Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (100-102): Ganjaran Wus Rumuhun

 Pada (bait) ke-100-102, Pupuh ke-6, Megatruh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Ingkang lumrah yen karep seba wong iku,
nuli ganjaran den icih.
Yen tan oleh nuli mutung,
iku sewu sisip,
yen wus mangerti ingkang wong.

Tan mangkono etunge kang uwis weruh,
ganjaran datan pinikir,
ganjaran pan wus rumuhun.
Amung naur sihing Gusti,
winales ing lair batos

Setya tuhu marang saprentahe pan manut,
ywa lenggana karseng Gusti.
Wong ngawula paminipun,
lir sarah mungging jaladri,
darma lumampah sapakon.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Yang lazim kalau hendak menghadap orang itu,
lalu ganjaran yang di harapkan.
Kalau tak mendapatkan lalu ngambek,
yang demikian itu suatu kesalahan besar,
kalau sudah mengerti orang itu.

Tak demikian perhitungannya bagi yang sudah tahu,
hadiah tak usah dipikir,
hadiah sudah diberikan dahulu.
Hanya membalas pemberian Raja,
dibalas secara lahir batin.

Setia dan patuh terhadap semua perintah akan menurut,
jangan menolak kehendak Raja.
Orang mengabdi seumpama,
seperti sampah di lautan,
sekadr menjalani semuat perintah.

 Kajian per kata:

Ingkang (yang) lumrah (lazim, biasanya) yen (kalau) karep (hendak) seba (menghadap) wong (orang) iku (itu), nuli (lalu) ganjaran (hadiah) den (di) incih (harapkan). Yang lazim kalau hendak menghadap orang itu, lalu ganjaran yang di harapkan.

Incih adalah mengharap sangat, sangat ingin. Orang yang akan menghadap raja biasanya sangat mengharap hadiah. Karena seorang raja adalah penguasa segalanya, seluruh kekayaan negeri, maka tak aneh kalau seorang menghadap kepengin mendapat hadiah.

Yen (kalau) tan (tak) oleh (mendapatkan) nuli (lalu) mutung (ngambek), iku (itu) sewu sisip (kesalahan besar), yen (kalau) wus (sudah) mangerti (mengerti) ingkang (bagi) wong (orang). Kalau tak mendapatkan lalu ngambek, yang demikian itu suatu kesalahan besar, kalau sudah mengerti orang itu.

Kalau tidak mendapat hadiah kemudian ngambek, itulah yang umum terjadi. Namun itu adalah suatu kesalahan besar bagi orang yang sudah mengerti. Sewu sisip artinya seribu kesalahan, maksudnya pikiran yang sangat-sangat salah.

Tan (tak) mangkono (demikian) etunge (perhitungan) kang (yang) uwis (sudah)  weruh (tahu), ganjaran (hadiah) datan (tak usah) pinikir (dipikir), ganjaran (hadiah) pan wus  (sudah) rumuhun (diberikan dahulu). Tak demikian perhitungannya bagi yang sudah tahu, hadiah tak usah dipikir, hadiah sudah diberikan dahulu.

Karena sebenarnya perhitungannya tidak demikian bagi yang sudah tahu. Hadiah tidak usah dipikirkan karena sudah diberikan di muka. Dapat diterima sebagai pejabat kraton itu saja sudah merupakan anugrah yang besar dari raja. Sehingga sebenarnya hadiah itu sudah dibayarkan sebelum orang itu berkarya.

Amung (hanya) naur (nyahur, membalas) sihing (kasih, pemberian) Gusti (Raja), winales (dibalas) ing (secara) lair (lahir) batos (batin). Hanya membalas pemberian Raja, dibalas secara lahir batin.

Apa yang dilakukan sekarang ini hanyalah membalas anugrah itu, seperti orang yang nyaur hutang saja. Raja sudah menunjukkan belas kasih dengan memberi jabatan dan kebesaran yang menyertainya, maka selayaknya yang bersangkutan juga membalas dengan tulus lahir dan batin.

Setya (setia) tuhu (patuh) marang (terhadap) saprentahe (semua perintah) pan (akan) manut (menurut), ywa (jangan) lenggana (menolak) karseng (kehendak) Gusti (Raja). Setia dan patuh terhadap semua perintah akan menurut, jangan menolak kehendak Raja.

Dengan cara setia dan patuh terhadap semua perintah, harus menuruti segala kehendak Raja, jangan sekali-kali menolaknya. Itulah pembalasan yang harus dipersembahkan untuk Raja. Dan itupun juga belum setimpal dengan hadiah yang telah diberikan di muka tadi.

Wong (orang) ngawula (mengabdi) paminipun (seumpama), lir (seperti) sarah (sepotong kayu, sampah) mungging (terhadap) jaladri (lautan), darma (sekedar) lumampah (menjalani) sapakon (semua perintah). Orang mengabdi seumpama, seperti sampah di lautan, sekadar menjalani semuat perintah.

Orang mengabdi kepada Raja seumpama sarah, yakni kayu kecil yang tercecer di lautan yang kita pegang agar tak tenggelam. Betapa kecilnya nilai kita. Maka sikap yang terbaik adalah sekadar menjalani semua perintah, jangan mengharap hadiah atau pemberian. Keladuk itu namanya.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-100-102-ganjaran-wus-rumuhun/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...