Pada (bait) ke-142-144, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Lan aja karem sireki,
ing wanodya ingkang awon.
Lan aja mbuka wadi siraku,
ngarsaning pawestri,
tan wurung nuli corah.
Pan wus lumrahing wanita,
tan bisa simpen wewadi,
saking rupake ing batos.
Pan wus pinanci dening Hyang agung,
nitahken pawestri,
apan iku kinarya,
ganjaran marang wong priya.
Kabeh den padha nastiti,
marang pitutur kang yektos.
Aja dumeh tutur tanpa dapur,
yen bakale becik,
den anggo weh manfaat.
Ywa kaya Pucung lan kaluwak.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dan jangan gemar engkau,
pada wanita nakal.
Dan jangan membuka rahasiamu,
di depan wanita,
tak urung segera menyebarkan.
Memang sudah menjadi kebiasaan wanita,
tak bisa menyimpan rahasia,
karena sempitnya hati.
Memang sudah ditetapkan oleh Yang Agung,
menciptakan wanita,
akan dipakai sebagai,
hadiah kepada laki-laki.
Semua harap sama-sama teliti,
kepada nasihat yang sejati.
Jangan karena perkataan yang sederhana,
kalau jadinya baik,
(dapat) dipakai untuk memberi manfaat (diri).
Jangan seperti pucung dan kluwak.
Kajian per kata:
Lan (dan) aja (jangan) karem (gemar) sireki (engkau), ing (pada) wanodya (wanita) ingkang (yang) awon (kotor, nakal). Dan jangan gemar engkau, pada wanita nakal.
Dan jangan gemar pada wanita nakal. Ini jelas yang dimaksud! Jangan sekali-kali berlaku zina dengan wanita penjaja jasa kenikmatan. Kami tak akan membahas ini karen pesannya sudah jelas, cetha wela-wela.
Lan (dan) aja (jangan) mbuka (membuka) wadi (rahasia) siraku (engkau), ngarsaning (di depan) pawestri (wanita), tan (tak) wurung (urung) nuli (segera) corah (disebarkan, bocor). Dan jangan membuka rahasiamu, di depan wanita, tak urung segera menyebarkan.
Jangan membuka rahasiamu di depan wanita. Entah pada wanita yang nakal tadi atau sebarang wanita, mereka takkan mampu menjaga rahasia itu. Tak urung segera bocor rahasia itu kemana-mana.
Pan (memang) wus (sudah) lumrahing (kebiasaan) wanita (wanita), tan (tak) bisa (bisa) simpen (menyimpan) wewadi (rahasia), saking (karena) rupake (sempitnya) ing batos (batin, hati). Memang sudah menjadi kebiasaan wanita, tak bisa menyimpan rahasia, karena sempitnya hati.
Memang sudah menjadi sifat kebiasaan wanita tak bisa menjaga rahasia. Bergosip dan bergunjing sangat umum mereka lakukan. Hal itu karena sempitnya hati mereka, seolah diisi dengan sedikit rahasia pun tumpah.
Pan (memang) wus (sudah) pinanci (ditetapkan) dening (oleh) Hyang (Yang) agung (Maha Agung), nitahken (menciptakan) pawestri (wanita), apan (akan) iku (itu) kinarya (dipakai sebagai), ganjaran (hadiyah) marang (kepada) wong (orang) priya (laki-laki). Memang sudah ditetapkan oleh Yang Agung, menciptakan wanita, akan dipakai sebagai, hadiah kepada laki-laki.
Memang sudah ditetapkan oleh Yang Maha Agung, Dia menciptakan wanita sebagai hadiah kepada kaum lelaki. Jika kita perhatikan dalam kehidupan ini wanitalah yang dapat membuat lelaki senang bukan kepalang. Wajarlah kalau ada istilah jomblo ngenes, karena tanpa wanita laki-laki akan menderita dalam kepedihan yang luar biasa.
Namun harap diperhatikan nasihat di awal bait ini. Sekalipun para wanita akan memberikan kesenangan jangan sekali-kali mencari wanita nakal. Wanita itu kalau baik akan baik sekali, sekalinya nakal keburukannya bertumpuk. Maka berhati-hatilah dalam mencari wanita, pilihlah yang baik dan jadikan pendamping hidupmu. Dengan demikian hidupmu lebih tenang dan selamat.
Kabeh (semua) den (harap) padha (sama-sama) nastiti (teliti), marang (kepada) pitutur (nasihat) kang (yang) yektos (sejati, sebenarnya). Semua harap sama-sama teliti, kepada nasihat yang sejati.
Semua harap teliti, patuhilah nasihat sejati. Yang diasampaikan dengan tulus ikhlas, tanpa tendensi apapun, tanpa ada kepentingan di belakangnya. Yang semata-mata agar orang-orang mendapatkan kebaikan dalam kehidupan mereka.
Aja (jangan) dumeh (karena) tutur (perkataan) tanpa (tanpa) dapur (ujud, sederhana), yen (kalau) bakale (jadinya) becik (baik), den (di) anggo (pakai) weh (memberi) manfaat (manfaat). Jangan karena perkataan yang sederhana, kalau jadinya baik, dipakai untuk memberi manfaat (diri).
Jangan karena nasihat itu sederhana lantas dilupakan. Jangan karena disampaikan oleh orang tak punya kedudukan lalu disepelekan. Jangan karena terlalu sering didengar sehingga diabaikan. Kalau sekiranya akan mendatangkan kebaikan pakailah agar mendapt manfaat.
Ywa (jangan) kaya (seperti) Pucung (Pucung) lan (dan) kaluwak (kluwak). Jangan seperti pucung dan kluwak.
Gatra terakhir ini merupakan bentuk nasihat agar jangan berperilaku seperti pucung dan kluwak. Ini sebuah perumpamaan yang diambil dari dunia flora. Sri Pakubuwana IV memang sering mengambil ibarat kehidupan dari dunia tumbuhan, seperti pada serat Salokatama (yang kajiannya ada pada situs ini), mengambil pelajaran dari pohon durian.
Gatra terakhir ini juga berlaku sebagai isyarat akan masuk ke pupuh selanjutnya, yakni pupuh Pucung.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-142-144-aja-kareman-wanodya/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar