Pada (bait) ke-97-99, Pupuh ke-6, Megatruh, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Samubarang karyanira Sang Aprabu,
sayekti kudu nglakoni,
sapalakartine iku.
Wong kang padha-padha ngabdi,
panggaweyane pan saos.
Kang nyantana bupati mantri panewu,
kliwon peneket miji,
panalaweyan pananjung,
tanapi para prajurit,
lan kang nambut karyeng katong.
Kabeh iku kawajiban sebanipun,
ing dina kang amarengi,
wiyosanira Sang Aprabu.
Sanadyan tan miyos ugi,
pasebane aja towong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Semua pekerjaanmu dari sang Raja,
benar-benar harus dijalani,
sampai selesainya.
Orang yang sama-sama mengabdi,
pekerjaan akan dilaporkan.
Yang mengabdi, bupati, mantri, panewu,
kliwon, paneket, miji,
panalaweyan, pananjung,
dan juga para prajurit,
dan yang bekerja pada Raja.
Semua itu berkewajiban menghadap,
di hari yang bersamaan,
dengan keluarnya sang Raja.
Walaupun (sang Raja) tidak keluar juga,
menghadapnya jangan lowong.
Kajian per kata:
Samubarang (semua hal) karyanira (pekerjaanmu) Sang (sang) Aprabu (Raja), sayekti (benar-benar) kudu (harus) nglakoni (dijalani), sapalakartine (sampai selesai, palakarta artinya selesai) iku (itu). Semua pekerjaanmu dari sang Raja, benar-benar harus dijalani, sampai selesainya.
Semua pekerjaan dari perintah Sang Raja, benar-benar harus dijalani sampai selesai. Tidak boleh lalai atau melempar tanggung jawab kepada orang lain. Dahulu setiap orang bertanggung jawab kepada raja. Pada hari pisowanan ketika seba mereka akan bertemu dengan Raja untuk ditanya tanggung jawabnya apakah sudah diselesaikan atau belum.
Wong (orang) kang (yang) padha-padha (sama-sama) ngabdi (mengabdi), panggaweyane (pekerjaannya) pan (akan) saos (disajikan, dilaporkan). Orang yang sama-sama mengabdi, pekerjaan akan dilaporkan.
Bagi orang-orang yang sama-sama mengabdi pekerjaannya akan dilaporkan kepada Raja. Baik dari pejabat tinggi maupun pejabat rendah. Karena sistem yang demikian itu maka setiap orang mau tak mau harus menyelesaikan setiap tugas yang diberikan.
Kang (yang) nyantana (mengabdi, pembesar kerajaa) bupati (bupati) mantri (mantri) panewu (panewu), kliwon (kaliwon) peneket (peneket) miji (miji), panalaweyan (panalaweyan) pananjung (pananjung), tanapi (dan juga) para (para) prajurit (prajurit), lan (dan) kang (yang) nambut karyeng (bekerja pada) katong (Raja). Yang mengabdi, bupati, mantri, panewu, kliwon, paneket, miji, panalaweyan, pananjung, dan juga para prajurit, dan yang bekerja pada Raja.
Ada banyak orang yang mengabdi kepada raja menjadi pejabat kraton, mulai bupati, mantri, panewu, kliwon, peneket, miji, panalaweyan, pananjung sampai para prajurit dan lain-lainnya. Semua yang disebut adalah jabatan dalam lingkungan istana sesuai jenjang masing-masing.
Kabeh (semua) iku (itu) kawajiban (berkewajiban) sebanipun (menghadap), ing (di) dina (hari) kang (yang) amarengi (bersamaan), wiyosanira (keluarnya) Sang (sang) Aprabu (Raja). Semua itu berkewajiban menghadap, di hari yang bersamaan, dengan keluarnya sang Raja.
Semua pejabat tersebut di atas mempunyai kewajiban menghadap pada hari keluarnya sang Raja dari keraton, yakni hari Senin dan Kamis yang disebut sebagai hari pisowanan. Mereka akan menerima perintah dan melaporkan pekerjaan masing-masing.
Sanadyan (walaupun) tan (tidak) miyos (keluar) ugi (juga), pasebane (menghadapnya) aja (jangan) towong (lowong). Walaupun (sang Raja) tidak keluar juga, menghadapnya jangan lowong.
Pada hari pisowanan tersebut para pejabat tadi harus hadir. Jikalau tidak hadir tanpa alasan yang jelas akan dianggap melalaikan tugas. Bila berlanjut akan dianggap desersi. Walau mungkin saja pada hari itu sang Raja tidak keluar karena satu sebab, mereka harus tetap hadir. Kehadiran mereka adalah bentuk ungkapan dari kesiap-sediaan untuk menerima perintah.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-97-99-kewajibane-santana/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar