Translate

Senin, 13 Januari 2025

Kajian Wulangreh (27): Tutur Bener Apantes Tiniru

 Pada (bait) ke-27, Pupuh ke-3 Gambuh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Tutur bener puniku,
sayektine apantes tiniru.
N
adyan metu saking wong sudra papeki.
L
amun becik nggone muruk,
 iku pantes sira anggo.

  Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Ajaran yang benar itu,
benar-benar sepantasnya diikuti.
Meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya.
Namun jika baik dalam mengajarkan,
maka itu  pantas kau amalkan.

 

Kajin per kata:

Tutur (nasihat) bener (yang benar) puniku (itu), sayektine (sejatinya, benar-benar) apantes (sepantasnya) tiniru (diikuti). Ajaran yang benar itu,benar-benar sepantasnya diikuti.

Bait ini berkaitan dengan sikap kita terhadap nasihat. Nasihat yang benar itu sejatinya pantas untuk diikuti. Perkataan-perkataan baik yang kita dengar, sesudah kita yakini kebenarannya maka wajib bagi kita untuk mengikutinya. Apabila kita tidak mau mengikuti maka nyata-nyata kita telah ingkar (kafir) terhadap kebenaran.

Meski demikian apakah suatu nasihat itu benar atau salah bukan si pemberi nasihat yang menentukan. Karena bisa saja si pemberi nasihat mengklaim kebenaran yang sesungguhnya hanya kepura-puraan belaka. Jadi tolok ukur untuk mengikuti nasihat harus ditentukan oleh si penerima nasihat tersebut. Hal ini berkaitan dengan keimanan yang seharusnya ditentukan secara mandiri oleh si penerima nasihat.

Misalnya jika seseorang memberi nasihat yang benar tetapi si penerima nasihat belum memahami kebenarannya maka tidaklah wajib baginya mengikuti, tetapi wajib baginya memastikan kebenaran nasihat itu. Di lain pihak si pemberi nasihat juga tak boleh kecewa apabila nasihatnya (yang diyakininya benar) tersebut belum dapat dipahami, maka yang harus dilakukan adalah menasihati lagi sampai yang bersangkutan betul-betul paham.

Mengapa hal ini penting ditekankan di sini? Karena sebuah kebenaran tak boleh dipaksakan untuk diterima, melainkan harus dipahamkan dengan alasan dan hujjah yang kuat.

Nadyan (meskipun) metu (berasal) saking (dari) wong (orang) sudra (derajat rendah) papeki (dan papa, miskin). Meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya.

Gatra di atas berisi petuah wajibnya kita mengikuti nasihat yang benar. Di gatra ini ditegaskan meski nasihat tersebut dari orang yang berderajat rendah (sudra) dan orang miskin (papa) tetaplah harus diikuti. Kebenaran tetaplah kebenaran meski datang dari siapa saja. Permata tetaplah permata meski terbenam dalam lumpur. Kita harus bisa menyaring, menimbang dan membedakan mana kebenaran dan kebatilan.

Sudra adalah sebutan untuk kasta terendah dalam agama Hindu, namun kini juga masih dipakai dalam bahasa Jawa untuk merujuk pada orang-orang yang berderajat rendah. Kata papa lebih dekat ke arti kekurangan dalam hal harta (miskin).

Lamun (Namun jika) becik (baik) nggone (dalam, cara) muruk (mengajarkan),  iku (maka itu) pantes (pantas) sira (engkau) anggo (pakai, amalkan). Namun jika baik dalam mengajarkan,  maka itu  pantas kau amalkan.

Yang dimaksud dengan baik dalam mengajarkan adalah cara menyampaikan kebenaran dengan alasan  dan hujjah yang kuat. Kebenaran adalah sesuatu yang harus diterima oleh akal sehat, maka piranti untuk mentransfer kebenaran adalah argumentasi. Apa alasan dan bukti-bukti yang disertakan untuk mendukung kebenaran itu.

Jika sebuah kebenaran hadir dengan alasan dan bukti-bukti yang tak terbantahkan maka harus diikuti dan diamalkan, jika masih bisa dibantah maka bantahlah dengan cara yang baik, secara ilmiah. Tidak boleh kita membantah dengan cara diluar kaidah ilmiah atau secara argumentum ad hominem, yakni membantah argumen dengan menyerang cacat pribadi.

Inilah kaidah dalam mencari nasihat yang baik. Kita senantiasa harus memegang prinsip ilmiah dalam hal yang berkaitan dengn kebenaran.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/14/kajian-wulangreh-27-tutur-bener-apantes-tiniru/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...