Translate

Selasa, 21 Januari 2025

Kajian Wulangreh (9): Gulangen Ing Kalbu

 Kita sampai pada bait ke-9 serat Wulangreh. Pada atau bait ke-9 ini sudah masuk ke Pupuh Kinanti yang merupakan tembang Macapat dengan 6 gatra (baris) dengan metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i.

Secara bahasa Kinanthi berarti digandeng. Umumnya kata ini dipakai untuk menggambarkan sebuah perhatian atau kasih sayang. Misalnya pada kalimat: Sang Prameswari kinanthi sang Nata manjing jroning kedhaton, Sang Permaisuri digandeng sang Raja masuk ke dalam keraton. Kalimat tersebut menggambarkan keintiman, kemesraan sang raja pada istrinya.  Ya iyalah, masa nggandheng-nggandheng gak pakai mesra. Oleh karena itu watak tembang Kinanthi pun berwatak mesra atau senang.

Selengkapnya pada (bait) ke-9, Pupuh ke-2 Kinanthi, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV:

Padha gulangen ing kalbu,
ing sasmita amrih lantip.
Aja pijer mangan nendra,
kaprawiran den kaesthi.
Pesunen sariranira,
sudanen dhahar lan guling.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Kalian biasakanlah mengasah kalbu,
agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat.
Jangan hanya selalu makan dan tidur,
upayakan sikap kepahlawanan.
Latihlah dirimu dengan,
mengurangi makan dan minum.

 

Kajian per kata:

Padha (Kalian) gulangen (biasakan mengasah) ing kalbu (kalbu) ,ing (dalam) sasmita (isyarat-isyarat) amrih (agar) lantip (peka dalam memahami). Kalian biasakanlah mengasah kalbu, agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat.

Setelah pada pupuh Dhandhang Gula kita diberi nasihat tentang sikap dalam hal ilmu pengetahuan, dalam pupuh Kinanthi ini kita diajarkan bagaimana bersikap pada diri sendiri. Ini pun tak kalah penting karena seringkali orang bisa bersikap baik kepada orang lain, membuat senang dan bersikap hangat, bersahabat dan mengayomi, namun terhadap diri sendiri seringkali lalai.

Intisari dari keberadaan manusia sesungguhnya terletak pada hati. Apabila baik atau sehat hati seseorang maka baiklah seluruh hidupnya. Bait ini memberi nasihat bagaimana melatih agar hati kita senantiasa dalam kondisi terbaiknya, yang dengan demikian menjadi baiklah hidup kita. Namun ini memerlukan sebuah upaya yang sungguh-sungguh dan disiplin.

Hati yang dalam kondisi terbaiknya akan membuat pikiran menjadi lantip, yakni sangat peka dan awas dalam menangkap isyarat (sasmita) atau tanda-tanda jaman dan ayat-ayat Allah. Ini selaras dengan bait awal pada pupuh Dhandhang gula, bedanya pada pupuh Dhandhang gula lantip diperoleh dari mengamati dunia luar lewat ilmu pengetahuan (termasuk pengetahuan agama), pada pupuh Kinanthi ini lantip diperoleh dengan melatih diri sendiri. Ini tidak berarti bertentangan namun saling melengkapi, antara alam luar dan alam dalam, antara jagad gedhe lan jagad cilik, harus selalu diperhatikan.

Aja (jangan) pijer (sering) mangan (makan) nendra (tidur), kaprawiran (kepahlawanan) den (agar) kaesthi (diupayakan). Jangan hanya selalu makan dan tidur, upayakan sikap kepahlawanan.

Salah satu cara awal untuk melatih kepekaan hati adalah dengan mengurangi makan dan tidur. Frasa aja pijer di sini berarti jangan sering-sering, maksudnya makanlah sekedarnya saja agar tetap sehat dan kuat, tetapi jangan hanya hidup untuk makan.

Selain itu upayakan sikap kepahlawanan, kekesatriaan. Ksatria adalah sikap menghormati diri sendiri. Tidak mau apabila diri ini cacat moral, maka senantiasa harus menjauhi sikap amoral, kurang ajar, tidak sopan dan licik. Kalau bahasa sekarang sportif, tidak mencari-cari alasan demi pencitraan diri.

Pesunen (latihlah dengan sungguh-sungguh) sariranira (dirimu sendiri), sudanen (kurangilah) dhahar (makan) lan (dan) guling (tidur). Latihlah dirimu dengan mengurangi makan dan minum.

Pesunen di sini berarti upayakan, latihlah dengan sungguh-sungguh sampai batas maksimal. Jangan lembek terhadap godaan hawa nafsu. Latihan yang paling efektif dalam menahan segala godaan nafsu adalah dengan mengurangi makan dan tidur. dengan mengurangi makan pikiran menjadi jernih dan tidak ngantuk, namun harus tetap dijaga jangan sampai kelaparan. Bisa drop gula darahnya, itu juga tidak baik. Jadi mesti seimbang, samadya, moderat, di tengah-tengah.

Mencegah tidur bisa membuat malam-malam kita hidup. Bisa diisi dengan banyak-banyak ibadah, shalat malam dan muhasabah. Atau bisa diisi dengan mengkaji ilmu pengetahuan, termasuk belajar serat Wulangreh ini.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/09/04/kajian-wulangreh-9-gulangen-ing-kalbu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...