Pada (bait) ke-145;147, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Kamulane kaluwak nonomanipun,
Pan dadi satunggal,
pucung aranira ugi.
Yen wus tuwa kaluwake pisah-pisah.
Den budiya kapriye ing becikipun,
aja nganti pisah,
kumpule kaya nomeki.
Anom kumpul tuwa kumpul kang prayoga.
Aja kaya kaluwak duk anom,
kumpul bisa wus atuwa,
ting salebar siji-siji.
Nora wurung dadi bumbu pindhang lulang.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Asal mulanya buah kluwak ketika masih muda,
berkumpul menjadi satu,
dinamakan juga pucung.
Kalau sudah tua kluwaknya berpisah-pisah.
Upayakanlah bagaimana sebaiknya,
jangan sampai berpisah,
berkumpul seperti ketika zaman muda.
Ketika muda berkumpul setelah tua berkumpul itulah yang lebih baik.
Jangan seperti kluwak ketika muda,
bisa berkumpul begitu sudah tua,
saling menyebar satu-satu.
Tak urung menjadi bumbu pindang rambak.
Kajian per kata:
Kamulane (asal mulanya) kaluwak (buah kluwak) nonomanipun (ketika masih muda), pan dadi (berkumpul menjadi) satunggal (satu), pucung (pucung) aranira (dinamakan) ugi (juga). Asal mulanya buah kluwak ketika masih muda, berkumpul menjadi satu, dinamakan juga pucung.
Kluwak adalah sejenis bumbu masak yang dipakai sebagai pewarna hitam pada rawon atau sup konro. Buah kluwak berupa biji yang bercangkang keras melindungi isi di dalamnya. Dalam cangkang itu terkandung isi kluwak yang akan terpisah-pisah bila cangkangnya dibuka.
Yen (kalau) wus (sudah) tuwa (tua) kaluwake (kluwaknya) pisah–pisah (beerpisah-pisah). Kalau sudah tua kluwaknya berpisah-pisah.
Kalau sudah tua buah kluwaka akan pecah dan isinya menyebar. Inilah perumpamaan yang dalam bait ini kita disuruh untuk melihat dan mengambil pelajaran darinya.
Den (di) budiya (upayakan) kapriye (bagaiman) ing becikipun (sebaiknya), aja (jangan) nganti (sampai) pisah (berpisah), kumpule (berkumpul) kaya (seperti) nomeki (zaman muda). Upayakanlah bagaimana sebaiknya, jangan sampai berpisah, berkumpul seperti ketika zaman muda.
Upayakan jangan sampai seperti kluwak tadi dalam persaudaraan. Ketika kecil, muda bermain bersama, bercanda gembira ria, namun ketika tua menyebar berpisah masing-masing. Yang sering terjadi menjadi tidak ada saling peduli lagi. Yang demikian ini upayakan jangan sampai terjadi.
Anom (muda) kumpul (berkumpul) tuwa (tua) kumpul (berkumpul) kang (yang) prayoga (lebih baik). Ketika muda berkumpul, setelah tua berkumpul itulah yang lebih baik.
Yang lebih baik adalah tetap menyatu ketika muda sampai tua. Tentu yang dimaksud menyatu di sini bukan dalam tempat karena hal itu tak mungkin. Ketika beranjak dewasa setiap orang akan mencari penghidupan sendiri-sendiri dan tak mungkin selalu bersma. Namun yang disebut persaudaraan hendaknya tetap dijaga, toh zaman sekarang jarak bukan halangan untuk menjalin komunikasi. Saling sapa, saling kabar semestinya tetap dilakukan dengan alat komunikasi yang sekarang sudah canggih dan lengkap, agar persaudaraan jangan terputus.
Aja (jangan) kaya (seperti) kaluwak (kluwak) duk (ketika) anom (muda), kumpul (berkumpul) bisa (bisa) wus (sudah) atuwa (tua), ting salebar (saling menyebar) siji–siji (satu-satu). Jangan seperti kluwak ketika muda, bisa berkumpul begitu sudah tua, saling menyebar satu-satu.
Jangan seperti kluwak tadi, ketika muda kumpul, ketika dewasa bercerai berai. Saling terpisah tanpa tahu keadaan masing-masing.
Nora (tak) wurung (urung) dadi (menjadi) bumbu (bumbu) pindhang (pindang) lulang (rambak). Tak urung menjadi bumbu pindang rambak.
Keterpisahan ini membuat kekelurgaan menjadi lemah. Tak urung mereka lenyap sendiri-sendiri, hanya akan menjadi bumbu pindang rambak. Lulang adalah kulit hewan, biasanya sapi atau kerbau. Sering dipakai sebagai bahan makanan yang cukup digemari masyarakat di Jawa.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-145147-pindhane-kaluwak/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar