Translate

Senin, 13 Januari 2025

Kajian Wulangreh (88-90): Ratu Wakile Hyang Agung

 Pada (bait) ke-88-90, Pupuh ke-6, Megatruh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Wong ngawula ing Ratu luwih pakewuh,
nora kena minggrang-minggring,
kudu mantep karyanipun,
setya tuhu marang Gusti,
dipun piturut sapakon.

Mapan Ratu kinarya wakil Hyang Agung,
marentahaken hukum adil,
pramila wajib den enut,
sing sapa tan manut ugi,
ing parentahe Sang Katong.

Aprasasat mbadali karseng Hyang Agung,
mulane babo wong urip,
saparsa suwiteng Ratu,
kudu eklas lair batin,
aja nganti nemu ewoh.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Orang mengabdi pada Raja lebih rikuh (malu),
tidak boleh ragu-ragu dalam berbuat.
Harus mantap dalam pekerjaannya,
setia patuh pada Raja,
dituruti semua perintahnya.

Karena Raja sebagai wakil Tuhan Yang Maha Besar,
memerintahkan hukum yang adil,
oleh karena itu wajib di patuhi.
Siapa yang tak menurut juga,
dalam perintah Sang Raja,

seolah-olah menolak kehendak Yang Maha Besar.
Oleh karena itu, Duhai orang hidup,
siapa akan mengabdi Raja,
harus ikhlas lahir dan batin,
jangan sampai merasa repot.

Kajian per kata:

Wong (orang) ngawula (mengabdi) ing (pada) Ratu (raja) luwih (lebih) pakewuh (rikuh, malu), nora (tidak) kena (boleh) minggrangminggring (ragu-ragu dalam berbuat). Orang mengabdi pada Raja lebih rikuh (malu), tidak boleh ragu-ragu dalam berbuat.

Orang mengabdi kepada raja lebih rikuh, malu-malu, serba repot. Tidak boleh ragu-ragu dalam semua perbuatannya. Mentalnya harus disiapkan dahulu karena tugasnya memang berat.

Kudu (harus) mantep (mantap) karyanipun (dalam pekerjaannya), setya (setia) tuhu (patuh) marang (pada) Gusti (raja), dipun (di) piturut (turuti) sapakon (semua perintahnya). Harus mantap dalam pekerjaannya, setia patuh pada Raja, dituruti semua perintahnya.

Harus mantap dalam pekerjaannya. Setia dan patuh kepada Raja, semua perintahnya dituruti. Juga harus mantap hatinya, tidak boleh lemah hati. Setia tanpa syarat, patuh tanpa bertanya, menurut tanpa sangsi atau curiga.

Mapan (karena) Ratu (Raja) kinarya (sebagai) wakil (wakil) Hyang Agung (Tuhan Yang Maha Besar), marentahaken (dalam memerintahkan) hukum (hukum) adil (yang adil), pramila (oleh karena itu) wajib (wajib) den (di) enut (patuhi). Karena Raja sebagai wakil Tuhan Yang Maha Besar, memerintahkan hukum yang adil, oleh karena itu wajib di patuhi.

Yang demikian itu karena Raja adalah sebagai wakil Tuhan Yang Maha Agung. Yang memerintahkan hukum dengan keadilan. Karena itu semua perintahnya wajib dipatuhi. Mematuhi Raja juga berarti mematuhi Tuhan.

Sing sapa (siapa yang) tan (tak) manut (menurut) ugi (juga), ing (dalam) parentahe (perintah) Sang Katong (Sang Raja), aprasasat (seolah-olah) mbadali (menolak) karseng (kehendak) Hyang Agung (Yang Maha Besar). Siapa yang tak menurut juga, dalam perintah Sang Raja, seolah-olah menolak kehendak Yang Maha Besar.

Sebaliknya siapa yang tidak menurut juga seolah sudah membangkang perintah Yang Maha Agung. Sebagai wakil Tuhan Raja memegang amanah yang besar untuk menjalankan pemerintahan sesuai hukum-hukum Tuhan. Rajalah eksekutor dari kehendak Tuhan di dunia ini. Ini adalah konsep yang dianut oleh hampir semua sistem kerajaan. Mulai kekaisaran Jepang yang menganggap Kaisar sebagai wakil dewa Matahari sampai kerajaan Mataram. Karena Mataram menganut hukum Islam, peran raja kemudian menjadi khalifatullah tanah Jawi, wakil Allah di tanah Jawa.

Mulane (oleh karena itu) babo (aduh, duhai) wong (orang) urip (hidup), saparsa (siapa akan) suwiteng (mengabdi) Ratu (Raja), kudu (harus) eklas (ikhlas) lair (lahir) batin (batin), aja (jangan) nganti (sampai) nemu (merasa) ewoh (repot). Oleh karena itu, Duhai orang hidup, siapa akan mengabdi Raja, harus ikhlas lahir dan batin, jangan sampai merasa repot.

Oleh karena itu, Duhai orang hidup! Siapa yang akan mengabdi kepada Raja harus ikhlas lahir dan batin. Jangan sampai merasa repot nantinya. Mantapkan dahulu hati dan tekadnya. Agar tidak ada sesal di kemudian hari, lebih-lebih agar jangan sampai muncul umpatan atau panggresula akibat kurang ikhlasnya hati.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/07/kajian-wulangreh-88-90-ratu-wakile-hyang-agung/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...