Translate

Tampilkan postingan dengan label SERAT WEDHATAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERAT WEDHATAMA. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2024

Kajian Wedatama (1): Agama Ageming Aji

Dalam budaya Jawa ada ungkapan Agama ageming Aji. Apa maknanya? Marilah kita lihat dahulu arti menurut kata per kata. Agem artinya pakai, ageman artinya pakaian. Sedangkan aji berarti bernilai atau mulia, bisa juga berarti raja. Dua arti ini masih berkaitan karena raja biasanya di-aji-aji alias dihormati.

Agama ageming aji bisa berarti agama adalah pakaian para raja, bisa juga berarti agama adalah pakaian orang mulia. Dari dua pengertian itu kita ambil yang terakhir karena lebih universal, berlaku pada semua orang. Ungkapan orang Jawa untuk memeluk agama adalah ngrasuk, contoh: ngrasuk agami Islam. Rasukan adalah sinonim dari ageman, yang artinya pakaian. Orang yang memeluk agama diibaratkan orang yang memakai pakaian.

Ungkapan agama ageming aji terdapat pada serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, Pupuh Pangkur, bait pertama. Tembang selengkapnya adalah sebagai berikut:

Mingkar mingkuring angkara,

Akarana karenan mardisiwi.

Sinawung resmining kidung,

Sinuba sinukarta.

Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,

Kang tumrap neng tanah Jawa,

agama ageming aji.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut

Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara,

karena berkehendak mendidik anak.

Dibingkai dalam keindahan lagu,

dihias dan diperbagus (syairnya).

Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur.

Yang bagi orang di tanah Jawa,

agama adalah pakaian orang mulia.


Kajian per kata:

Mingkar (menghindar) mingkuring (membelakangi) angkara (sifat angkara), akarana (karena) karenan (hendak) mardisiwi (mendidik anak). Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak.

Pendidikan yang paling efektif bagi anak adalah memberikan contoh. Di sini orang tua sebelum memberi perintah untuk melakukan hal-hal yang baik dan melarang yang buruk hendaknya melakukan sendiri terlebih dahulu. Seorang ayah yang berkehendak untuk mendidik anak, maka hendaknya menghindari perilaku buruk agar kelak si anak dapat mencontoh ayahnya.

Sinawung (dibingkai, disamarkan) resmining (dalam keindahan) kidung (lagu), sinuba (dihias) sinukarta (diperbagus). Dibingkai dalam keindahan lagu, dihias dan diperbagus (syairnya).

Dalam mendidik anak hendaknya dilakukan dengan bahasa yang baik dan cara yang bijaksana. Sinawung resmining kidung artinya nasehat tadi dibingkai dalam bentuk lagu, seperti bait-bait serat Wedatama ini. Dengan bentuk lagu yang mendengar akan berkesan dan mengingat selalu nasihat yang disampaikan. Ini juga mengandung kiasan agar dalam memberi nasihat hendaknya dilakukan dengan perkataan baik, agar yang mendengar senang dan berkesan, bukan malah marah dan tersinggung.

Sinuba sinukarta bermakna si anak harus diperlakukan dengan selayaknya dan dengan perlakuan yang baik dan mempesona. Semua itu agar si anak tidak tertekan, merasa disayang sehingga timbul kecenderungan terhadap kebaikan.

Mrih (agar) kretarta (berkembang) pakartine (perbuatan) ngelmu (ilmu) luhung (luhur). Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur.

Setelah si anak terbiasa melihat contoh dan sudah cenderung ke arah kebaikan maka ia akan mudah untuk dibiasakan melakukan perbuatan baik. Segala amalan kebaikan akan dijiwai dengan sepenuh hati. Si anak akan mengembangkan kebaikan-kebaikan pada dirinya sehingga pada akhirnya si anak akan mencapai tahap ilmu luhung. Ilmu Luhung adalah kesempurnaan ilmu menurut ajaran Jawa, yakni ilmu batin, akhlaki, bukan sekedar petuah-petuah dan juga bukan sekedar gerak tubuh, tetapi pencapaian jiwa. Ini adalah konsep sufistik dari ajaran Jawa, membiasakan diri agar kemampuan batin berkembang.

Kang (yang) tumrap (bagi) ing (orang di) tanah Jawa (tanah Jawa), agama (agama) ageming (pakaian) aji (orang mulia). Yang bagi orang Jawa, agama adalah pakaian orang mulia.

Nah inilah pamungkas dari seluruh rangkaian pendidikan yakni: kemuliaan jiwa. Seorang yang berjiwa mulia akan sangat pantas berbaju agama. Karena itu redaksi kalimat ini adalah agama ageming aji, yang artinya agama adalah pakaian orang mulia. Jika seseorang berbaju (ngrasuk) agama tetapi belum ada kesiapan mental-spritual maka yang terjadi adalah kemunafikan, berbaju agama tapi culas. Lain di bibir lain di hati. Justru yang seperti ini berbahaya karena akan merusak tatanan kehidupan dan memakai agama untuk kepentingan nafsunya sendiri.

Di sini kemuliaan disyaratkan terlebih dulu sebelum ngrasuk agama. Ini bukan berarti orang jahat tidak boleh beragama, yang dimaksud adalah membersihkan hati terlebih dulu dari kehendak jahat atau menjalani pertobatan, agar siap menjalani perintah agama. Seperti halnya kita jika akan berpakaian seyogyanya mandi dulu agar kotoran yang menempel di tubuh tidak menodai pakaian kita.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/03/agama-ageming-aji/

Kajian Wedatama (2): Sepa Asepah Samun

Dalam postingan terdahulu yang berjudul Agama Ageming Aji saya sudah sedikit memberi gambaran tentang perlunya sikap batin yang tulus dalam ngrasuk agama bagi seseorang. Karena agama adalah pakaian orang mulia, hendaknya sebelum memakainya terlebih dulu membersihkan diri melalui pertobatan. Mengapa ini perlu? Agar ilmu luhung turun menghias (kretarta) diri kita. Sebab jika tidak walau telah berusia tua, orang tidak mencapai kedewasaan, seperti disinyalir dalam bait ke-2 berikut.

Apakah kedewasaan manusia berbanding lurus dengan usianya? Bisa juga iya, bisa tidak. Karena dewasa lebih mencerminkan sikap batin, melibatkan rasa atau emosi. Orang yang tidak melatih diri, meper babahan hawa sanga akan cenderung nguja rasa alias memperturutkan kehendak sendiri tanpa maelu (peduli) perasaan orang lain. Tanpa peduli pendapat orang tentang dirinya. Akibatnya justru mempermalukan diri sendiri.

Itulah butir-butir mutiara hikmat dari Serat Wedatama karya Sri KGPAA Mangkunegara IV yang tersaji pada Bab Pangkur bait ke-2. Selengkapnya dari bait tersebut adalah sebagai berikut:

Jinejer ing Wedatama,

Mrih tan kemba kembenganing pambudi,

Mangka nadyan tuwa pikun,

Yen tan mikani rasa,

Yekti sepi asepa lir sepah samun,

Samangsane pasamuwan,

Gonyak-ganyuk nglilingsemi.


Terjemahan per kata dari bait di atas dalam Bahasa Indonesia adalalah:

Disajikan di Wedatama,

Agar jangan kurang pengertian,

Bahwa sebenarnya walau telah lanjut usia,

Jika tak mengerti tentang rasa,

Benar-benar tanpa guna bagai ampas tak berguna,

Bila dalam pertemuan,

Bertindak ceroboh memalukan.


Terjemahan di atas tidak dapat menyalin makna yang terkandung dalam bait aslinya. Karena terjemahan per kata kadang sulit untuk mencari padanan katanya dalam bahasa  yang beda. Namun yang terpenting adalah makna apa yang ingin disampaikan oleh si penulis Wedatama. Untuk itu marilah kita kupas satu per satu secara rinci.

Gatra 1,2: Jinejer ing wedatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi

Disajikan dalam Wedatama, nama kitab yang sedang kita kupas ini. Mrih (agar) tan (tidak) kemba (berkurang, putus asa) kembenganing (penuhnya) pambudi (usaha mempertajam akal budi). Jadi dalam kitab Wedatama ini disajikan petuah-petuah agar manusia tidak berkurang dalam upaya mempertajam akal budi. Kata kembeng biasanya dipakai untuk menggambarkan kandungan tanah yang jenuh air sehingga airnya meluap, contoh pada kata: sawahe wis kembeng banyu (sawahnya sudah jenuh air).

Frasa kembenganing pambudi menggambarkan orang selalu penuh dengan upaya mempertajam akal budi. Perlu ditekankan di sini yang penuh adalah upayanya. Kalimat di atas tidak merujuk pada kondisi akal budi yang telah tajam, tetapi upaya yang keras untuk menajamkan akal budi. Kelak kita akan bertemu dengan ungkapan: memasah mingising budi yang artinya selalu mempertajam akal budi.

Gatra 3,4,5: Mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah samun

Mangka (bahwa sebenarnya) nadyan (walaupun) tuwa pikun (lanjut usia), yen tan (kalau tidak) mikani (mengerti) rasa (perasaan, rasa dalam konteks kalimat juga cenderung berarti etika, sopan santun), yekti (benar-benar) sepi asepa (hatinya sepi tanpa rasa) lir (seperti) sepah (ampas) samun (samar, tak kelihatan).

Pengertian dari gatra di atas adalah walaupun seseorang telah lanjut usia, jika tidak pernah mengolah rasa, hatinya akan sepi dari kebijaksanaan, tidak tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, selayaknya ampas yang tak berguna.

Frasa sepi asepa berarti hatinya sepi tanpa rasa. Sepa sering dipakai untuk menyebut rasa makanan yang kurang bumbu, rasanya tak enak seperti tak dibumbui. Maknanya adalah hati yang tumpul tak mampu mengenali situasi, perasaan orang lain, tak mampu menangkap isyarat atau tanda-tanda zaman. Lir sepah samun, artinya seperti ampas yang samar, tak kelihatan, tak ada gunanya.

Gatra 6,7: Samangsane pasamuwan, gonyak-ganyuk nglilingsemi

Samangsane (jika pada waktu) pasamuwan (pertemuan). Gonyak-ganyuk (bertindak ceroboh, bertingkah konyol) nglilingsemi (memalukan, membuat malu kawan atau saudara).

Jadi orang yang tidak terbiasa mengolah rasa tidak akan punya kepekaan terhadap lingkungan, manakala dalam pertemuan atau bertemu dengan orang banyak, atau dalam pergaulan luas seringkali bertindak ceroboh, bertingkah konyol sehingga membuat malu sanak saudara dan kawan-kawan.

Demikian makna yang terkandung dalam bait ke-2 Serat Wedatama. Kami haturkan sebagai tambahan pengertian bagi kaum mudha agar kelak terhindar dari kondisi seperti di atas.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/04/kajian-wedatama-2-sepi-asepah-samun/

Kajian Wedatama (3): Sesadon Ingadu Manis

Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, pada bait ke-3 bab Pangkur. Bait ini menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang telah berilmu. Selengkapnya bait ke-3 adalah sebagai berikut.

Nggugu karsaning priyangga,

Nora nganggo peparah lamun angling,

Lumuh ingaran balilu,

Uger guru aleman,

Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu,

Sinamun ing samudana,

Sesadon ingadu manis.


Terjemahan secara tekstual dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Hanya menuruti kehendak diri sendiri,

Tidak memakai perhitungan ketika berkata,

Tidak mau dianggap bodoh,

Hanya mabuk pujian,

Namun orang yang tahu gelagat,

Menyamarkan dalam sikap merendah,

Menanggapi dengan ramah.


Marilah kita kaji kata per kata secara mendalam untuk mencari makna di balik bait tembang Pangkur tersebut:

Gatra 1,2: Nggugu karsaning priyangga,Nora nganggo peparah lamun angling

Nggugu (menuruti) karsaning (kehendak) priyangga (diri sendiri), Nora (tidak) nganggo (memakai) peparah (perhitungan, perasaan) lamun (ketika) angling (berkata).

Orang yang tanpa ilmu rasa tadi suka memperturutkan kehendak sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berbicara. Bahwa berbicara dengan orang banyak harus memperhitungkan perasaan dan akibat-akibat yang ditimbulkan bagi orang lain. Karena bisa saja perkataan kita menyinggung perasaan orang lain. Orang yang tidak berilmu tidak peduli akan hal itu, pokoknya dia merasa sudah pantas berdasarkan pendapatnya sendiri.

Gatra 3,4: Lumuh ingaran balilu, Uger guru aleman

Lumuh (tidak mau) ingaran (dikatakan) balilu (bodoh), Uger (hanya) guru aleman (mencari pujian). Gatra ini juga masih membicarakan watak orang tak berilmu rasa tadi. Biasanya dia tidak mau dikatakan bodoh, sehingga cenderung banyak bicara supaya kelihatan pintar. Gemar akan pujian sehingga kadang-kadang bicaranya terlalu ngawur, dan jauh dari kenyataan, alias membesar-besarkan sesuatu.

Gatra 5 : Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu

Nanging (tetapi) jamna (manusia) ingkang (yang) wus (sudah) waspadeng (dari kata waspada ing, artinya waspada akan) semu (gelagat). Pada gatra ini tinjauan beralih pada orang-orang di sekitar si bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi. Orang-orang yang sudah menguasai ilmu rasa tadi melihat gelagat kebodohan dari orang yang banyak omong tadi. Maka dia bersikap selayaknya orang pandai seperti pada gatra berikut ini.

Gatra 6.7: Sinamun ing samudana, Sesadon ingadu manis

Sinamun (disamarkan) ing samudana (dengan sikap berpura-pura, maksudnya merendah, atau mengiyakan saja) sesadon (ditanggapi) ingadu (dengan tatap muka)  manis (raut muka manis, ramah).

Bagi seorang yang telah menguasai ilmu rasa jika bertemu dengan orang bodoh yang banyak bicara, dia tak mau membantah dan larut dalam perdebatan, tetapi justru ngemong, mengiyakan saja dan tetap menanggapi dengan raut muka yang ramah.


Keterangan tambahan:

Apa yang diuraikan dalam tembang di atas masih sering kita temui di jalam modern ini. Acapkali kita menemukan orang yang sebenarnya tidak tahu tentang masalah kehidupan tetapi banyak omong hanya agar dikira pintar. Mereka rela membual dan menyelisihi banyak orang demi agar mendapat pujian semata-mata, agar dikira hebat, supaya dianggap mumpuni dan lebih suci dari yang lain.

Terhadap orang yang berperilaku seperti di atas, seseorang yang telah matang dalam berfikir dan menguasai ilmu rasa tidak akan larut menanggapi, sengaja menbiarkan saja dengan tetap bergaul seperti biasa, tanpa kehilangan sikap ramah. Itulah orang-orang yang telah paripurna dalam menjiwai rasa sejati, sejatining rasa.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/04/kajian-wedatama-3-sesadon-ingadu-manis/

Kajian Wedatama (4): Si Wasis Waskitha Ngalah

Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-4, bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang sempurna ilmunya. Selengkapnya bait ke-3 adalah sebagai berikut:

Si pengung nora nglegewa,

Sansayarda denira cacariwis,

Angandhar-andhar angendhukur,

Kandhane nora kaprah,

Saya elok alangka longkanganipun,

Si wasis waskhita ngalah,

Ngalingi marang si pingging.


Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia:

Si Dungu tidak menyadari,

Bualannya semakin menjadi-jadi,

Melantur tidak karuan,

Bicaranya yang hebat-hebat,

Makin aneh dan tak masuk akal,

Si pandai maklum dan mengalah,

Menutupi ulah si bodoh.


Marilah kita lihat makna di balik bait ini dengan cara mengkaji kata per kata secara mendalam tembang Pangkur ini:

Gatra 1,2: Si pengung nora nglegewa, Sansayarda denira cacariwis

Si pengung (si bodoh) nora (tidak) nglegewa (menyadari), Sansayarda (bertambah-tambah) denira (dia lakukan) cacariwis (kata majemuk ceriwis-ceriwis, banyak omong)

Bait ini merupakan sambungan dari bait ke-3, ketika si pintar bersikap ngemong dan menanggapi dengan ramah semua bualannya si bodoh justru semakin menjadi-jadi. Ini berarti si bodoh tak peka terhadap sikap orang lain kepadanya. Dikiranya sikap yang ramah tersebut sebagai pembenaran atas ulahnya, maka dia semakin menjadi-jadi.

Gatra 3,4: Angandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah, Saya elok alangka longkangipun.

Angandhar-andhar (panjang lebar kemana-kemana) angendhukur (angan yang tinggi-tinggi, serba wah), Kandhane (bicaranya) nora (tidak) kaprah (logis, masuk akal). Saya elok (makin bicara hal yang mengagumkan) alangka (tidak ada) longkangipun (selanya).

Si bodoh semakin lama semakin panjang bicaranya, angan-angannya yang tinggi semakin tumpah, mengatakan yang serba wah. Bicaranya tidak masuk akal, yang sebenarnya lawan bicaranya pun mengetahui, namun dia tetap nekad bicara melantur. Semakin bicara tentang hal yang mengagumkan dan makin intens, tidak ada jeda, bicara terus. Dalam bahasa jawa disebut ngethuprus.

Gatra 5,7 Si wasis waskhita ngalah, Nalingi marang si pingging.

Si wasis (si pintar, maksudnya lawan bicara si bodoh tadi) waskhita (mumpuni, lebih pintar lagi) ngalah (mengalah), Ngalingi (menutupi) marang (terhadap) si pingging (si pengung, si bodoh).

Gatra ini menggambarkan sikap orang pintar yang berhadapan dengan orang bodoh yang cerewet tadi. Si pintar tidak lantas mendebat karena juga tak ada gunanya. Tidak hanya ngemong dengan sikap ramah tetapi juga sebisa-bisanya menutupi aib lawan bicaranya. Jika mungkin membelokkan bicara agar si bodoh tidak semakin menjadi-jadi bualannya sehingga mempermalukan dirinya sendiri. Si pintar tidak ikut terpancing pameran ilmu, sebuah tindakan yang justru mendegradasi kepintarannya.

Inilah watak yang utama dari orang-orang yang sudah pintar dalam ilmu rasa, jika mendapati seseorang bicara melantur harus menutupi dengan berbagai upaya, tidak malah menyebarkan kebodohan orang lain atau justru menviralkan di medsos.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/05/kajian-wedatama-4-si-wasis-waskitha-ngalah/

Kajian Wedatama (5): Ngelmu Kang Nyata

Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali imi sampai pada bait ke-5, yang masih termasuk dalam Bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan sifat-sifat orang yang telah menguasai ilmu rasa, perilakunya sehari-hari dan perbedaannya dengan orang bodoh. Selengkapnya bait ke-5 adalah sebagai berikut:

Mangkono ngelmu kang nyata,

Sanyatane mung weh reseping ati,

Bungah ingaranan cubluk,

Sukeng tyas yen denina,

Nora kaya si punggung anggung gumrunggung,

Ugungan sadina-dina,

Aja mangkono wong urip.


Terjemahan tekstual ke dalam Bahasa Indeonesia:

Demikianlah ilmu yang sejati,

Sebenarnya hanya menyenangkan hati,

Suka bila dianggap bodoh,

Senang hati bila dihina,

Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyang suara,

Ingin dipuja setiap hari,

Jangan demikianlah hidup dalam pergaulan.


Kajian kata perkata secara mendalam, agar diperoleh makna apa yang dimaksud dalam bait ke-5 Serat Wedatama ini.

Gatra 1,2: Mangkono ngelmu kang nyata,Sanyatane mung weh reseping ati

Mangkono (demikianlah) ngelmu (ilmu) kang nyata (sejati), sanyatane (sejatinya) mung (hanya) weh (memberi) reseping (menyenangkan) ati (hati).

Demikianlah ilmu sejati seperti yang diuraikan pada bait-bait ke-1 sampai ke 4 terdahulu. Ilmu sejati ini hanya memberi rasa menyenangkan hati, hati menjadi tenang, tanpa bergolak, tanpa berbolak-balik, pertanda hati sudah mantap dalam keyakinan. Tidak mudah larut dalam arus (ombyaking swasana). Ini adalah gambaran dari kesempurnaan hati seperti yang sering kita minta dalam do’a setiap hari, tsabit qalbii ‘alaa diinika!

Gatra 3,4: Bungah ingaranan cubluk, Sukeng tyas yen denina

Bungah (suka) ingaranan (bila dianggap) cubluk (bodoh), sukeng (senang) tyas (hati) yen (jika) denina (dihina).

Hati yang telah mantap tadi tidak akan jika ada pendapat orang lain. Dia takkan menjadi sedih bila dianggap bodoh. Kalimat “suka bila dianggap bodoh, senang hati jika dihina” tidak berarti bahwa dia sengaja mencari penghinaan, tetapi sesuai konteks kalimat di atas lebih bermakna anggapan bodoh dan penghinaan tidak akan membuat hati menjadi sedih. Justru dia akan gembira karena kesempatan memperbaiki diri lebih mudah, lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Sifat-sifat tersebut di atas hanya mungkin menjadi milik orang-orang yang telah mikani rasa, mengetahu rahasia hati, orang yang telah melatih ilmu dengan praktik amalan untuk memantapkan hati pada satu keyakinan. Sehingga tidak mudah goyah oleh pendapat atau bujuk rayu orang lain.

Gatra 5,6: Nora kaya si punggung anggung gumrunggung, Ugungan sadina-dina

Nora (tidak) kaya (seperti) si punggung (si bodoh) anggung gumrunggung (hanya banyak bersuara saja), ugungan (mencari pujian) sadina-dina (sehari-hari). Aja (jangan) mangkono (begitu) wong (orang) urip (hidup).

Pada gatra ini kembali digambarkan watak orang bodoh yang suka banyak berbicara. Gumrunggung secara harfiah berarti banyak bersuara tak jelas, seperti suara tawon besar berdengung tak karuan, maknanya si bodoh walau banyak bicara namun tidak ada pengertian (ilmu) yang di sampaikan karena memang orang bodoh tidak mempunyai ilmu yang cukup, hanya bicara ngalor-ngidul berulang-ulang saja.

Watak ini sangat tercela dalam pergaulan. Oleh karena dalam tembang ini dilarang dalam gatra terakhir, aja mangkono wong urip (jangan begitu orang hidup bergaul).

 

Catatan tambahan:

Keseluruhan bait ke-5 ini mengandung anjuran untuk bersikap moderat dalam pergaulan. Tidak menonjolkan diri dan tidak gampang tersinggung oleh cacian, hinaan orang lain. Juga tidak gampang terseret dalam gaya bicara orang lain. Menahan diri dan tetap istiwomah dalam keyakinan yang mantap. Inilah ilmu rasa sejati yang lebih menenteramkan hati.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/05/kajian-wedatama-5-ngelmu-kang-nyata/

Kajian Wedatama (6): Nalare pating saluwir

Kita lanjutkan lagi kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-6, masih termasuk dalam Bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan keadaan orang bodoh, perumpamaan hidupnya yang mirip dengan deru angin, istilah yang dipakai adalah gumrunggung, berdengung tak beraturan. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut:

Uripe sepisan rusak,

Nora mulur nalare ting saluwir,

Kadi ta guwa kang sirung,

Sinerang ing maruta,

Gumrenggeng anggereng anggung gumrunggung,

Pindha padhane si mudha,

Prandene paksa kumaki.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Hidup hanya sekali berantakan,

Tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik,

Ibarat goa gelap menyeramkan,

Terserang angin,

Suaranya bising berdengung-dengung,

Seperti keadaan anak mudha (yang picik tanpa pengetahuan),

Namun demikian sombongnya minta ampun.


Bait ini menggambarkan keadaan hati seorang yang kurang pengetahuan tapi banyak bicara, goyah dan tidak mantap akidahnya. Ibaratnya seperti goa gelap yang dalam, tertiup angin menimbulkan suara gaduh berdengung, tak jelas apa bunyinya. Seperti perilaku anak mudha yang masih labil, tetapi sombongnya minta ampun.

Untuk lebih mendalami maknanya mari kita kupas secara per kata agar didapat satu pengertian yang lebih jelas dan terang benderang.

Gatra 1,2: Uripe sepisan rusak, Nora mulur nalare ting saluwir

Uripe (hidupnya) sepisan (satu kali) rusak (berantakan), Nora (tidak) mulur (berkembang) nalare (akalnya) ting saluwir (tercabik-cabik, tercerai-berai).

Hidup orang bodoh yang tak menguasai ilmu rasa akan rusak berantakan. Akal budi tidak berkembang, tidak punya akidah yang membuatnya bisa berpikir benar. Akalnya bagai tercabik-cabik, tercerai berai. Frasa ting saluwir adalah keadaan seperti daun pisang yang sudah tuwa yang tertiup angin sehingga tercabik-cabik, tercerai berai jika angin datang. Begitulah jalan pemikiran orang-orang bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi.

Gatra 3, 4: Kadi ta guwa kang sirung, Sinerang ing maruta, Gumrenggeng anggereng, anggung gumrunggung

Kadi  ta (seperti) guwa (goa) kang (yang) sirung (dalam, ceruk), Sinerang (terkena hembusan) ing (oleh) maruta (angin), Gumrenggeng anggereng (berderu-deru, seperti suara harimau), anggung gumrunggung (berdengung-dengung, seperti suara lebah).

Keadaan hati orang bodoh adalah laksana goa yang dalam ceruknya. Apabila tertiup angin menimbulkan suara berderu yang keras laksana suara harimau dan berdengung seperti suara lebah. Suara-suara yang tak beraturan dan berirama, membuat tak nyaman yang mendengar. Ini kiasan bahwa orang bodoh hanya menghasilkan pendapat yang tak berguna dan tak nyaman didengar.

Gatra 6,7: Pindha padhane si mudha, Prandene paksa kumaki

Pindha (seperti) padhane (sama keadaannya) si mudha (dengan anak mudha), prandene (namun demikian) paksa (memaksa) kumaki (sombong).

Keadaan orang bodoh juga mirip keadaan anak mudha yang belum dewasa. Ini jelas mengacu kepada senajan tuwa pikun pada bait ke-2, yakni orang yang sudah tua seharusnya memahami ilmu rasa, tidak berkelakuan seperti anak muda, yang memaksakan diri bertingkah sombong.


Catatan tambahan:

Bait ini menggambarkan isi hari orang bodoh. Nalarnya tidak berkembang, tercerai berai karena tak punya akidah yang mantap. Isi hatinya penuh dengan gejolak, berbolak-balik, penuh berbagai bisikan-bisikan liar, berdengung-dengung tak karuan. Ini jelas bukan pencapaian yang diharapkan bagi orang yang sudah lanjut usia. Bahkan, perilakunya juga masih seperti anak muda yang labil, bersikap sangat sombong.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/05/kajian-wedatama-6-nalare-pating-saluwir/

Kajian Wedatama (7): Ngendelaken Yayah Wibi

Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-6, masih termasuk dalam Bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan keadaan orang bodoh yang perilakunya masih seperti anak muda. Belum mampu hidup mandiri selayaknya seorang yang sudah harus memikul tanggung jawab. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut:

Kikisane mung sapala,

Palayune ngendelaken yayah wibi,

Bangkit tur bangsane luhur,

Lha iya ingkang rama,

Balik sira sasrawungan bae durung,

Mring atining tatakrama,

Nggon anggon agama suci.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Tekadnya remeh sekali,

Bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya,

Yang terpandang dan bangsawan,

Itu kan ayahnya,

Sedangkan kamu belum lagi mengenal,

Dengan intisari sopan santun,

Yang merupakan ajaran agama suci.


Untuk lebih mendalami maknanya mari kita kupas secara per kata agar didapat satu pengertian yang lebih jelas dan terang benderang.

Gatra 1,2,3 : Kikisane mung sapala, Palayune ngendelaken yayah wibi, Bangkit tur bangsane luhur

Kikisane (batas tekadnya) mung (hanya) sapala (sedikit, lemah sekali, remeh). Palayune (larinya) ngendelaken (mengandalkan) yayah (ayah) wibi (ibu). Bangkit (berdiri, kiasan untuk orang terpandang) tur (dan) bangsane luhur (berkedudukan tinggi).

Inilah gambaran orang yang tidak dewasa, seperti anak kecil. Tekadnya sangat terbatas, jika ada masalah langsung lari mengandalkan orang tuanya, yang mempunyai jabatan dan pangkat yang tinggi. Perilaku seperti ini masih sering kita jumpai di masa kini, dan juga sudah ada di jaman dulu. Seorang anak muda (atau pun sudah tua) yang masih mengandalkan orang tuanya walaupun seharusnya dia sudah hidup mandiri karena sudah dewasa.

Gatra 4,5: Lha iya ingkang rama,Balik sira sasrawungan bae durung

Lha iya (itukan) ingkang rama (ayahnya), Balik (sedangkan) sira (kamu) sasrawungan (mengenal) bae (saja) durung (belum).

Gatra ini mempertanyakan, itukan ayahmu, lha kamu? Sedangkan kamu mengenal saja belum. Kenal apa? Jawabannya di gatra selanjutnya.

Gatra 6,7: Mring atining tatakrama, Nggon anggon agama suci

Mring (terhadap) atining (intisari) tatakrama (sopan santun), Nggon (tempat) anggon (pakaian) agama suci. Anggon di sini berarti makna kiasan untuk sifat yang melekat pada seseorang.

(Sedangkan kamu saja belum mengenal) Terhadap intisari sopan santun, pakaian yang seharusnya dipakai oleh orang yang beragama.


Kesimpulan:

Gatra ini cukup jelas menerangkan sifat orang yang terlambat dewasa. Tekadnya lemah sekali. Jika ada masalah lari ke orang tuanya. Mengandalkan kedudukan, pangkat dan jabatan orang tua. Lha itu kan ayahnya? Sedangkan dia sendiri seharusnya juga mengeri sopan santun, adab yang berlaku dalam masyarakat. Itulah pakaian (sifat-sifat) yang seharusnya dipakai oleh orang beragama.



https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/06/kajian-wedatama-7-ngendelaken-yayah-wibi/

Kajian Wedatama (8): Katungkul Reh Kaprawiran

Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-8, masih termasuk dalam Bab Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang terlena mengejar kehebatan dalam hal keperwiraan. Jika dilihat konteks ketika kitab ini ditulis sangat mungkin yang dimaksud adalah orang yang terlena mengejar kedudukan, karena pada jaman itu keperwiraan erat kaitannya dengan kekuasaan atau pengikut yang banyak.

Selengkapnya bait ke-8 adalah sebagai berikut:

Socaning jiwangganira,

Jer katara lamun pocapan pasthi,

Lumuh asor kudu unggul,

Semengah sesongaran,

Yen mangkono kena ingaranan katungkul,

Karem ing reh kaprawiran,

Nora enak iku kaki.


Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia:

Sifat-sifat pribadimu,

Pasti akan tampak ketika bertutur kata,

Tak mau kalah harus menang,

Sombong dan membanggakan diri,

Yang demikian itu bisa disebut terlena,

Tergila-gila pada kehebatan (diri),

Tidak baik itu nak!


Untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya dari bait ini, marilah kita kupas setiap kata satu persatu secara rinci.

Gatra 1,2: Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi

Socaning (mata, intisari) jiwangganira (pribadi, sifat-sfat pribadimu), Jer katara (akan kelihatan) lamun (ketika) pocapan (berucap) pasthi (pasti).

Gatra ini menyatakan bahwa kepribadian seseorang pasti akan tampak dari cara ia bertutur kata. Orang yang bertutur kata dengan santun dan sabar pastilah pribadinya telah terlatih dalam olah ilmu rasa. Sedangkan tutur kata yang kasar, memaki, nyinyir dan tak pernah menghargai sesama pastilah muncul dari pribadi yang penuh kedengkian.

Gatra 3,4:  Lumuh asor kudu unggul, semengah sesongaran

Lumuh (tak mau) asor (kalah) kudu (harus) unggul (menang), Semengah (sombong) sesongaran (membanggakan diri di depan orang banyak).

Di sini digambarkan sifat orang yang tak mau kalah, selalu harus menang. Senantiasa menyombongkan diri di depan orang banyak. Orang ini menganggap bahwa mengalahkan orang lain itu penting, sehingga harus selalu menang. Orang berwatak seperti ini masih suka memamerkan kelebihan diri agar tampak eksis dalam pergaulan luas.

Gatra 5,6,7: Yen mangkono kena ingaranan katungkul, Karem ing reh kaprawiran, nora enak iku kaki.

Yen (kalau) mangkono (demikian itu) kena (bisa) ingaranan (disebut) katungkul (terlena), Karem (sangat suka, tergila-gila) ing (pada) reh (segala hal) kaprawiran (tentang keperwiraan), Nora (tidak) enak (nyaman, tak baik) iku (itu) kaki (nak).

Gatra terakhir ini menggambarkan orang yang terlena dengan keperwiraan, kemenangan dan kehebatan diri. Padahal seharusnya dia sudah harus mulai ngudi kasampurnaning urip, mencari kesempurnaan hidup. Kata katungkul menandakan bahwa hal-hal yang dilakukan itu sudah melebihi porsi yang seharusnya. Yang demikian itu tidak baik nak!


Kesimpulan:

Bait ini memberi petuah bahwa kepribadian kita akan terpancar dalam tutur kata kita sehari-hari. Seharusnya semakin usia bertambah tutur kata semakin santun dan sabar. Perilaku juga harus mulai tampak lebih bijaksana. Jika masih suka bertengkar dan tak mau kalah, masih mengunggul-unggulkan kehebatan diri, berlaku sombong dan berbangga diri, pertanda bahwa yang bersangkutan terlena dalam mencari keperwiraan. Yang demikian itu adalah sifat yang tidak terpuji, tanda bahwa pribadinya belum dewasa.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/06/kajian-wedatama-8-katungkul-reh-kaprawiran/

Kajian Wedatama (9): Kekerane Ngelmu Karang

Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-9, masih termasuk dalam Bab Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang mengaku menguasai ilmu gaib, padahal sebenarnya hanya hasil karangannya sendiri saja.  Praktik seperti ini banyak kita jumpai pada dunia perdukunan. Banyak orang mengaku mendapat bisikan gaib sehingga dapat menolong orang, padahal ilmu yang berdasarkan hal-hal tersebut bukanlah intisari dari ilmu yang sejati. Ibarat pengetahuan hanya pada kulit terluar saja, belum masuk ke hakekat.

Selengkapnya bait ke-9 adalah sebagai berikut:

Kekerane ngelmu karang,

Kekarangan saking bangsaning gaib,

Iku boreh paminipun,

Tan rumasuk ing jasad,

Amung aneng sanjabaning daging kulup,

Yen kapengkok pancabaya,

Upayane  mbalenjani.


Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia:

Di dalam ilmu rekaan,

Rekaan dari hal-hal gaib,

Itu ibarat bedak,

Tidak meresap ke dalam jiwa,

Hanya ada di luar daging saja nak,

Apabila terbentur mara bahaya,

Tak dapat diandalkan (Yang disanggupi diingkari).


Marilah kita tinjau secara kata per kata agar mendapati petuah-petuan yang dimaksud.

Gatra 1,2: Kekerane ngelmu karang,Kekarangan saking bangsaning gaib

Kekerane (dalam penguasaan) ngelmu (ilmu) karang (rekaan), Kekarangan (rekaan) saking (dari) bangsaning (sejenis hal) gaib (ghaib).

Maksud gatra ini adalah ilmu perdukunan yang berlandaskan bisikan ghaib (wisik). Orang tersebut sebenarnya hanya mereka-reka apa berdasarkan wangsit (isyarat ghaib) yang merasa dia terima. Padahal belum tentu itu benar-benar ilham dari Yang Maha Kuasa, alih-alih hanya merupakan angan-angannya sendiri saja. Ilmu yang demikian itu sangat berbahaya bila kita percayai.

Gatra 3,4: Iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad. Amung aneng sanjabaning daging, kulup!

Iku (itu) boreh (bedak) paminipun (seumpama), tan (tidak) rumasuk (meresap) ing (di dalam) jasad (tubuh). Amung (hanya) aneng (berada di) sanjabaning (luar) daging(daging),kulup (nak).

Ilmu rekaan tadi hanyalah tampak seperti ilmu di permukaan, laksana orang memakai bedak. Tidak meresap dalam hati, seumpama bedak yang hanya di permukaan kulit, tidak masuk ke dalam tubuh. Hanya berada di luar daging saja. Jadi hanya tampak seperti ilmu saja, alias ilmu palsu. Maka waspadalah wahai anak muda!

Gatra 6,7: Yen kapengkok pancabaya, upayane  mbalenjani

Yen (kalau) kapengkok (bertemu) pancabaya (marabahaya), upayane  (usahanya) mbalenjani mengingkari).

Maksud dari gatra ini adalah jika betul-betul bertemu dengan marabahaya ilmu yang digembar-gemborkan tadi tak dapat diandalkan. Semua upaya yang disyaratkan akan sia-sia, tanpa hasil.


Kesimpulan:

Sejak jaman dahulu orang mengaku-aku pinter itu sudah menjadi jamak lumrah (kebiasaan). Pada jaman sekarang pun juga masih banyak ditemukan, terutama pada dunia perdukunan. Banyak orang percaya karena mereka mengaku sebagai orang pintar yang mendapat bisikan langit. Wangsit atau isyarat dari langit adalah klaim mereka ketika meramalkan langkah apa yang disarankan kepada klien. Selain itu ada wisik atau bisikan halus yang greed-nya lebih jelas.

Saya tidak maido (membantah) bahwa ada beberapa orang memang mempunyai kemampuan seperti itu. Namun ada banyak orang yang hanya mengaku-aku saja. Celakanya golongan terakhir ini lebih agresif mencari mangsa. Orang-orang yang sedang galau seringkali menjadi korban.

Bait tembang Pangkur di atas memberi petuah agar kita waspada, bahwa pemilik ilmu sejati tidak akan berperilaku demikian. Orang yang bener-bener pintar akan membenamkan ilmunya sehingga tak seorang pun tahu. Sedangkan yang banyak bicara biasanya adalah orang yang hanya mengaku-aku.



https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/06/kajian-wedatama-9-orang-pintar-palsu/

Kajian Wedatama (10): Puruhita Kang Patut

Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-10, masih termasuk dalam Bab Pangkur. Bait ini menerangkan pentingnya menjaga hati agar selalu penuh kebaikan. Antara lain dengan cara berguru sesuai kemampuan diri. Menepati aturan yang berlaku dalam masyarakat. Dan senantiasa mengikuti rukun-rukun beribadah kepada Sang Pencipta.

Selengkapnya bait ke-10 adalah sebagai berikut:

Marma ing sabisa-bisa,

Bebasane muriha ing tyas basuki,

Puruhita kang patut,

Lan traping angganira,

Ana uga angger ugering kaprabun,

Abon-aboning panembah,

Kang kambah ing siyang ratri.


Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia:

Oleh karena itu sebisa-bisanya,

Berusahalah menjaga hati,

Berguru secara pantas,

Dan sepadan dengan kemampuan diri,

Ada juga aturan dan pedoman bernegara,

Perlengkapan beribadah,

Yang diamalkan siang dan malam.


Marilah kita kupas secara rinci per kata agar diperoleh makna dari bait ini.

Gatra 1,2: Marma ing sabisa-bisa, bebasane muriha ing tyas basuki

Marma (oleh karena) ing sabisa-bisa (sebisa-bisanya, maksudnya usahakan secara maksimal), Bebasane (seumpama) muriha (agar supaya) ing (dalam) tyas (hati) basuki (selamat).

Maksud dari gatra ini adalah sebisa-bisanya, artinya dengan usaha maksimal untuk menjaga hati agar selalu penuh keselamatan. Yang dimaksud agar hati tak dijangkiti penyakit hati berupa sombong, dengki, meremehkan orang, ugungan (gila pujian), malas (hanya mengandalkan orang tua), seperti yang digambarkan pada bait-bait sebelumnya.

Gatra 3,4:  Puruhita kang patut, lan traping angganira

Puruhita (berguru) kang (yang) patut (pantas), Lan (dan) traping (sesuai) angganira (keadaanmu).

Agar hati kita terjaga dari penyakit maka kita harus berguru menuntut ilmu rasa. Maka penting di sini untuk mencari guru yang pantas digurui agar kita dapat belajar darinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Gatra 5,6: Ana uga angger ugering kaprabun, abon-aboning panembah, kang kambah ing siyang ratri.

Ana (ada) uga (juga) angger (aturan) ugering (pedoman) kaprabun (kerajaan) , abon–aboning (perlengkapan) panembah (beribadah), kang (yang) kambah (disentuh, saya lebih suka mengartikan diamalkan) ing (di) siyang (siang) ratri (malam).

Selain harus belajar juga harus mengikuti aturan dan pedoman bernegara, bermasyarakat, hal ini berkaitan dengan sikap kita yang harus bergaul dengan baik dengan orang lain, hablumminannaas. Yang tak kalah penting adalah mengamalkan tatacara atau rukun (perlengkapan) beribadah kepada Sang Pencipta, yang harus dilakukan siang malam, hablumminallah.

Tanpa kedua hal di atas niscaya sulit dicapai keadaan hati yang bebas dari penyakit. Keadaan harmonis horinzontal dengan sesama manusia dan lingkungan, dan harmonis secara vertikal dengan Sang Pencipta adalah prasarat tercapainya hati yang selamat, tyas basuki, tadi.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/07/kajian-wedatama-10-puruhita-kang-patut/

Kajian Wedatama (11): Berguru Kepada Yang Tulus

Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-11, masih termasuk dalam Bab Pangkur.  Jika bait terdahulu memberi arahan agar kita berguru secara pantas sesuai kemampuan, bait ini berisi anjuran untuk berguru pada orang-orang yang mampu mengendalikan diri, berhati tulus dan kuat menahan hawa nafsu. Guru yang demikian adalah pemilik ilmu sejati. Ada kalanya bisa ditemui di mana saja, tidak harus berusia tua, bahkan bisa dari kalangan anak muda dan orang biasa.

Selengkapnya bait ke-11 adalah sebagai berikut:

Iku kaki takokena,

Marang para sarjana kang martapi,

Mring tapaking tepas tulus,

Kawawa nahen hawa,

Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu,

Tan mesthi neng jamna wredha,

Tuwin mudha sudra kaki.


Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia.

Begitulah nak, bertanyalah,

Kepada para sarjana yang bertapa,

Yang mampu menerapkan tulus,

Kuat  menahan hawa nafsu,

Ketahuhilah bahwa ilmu sejati,

Tak selalu berada pada orang lanjut usia,

Bisa pada orang mudha atau orang biasa nak!


Ini adalah wejangan untuk anak muda yang hendak berguru. Marilah kita kupas secara rinci dengan melihat kata per kata.

Gatra 1,2: Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi.

Iku (begitulah) kaki (nak) takokena (bertanyalah), marang (kepada) para (para) sarjana (sarjana, orang pintar) kang (yang) martapi (bertapa).

Berguru hendaknya tidak kepada sembarang orang tetapi kepada yang benar-benar pantas digurui. Gatra ini menunjukkan ciri orang tersebut, yakni para orang panda yang gemar bertapa. Kalau dalam konteks jaman dahulu berarti mengasingkan diri dari keramaian, dalam konteks jaman modern bertapa adalah menjauhkan diri dari kepentingan diri sendiri, semisal keinginan untuk berkuasa, untuk mengeruk keuntungan, dll.

Gatra 3,4: Mring tapaking tepas tulus, kawawa nahen hawa.

Mring (kepada) tapaking (jejaknya, berkesan mampu) tepa (menerapkan) tulus (hati tulus), Kawawa (Kuat) nahen (menahan) hawa (hawa nafsu).

Yang telah mampu menerapkan dalam dirinya sifat tulus, kuat menahan godaan hawa nafsu. Orang yang telah berlatih menahan diri akan berkesan sifat-sifatnya itu dalam perilaku sehari-hari, nah lihatlah itu. Orang tersebut telah mampu menahan godaan syahwat nafsu duniawi. jika dia berkuasa pasti mampu menahan godaan untuk berlaku zhalim, jika sedang berada dalam posisi sebagai guru pasti akan mampu menghindari nafsu mengeruk keuntungan. Nah, kepada orang seperti inilah hendaknya kita berguru.

Gatra 5,67: Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, tan mesthi neng jamna wredha, tuwin mudha sudra kaki.

Wruhanira (ketahuilah) mungguh (bahwa) sanyataning (sejatinya) ngelmu (ilmu), tan (tak) mesthi (selalu) neng (ada) jamna (orang) wredha (tua), tuwin (dan adakalanya) mudha (pada orang muda) sudra (orang remeh, orang biasa) kaki (nak).

Ketahuilah, bahwa orang-orang pintar dengan kemampuan seperti di atas tidak selalu harus berusia tua, adakalanya masih muda, dari kalangan orang yang kelihatan remeh. Ketahuilah Nak!

Jadi di sini ditegaskan bahwa ilmu yang sejati adalah milik mereka yang mampu menjalani apa yang menjadi pantangan dari berbagai godaan duniawi. Usia tua bukan jaminan seseorang lebih menguasai lmu sejati, yakni ilmu rasa yang sudah sering disinggung pada bait-bait awal. Berkedudukan tinggi, terhormat dalam masyarakat juga bukan jaminan seseorang lebih berilmu. Malah adakalanya ilmu sejati justru dikuasai mereka yang dalam keseharian kita anggap remeh. Maka bagi yang hendak berguru harus teliti dan cermat mengenali orang-orang tersebut.



https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/07/kajian-wedatama-11-berguru-kepada-yang-tulus/

Kajian Wedatama (12): Bangkit Mangukut Jiwangga

Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, sampai pada bait ke-12, masih termasuk dalam Bab Pangkur.  Bait ini berisi wejangan bagaimana seharusnya bertindak jika menerima wahyu Ilahi. Menerima wahyu di sini bisa diartikan mendapat pencerahan, ilham atau belajar memperdalam Al Quran sehingga benar-benar paham akan kandungannya. Ini bait yang agak berat dan saya berharap mendapat hidayah dalam menguraikannya. Semoga tidak salah tafsir.

Selengkapnya bait ke-12 adalah sebagai berikut:

Sapantuk wahyuning Allah,

Gya dumilah mangulah ilmu bangkit,

Bangkit mikat reh mangukut,

Kukutaning jiwangga,

Yen mangkono kena sinebut wong sepuh,

Lire sepuh sepi hawa,

Awas roroning atunggil.


Terjemahan dalam bahasa Indonesia secara tekstual:

Siapa yang mendapat wahyu Ilahi,

Lalu dapat mencerna dan menguasai ilmu,

Mampu menguasai ilmu kasampurnan,

Kasampurnan diri pribadi,

Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua,

Orang yang tidak dikuasai nafsu,

Memahami dwi tunggal.


Kajian makna secara rinci kata per kata:

Gatra 1,2: Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ilmu bangkit.

Sapantuk (dari kata sapa antuk, siapa mendapat) wahyuning (ilham atau pencerahan) Allah, gya (bersegeralah) dumilah (bercahaya, bersinar) mangulah (menguasai, melakukan) ilmu bangkit (mampu).

Siapa yang mendapat pencerahan, maka serta-merta bersinarlah ia sehingga mampu menguasai ilmu. Ini berkenaan dengan petunjuk Allah kepada manusia. Barang siapa Dia kehendaki untuk suatu perkara maka akan dimudahkanNya caranya. Serta-merta, bersegera seseorang menjadi semangat dalam menuntut ilmu sehingga menjadi mudahlah ilmu itu meresap dalam jiwanya.

Gatra 3,4: Bangkit mikat reh mangukut, kukutaning jiwangga.

Bangkit (dapat, mampu, bersemangat) mikat (memikat) reh (segala hal) mangukut (mengemasi), kukuting (mengemasi) jiwangga (jiwa, kedirian).

Dalam hal ini saya melihat bahwa yang dimaksud oleh dua gatra ini adalah seseorang yang menjadi bersemangat untuk meniadakan diri, dalam arti memutus ego, kedirian. Sudah kita ketahui bersama bahwa penghalang manusia dan hakekat adalah nafsu yang egosentris. Ego ini menjadi pangkal dari segala sifat buruk, sombong, takabur, ujub, dan pongah. Jika seseorang bisa mretheli, melepas, mencopot (mangukut) egonya maka terbukalah kesempurnaan ilmunya. Dia kemudian dapat melihat segala sesuatu sebagai ayat-ayat Allah, tanda-tanda kebesaranNya.

Gatra 5,6: Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa.

Yen (jika) mangkono (demikian) kena (bisa) sinebut (disebut) wong (orang) sepuh (tua), lire (arti) sepuh (tua) sepi (jauh dari) hawa (hawa nafsu).

Jika demikian bisa disebut sebagai orang tua. Arti tua di sini adalah sudah mampu menyingkirkan hawa nafsu. Sepi hawa adalah ungkapan untuk orang yang sudah tidak banyak keinginan lagi.

Dalam budaya Jawa tua memang tidak selalu berkaitan dengan umur. Sering kali ungkapan wong tuwa dipakai untuk menyebut orang pintar dalam olah kebatinan, tempat para warga bertanya dan minta nasehat. Bahkan dukun juga sering dipanggil wong tuwa, semata-mata karena dianggap tahu tentang hal-hal ghaib.

Gatra 7: Awas roroning atunggil.

Awas (tajam penglihatan, kiasan untuk pengertian yang sempurna) roroning (duanya) atunggil (menjadi satu).

Makna gatra ini sesuai konteks adalah merujuk kepada orang yang sudah menguasai tentang konsep dualisme dalam penciptaan. Kata awas sering dipakai untuk menyebut orang yang pandangannya tajam, ini adalah kiasan bagi orang yang telah menguasai ilmu sejati, yakni yang telah memahami kesatuan wujud.

Antara yang lahir dan yang batin sebenarnya adalah satu wujud, hanya beda penampakan laksana dua sisi mata uang. Siang dan malam adalah putaran waktu, keduanya tak beda. Pria dan wanita adalah sama-sama manifestasi nama-nama ilahi dalam kadar yang parsial, pernikahan menyatukan keduanya. Demikian dualisme dalam ciptaan, yang sebenarnya adalah satu.

Yang diciptakan adalah manifestasi dari Yang Menciptakan, jadi hanya ada satu wujud sejati. Ini adalah konsep Satunggaling Kawula-Gusti. Saya cukupkan dulu, karena pokok bahasan kita bukan tentang ini.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/07/kajian-wedatama-12-bangkit-mangukut-jiwangga/

Kajian Wedatama (13): Sumusuping Rasa Jati

Tembang Pangkur pada bait ke-13 Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV di bawah ini sering dipakai untuk suluk oleh para dalang pada pertunjukan wayang kulit. Biasanya dipakai saat adegan raja sedang masuk di kamar pemujaan dengan maksud untuk mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi. Kandungan makna bait ini memang sangat pas dengan adegan tersebut.

Bait ini menggambarkan keadaan orang yang mendapat pencerahan melalui muhasabah dalam uzlah, ketika menyepi, mengasingkan diri. Bahwa datangnya pencerahan masuk ke dalam hati di waktu antara tidur dan jaga, sekelebat seolah melesatnya mimpi.

Selengkapnya bait ke-13 adalah sebagai berikut:

Tan samar pamoring suksma,

Sinuksmaya winahya ing ngasepi,

Sinimpen telenging kalbu,

Pambukaning warana,

Tarlen saking liyep layaping aluyup,

Pindha pesating sumpena,

Sumusuping rasa jati.


Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia:

Tak ragu memancarnya citra Suksma (Ilahi),

Meresapnya didapatkan di waktu sepi,

Tersimpan di dalam hati,

Sebagai pembuka tirai,

Antara keadaan jaga dan tidur,

Seperti kilatan mimpi,

Merasuknya rasa sejati.


Marilah kita kupas satu persatu setiap kata agar mendapat makna sesungguhnya dari bait ke-13 ini. Muatan yang dikandung memang agak berat temanya. Saya sampai memerlukan waktu berjam-jam untuk memilih kata-kata, agar dapat menyampaikan kepada Anda secara jelas.

Gatra 1,2: Tan samar pamoring suksma, sinuksmaya winahya ing ngasepi.

Tan (tak) samar (keraguan) pamoring (memancar) Suksma (ruh, yang dimaksud adalah wahyu Ilahi), sinuksmaya (meresap kedalam) winahya (didapatkan) ing ngasepi (ketika sepi).

Kata pamor lazim dipakai untuk menyebut corak kilau keris yang keluar ketika ditempa dalam pembuatan. Corak itu keputih-putihan di antara warna keris yang hitam. Maka kata pamor lebih pas diterjemahkan menjadi pancaran, karena kesan pamor pada keris adalah memancarkan kilau. Suksma di sini sesuai konteks bisa diartikan Suksma (pakai S besar), artinya ruh atau Citra Ilahi. Sedangkan winahya berarti kawedhar, atau tampak atau sudah muncul, sudah didapatkan. Sehingga gatra tersebut dapat diartikan, tak ada keraguan memancarnya citra Ilahi, meresapnya dalam hati didapatkan ketika sepi.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa seringkali kita menyepi, sengaja mengasingkan diri agar mendapat petunjuk. Misalnya pada saat-saat malam ketika sepi dengan shalat malam, bermuhasabah, mengadu kepada Allah. Di waktu-waktu tersebut kadang kita mendapat pencerahan sehingga mendapatkan ilmu baru. Saya sebut pencerahan karena tiba-tiba kita menjadi cerah, seperti kena sinar yang memancar (pamor).

Gatra 3,4: Sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana.

Sinimpen (tersimpan) telenging (pusat, di dalam) kalbu (hati), pambukaning (sebagai pembuka) warana (tirai).

Pencerahan, ilham atau inspirasi yang kita dapatkan tadi tiba-tiba tersimpan dalam hati, menjadi pembuka bagi segala keruwetan yang menimpa, solusi bagi permasalahan yang ada. Jadi sifatnya bisa tiba-tiba, mak bedunduk ada dalam pikiran kita, oh begini! Pernah kan ngalami yang begitu?

Gatra 5,6: Tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating sumpena.

Tarlen (tak lain) saking liyep(tidur ayam) layaping (keadaan orang setengah ingat setengah tidak) aluyup (ngantuk), pindha (seperti) pesating (melesatnya) sumpena (mimpi).

Pencerahan tadi datang ke dalam hati ketika kita justru sedang tidak konsentrasi masalah yang ada, ibaratnya seperti orang yang setengah jaga setengah tidur, tiba-tiba terilhami akan sesuatu. Terbersit dalam hati seperti kilatan mimpi, sekejab saja. Plass! Dan tiba-tiba kita telah mendapat solusi atas masalah kita. Saya yakin Anda semua pernah mengalami seperti ini.

Gatra 7: Sumusuping rasa jati.

Sumusuping (merasuk) rasa (rasa) jati (sejati). Bagi yang sudah terbiasa melakukan uzlah untuk bermuhasabah, bermujahadah, datangnya pencerahan bisa berulang sehingga merasuklah ke dalam hati ilmu rasa sejati.

Demikian kajian kita tentang bait ke-13 ini. Memang ini tema yang agak berat sehingga memerlukan konsentrasi tinggi. Saya pun menyadari penjelasan saya jauh dari sempurna, mengingat ilmu saya juga jauh dari penggubah bait ini. Namun saya harap ada sedikit kebenaran yang tersampaikan. Jika banyak kekurangan itu sungguh-sungguh karena kebodohan saya.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/07/kajian-wedatama-13-sumusuping-rasa-jati/

Kajian Wedatama (14): Mulih Mula Mulanira

Bait ini adalah akhir dari Bab Pangkur yang berjumlah 14 bait. Menarik untuk disimak bahwa Wedatama memulai piwulang tentang kehidupan justru dengan memakai tembang Pangkur. Di dalam budaya Jawa Pangkur sering diartikan sebagai mungkur saka kadonyan, memalingkan diri dari keduniawian.

Tampaknya serat Wedatama memang ditujukan bagi kalangan orang tua yang sudah separuh perjalanan menempuh kehidupan. Ini ditandai dengan kalimat, mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi pada bab pertama tersebut. Kandungan pesan pada bait terakhir semakin mengukuhkan kesan itu.

Selengkapnya tembang bait ke-14:

Sejatine kang mangkana,

Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,

Bali alaming ngasuwung,

Tan karem karameyan,

Ingkang sipat wisesa winisesa wus,

Mulih mula mulanira,

Mulane wong anom sami.


Terjemahan bait ini ke dalam Bahasa Indonesia:

Sebenarnya yang demikian itu,

Sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar,

Kembali ke alam kosong (keakhiratan),

Tidak mabuk keramaian (keduniawian),

Yang bersifat kuasa menguasai,

Kembali ke asal mula,

Oleh karena itu wahai anak muda semua.


Kajian per kata:

Gatra 1,2: Sejatine kang mangkana, wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi.

Sejatine (sebenarnya) kang (yang) mangkana (demikian itu), Wus (sudah) kakenan (terkena, mendapat) nugrahaning (anugrah) Hyang (Yang Maha) Widhi (Benar).

Gatra ini bisa dianggap merujuk ke bait sebelumnya, yakni seseorang yang mendapat pencerahan. Yang demikian itu sebenarnya adalah karena anugerah Yang Maha Benar. Jika tidak kita pun akan sulit mencapai hakekat hidup di dunia ini.

Gatra 3,4: Bali alaming ngasuwung, tan karem karameyan.

Bali (kembali) alaming (ke alam) ngasuwung (kosong, maksudnya kosong dari hawa nafsu), tan (tidak) karem (sangat suka, mabuk) karameyan (keramaian, kiasan untuk alam dunia).

Karena anugrah Yang Maha Benar kita dapat kembali ke  alam kosong. Kosong di sini adalah kosong dari hawa nafsu. Ini adalah merujuk pada hati yang kosong dari keinginan terhadap dunia. Tan karem karameyan, adalah tidak suka lagi dengan ramainya dunia, alam materi yang banyak warna-warni dengan segala permasalahannya ini.

Gatra 5,6: Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira.

Ingkang (yang) sipat (bersifat) wisesa (kuasa) winisesa (menguasa) wus (sudah), Mulih (pulang) mula (asal) mulanira (muasal).

Yang sudah bersifat kuasa-menguasai. Kalau kita perhatika bahwa kehidupan duniawi didominasi nafsu meraih kekuasaan. Syahwat politik yang overdosis senantiasa menjadi motif dari setiap tindakan. Ada yang kemudian membungkusnya dengan pura-pura memihak kaum lemah. Ada yang membungkus dengan tampilan religius demi menarik simpati ummat.

Yang demikian itulah kehidupan duniawi, dengan segala riuh-riak di dalamnya. Maka bait ini mengingatkan agar kembali ke asal mula, yakni makhluk Allah yang muasalnya bukan dari dunia ini tapi dari alam lain yang kelak kita semua akan kembali (mulih).

Gatra 7: Mulane wong anom sami.

Mulane (oleh karena itu) wong (wahai orang) anom (muda) sami (sekalian, semua).

Gatra ke-7 ini bisa disebut sasmita kepada lanjutan Bab berikutnya yakni Bab Sinom, maka memakai isyarat kata anom. Selain itu menjadi isyarat bahwa bait-bait berikutnya ajaran piwulang ini, nasehat ini, lebih ditujukan untuk anak muda.

Selesai sudah kajian Bab Pangkur dari Serat Wedatama. Penggubah serat ini mungkin mendahulukan Bab Pangkur sebagai penegasan bahwa mungkur dari kadonyan adalah awal dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Kita mungkin disebut mati di alam dunia ini jika kelak umur kita habis, tetapi kita akan hidup di alam lain yang lebih elok, indah dan menyenangkan. Itulah kehidupan yang sejati.

Berulang kali kata jati ditekankan pada Bab Pangkur agar kita selalu ingat bahwa sejatinya alam kita bukan di sini. Kita masih harus berlatih untuk membuka tabir yang menutupi pandangan kita tentang alam sejati itu. Tip dan triks agar tabirnya terbuka adalah dengan meninggalkan perbuatan tercela (angkara), menahane (nahen) hawa nafsu, bermuhasab, bermujahadah di kesepian (ngasepi) agar memancar cahaya Ilahi (pamoring Suksma) kepada diri kita. Jika sudah demikian rasa jati akan sumusup ing jiwangga, ilmu rasa jati akan merasuk dalam jiwa.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/08/kajian-wedatama-14-mulih-mula-mulanira/

Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama

Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Bab Sinom. Seperti yang sudah saya singgung di akhir Bab Pangkur pada postingan terdahulu, Bab Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan tuanya sebagaimana ia menjalani masa mudanya.

Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut:

Nuladha laku utama,

Tumrape wong Tanah Jawi,

Wong agung ing Ngeksiganda,

Panembahan Senopati,

Kepati amarsudi,

Sudane hawa lan nepsu,

Pinesu tapa brata,

Tanapi ing siyang ratri,

Amamangun karyenak tyasing sasama.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

Contohlah perilaku utama,

Untuk kalangan Orang Jawa,

Orang besar dari Mataram,

Panembahan Senopati,

Yang tekun berlatih,

Mengurangi hawa nafsu,

Dengan jalan prihatin (tirakat),

Dengan cara siang malam,

Berbuat  menyenangkan hati sesama.


Kajian per kata:

Nuladha laku utama. Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama). Contohlah perilaku utama. Mencontoh adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru. Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang lain.

Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama.

Tumrape wong Tanah Jawi. Tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Artinya cukup jelas, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata.

Wong agung ing Ngeksiganda. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram). Orang besar dari negeri Mataram.

Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan.

Panembahan Senopati, Nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya.

Kepati amarsudi. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Jadi arti yang sesuai: sangat keras berusaha.

Sudane hawa lan nepsu. Sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Untuk lebih jelasnya silakan merujuk artikel tentang babahan hawa sanga. Jadi gatra ini lebih maknyuss kalau dimaknai, berkurangnya hawa dan nafsu.

Pinesu tapa brata. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dilakukan dengan usaha keras untuk bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat.

Tanapi ing siyang ratri. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain).

Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: Sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir.


Kesimpulan

Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/08/kajian-wedatama-15-karyenak-tyasing-sasama/

Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun

Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh citra seorang raja pinandita.

Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut:

Samangsane pasamuwan,

Mamangun marta martani,

Sinambi ing saben mangsa,

Kala kalaning asepi,

Lelana teki-teki,

Nggayuh geyonganing kayun,

Kayungyun heninging tyas,

Sanityasa pinrihatin,

Puguh panggah cegah dhahar lawan guling.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Dalam setiap pertemuan,

Menciptakan suasana tenang dan menyejukkan,

Sambil di setiap waktu,

Di kala ada waktu luang,

Mengembara bertapa,

Menggapai kecenderungan hati,

Terpesona ketenangan hati,

Senantiasa melakukan hidup prihatin,

Berpegang teguh mencegah makan maupun tidur.


Kajian per kata:

Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan.

Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan.

Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu). Kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang.

Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan.

Lelana (mengembara) teki–teki (teteki, bertapa). Mengembara untuk menyendiri, berkhalwat, uzlah.

Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan kegemaran bertapanya. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan.

Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati.

Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh itu sudah didapatkan. Melainkan karena memang kecenderungan hati, cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup.

Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati.

Bukan semata-mata bertapa untuk mencari kekuasaan yang lebih besar, tetapi untuk ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya.

Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin.

Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) dalam kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa.

Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap melakukan laku prihatin dengan mengurangi makan dan tidur.

Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu.


 Catatan tambahan ringkas.

Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senoati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan.

Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsan dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan.

Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati.

Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, atau Propinsi DIY.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/08/kajian-wedatama-16-nggayuh-geyonganing-kayun/

Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman

Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah-mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci.

Selengkapnya bait ke-17, Bab Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut.

Saben mendra saking wisma,

Lelana laladan sepi,

Ngingsep sepuhing supana,

Mrih pana pranaweng kapti,

Tis tising tyas marsudi,

Mardawaning budya tulus,

Mesu reh kasudarman,

Neng tepining jalanidhi,

Sruning brata kataman wahyu dyatmika.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Setiap pergi meninggalkan istana,

Berkelana ke tempat yang sunyi,

Menghisap berbagai ilmu yang baik,

Agar jelas yang dikehendaki,

Maksud hati tercapai,

Kelembutan hati yang utama,

Berusaha mempelajari tentang kebajikan,

Di tepi samudra,

Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi.


 Kajian per kata:

Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi.

Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat.

Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas.

Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh Sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri.

Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung.

Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati).

Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati.

Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus.

Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang.

Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan.

Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku.

Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik.

Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi.

Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/09/kajian-wedatama-17-mesu-reh-kasudarman/

Kajian Wedatama (18): Penakluk Dunia Lain

Bait ini menceritakan hubungan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul. Jauh dari kesan bahwa Ratu Kidul adalah penguasa alam ghaib yang juga berkuasa atas nasib manusia, di dalam bait ini justru dikisahkan bahwa Ratu Kidul tunduk di bawah wibawa Raja Mataram.

Saya sebenarnya ingin membahas dari kacamata filsafat tentang hubungan ini, namun saya khawatir kajian ini menjadi melebar ke arah yang bukan tujuan semula. Maka untuk hal ini saya tidak akan mengkaji terlalu dalam, tetapi hanya sekedar kajian gramatikal saja. Sesuai niat saya semula hanya agar anak muda memahami dan mengamalkan hal-hal baik yang ada pada serat Wedatama ini.

Selengkapnya bait ke-18, Bab Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut.

Wikan wengkoning samudra,

Kederan wus den ideri,

Kinemat kamot ing driya,

Rinegan sagegem dadi,

Dumadya angratoni,

Nenggih kanjeng ratu kidul,

Ndedel nggayuh nggegana,

Umara marak maripih,

Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Mengetahui luasnya wilayah samudera,

Seluruhnya sudah dilalui,

Dirasakan dan diresapi dalam sanubari,

Dimuat dalam genggaman,

Jadilah (laut itu) dikuasai,

Tersebutlah kanjeng Ratu Kidul,

Datang menghadap dengan hormat,

Kalah wibawa dengan raja Mataram.


 

Kajian per kata:

Wikan (tahu, mengetahui) wengkoning (keliling wilayah)samudra (samudera). Mengetahui luasnya wilayah samudera. Kederan (kelilingnya) wus (sudah) den (di) ideri (dilewati dengan tuntas). Sudah tuntas dikelilingi seluruh wilayahnya.

Ini berkaitan dengan tempat bertapa Panembahan Senopati yang berada di pinggir laut. Bahwa beliau sudah mengetahui wilayah luasnya samudera karena sudah berkeliling sampai tuntas, tak ada sejengkal pun yang terlewati. Artinya keliling samudera sudah dikuasai.

Kinemat (dirasakan sungguh-sungguh) kamot (dimuat ) ing (di dalam) driya (hati). Sudah dikuasai isinya, dimasukkan dalam hati. Ini berkaitan dengan potensi lautan tersebut.

Rinegan (dinilai, dikerta aji) sagegem (satu genggaman) dadi (muat). Ditaksir muat dalam genggaman. Setelah dinilai, disurvey dengan berkeliling tadi, maka digenggamlah, artinya siap dieksplorasi.

Dumadya (jadilah) angratoni (menjadi ratu/raja). Angratoni berarti menjadi raja, di laut itu. Dalam bahasa jawa ratu bisa bersinonim dengan kata raja, tidak terkait dengan gender. Contohnya pada paribasan, adoh ratu cehdak watu, yang bermakna jauh dari raja dekat dengan batu. Maka gatra ini bermakna, jadilah laut itu dengan segala isinya dapat dikuasai.

Nenggih (tersebutlah) kanjeng (yang berdiri) ratu kidul (sebagai ratu di selatan). Ini merujuk ke tokoh ghaib yang dipercaya menguasai laut selatan dan sering dipanggil sebagai Ratu Kidul. Tersebutlah ratu Kidul, yang berada di dalam laut selatan, Samudera Indonesia.

Ndedel (melesat) nggayuh (mencapai) nggegana (mengudara). Dari tempatnya di dalam lautan, melesat mencapai permukaan laut, setelah melihat sepak terjang Panembahan Senopati tersebut.

Umara (datang) marak (menghadap) maripih (dengan hormat). Maripih adalah sikap hormat, gestur menghormati, sebagai pertanda bahwa yang dihadapi adalah orang besar yang berwibawa. Jadi gatra ini menunjukkan bahwa Ratu Kidul datang menghadap dengan sikap hormat.

Sor (lebih rendah) prabawa (wibawa) lan (dengan) wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati.

Mengapa Ratu Kidul mendatangi? Karena memang kalah wibawa, merasa dirinya lebih rendah derajatnya dibanding raja Mataram itu.

Bait ke-18 meluruskan mitos yang selama ini beredar bahwa Panembahan Senopati bertapa di pinggir Samudera adalah untuk minta restu pada Ratu Kidul agar didukung menjadi raja. Yang benar menurut bait di atas adalah memang Ratu Kidul yang datang karena kewibawaan Senopati yang derajat spiritualnya sudah melampaui Ratu Kidul sendiri.


Catatan tambahan:

Bahwa cerita tentang Ratu Kidul ini sudah beredar di kalangan masyarakat sampai ke lapisan bawah. Sebagian orang memang menganggap Ratu Kidul sedemikian berkuasa sehingga mampu mengubah nasib seseorang. Sebagian lagi menganggap Ratu Kidul adalah mitos yang sengaja dihembuskan agar Panembahan Senopati mendapat legitimasi spiritual untuk menjadi raja Mataram.

Pendapat yang masuk akal adalah pendapat terakhir, dari seorang pakar filsafat asal Jogja. Bahwa cerita tentang Ratu Kidul adalah simbolisme menyatunya Raja Mataram dengan alam. Kelak ada cerita bahwa raja-raja Mataram harus menikahi Ratu Kidul. Ini juga simbolisme bahwa penguasaan Mataram terhadap alam khususnya bumi tidak boleh eksploitatif, tetapi relasinya harus mirip orang menikah, mengasihi (alam) dan memberdayakan(nya).

Saya cukupkan tambahan keterangan ini, kelak semoga dapat mengkaji lebih jauh. Karena pokok bahasan kita kali ini hanya soal makna gramatikal Werat Wedatama, tak bijak jika melebar ke mana-mana.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/10/kajian-wedatama-18-penakluk-dunia-lain/

Kajian Wedatama (19): Teken Janggut Suku Jaja

Bait ke-19, Serat Wedatama, Bab Sinom, karya KGPAA Mangkunegara IV.

Dhahat denira aminta,

Sinupeket pangkat kanthi,

Jroning alam palimunan,

Ing pasaban saben sepi,

Sumanggen anyanggemi,

Ing karsa kang wus tinamtu,

Pamrihe amung aminta,

Supangate teki teki,

Nora ketang teken janggut suku jaja.


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Dengan sangat dirinya meminta,

Agar akrab didudukkan sebagai pengikut,

Di  dalam alam ghaib,

Di kala mengembara di alam sepi,

Siap menyanggupi,

Kehendak yang sudah ditentukan,

Harapannya hanya meminta,

Restu dalam bertapa,

Walau harus bersusah payah jalannya.


Kajian per kata:

Dhahat (Betul-betul, dengan sangat) denira (dirinya) aminta (meminta). Ratu Kidul meminta dengan sangat. Karena sudah kalah wibawa dengan Panembahan Senopati, Ratu Kidul datang menghadap dengan hormat dan meminta dengan sangat.

Sinupeket (didekatkan menjadi lengket, akrab) pangkat (kedudukan, diberi pangkat, diikutkan) kanthi (dengan). Didekatkan agar akrab dengan diberi kedudukan, artinya dijadikan pengikut. Agar diberi kedudukan sebagai pengikut, tak lain agar dapat membantu sesuai dengan kemampuannya.

Jroning (di dalam) alam (alam) palimunan (tak kasat mata,ghaib). Di alam tak kasat mata, alam ghaib. Yakni, sebagai penghuni dan penguasa di alam ghaib.

Ing (di) pasaban (pengembaraan) saben (setiap waktu, setiap tempat) sepi (sepi). Dalam pengembaraan di alam sepi.

Sumanggen (bersedia) anyanggemi (menyanggupkan diri). Bersedia, menyanggupkan diri menerima perintah.

Ing (pada) karsa (kehendak) kang (yang) wus (sudah) tinamtu (ditentukan). Pada kehendak (sang raja) yang telah ditentukan.

Pamrihe (Yang diharapkan) amung (hanya) aminta (meminta). Yang diharapkan hanya diijinkan meminta.

Supangate (restu, perkenan) teki teki (bertapa). Restu dalam bertapa.

Nora ketang (walau) teken (bertongkat) janggut (dagu) suku (kaki) jaja (dada).  Walau bertongkat dagu berkaki dada. Ini adalah peribahasa Jawa, ateken janggut asuku jaja. Arti tekstualnya, memakai dagu sebagai tongkat dan memakai dada sebagai kaki dalam berjalan, merangkak atau ngesot. Maksudnya adalah usaha yang keras dan bersusah payah sampai batas kemampuan.


Kesimpulan:

Panembahan Senopati adalah raja yang gemar bertapa meningkatkan pengetahuan spiritualnya dengan menyepi dan menahan hawa nafsu. Apa yang dilakukan adalah agar hatinya peka terhadap kehendak Tuhan. Semua itu menjadi bekal dalam tugasnya sebagai raja di Mataram agar apapun kebijakan yang diambil senantiasa mendapat ridho Allah SWT.


Karena pencapaiannya itu Ratu Kidul datang menghadap dengan hormat agar diperkenankan menjadi pengikut sang raja. Dia bersedia menerima perintah sesuai kehendak raja sebagai penghuni alam tak kasat mata. Semua yang dibutuhkan sang raja akan dia upayakan walau dengan bersusah payah.

 

Catatan tambahan:

Semua cerita tentang alam ghaib dalam buku klasik hendaknya tidak ditelan mentah-mentah. Sangat mungkin cerita semacam itu hanya kiasan, atau simbol dari sesuatu yang harus dirahasiakan. Agar hanya orang-orang tertentu saja, yang sudah lantip panggraitane dan sudah paham akan sasmita yang memahami.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/08/10/kajian-wedatama-19-teken-janggut-suku-jaja/

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...