raja. Raja sekadar menjalankan perintah Tuhan, menjalankan keadilan di dunia. Jika memang nasibmu baik atau buruk Raja hanya melakukan penilaian yang tidak akan mengubah nasibmu. Maka dirimu sendirilah yang harus mengubahnya.
Mundhak (agar tidak) ngakehaken (memperbanyak) ing luputireku (kesalahan), ing (pada) Gusti (Raja) tuwin (serta) Hyang Widdhi (Yang Maha Benar). Agar tidak memperbanyak kesalahan, pada Raja serta Tuhan Yang Maha Benar.
Jangan sekali-kali menyalahkan Raja, supaya tidak menambah kesalahanmu, kepada Raja serta kepada Tuhan. Karena Raja hanyalah sekadar menjalankan amanat dari Tuhan saja.
Dene (maka) ta sabeneripun (yang benar), mupusa (pasrahlah) kalamun (jika sudah) pasthi (pasti), ing (pada) badan (diri) tan (tak) kena (bisa, boleh) megoh (berubah). Maka yang benar, pasrahlah jika sudah pasti, pada dirimu tak bisa berubah.
Maka sikap yang benar adalah mupus, pasrah setelah berusaha sebaik-baiknya. Jangan pernah mendikte hasil. Seperti yang telah diungkap di bait lalu bahwa segala pekerjaan kita hanyalah membalas kebaikan Raja kepada kita yang telah memberi anugrah sebagai pejabat. Tak pantas bagi kita untuk menuntut hadiah, apapun itu.
Akal halnya dengan Tuhan, sikap kita juga seharusnya sama. Tuhan telah memberi anugrah yang luar biasa nikmatnya yakni kehidupan dari tadinya kita ini hanyalah makhluk mati berujud air hina. Jika dicermati dari segi ini saja besarnya anugrah ini sudah sangat luar biasa. Maka kita pun juga tak layak mengharap hadiah berupa pahala. Sedangkan nilai dari setiap perbuatan baik yang kita lakukan saja sudah thekor jika dipakai untuk membayar apa-apa yang sudah kita terima. Layakkah kita masih mengharap lebih?
Yang terbaik bagi kita adalah pasrah terhadap ketentuanNya, baik beruntung atau celaka, mulia atau hina, jika sudah menjadi kehendakNya maka semua adalah baik. Semua itu soal kecil bagi yang sudah memahami.
Tulisane (catatan) ing (di) lohkil makful (Lauhil Mahfud) kang (yang) rumuhun (dahulu), pepancen (pasti) sawiji–wiji (satu-satunya). Catatan di Lauhil Mahfud yang dahulu, pasti satu-satunya.
Karena catatan nasib kita di Lauhil Mahfudz sudah sangat detail, satu per satu dirinci sehingga kehidupan kita sudah pasti adanya. Tidak bisa mengelak lagi dari ketentuan nasib karena sudah digariskan akan terjadi.
Tan (tak) kena (bisa, boleh) owah (berubah) sarambut (serambut pun). Tak bisa berubah serambutpun.
Juga takkan berubah sekecil-kecilnya, walau sebesar rambut. Apakah dengan begitu setiap usaha kita takkan berhasil mengubah ketentuan tadi. Di sinilah kuncinya masalah pelik ini. Khusus manusia yang kepadanya diberikan akal budi dan nafsu, maka selalu diberi dua jalan bersimpangan. Pilihan kita atas dua jalan itu disebut ikhtiyari, artinya memilih mana yang lebih baik. Jika hari ini kita bangun pagi dan mendapati perut kita lapar maka kepada kita akan diberikan pilihan, duduk manis menunggu orang memberi makan sambil nongkrong atau keluar mencari penghidupan, bisa dengan bekerja atau membantu sesama. Hasilnya takkan berubah, kita tetap makan hari ini, namun cara kita menjalani ketentuan tadi sangat berbeda nilainya, yang satu hina yang satu mulia. Itulah yang dimaksud kemuliaan dan kehinaan menempel dalam diri kita sendiri.
Tulisan (catatan) badan (diri) puniki (ini), aja na (janganlah) mundur (mundur) ing (dalam) kewoh (kesulitan). Catatan diri ini, janganlah mundur dalam kesulitan.
Karena nasib kita sudah dituliskan seperti uraian di atas, jangan sekali-kali mundur apabila ditimpa kesulitan. Semua akan teratasi, dan cara kita mengatasi hal itu akan menentukan kepada golongan mana kita kelak dikumpulkan.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-103-105-tulisane-ana-ing-lohkil-makpul/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar