Translate

Tampilkan postingan dengan label SERAT WALISANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERAT WALISANA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2024

Serat Walisana (8) :

Raden Satmata berguru kepada Syekh Maulana Ishaq

Ganti cerita, dari Benang dahulu Raden Satmata pergi dengan maksud hendak naik haji ke tanah Arab. Sesampai di Malaka Raden Satmata mendengar ada seorang alim bernama Syekh Maulana Ishaq yang menetap di Pasai. Raden Satmata ingin berhenti dulu untuk berguru kepada Syekh Maulana Ishaq. Raden Satmata tidak tahu kalau Syekh Maulana Ishaq adalah kakeknya sendiri, ayah dari ayahnya.

Sampailah Raden Satmata di Pasai dan bertemu dengan Maulana Ishaq. Sang maulana menyambut dengan hangat kedatangan anak muda dari Jawa tersebut. Syekh Ishaq tidak mengetahui kalau Raden Satmata adalah cucunya sendiri. Setelah saling memberi salam keduanya duduk berbincang.

Berkata sang guru Maulana Ishaq, “Duhai ksatria utama, si bapak ini belum pernah mengenalmu. Izinkan bertanya siapakah andika dan dari mana asalnya, serta apa maksud kedatangan andika ke gubug si bapak ini?”

Raden Satmata berkata pelan, “Duh sang mulia, kedatangan saya hendak berguru kepada paduka. Adapun kalau tuan bertanya silsilah keluarga hamba, asal dari desa Benang. Yang mau menyebut nama saya Satmata, putra dari Syekh Wali Lanang, seorang alim dari negeri Atas Angin. Di manakah itu ayah saya tidak menjelaskan. Adapun ibu dahulunya seorang putri dari Blambangan. Maksud saya sebelumnya ingin ke tanah Arab untuk naik haji.”

Maulana Ishaq ketika mendengar penuturan Raden Satmata segera merangkul lehernya dan berkata manis, “Ternyata si bocah ini anak si Wali Lanang. Sunguh tak menyangka bisa sampai di sini. Nak, engkau adalah cucuku sendiri. Engkau sudah dewasa sekarang. Baru kali ini kita bisa bertemu. Sungguh kehendak Allah yang telah menggerakkan hatimu untuk datang ke Malaka ini.”

Raden Satmata ketika mengetahu bahwa Syekh Maulana Ishaq adalah ayah dari ayahnya atau kakeknya sendiri maka segera memeluk dan mencium kaki.

Dengan terbata-bata Raden Satmata berkata, “Duhai kakek, sungguh tak mengira bisa bertemu di sini. Terbayar sudah penderitaan saya selama ini mencari ke sana ke mari.”

Sang kakek sangat bersukacita. Kepada sang cucu cinta kasihnya tercurah. Pada suatu malam, di hari Jumat Legi sang Maulana Ishaq duduk tafakur di hadap oleh sang cucu Raden Satmata.

Raden Satmata berkata, “Duhai kakek, saya masih muda dan bodoh, belum mengetahu sejatinya Tuhan. Mohon kakek berilah saya pengertian agar hati saya terang dan keluar dari kegelapan ini.”

Sang kakek berkata, “Bocah ini mendapat anugerah Tuhan, wajib bagi saya menerangkan. Kalau engkau anakku, mencari sejatinya Tuhan yang nyata, ayo pergi ke tempat sepi supaya bisa fokus.”

Sang cucu menurut kehendak sang kakek. Sang kakek lalu pergi diikuti sang cucu sampai pada suatu tempat yang luas. Sang kakek lalu duduk di sebuah gundukan tanah yang agak pinggir dengan didampingi sang cucu.

Syekh Maulana Ishaq berkata pelan, “Aku jawab pertanyaanmu. Tuhan itu sudah ada di dalam dirimu. Jangan ragu engkau meyakini ini. Namun walau demikian engkau harus menutup rahasia ini.”

Sang cucu bertanya, “Bagaimana sabda kakek ini, mengapa harus mendua, mengakui adanya tetapi kemudian menutupinya. Nyata ada tetapi harus menutupi.”

Sang kakek menjawab, “Memang harus seperti itu penerapannya. Harus mempertimbangkan tempat, harus empan papan. Karena ini perkara ghaib.”

Sang cucu berkata, “Dan bagaimana sejatinya Muhammad dan Allah, bagaimana bentuk hubungan antara keduanya. Karena ada ucapan ya Allah Rasulullahi ulun kadunungena (aku ditempatinya). Mohon kakek sekalian jelaskan.”

Sang kakek menjawab, “Perkara itu termuat di dalam kitab Jauhar Mukin, tentang perkara yang ghaib. Dengarkan cucuku, barangkali terbuka pengetahuanmu. Ketahuilah riwayat Nukat Ghaib, ghaibnya Tuhan dan Rasul, sungguh elok. Berkumpul dan berpisahnya itu ada di dalam Nukat Ghaib, sungguh berada di dalam dirimu. Allah itu wujud muhal yang mustahil diketahui, itulah Allah yang sejati. Adapun a’yan kharijiyah itu adalah bayangan dari wujud Allah. Adapun yang disebut Allah itu adalah dzat, dzat itu adalah rahsa, rahsa itulah Dzat Allah. Dzat Allah itu adalah dzat Rasul, artinya Aku yang Menguasai, Langgeng kekuasaanku. Itulah sejatinya Nukat Ghaib.

Adapun letaknya asma yang tujuh, ketahuilah itu sejatinya rupa Muhammad Rasulullah, adalah yang pertama angan-angan, yang kedua mata, yang ketika waktu, yang keempat niat, yang kelima iman, yang keenam tauhid dan yang ketujuh adalah syari’at. Pengertian ketujuh hal tersebut adalah; angan adalah nama, mata adalah penglihatan, wajah adalah keadaan, arti niat itu keadaan bersatu, iman artinya satu rahsa, tauhid adalah satu wujud dan syari’at adalah kesiapan keadaan satu yang sejati, yaitu shalat. Shalat yang lima waktu berdiri sebagai keadaan itu. Ruku’ bersatu dalam keadaan, sujud adalah kemuliaan di dalam keadaan itu, adapun duduk adalah sempurnanya keadaan yang sejati, yakni satu rahsa tunggal dengan keadaanku. Rahsa sejati kehendakku, kehendak menguasai diri, artinya sungguh kalau jasad ini tempat bagi yang haq, subhana wa ta’ala.

Adapun yang disebut khalifah yang haq, yakni Allah itu khalifahnya adalah Muhammad. Muhammad khalifahnya adalah Adam. Adam khalifahnya adalah mukmin. Khalifah mukmin adalah haq sejati. Jangan ragu, yang tawajuh, mantap dalam pengertian.

Sekarang cucuku, engkau ini bersusah payah, bersikeras menempuh perjalanan untuk naik haji, apa sesungguhnya yang engkau cari. Karena kota Mekkah dan Madinah serta baitullah itu sudah ada dalam dirimu. Kalau sudah mengetahui inti dari sembah dan puji kepada Tuhan apa lagi yang engkau pedulikan. Lebih baik engkau kembali ke tanah Jawa. Kelak engkau akan menjadi pelita bagi jagad Jawa.”

Sang cucu tertunduk takzim mendengarkan wejangan Sang guru. Merasa mendapat sabda agung yang meresap dalam kalbu. Seperti air menyiram dahaga. Menunjukkan pengertian pada keadaan “kun”, keadaan yang elok. Sudah sampai pada pengertian puncak penciptaan.

Di tengah asyik kedua orang itu berbincang fajar menjelang. Syekh Iskak dan sang cucu kembali ke pondokan. Pagi harinya Raden Satmata mohon pamit kembali ke tanah Jawi. Sang kakek sangat mendukung.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/08/28/serat-walisana-8-raden-satmata-berguru-kepada-syekh-maulana-ishaq/

Serat Walisana (7) :

 Raden Satmata berguru kepada Maulana Ishaq di Malaka

Di lain tempat, Raden Kusen dan Syekh Sabil yang hendak mengabdi kepada raja Majapahit telah sampai di kotaraja. Mereka merasa bingung karena tidak ada kenalan yang bisa dituju. Keduanya lalu melakukan pepe di alun-alun. Pada hari pisowanan mereka duduk di bawah beringin kembar. Ketika sang raja keluar di bangsal pertemuan, terlihat olehnya kedua pemuda yang sedang pepe. Sang Raja kemudian memerintahkan agar keduanya dipanggil menghadap. Patih Gajahmada segera melaksanakan perintah. Kedua pemuda ditanya dari mana asalnya dan apa keperluannya.

Raden Kusen berkata, “Hamba dari Palembang, putra dari adipati Arya Damar. Kedatangan hamba ke sini ingin mengabdi kepada Sang Raja Prabu Brawijaya.”

Setelah Ki Patih Gajahmada mengetahui asal-usul dan maksud Raden Kusen, lalu menanyai pemuda satunya.

Berkata Syekh Sabil, “Hamba datang dari Malaka. Hamba adalah anak dari Khalifah Kusen dari ibu asal Madura, anak dari Arya Baribin. Adapun maksud hamba datang ke sini adalah untuk mengabdi kepada Sang Raja. Bila berkenan mengambil hamba sebagai pesuruh pun hamba merasa cukup.”

Patih Gajah Mada segera melaporkan identitas kedua pemuda tersebut dan maksud keduanya melakukan pepe. Sang Raja sangat bersukacita dan segera memerintahkan keduanya untuk dipanggil menghadap. Ketika sudah menghadap Sang Raja merasa berkenan melihat pembawaan kedua pemuda tersebut. Mereka lalu diterima sebagai abdi di Majapahit.

Setelah beberapa lama mengabdi keduanya dinilai bagus dalam pengabdian. Semakin lama Sang Raja semakin menaruh kepercayaan yang besar. Berbagai tugas diberikan kepada keduanya dan selalu berhasil dilaksanakan dengan baik. Raja sangat bersukahati, lalu berkenan mengangkat mereka pada kedudukan yang lebih tinggi. Raden Kusen diangkat sebagai adipati di Terung dengan nama Adipati Pecattanda. Adapun Syekh Sabil karena berasal dari kalangan ulama yang mumpuni dalam ilmu agama, kemudian disuruh menghadap Sunan Ampel untuk meminta penempatan.

Adipati Pecattanda kemudian berangkat menunaikan tugas yang baru dengan diserta sepasukan prajurit dari Majapahit. Bersamaan waktunya Syekh Sabil menuju pesantren Kangjeng Sunan Ampel untuk meminta petunjuk selanjutnya. Sesampai di Surabaya Syekh Sabil segera menghadap Kangjeng Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel Syekh Sabil diterima dengan sukacita. Selain masih keponakan sendiri Syekh Sabil yang punya pengetahuan agama juga sangat membantu dakwah Kangjeng Sunan. Maka oleh Kangjeng Sunan Syekh Sabil ditempatkan sebagai iman di tanah Ngudung. Syekh Sabil tak menolak dan segera melaksanakan perintah. Desa Ngudung menjadi desa yang sejahtera di bawah pimpinan Syekh Sabil. Kelak Syekh sabil juga dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung.

Di Ampeldenta pengabdian Raden Patah mendapat penilaian yang baik dari Sunan Ampel. Kangjeng Sunan sangat berkenan dan semakin tercurah rasa kasihnya. Tak berapa lama Raden Patah diambil menantu dengan dijodohkan dengan putri Kangjeng Sunan yang bernama Ratu Panggung. Keduanya membina rumah tangga dengan harmonis tanpa kurang suatu apapun.

Kangjeng Sunan Ampel juga mempunyai seorang putra yang telah dewasa, namanya Makdum Ibrahim. Oleh Sunan Ampel sang putra kemudian ditempatkan sebagai penghulu dan imam di Benang. Sudah terlaksana dengan baik Benang dipimpin Makdum Ibrahim menjadi desa yang sejahtera. Kelak Makdum Ibrahim juga dikenal dengan sebutan Sunan Benang.

Ganti cerita, dari Benang dahulu Raden Satmata pergi dengan maksud hendak naik haji ke tanah Arab. Sesampai di Malaka Raden Satmata mendengar ada seorang alim bernama Syekh Maulana Ishaq yang menetap di Pasai. Raden Satmata ingin berhenti dulu untuk berguru kepada Syekh Maulana Ishaq. Raden Satmata tidak tahu kalau Syekh Maulana Ishaq adalah kakeknya sendiri, ayah dari ayahnya.

Sesampai di Pasai Raden Satmata bertemu dengan sang guru Maulana Ishaq. Maulana menyambut hangat kedatangan anak muda dari Jawa tersebut. Syekh Ishaq tidak mengetahui kalau Raden Satmata adalah cucunya sendiri. Setelah saling memberi salam keduanya duduk berbincang.

Berkata sang guru Maulana Ishaq, “Duhai ksatria utama, si bapak ini belum pernah mengenalmu. Izinkan bertanya siapakah dirimu dan dari mana asalmu, serta apa maksud kedatanganmu ke gubug si bapak ini?”

Raden Satmata berkata pelan, “Duhai sang mulia, kedatangan saya hendak berguru kepada paduka. Adapun kalau tuan bertanya silsilah keluarga hamba, asal dari desa Benang. Yang mau menyebut nama saya Satmata, putra dari Syekh Wali Lanang, seorang alim dari negeri Atas Angin. Di manakah itu ayah saya tidak menjelaskan. Adapun ibu dahulunya seorang putri dari Blambangan. Maksud saya sebelumnya ingin ke tanah Arab untuk naik haji.”

Maulana Ishaq ketika mendengar penuturan Raden Satmata segera merangkul lehernya dan berkata manis, “Ternyata si bocah ini anak si Wali Lanang. Sunguh tak menyangka bisa sampai di sini. Nak, engkau adalah cucuku sendiri. Engkau sudah dewasa sekarang. Baru kali ini kita bisa bertemu. Sungguh kehendak Allah yang telah menggerakkan hatimu untuk datang ke Malaka ini.”

Raden Satmata ketika mengetahu bahwa Syekh Maulana Ishaq adalah ayah dari ayahnya atau kakeknya sendiri maka segera memeluk dan mencium kaki.

Dengan terbata-bata Raden Satmata berkata, “Duhai kakek, sungguh tak mengira bisa bertemu di sini. Terbayar sudah penderitaan saya selama ini mencari ke sana ke mari.”

Sang kakek sangat bersukacita. Kepada sang cucu cinta kasihnya tercurah. Pada suatu malam, di hari Jumat Legi sang Maulana Ishaq duduk tafakur di hadap oleh sang cucu Raden Satmata.

Raden Satmata berkata, “Duhai kakek, karena saya masih muda dan bodoh, belum mengetahu sejatinya Tuhan, mohon kakek berilah saya pengertian agar hati saya terang, keluar dari kegelapan ini.”

Sang kakek berkata, “Bocah ini mendapat anugerah Tuhan, wajib bagi saya menerangkan. Kalau engkau anakku, mencari sejatinya Tuhan yang nyata, ayo pergi ke tempat sepi supaya bisa fokus.”

Sang cucu menurut kehendak sang kakek. Sang kakek lalu pergi diikuti sang cucu, sampai pada suatu tempat yang luas. Sang kakek lalu duduk di sebuah gundukan tanah yang agak pinggir dengan didampingi sang cucu.

Syekh Maulana Ishaq berkata pelan, “Aku jawab pertanyaanmu. Tuhan itu sudah ada di dalam dirimu. Jangan ragu engkau meyakini hal ini. Namun walau demikian engkau harus menutup rahasia ini.”

Sang cucu bertanya, “Bagaimana sabda kakek ini, mengapa harus mendua, mengakui adanya tetapi kemudian menutupinya. Nyata ada tetapi harus menutupi.”

Sang kakek menjawab, “Memang harus seperti itu penerapannya. Harus mempertimbangkan tempat, harus empan papan. Karena ini perkara ghaib.”

Sang cucu berkata, “Dan bagaimana sejatinya Muhammad dan Allah, bagaimana bentuk hubungan antara keduanya. Karena ada ucapan ya Allah Rasulullahi ulun kadunungena (aku ditempatinya). Mohon kakek sekalian jelaskan.”

Sang kakek menjawab, “Perkara itu termuat di dalam kitab Jauhar Mukin, tentang perkara yang ghaib. Dengarkan cucuku, barangkali terbuka pengetahuanmu. Ketahuilah riwayat Nukat Ghaib, ghaibnya Tuhan dan Rasul, sungguh elok. Berkumpul dan berpisahnya itu ada di dalam Nukat Ghaib, sungguh berada di dalam dirimu. Allah itu wujud muhal yang mustahil diketahui, itulah Allah yang sejati. Adapun a’yan kharijiyah itu adalah bayangan dari wujud Allah. Adapun yang disebut Allah itu adalah dzat, dzat itu adalah rahsa, rahsa itulah Dzat Allah. Dzat Allah itu adalah dzat Rasul, artinya Aku yang Menguasai, Langgeng kekuasaanku. Itulah sejatinya Nukat Ghaib.

Adapun letaknya asma yang tuju, ketahuilah itu sejatinya rupa Muhammad Rasulullah, adalah yang pertama angan-angan, yang kedua mata, yang ketika waktu, yang keempat niat, yang kelima iman, yang keenam tauhid dan yang ketujuh adalah syari’at. Pengertian ketujuh hal tersebut adalah; angan adalah nama, mata adalah penglihatan, wajah adalah keadaan, arti niat itu keadaan bersatu, iman artinya satu rahsa, tauhid adalah satu wujud dan syari’at adalah kesiapan keadaan satu yang sejati, yaitu shalat. Shalat yang lima waktu berdiri sebagai keadaan itu, adapun ruku’ bersatu dalam keadaan, sujud adalah kemuliaan di dalam keadaan itu, adapun duduk adalah sempurnanya keadaan yang sejati, yakni satu rahsa tunggal dengan keadaanku. Rahsa sejati kehendakku, kehendak menguasai diri, artinya sungguh kalau jasad ini tempat bagi yang haq, subhana wa ta’ala.

Adapun pengertian khalifat yang haq, khalifat Allah adalah Muhammad. Muhammad adalah khalifah dan Adam adalah penggantinya. Seorang mukmin adalah khalifah yang haq atau khalifah yang sejati. Jangan ragu yang mantap memegang pengertian ini. Adapun engkau anakku hendak bersusah payah naik haji, apa yang hendak engkau kejar sampai ke Mekkah dan Madinah, sedangkan ka’batullah sudah berada di dalam dirimu. Bila kamu sudah lurus beribadah, tidak peduli di sana atau di sini. Lebih baik engkau kembali ke Jawa menjadi pedoman bagi orang Jawa yang akan beribadah.”

Raden Satmata merasa mendapat pengertian yang dalam oleh sabda Syekh Maulana Ishaq. Percakapan cucu dan kakek tersebut berlangsung sepanjang malam hingga pagi menjelang. Syekh Ishaq dan sang cucu kemudian pulang ke kediamannya. Pagi harinya Raden Satmata berpamitan hendak kembali ke tanah Jawa. Sang kakek mendukung sepenuhnya dengan sukacita.

Singkat cerita Raden Satmana sudah kembali ke Jawa. Setelah sampai di rumahnya Raden Satmana lalu berpindah ke Jipang. Tak lama kemudian bermaksud berpindah lagi ke Tandes. Tetapi terhalang tidak punya kapal untuk berangkat. Namun tak lama kemudian datang seorang tukang perahu, Ki Panangsang namanya. Ki tukang perahu menyerahkan kapal miliknya yang tak punya atap. Raden Satmata tak mau menerima karena kapalnya tak punya atap, akan menimbulkan banyak kesulitan di jalan. Ki Panangsang segera memberi atap pada perahunya dan kembali menawarkan kepada Raden Satmata. Kali ini Raden Satmata menerima dengan sukacita.

Raden Satmata kemudian berlayar ke Tandes. Sesampai di Tandes Raden Satmata turun dari kapal dan menuju penguasa di Tandes yang bernama Pangeran Patih. Setelah saling memberi salam keduanya duduk berbincang. Raden Satmata mengutarakan keinginannya membimbing umat kepada Pangeran Patih. Pangeran Patih sangat bersukacita. Sang pangeran bahkan sangat menyukai Raden Satmata dan mengambilnya sebagai menantu. Tak lama kemudian diangkat sebagai penghulu dan imam dengan gelar Pangeran Khalifah.

Ada seorang menantu Pangeran Patih yang bernama Ki Ageng Balawi. Dia baru saja pulang dari berburu hewan hutan. Ki Balawi mengatakan bahwa di sebelah selatan Tandes ada bukit yang bagus, namanya gunung Gajah atau Giri Gajah. Kalau Pangeran Khalifah berkenan tempat tersebut sangat bagus dipakai untuk mendirikan pesantren.

Pangeran Khalifah tertarik dengan usulan Ki Ageng Balawi, lalu menghadap kepada sang ayah mertua untuk meminta izin bermukim di Giri Gajah. Sebagai pendahuluan Pangeran Khalifah bermunajat selama tujuh hari di puncak gunung. Setiap malam tak putus-putus mendaras Al Qur’an. Setelah tujuh hari Pangeran Khalifah dipanggil sang mertua untuk pulang ke Tandes. Namun hanya semalam Pangeran Khalifah berada di Tandes. Sehari kemudian Pangeran Khalifah kembali mohon pamit akan kembali bermunajat di Giri Gajah. Kali ini rencananya akan tinggal di sana selama empat puluh hari. Pangeran Patih sangat mendukung sang menantu yang hendak membuka pemukiman baru tersebut.

Setelah empat puluh hari bersemedi dan tak putus-putus membaca Al Qur’an, Pangeran Khalifah kembali dipanggil sang mertua untuk pulang ke Tandes. Namun kali ini Pangeran Khalifah tidak ingin pulang lagi, bahkan memberitahukan bahwa dirinya akan menggenapi sampai seratus hari. Para sahabat Pangeran Khalifah kemudian dipanggil untuk membuka lahan dan menyiapkan bakal pemukiman. Tak lama kemudian perumahan sudah berjajar membentuk sebuah pedukuhan. Pangeran Patih sangat suka melihat sang menantu telah mantap hatinya bermukim di Giri Gajah.

Setelah seratus hari tinggal di Giri Gajah Pangeran Khalifah mendengar bahwa di Ampeldenta ada seorang pendeta mumpuni yang menjadi imam agama Islam. Pangeran Khalifah menghadap sang mertua untuk meminta izin berguru ke Ampeldenta. Pangeran Patih sangat mendukung kehendak sang menantu. Maka Pangeran Khalifah segera berangkat ke Ampeldenta.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/06/14/serat-walisana-7-raden-satmata-berguru-kepada-maulana-ishq-di-malaka/

Serat Walisana (6) :

 Raden Patah dari Palembang mengabdi kepada Kangjeng Sunan Ampel

Di Palembang, putra tiri Arya Damar bawaan dari Majapahit yang dilahirkan sang istri Putri Cina sudah dewasa. Raden Patah[1] namanya. Arya Damar bermaksud lengser dan menyerahkan kekuasaan kepada Raden Patah.

Pada suatu hari pisowanan Arya Damar duduk di hadapan para punggawa Palembang. Dua putra sudah menghadap di depan, Raden Patah dan Raden Kusen. Keduanya adalah saudara satu ibu. Raden Kusen adalah putra kandung Arya Damar. Pada kesempatan itu Raden Patah ditanya tentang kesediaannya menerima jabatan dari sang ayah.

Berkata Arya Damar, “Duhai anakku. Sekarang engkau sudah dewasa. Gantikan aku sebagai penguasa negeri Palembang. Adikmu Kusen jadikan sebagai patihmu. Tentu akan kuat negeri Palembang. Aku sudah tua dan ingin menghabiskan waktu sebagai begawan, mendoakan keselamatan negeri. Bila engkau masih ragu aku masih ikut menjaga selalu keselamatan negeri.”

Raden Patah lama terdiam tak mampu menjawab. Merasa belum mampu menggantikan kedudukan sang ayah. Masih kurang pengalaman dan kemampuan. Bila memaksakan diri menjadi raja di Palembang tentu akan menggelikan. Maka dengan berterus terang Raden Patah menyatakan belum bersedia menggantikan sang ayah. Karena masih ingin mempelajari segala hal tentang pemerintahan. Dia merasa khawatir bila nanti justru akan berbuat memalukan.

Arya Damar berkata, “Mudah bila sudah dijalani. Bagaimana watak dan kebijakan seorang raja, aku yang akan membimbing. Bagaimana cara menjadi raja dan membuat sejahtera negeri, bagaimana mengatur keuangan negara, bagaimana memperhatikan kebutuhan para kawula, bagaimana mencapai kemajuan, serta bagaimana menegakkan keadilan.”

Raden Patah berkata, “Kelak hanya akan mengulang pekerjaan bila hamba tak mampu melaksanakan. Menjadi raja mengatur para prajurit, dipercaya siang dan malam, sungguh banyak kerepotan. Kalau tidak mampu hanya akan menjadi celaan bagi sesama. Raja yang buta tanpa pengetahuan ibarat hanya tonggak yang diam diberi pakaian. Maka hamba belum bersedia menggantikan kedudukan paduka. Mohon maafkan putra paduka.”

Arya Damar tertegun mendengar keteguhan hati sang putra. Para punggawa membujuk agar Raden Patah bersedia menuruti permintaan sang ayah, sungguh akan baik yang ditemui. Semua punggawa sepakat satu kata akan mendukung dan tak akan mengingkari bila Raden Patah menjadi raja mereka.

Raden Patah hanya terdiam tak berkata-kata. Semua perkataan para punggawa tak satupun yang menarik hatinya. Ketika itu sang ibu Putri China Retna Subanci mendengar bahwa sang putra menolak menggantikan sang ayah. Dengan bergegas sang ibu turun ke balai pertemuan untuk menasihati sang putra.

“Duhai anakku, turutilah kehendak ayahandamu. Kalau engkau menolak, siapa lagi yang aku pandang selain dirimu. Aku dan ayahmu merasa sudah tua. Sepantasnya digantikan oleh yang muda. Maka anakku, terimalah jabatan ini, dan hiduplah mulia menguasai tanah Palembang,” bujuk ibu Retna Subanci kepada sang putra.

Raden Patah tak luluh oleh bujukan sang ibu. Apa yang sang ibu sampaikan tak menyentuh hatinya.

Arya Damar berkata, “Sudahlah Dinda, biarkah dulu putramu berpikir. Mungkin belum tergugah hatinya.”

Pertemuan hari itu bubar tanpa ada keputusan. Arya Damar sekalian istri masuk ke puri. Raden Patah kembali ke kediamannya. Sepanjang malam hatinya gundah gulana. Kalau saja masih tinggal di dalam puri pasti selalu datang bujuk rayu untuk menerima perintah sang ayah. Raden Patah memutuskan untuk pergi keluar dari puri Palembang. Dengan menilapkan sang adik Raden Kusen. Sang adik disuruh menghadap ayah dan ibu. Ketika sang adik tidak ada Raden Patah keluar secara diam-diam. Kepergiannya menyimpang jalan sehingga tak diketahui oleh seorang pun. Berjalan sendirian Raden Patah menuruti kemantapan hatinya, terus berjalan ke arah utara tanpa menoleh.

Sementara itu Raden Kusen sekembalinya dari menghadap sang ayah hatinya merasa tidak enak. Lalu masuk ke kediaman sang kakak. Raden Kusen tidak menemukan sang kakak, maka dia berpikir bahwa kakaknya telah pergi dari puri.

Raden Kusen tahu bahwa kepergian sang kakak akibat hendak disuruh menggantikan sang ayah sebagai raja Palembang. Setelah kepergian sang kakak pasti dirinya yang akan diberi perintah untuk menggantikan sang ayah. Sungguh tidak elok kalau dirinya menerima. Sedang sang kakak yang lebih tua merasa belum mampu, maka bagaimana dirinya akan menerima tanggung jawab itu. Sungguh tak pantas bila saudara muda hidup mulia sebagai raja, sedangkan sang kakak hidup terlunta-lunta di luar sana. Maka setelah menimbang-himbang Raden Kusen memutuskan menyusul sang kakak pergi dari istana Palembang.

Setelah berjalan beberapa lama Raden Kusen melihat ada seseorang berjalan sendirian di tempat sepi. Raden Kusen yakin itulah sang kakak yang dia cari. Raden Kusen menyeru, sang pejalan kaki menoleh. Raden Patah yang kaget melihat sang adik telah menyusulnya kemudian berhenti di bawah sebuah pohon. Setelah bertemu keduanya duduk berbincang.

Berkata Raden Patah, “Apakah engkau disuruh ayah untuk menyusulku?”

Raden Kusen menjawab, “Saya menyusul atas kehendak sendiri, karena tak bisa kakak tinggalkan sendirian. Sekarang saya ingin ikut ke manapun kakak pergi.”

Raden Patah memeluk sang adik sambil menangis, “Duh adikku, aku sangat berhutang kasih sayang kepadamu. Semoga rasa kasihmu bisa menjadi semangatku dalam berkelana. Sekarang engkau kembalilah segera. Hiduplah mulia menggantikan ayah sebagai raja Palembang. Aku mendukungmu, janganlah ragu-ragu. Jangan memikirkan kepergianku.”

Sang adik mencium kaki Raden Patah. Sambil tersedu sedan Raden Kusen berkata terbata-bata, “Duh kakanda, saya tidak bisa menjalani perintah paduka. Saya hanya ingin mengikuti ke manapan kanda pergi. Mati atau hidup saya tak mau ditinggal.”

Sang kakak berkata pelan, “Syukurlah kalau begitu dinda. Aku sekarang hendak pergi menuruti keinginan hati. Walau harus mengitari dunia jangan lagi kita berpisah.”

Kedua saudara kemudian melanjutkan perjalanan di malam gelap. Pagi harinya warga penghuni istana Palembang heboh. Mereka kehilangan dua putra raja yang meloloskan diri di malam buta. Segera mereka mengubres seisi istana, tetapi tak menemukan yang mereka cari. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan di seluruh istana, tak ada pagar yang retak, tetapi kedua raden hilang lenyap. Ayah dan ibu mereka sangat bersedih, sesaat tak mampu bicara sepatah kata pun. Sesaat kemudian Raden Arya Damar memerintahkan kepada para prajurit untuk mencari ke mana pun perginya kedua putra. Para prajurit berpencar ke empat arah, ke selatan, ke barat, ke timur dan ke utara. Namun para prajurit yang mencari pulang tanpa hasil. Jejaknya pun tak ada beritanya. Setelah berhari-hari pencarian tak kunjung mendapat titik terang adipati Palembang Arya Damar pasrah atas takdir yang menimpanya.

Sementara itu kedua kakak beradik dari Palembang telah sampai di pesisir utara. Di tepi pantai mereka terlihat ragu-ragu melihat luasnya lautan. Tak berapa lama dari arah barat datang seorang pejalan kaki yang tampan dan masih muda berjalan sendirian. Kedua raden lalu mendekati si pejalan kaki dan berkenalan. Mereka kemudian duduk berbincang.

Radèn Patah bertanya, “Wahai saudara, maafkan jika kami lancang bertanya. Siapakah Anda, dari mana dan hendak ke mana?”

Pemuda yang baru datang menjawab, “Saya dari Malaka. Nama saya Syekh Sabil, putra dari Khalifah Kusen, putra dari Syekh Ishaq. Mereka semua sudah pernah ke Jawa. Adapun ibu saya adalah putri Arya Baribin dari Madura. Tujuan saya berkelana adalah hendak mengabdi kepada Prabu Brawijaya raja Majapahit. Sekalian belajar tatakrama dan menengok saudara yang berada di Jawa. Sebaliknya Anda berdua siapa namanya dan hendak ke mana?”

Raden Patah mengenalkan diri dan menceritakan tujuannya berkelana. Syekh Sabil ketika mendengar merasa suka hati. Terlihat olehnya bahwa kedua raden tampak ingin bergabung dengannya. Raden Kusen lalu berkata kepada sang kakak agar ikut saja ke tanah Jawa untuk mengabdi kepada raja Majapahit. Raden Patah menyetujui. Ketiga orang besar itu sepakat untuk bersama-sama pergi ke tanah Jawa.

Ketiga pemuda tersebut kemudian mencari nakoda yang berlayar ke Jawa untuk ikut menumpang. Di tepi pantai mereka menunggu kapal lewat. Namun sampai beberapa lama tak kunjung ada kapal yang bersandar. Sambil menunggu mereka berenang di muara. Tiba-tiba ada dua orang mendekati mereka, namanya Supali dan Supala. Dua orang tadi pekerjaannya menjadi begal. Mereka sangat berani dan sakti. Pernah keduanya melawan orang yang jumlahnya satu banding seratus. Selain menjadi begal keduanya juga sering berjudi, sampai-sampai pernah mempertaruhkan sampai habis harta, rumah dan istrinya. Kedua orang tadi bermaksud merampok ketiga pemuda tadi.

Raden Patah bersiap melawan kedua begal. Raden Kusen dan Syekh Sabil disuruh minggir dulu. Kedua begal menerjang, Raden Patah. Raden Patah berhasil menghindar dan membuat kedua begal terjerembab. Mereka kemudian bangun dan menarik keris. Berkali-kali mereka menusuk Raden Patah, tetapi tak satupun yang mengenai. Seperti hanya menusuk bayangan saja. Lalu keris mereka terlepas dan badannya terjatuh lemas. Mereka mengaduh memohon ampun. Raden Patih mengheningkan cipta. Seketika datang angin ribut yang menerbangkan kedua begal tersebut ke rumahnya masing-masing.

Raden Patah memanggil sang adik. Raden Kusen tergopoh-gopoh mendekat bersama Syekh Sabil. Keduanya menangis terharu, tak mengira akan selamat.

Raden Patah berkata, “Karena kasih sayang Tuhan kita masih dijaga.”

Ketiganya mengucap syukur telah diberi keselamatan. Setelah beristirahat secukupnya ketiganya meneruskan perjalanan. Sambil menunggu kedatangan kapal mereka berhenti di atas bukit Rasamuka. Di atas bukit mereka bermujahadah, membersihkan hati, memohon agar keinginan mereka dikabulkan Tuhan.

Tiga bulan kemudian permohonan mereka mendapat tanggapan. Ada seorang nakoda yang melakukan pelayaran dari Bangkahulu hendak menuju ke tanah Jawa. Sesampai di pesisir Palembang kapal mereka mendapat musibah, kapal tak dapat bergerak. Sang nakoda memeras akal untuk mengatasi keadaan macetnya kapal. Dia kemudian melihat di bukit Rasamuka ada tiga orang yang bertapa di situ. Nakoda berpikir barangkali mereka dapat membantu. Siapa tahu mereka adalah pendeta besar yang dapat mangatasi macetnya si kapal. Si nakoda kemudian menemui tiga orang tersebut dan sungkem dengan merendahkan diri. Seketika kapal bergerak dan berhenti di dekat bukit. Si nakoda sangat bersukahati.

Berkata si nakoda, “Duhai anak muda yang sedang bertapa, bila berkenan mengambil sesuatu dari kapal, emas atau perhiasan saya persilakan.”

Ketiga orang besar itu menjawab, “Wahai saudara, keinginanmu untuk berderma sangat aku hargai. Namun jangan kecewa, simpanlah untukmu sendiri semua harta benda itu karena kami tidak inginkan. Kami hanya ingin numpang kapalmu, sampaikan ke tanah Jawa.”

Nakoda sangat gembira mendengar permintaan ketiga orang besar itu. Dengan senang hati nakoda bersedia mengantar ketiganya ke pulau Jawa. Ketiganya lalu naik sekoci dan tak lama kemudian berlayar dengan kapal. Perjalanan mereka lancar karena mendapat angin kencang. Tak lama mereka telah sampai di pelabuhan Surabaya. Kapal membuang jangkar, tiga pembesar dari Palembang segera turun. Si nakoda mendoakan keselamatan ketiganya, lalu kembali berlayar.

Ketiga pembesar dari Palembang kemudian sampai di pesantren Sunan Ampeldenta. Mereka terkesan dengan suasana yang asri, santri-santri ramai melantunkan dzikir, tilawah, shalawat dan syairan. Hati Raden Patah terpesona sehingga timbul keinginan untuk berguru kepada yang empunya pesantren. Raden Patah bermaksud mengurungkan niat semula mengabdi ke Majapahit. Namun sang adik tampak kurang suka. Dan juga teman mereka Syekh Sabil bersikeras mengabdi kepada raja Majapahit. Ketiganya lalu memutuskan untuk berpisah jalan. Raden Patah hendak berguru di Ampeldenta, sedangkan sang adik dan Syekh Sabil meneruskan perjalanan menuju Majapahit.

Raden Patah lalu masuk ke pondok dan menemui lurah santri yang bernama Alim Abdullah. Setelah saling mengucap salam Raden Patah ditanya asal dan tujuannya. Raden Patah mengatakan apa adanya bahwa dirinya berasal dari Palembang, putra Arya Damar dan menyatakan ingin mengabdi kepada Susuhunan Katib di Ampeldenta. Alim Abdullah segera melapor kepada Kangjeng Sunan Ampel bahwa ada seorang pemuda hendak mengabdi. Asalnya dari Palembang, namanya Raden Patah, putra Adipati Arya Damar.

Sunan Ampel merasa suka hati. Teringat bahwa dulu pernah singgah di kediaman Arya Damar dan memberi nama seorang anaknya yang baru lahir dengan nama yang sama dengan yang dikatakan Alim Abdullah. Kangjeng Sunan menyuruh Alim Abdullah segera membawa Raden Patah menghadap. Yang disuruh segera melaksanakan perintah. Tak lama kemudian Alim Abdullah kembali dengan membawa Raden Patah.

Raden Patah mendekat dan mencium kaki Kangjeng Sunan, lalu mereka duduk nyaman. Dupa wangi disulut untuk menyambut kedatangan sang tamu. Baunya semerbak membangkitkan kesan hening. Kangjeng Sunan Ampel merasa terkesan melihat Raden Patah. Wajahnya tampan dan tenang. Raden pun terlihat segan melihat Sunan Ampel yang berwibawa dan mengesankan.

Kangjeng Sunan menanyakan kabar ayah Raden Patah di Palembang. Raden Patah menjawab bahwa sang ayah selamat sejahtera di Palembang.

Berkata lagi Kangjeng Sunan, “Kedatanganmu di Ampeldenta apa disuruh ayahmu, mengapa engkau datang sendirian tanpa teman?”

Yang ditanya menjawab, “Hamba datang atas keinginan sendiri.”

Raden Patah lalu menceritakan awal mula dirinya lolos dari negeri Palembang serta perjalanannya hingga sampai di Ampeldenta. Juga keinginannya untuk mengabdi di pesantren Ampeldenta. Kangjeng Sunan heran mendengar keinginan Raden Patah tersebut.

Berkata Kangjeng Sunan, “Apakah pantas engkau hidup bersama santri miskin. Pengetahuan mereka dangkal, jauh dari hidup enak, mereka hanya gembira di hari Jum’at karena mendapat sedekah. Beda dengan mengabdi di kerajaan menjadi perwira. Bergaul bersama orang yang bertatakrama dan hidup berkecukupan.”

Raden Patah berkata, “Yang demikian itu sudah saya niatkan, karena dorongan hati untuk tekun beribadah mengikuti jalan para nabi. Walau hanya sekedar ikut-ikutan, bila diperkenankan, ingin hidup menurut cara santri.

Kangjeng Sunan Ampel berkata, “Kalau demikian syukurlah. Bila mau belajar hidup susah dalam derita, barangkali akan menjadi jalan kelak engkau mendapat kemuliaan. Mengharap kehidupan yang beruntung itu tidaklah keliru. Keinginanmu aku izinkan. Jadikan ini sebagai jalan mulia yang diridhoi Tuhan. Aku ikut membimbing langkahmu.”

Raden Patah merasa tenteram hatinya. Semakin besar rasa hormatnya kepada Kangjeng Sunan. Seketika maju dan mencium kaki Sunan Ampel.

Raden Patah berkata, “Duh paduka guru agung, hamba sekedar menjalani seberapa yang diizinkan hamba peroleh dari anugerah besar ini.”

Kangjeng Sunan berkta, “Bersungguh-sungguhlah, jangan terlena dan mengabaikan dalam menuntut pengetahuan agama.”

Raden Patah berkeras menempuh jalan agama mulia, Kangjeng Sunan sangat bersukacita. Siang malam Raden Patah diberi pengajaran dan bimbingan. Tak boleh jauh dari Sunan, sudah dianggap seperti putra sendiri. Hari-hari Raden Patah di Ampeldenta dilalui seperti di rumah sendiri.


[1] Raden Patah adalah putra Arya Damar yang dulu dikunjungi oleh tiga pangeran Cempa. Meski lahir di Palembang sebenarnya Raden Patah bukan putra Arya Damar. Ibu Raden Patah Putri Cina Dyah Subanci sebelumnya adalah istri raja Majapahit dan diberikan sebagai putri triman kepada Arya Damar sudah dalam keadaan mengandung. Setelah kelahiran Raden Patah Putri Cina kembali mengandung dari hasil perkawinannya dengan Arya Damar dan melahirkan seorang putra  bernama Raden Kusen.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/06/09/serat-walisana-6-raden-patah-dari-palembang-mengabdi-kepada-kangjeng-sunan-ampel/

Serat Walisana (5) :

 Negeri Semarang diserang pasukan Pengging

Alkisah ada seorang paman Sunan Ampel yang bernama Syekh Suba Bangip, juga sesama keturunan Rasulullah. Ketika itu Syekh Suba sudah mendarat di Jawa dan mendatangi Ampeldenta. Sunan Ampel kemudian menunjuknya sebagai imam di tanah pedalaman, tepatnya di Ponorogo dan sekitarnya. Semua sudah berjalan baik tanpa ada halangan apapun.

Sementara itu, imam di Semarang mendapat serangan dari negeri Pengging. Sebab serangan itu karena mereka berdakwah melintasi negeri Pengging sehingga banyak penduduk Pengging yang masuk Islam. Prabu Andayaningrat di Pengging kemudian mengerahkan pasukan menggempur Semarang. Panglima yang memimpin pasukan Pengging adalah Raden Jaka Sinumbaran, Arya Dewata dan Arya Tala. Ketiganya merupakan panglima yang berani dan tangguh. Dengan pasukan bersenjata lengkap sejumlah sepuluh ribu mereka mendatangi Semarang.

Imam Semarang Maulana Waliul Islam beserta para putra bersiap menghadapi serangan dari Pengging. Pasukan Semarang dipimpin Syekh Suta Maharaja, kakak dari Adipati Semarang. Ikut mendampingi sang panglima perang para putra Semarang Syekh Kalkum, Syekh Jatiswara dan para sanak saudara. Terjadi pertempuran sengit antara pasukan Semarang dan pasukan Pengging. Orang pengging mengamuk seperti macam, tak kenal takut dan mati. Tak hendak mundur dari medang perang, sepak terjangnya mengerikan tak takut kepada marabahaya. Banyak prajurit Pengging yang tewas termasuk tiga panglima perangnya. Prajurit yang tewas tak terhitung. Sisa-sisa pasukan yang masih hidup kembali ke Pengging dan melapor kepada Sri Andayaningrat bahwa pasukan Pengging dipukul mundur pasukan Semarang.

Sri Andayaningrat ketika mendengar panglima perangnya tewas seketika bangkit kemarahannya. Dasar raja pemberani, tak perlu menunggu lama segera mengerahkan pasukan. Pasukan dari Pengging bergerak bergerombol, seperti gelombang samudera tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui.

Sesampai di Semarang Sang Raja Andayaningrat segera mengamuk seperti banteng terluka. Pasukan Semarang gugup mendapat serangan dahsyat sehingga tercerai berai. Pasukan Semarang terdesak, Sang Syekh Waliul Islam gugur di medang perang oleh serangan balasan musuh.

Syekh Suta Maharaja ketika mendengar sang adik gugur segera mengamuk membabi buta. Pasukan Pengging terdesak sehingga hancur berlarian. Akan tetapi karena kalah jumlah Syekh Suta Maharaja terpaksa mundur. Beserta pasukannya lalu mengungsi ke Demak. Sampai di Demak Syekh Suta Maharaja kecapaian dan meninggal dunia di situ.

Sementara itu para putra Semarang sepeninggal sang ayah dan sang uwak bubar tak karuan. Syekh Kalkum kemudian menetap di Benggala. Syekh Jatiswara kemudian melarikan diri di kaki gunung Merbabu dan menetap di situ. Adapun Syekh Abdurahman bingung mencari kedua saudaranya, lalu kembali ke Atas Angin, tempatnya yang lama. Negeri Semarang telah takluk oleh pasukan Pengging. Sang Raja Andayaningrat lega hatinya, lalu kembali ke Pengging.

Sementara itu seorang putri Syekh Waliul Islam yang bernama Siti Umi Kamsun berlari mengungsi bersama putri Syekh Suta Maharaja yang bernama Siti Zainab. Mereka berdua sangat menderita di dalam pelarian. Ke arah barat mereka nekat menerabas hutan, menuruni jurang, mendaki perbukitan dan merambah rawa-rawa. Setelah berhari-hari mengarungi penderitaan sampailah mereka di Cirebon. Di Cirebon mereka menuju ke tempat saudara tua mereka Kangjeng Sunan Gunung Jati.

Kedatangan dua putri dari Semarang membuat sang kakak kaget. Apalagi dibarengi kabar duka atas gugurnya sang paman Syekh Waliul Islam dan Syekh Suta Maharaja. Sebagai saudara sepupu yang lebih tua Sunan Gunung Jati merasa berkewajiban bertanggung jawab. Dua putri Semarang kemudian menceritakan apa yang terjadi di Semarang sampai dengan gugurnya kedua ayah mereka.

Sunan Gunung Jati menghibur kedua putri sang paman. Semua sudah menjadi kehendak dari Allah SWT. Lebih baik berserah diri kepada segala ketetapanNya. Barangkali kelak akan menjadi sebab mencapai kemuliaan dalam hidup. Lama-lama kedua putri Semarang dapat menerima ketatapan Allah yang terjadi atas mereka. Kedua putri untuk sementara tinggal di Cirebon dan larut dalam ibadah kepada Allah.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/04/07/serat-walisana-5-negeri-semarang-diserang-pasukan-pengging/

Serat Walisana (4):

 Riwayat Raden Satmata

Alkisah ada dua orang maulana bersaudara kelahiran tanah Arab. Yang tua bernama Maulana Maghribi, seorang ahli bertapa yang keras pertapaannya. Adapun yang muda bernama Maulana Garibi. Kedua maulana tersebut adalah putra Syekh Maulana Ishaq. Terhitung sebagai adik dari Khalifah Kusen. Kedua kakak-beradik tersebut mendengar berita bahwa kakak-kakak mereka telah berada di Jawa. Mereka sepakat untuk menyusul dan membantu para kakak. Dengan menumpang kapal yang berlayar ke Jawa mereka berangkat segera. Tempat yang mereka tuju pertama kali adalah Ampeldenta.

Kangjeng Sunan Ampel menerima kedua saudaranya tersebut dengan tangan terbuka. Beberapa lama kedua bersaudara tersebut menetap di Ampeldenta. Kangjeng Sunan Ampel kemudian mencarikan jodoh untuk kedua maulana muda tersebut. Maulana Maghribi dijodohkan dengan putri Arya Teja di Tuban yang bernama Retna Marakis. Adapun Maulana Garibi dijodohkan dengan anak Gajah Maudara yang bernama Ni Ken Sudara. Kedua pasangan pengantin menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan saling cinta kasih, tanpa suatu halangan apapun. Setelah keduanya berumah tangga, Kangjeng Sunan menempatkan mereka sebagai imam di wilayah Banten.

Di Banten banyak orang berhasil mereka bimbing memeluk Islam. Berbondong-bondong penduduk Banten tergerak hatinya untuk mengikuti agama Nabi. Namun Maulana Maghribi merasa tidak kerasan tinggal di Banten. Dia kemudian pergi meninggalkan Banten dan menetap di negeri Cempa. Adapun sang adik Maulana Garibi tetap lestari tinggal di Banten.

Ada seorang lagi maulana yang datang ke Jawa,  namanya Sayid Zen. Dia adalah putra dari Sayid Es. Sayid Zen mendengar berita bahwa sang ayah telah diambil putra oleh seorang raja di tanah Jawa dan diangkat menjadi imam agung di Demak. Namanya kini dikenal dengan nama Syekh Suta Maharaja. Belum jelas benar berita tersebut, maka Sayid Zen bermaksud membuktikan ke tanah Jawa. Tempat yang pertama dituju adalah Ampeldenta. Oleh Kangjeng Sunan Ampel kedatangan Sayid Zen disambut dengan baik. Setelah beberapa lama kemudian Sayid Zen ditempatkan sebagai imam di Cirebon, Brebes, Pajajaran dan Karawang sekaligus.

Sayid Zen tidak menolak saran Sunan Ampel, lalu segera melaksanakan tugas sebagai imam. Sayid Zen  kemudian menetap di sebuah tempat bernama gunung Jati. Tak perlu waktu lama Sayid Zen berhasil mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di kawasan tersebut. Maka oleh penduduk sekitar kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Sementara itu imam di wilayah Semarang dan sekitarnya, Sang Syekh Waliul Islam telah menikahkan putra-putranya. Putra tertua kemudian ditugaskan menjadi imam di Pekalongan, namanya Syekh Kalkum. Adiknya diperintahkan menjadi imam di Kendal, namanya Syekh Abdullah. Lalu ada lagi seorang putra bernama Syekh Abdurahman, ditempatkan sebagai imam di Kaliwungu.

 Ada lagi seorang dari tanah Arab yang masih saudara sepupu dengan Maulana Maghribi, namanya Syekh Jamhur Alim. Ketika itu dia datang ke tanah Jawa, yang dituju  adalah Ampeldenta. Oleh Sunan Ampel dia diterima dengan baik dan dinikahkan dengan putri adipati Pajarakan yang bernama Rara Sampursari. Oleh Sunan Ampel kemudian ditugaskan menjadi imam di Pajarakan. Berkat pengajaran Syekh Jamhur penduduk Pajarakan banyak yang memeluk agama Islam. Beberapa waktu kemudian Syekh Jamhur menikah lagi dengan seorang wanita dari Kebon Candi.

Ganti cerita, janda Nyai Samboja di Gresik yang dulu merawat anak angkatnya Raden Satmata sekarang sudah meninggal dunia. Karena tidak mempunyai putra semua harta miliknya diwarisi Raden Satmata. Karena Raden Satmata belum cukup umur pengelolaan harta dilakukan oleh keluarga Juragan Samboja. Mereka dengan amanah menunaikan tugas. Dalam merawat Raden Satmata mereka tak kurang memberikan kasih sayang, tak beda dengan yang dilakukan Juragan Samboja ketika hidupnya dulu.

Pada suatu hari Raden Satmata sedang berjalan-jalan sendirian tanpa pengiring di tepi pantai sambil melihat-lihat kapal yang bersandar. Ada sebuah kapal milik seorang nakoda yang sedang berdagang, berlayar dari tanah lain negeri hendak pulang ke Benang. Mereka sedang mampir di pelabuhan Tandes, sebuah pelabuhan di wilayah Gresik. Ki Juragan kapal melihat ada seorang pemuda tanpan yang berjalan sendirian di pantai. Ki Juragan mendekatinya dan bertanya anak siapakah dia, mengapa berjalan sendirian tanpa teman, terlihat seperti sedang bersedih.

Raden Satmata menjawab bahwa dirinya tak lagi punya bapak ibu. Ki Juragan merasa kasihan, dan karena sudah terkesan oleh penampilan si bocah, seketika ditanya bagaimana kalau diangkat putra. Maksud hati Ki Juragan ingin berbuat kebaikan dengan menolong anak yatim. Siapa tahu menjadi jalan kemuliaan bagi hidupnya kelak. Raden Satmata ketika mendengar pertanyaan Ki Juragan tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan. Dengan segera Ki Juragan menaikkannya ke kapal dan membawanya pulang ke Benang.

Pada suatu malam ketika Raden Satmata sedang tidur di dalam sebuah ruang terlihat ruang itu bercahaya. Ki Juragan ketika melihat sangat heran. Dirinya menduga bahwa si pemuda tadi mempunyai darah orang mulia. Hal itu membuat Ki Juragan semakin mengasihi putra angkatnya itu. Di siang malam Ki Juragan lalu mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan. Tidak lama kemudian Ki Juragan jatuh sakit dan menjemput ajal. Kematian Kio Juragan mendapat anugerah husnul khatimah karena kesabaran dan kerelaannya ketika berada di dunia. Karena tak punya anak semua harta miliknya diserahkan kepada Raden Satmata. Karena Raden Satmata sudah menjelang dewasa maka kemudian belajar mengelola harta tersebut dengan melakukan perdagangan. Mula-mula belajar dagang dengan menjual rotan dan sejenisnya. Tempat yang pertama dituju adalah Bali. Dengan naik kapal Raden Satmata membawa dagangannya berlayar ke Bali.

Di Bali Raden Satmana menurunkan dagangannya. Tak berapa lama daganganya laris manis. Tiga kapal rotan dan sejenisnya telah habis. Untung besar dia dapatkan. Uang emas sebanyak satu perahu penuh membuatnya tertegun, tak mengira akan mendapat anugerah yang begitu banyak. Namun cobaan segera datang, banyak peminta-minta berdatangan. Para fakir miskin mengalir seperti air meminta tolong. Dasar memang watak Raden Satmata yang murah hati dan suka menolong, semua yang datang diberi bantuan.

Raden Satmata berkata, “Wahai saudaraku semua. Jangan saling berebut dalam menerima anugerah Tuhan. Aku hanyalah sekedar menjadi lantaran datangnya rezeki yang kalian terima. Engkau sendirilah yang mendapatkan keberuntungan. Karena semua ini adalah milik Tuhan. Hanya saja kita harus bisa menjaga diri dengan berusaha di alam dunia, mencari pekerjaan apapun sebagai sarana mencari rezeki. Bekerja itulah perbuatan utama, sama mulianya dengan beribadah. Asalkan jujur tidak menipu. Allah sungguh Maha Pemurah dan selalu menjaga para hambaNya.”

Setelah mereka diberi nasihat lalu diberi modal untuk berdagang. Para fakir miskin keheranan dengan kedermawanan Raden Satmata. Semua merasa sangat berterima kasih dan mendoakan Raden Satmata.

Ada seseorang yang berdoa, “Duh Allah Yang Maha Besar, kelak berikan kemuliaan bagi anak muda ini.”

Ada lagi yang berkata, “Orang yang bisa memberi jalan terang pasti kelak akan mendapat ilmu yang sempurna, menjadi penerang bagi sesama.”

Ada pula yang berkata, “Orang yang penuh kasih juga akan kelimpahan kasih sayang dari sesama. Semoga tercapai apa yang diinginkan. Semoga hidup selamat sejahteta menjadi pengayoman bagi orang lain.”

Raden Satmata mengamini doa para fakir miskin dan kemudian ganti mendoakan kebaikan untuk mereka. Orang yang datang semakin banyak dan semua yang meminta tak ditolak. Uang satu perahu akhirnya habis tak bersisa. Raden Satmata kemudian berniat pulang.

Tukang perahu berkata, “Duhai Raden, bagaimana kehendak Anda dalam berdagang? Orang berdagang pasti mengharapkan laba, tetapi yang kita dapatkan telah habis tanpa bekas. Uang tiada kita tinggal ngemut jempol. Perahu ini hanya mondar-mandir tanpa hasil. Sudah bersusah payah mengitari dunia, sengsara tanpa hasil.”

Raden Satmata menjawab, “Hai saudara, terimalah saja. Ini cobaan dari Allah SWT. Allah bersifat muridan, maha berkehendak. Juga bersifat sama dan bashar, Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Juru kapal berkata, “Benar, tetapi kalau belum paham terlihat seperti sebuah kesombongan.”

Raden Satmata berkata lagi, “Wahai juru kapal, ayo kita buktikan tanda bahwa Tuhan Maha Melihat. Sekarang carilah apa saja yang terlihat, pasti akan menjadi sebab.”

Maka mereka berdua mencari bebatuan di pinggir samudera, seketika batu itu menjadi emas dan permata. Juru kapal tak mampu berkata-kata, hanya terdiam menunduk karena sangat heran. Sekarang dia menurut sekehendak Raden Satmata karena sudah mendapat bukti yang nyata.

Raden Satmata berkata, “Kalau engkau sudah menurut apa kehendakku sekarang aku hendak mencari muatan supaya kapal kita tidak kosong. Ayo carilah batu, kerikil dan daun-daun ikatlah lalu naikkan ke kapal. Agar kapal terlihat berisi. Si Juru kapal tidak menolak, entah keanehan apa yang akan terjadi nanti. Apakah kelak ketika sampai di rumah tidak menjadi bahan tertawaan. Berangkat dagang membawa rotan, lalu pulang membawa sampah.

Setelah kapal penuh dengan kerikil dan sampah daun, Raden Satmata berkata, “Jangan tanggung, kapal yang lain isilah sekalian.”

Raden Satmata menyuruh kapal yang lain diisi dengan pasir.

Ki Juru kapal berkata, “Banyak-banyak untuk apa? Membuat capek badan saja. Apakah akan dipakai urug?”

Raden Satmata berkata, “Watak orang mau kesulitan akan menemui kenyamanan pada akhirnya.”

Ki Juru kapal segera melaksanakan perintah, karena karamah Raden Satmata dia tidak merasa kecapaian. Sementara itu para bawahan Ki Juru kapal semua tidak mau melakukan. Hanya ada seorang saja yang patuh, namanya Barussyamsu. Karena dia sudah melihat kesaktian Raden Satmata maka segala perintahnya dilakukan.

Setelah kapal penuh mereka segera berlayar kembali ke Benang. Perjalanan mereka lancar dan tak lama sudah sampai di Benang. Ki Juru kapal mendahului turun. Barussyamsu masih tertidur di atas kapal. Ketika bangun dia kaget karena kapal penuh dengan barang dagangan. Pasir yang berada di atas kapal telah menjadi beras putih. Kerikil-kerikil menjadi butiran kopi. Ikatan daun-daun telah menjadi kain halus beraneka motof, ada motif bajulngosek, beraswutah, puspalembong, cindelimar dan palangi. Adapun satu kapal yang berisi bebatuan telah menjadi emas batangan, sedang batu-batu yang kecil telah menjadi batu akik mirah nila widuri. Barussyamsu yang baru bangung hanya bisa tergetun melihatnya.

Berkata Raden Satmata, “Barussyamsu, itulah balasan dari Tuhan atas perbuatan baik kita. Ayo lihatlah semuanya.”

Barussyamsu buru-buru menghambur mencium kaki Raden Satmata. Sangat takut dan hormat kepada anak muda yang mulia itu. Dalam hati berpikir pasit kelak si anak muda ini akan menjadi waliyullah, guru yang menjadi panutan sesama.

Sementara itu Ki Juru kapal yang telah turun duluan bertemu dengan para keluarga awak kapal semua. Dia mengabarkan bahwa Raden Satmata sudah pulang dari berlayar tanpa membawa apa-apa. Hasil berdagang rotan dahulu telah menjadi uang semuanya, tetapi oleh Raden telah diberikan kepada fakir miskin. Raden Satmata selalu berbagi uang kepada yang datang sehingga uang satu kapal habis tak bersisa. Sekarang untuk menyamarkan agar tidak terlihat kosong, kapal diisi dengan pasir dan sampah. Sungguh juragan seperti Raden Satmata tidak patut diikuti oleh orang banyak. Mereka yang mendengar tak percaya lalu ingin membuktikan sendiri ke pelabuhan. Mereka langsung masuk ke kapal untuk melihat. Namun si Juru kapal kaget bukan kepalang melihat kapal telah berisi harta benda yang sangat mahal. Orang-orang lalu sungkem kepada Raden Satmata karena merasa bahwa Raden Satmata pastilah orang yang punya kelebihan.

Raden Satmata berkata, “Sekarang aku hendak berlayar lagi. Jangan diberitakan peristiwa ini. Sekarang aku bagi kalian barang-barang ini. Kalian sekedar menerima saja apa yang aku bagi. Semua kain halus dan permata serta emas menjadi milik Barussyamsu, karena hanya dialah yang telah bersusah payah memuat ke kapal. Adapun barang selain itu seperti kopi dan beras bagilah merata di antara kalian.”

Semua orang telah menerima bagian masing-masing. Mereka sangat berterima kasih atas kebaikan Raden Satmata. Setelah semua selesai Raden Satmata minta pamit akan berkelana. Semua orang berusaha mencegah kepergian Raden Satmata.

Berkata Raden Satmata, “Jangan khawatir, sungguh aku kelak akan kembali ke Benang.”

Baru setelah itu semua orang merelakan kepergian Raden Satmata. Adapun Barussyamsu setelah kaya raya kemudian menjadi nakoda. Semua orang ikut bekerja padanya. Hidupnya kemudian sejahtera tak kurang satu apapun.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/04/06/serat-walisana-4-riwayat-raden-satmata/

Serat Walisana (3) :

 Syekh Maulana Ishaq dan upaya Islamisasi pulau Madura

Alkisah saudara ipar Syekh Maulana Ibarahim yang bernama Syekh Maulana Ishaq. Beliau adalah keturunan Kangjeng Sayid Jungaib di tanah Arab, keluarga mulia keturunan Kangjeng Rasul. Syekh Maulana Ishaq sudah mempunyai dua putra bernama Sayid Es dan Sayid Yakub.

Ketika itu kedua putra Sayid Maulama Ishaq ingin berkelana ke tanah Jawa. Keinginannya begitu kuat karena mendengar saudara sepupu mereka diterima dengan baik di tanah Jawa. Kedua bersaudara ingin juga mendapatkan pengalaman yang sama. Setelah keduanya mufakat lalu segera berangkat naik kapal. Singkat cerita mereka berdua telah sampai di tanah Jawa. Namun keduanya tidak sepakat mengenai tempat mendarat. Saudara tua ingin mendarat di Majapahit, adapun saudara muda ingin pergi ke negeri Blambangan.

Karena tak tercapai kata sepakat keduanya bersimpang jalan. Sayid Es lalu mendatangi Majapahit dan mengabdi kepada Prabu Brawijaya. Sang Prabu sangat mengasihi dan mempercayainya, lalu mengambilnya sebagai putra dengan diberi nama Raden Suta Maharaja. Akan tetapi lama-lama Raden Suta tidak kerasan berada di Majapahit. Raden Suta lalu berpamitan hendak bergabung dengan Raden Rahmat di Ampeldenta. Prabu Brawijaya mengizinkan Raden Suta pergi ke Ampeldenta. Sesampai di Ampeldenta Raden Suta diterima dengan baik karena Sunan Ampeldenta mendapat kunjungan orang yang seagama dan sebangsa. Atas saran dari Sunan Ampel sang kakak Raden Suta Maharaja ditempatkan sebagai imam di Demak. Di sana ada komunitas pemeluk Islam yang memerlukan bimbingan. Setelah menetap di Demak Raden Suta kemudian dikenal sebagai Syekh Suta Maharaja.

Sementara itu Sayid Yakub juga sudah sampai di Blambangan. Beliau mengambil tempat bermukim di pinggir muara, di desa Purwasaga. Di tempat itu Allah memberikan jalan bagi anugerah besar yang akan diterima.

Pada suatu hari Raja Blambangan Prabu Sadmudha sedang bersedih karena sakit yang diderita oleh putrinya yang bernama Retna Rara Sabodi. Sang Raja mendengar kalau di muara ada seorang pendatang yang ahli bertapa dan sudah dikenal mumpuni dalam segala ilmu. Sang Raja kemudian memanggil Sayid Yakub untuk menghadap dan mengobati sakitnya sang putri. Atas kehendak Allah Sayid Yakub berhasil menyembuhkan Retna Rara Sabodi yang cantik jelita. Sang Prabu Sadmudha sangat bersukacita. Putri cantiknya kemudian dinikahkan dengan Sayid Yakub. Keduanya mengarungi biduk rumah tangga dengan rukun tanpa halangan satu pun. Oleh sang mertua Sayid Yakub kemudian diberi nama baru Syekh Wali Lanang.

Beberapa saat setelah menikah putri Rara Sabodi mengandung. Syekh Wali Lanang sangat bersukacita. Sang mertua kemudian diajak untuk memeluk agama Islam. Kata Syekh Wali Lanang agama Rasulullah inilah yang akan menyelamatkan kelak di alam akhirat. Jika masih dalam kekafiran sungguh kelak akan kebingungan di alam baka.

Sang Prabu Sadmudha tidak berkenan menerima ajakan sang menantu. Bahkan ajakan itu dianggap sebagai mengatur Sang Raja. Seketika hilang rasa kasihnya kepada sang menantu. Sang Raja lalu mengusir Syekh Wali Lanang dari Blambangan. Tanpa rumah Syekh Wali Lanang kemudian pergi mengembara. Sang istri yang sedang mengandung tua ditinggalkan di Blambangan. Sang Retna Rara Sabodi sangat bersedih ditinggalkan suami, tetapi tak bisa berbuat banyak karena takut kepada sang ayah.

Sementara itu Syekh Wali Lanang kemudian sampai di Ampeldenta. Kangjeng Sunan Ampel sangat bersukahati mendapat kunjungan dari saudaranya lagi. Syekh disambut hangat  dengan segala penghormatan. Setelah beberapa saat kemudian oleh Sunan Ampeldenta Syekh Wali Lanang ditempatkan sebagai imam di Patukangan. Berkah bimbingan Syekh Wali Lanang kemudian Patukangan menjadi desa yang sejahtera.

Kembali ke Blambangan, sudah waktunya bagi Rara Sabodi melahirkan putra. Tak lama lahirlah seorang putra laki-laki yang tanpan. Allah menghendaki sang ibu tak bisa merawat si bayi. Si ibu wafat setelah melahirkan putranya. Sepeninggal putri Sang Raja Blambangan terkena pagebluk. Banyak orang menderita sakit parah. Ibarat pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati. Sang Raja sangat bersedih. Karena hati kalut tanpa petunjuk Sang Raja menduga bahwa pagebluk yang mendera negerinya karena tulah si bayi yang baru lahir. Timbul keinginan untuk melarung si bayi ke laut. Kalau si bayi masih di sini, pasti Blambangan akan hancur. Para punggawa mengamini kehendak Sang Raja. Segera si bayi dimasukkan ke dalam peti dan dilarung ke laut. Banyak orang yang melihat merasa iba, tetapi takut dengan Sang Raja Blambangan. Si bayi mungil yang tampan dan lucu itu pun mengarungi samudera, terombang-ambing dalam peti kecil di tengah lautan luas.

Sungguh takdir Yang Maha Kuasa tak dapat ditebak. Tidak lama di lautan ada kapal dagang yang sedang lewat di dekat peti si bayi. Kapal itu milik seorang juragan Samboja dari Gresik yang hendak berlayar ke Bali. Ki Juragan melihat ada peti terombang-ambing di tengah lautan. Tampak peti itu bersinar terang. Ki Juragan menyuruh awak kapal untuk mengambil peti itu.

Ketika sudah naik ke tas kapal peti segera dibuka. Ki Juragan kaget sampai meloncat ketika mengetahu isi peti adalah bayi mungil yang tampan. Mereka menduga pasti si bayi hasil dari hubungan terlarang kedua orang tuanya. Namun Ki Juragan tak keberatan bahkan sangat ingin mengambilnya sebagai anak. Ki Juragan bermaksud berbuat kebaikan bagi sesama. Barangkali kelak akan menjadi jalan mencapai kemuliaan.

Tak diceritakan perjalanan layar Ki Juragan. Sesampai di rumahnya di Tandes Ki Juragan sangat mengasihi sang putra angkat. Segala keperluan disiapkan, perawatan maupun asupan makanan. Karena Ki Juragan sebelumnya tidak mempunyai putra maka rasa kasihnya tumpah kepada sang putra angkat. Si bayi sungguh mendapat keberuntungan, atas kehendak Tuhan Yang Maha Benar.

Ketika menginjak usia remaja si bayi diberi nama oleh Ki Juragan Samboja dengan nama Raden Satmata. Tidak lama dari peristiwa itu Ki Juragan meninggal dunia. Raden Satmata kemudian hanya diasuh seorang diri oleh Nyi Juragan. Berkat limpahan kasih Nyai Juragan Raden Satmata tumbuh besar sebagai seorang pemuda yang tampan dan cakap. Banyak gadis-gadis kepincut ingin diperistri.

Bersamaan waktunya tetapi di lain tempat, adik dari Syekh Suta Maharaja yang menjadi imam di Demak dan adik dari Syekh Wali Lanang, sesama putra Maulana Ishaq yang bernama Syekh Waliul Islam masih berada di tanah Arab. Syekh Waliul Islam mendengar dari para pedagang bahwa kedua kakaknya telah menetap di tanah Jawa sebagai penganjur agama Islam. Telah banyak orang Jawa yang mengikuti ajarannya. Berita itu membuat Syekh Waliul Islam sangat ingin juga pergi ke tanah Jawa. Beliau ingin berkumpul dengan dua saudaranya tersebut. Dengan naik kapal layar Syekh Waliul Islam segera berangkat ke tanah Jawa.

Perjalanan Syekh Waliul Islam selamat dan lancar tanpa halangan di jalan. Sesampai di Jawa yang dituju adalah kediaman Sunan Ampeldenta. Sekali lagi Sunan Ampeldenta kedatangan sepupu, satu darah dengan sang ibu. Sang Sunan sangat menyambut kedatangan saudaranya tersebut. Setelah beberapa waktu menetap di Ampeldenta oleh Sunan Ampel Syekh Waliul Islam ditempatkan sebagai imam di Pasuruan. Tak lama kemudian Syekh Waliul Islam diambil menantu oleh Adipati Pasuruan, dijodohkan dengan putri sang adipati yang bernama Rara Satiri. Rumah tangga mereka berjalan harmonis tanpa kurang satu apapun. Setelah menikah kedua pengantin kemudian tinggal di Pandhanarang.

Berita Syekh Waliul Islam yang menikah dengan putri adipati Pasuruan didengar oleh Maha Prabu Brawijaya di Majapahit. Sang Maharaja sangat mendukung. Bahkan kemudian memberikan tanah Pandhanarang sebagai tanah perdikan dan menunjuk Syekh Waliul Islam sebagai imam dengan kedudukan setara adipati. Syekh Maulana Ishaq kemudian berangkat dengan ditemani salah satu putranya yang bernama Khalifah Kusen. Sesampai di Jawa Syekh Maulana Ishaq menuju tempat sang keponakan, Sunan Ampeldenta.

Sang Sunan sangat bersukacita menyambut kedatangan Syekh Maulana Ishaq. Dengan segala penghormatan Sunan Ampel menjamu dan melayani segala keperluan sang uwak. Beberapa saat kemudian sang uwak menanyakan di mana ketiga putra yang telah mendahului datang ke tanah Jawa. Sunan Ampeldenta mengatakan bahwa ketiga putra Syekh Maulana Ishaq telah ditempatkan sebagai imam di wilayah masing-masing. Mereka berada di Demak, Patukangan dan Pandhanarang.

Mendengar penuturan sang keponakan Syekh Maulana Ishaq sangat bersukacita. Syekh lalu minta petunjuk tempat yang baik untuk bermukim bagi dirinya. Kangjeng Sunan menyarankan agar Syekh Maulana Ishaq bermukim di Madura untuk mengajarkan agama Islam di sana. Madura saat itu berada di dalam pengusasaan Sri Lembupeteng. Kalau bisa agar diajak untuk memeluk agama Islam. Syekh Maulana Ishaq tidak menolak saran Sunan Ampeldenta. Bersama sang putra Sayid Kusen sang Syekh berangkat ke Madura.

Di Madura Syekh Maulana Ishaq mengabdi kepada Raja Madura Lembupeteng. Pengabdiannya diterima dengan baik. Raja Lembupetang sangat mempercayai keduanya. Bahkan kemudian diambil sebagai saudara pripeyan. Raja Lembupeteng menikahkan Syekh Maulana Ishaq dengan anak peninggalan sang mertua Arya Baribin.

Setelah beberapa lama mengajarkan agama Islam di tanah Madura Syekh Maulana Ishaq mengajak Lembupeteng untuk memeluk agama Islam. Namun Raja Lembupeteng masih mengukuhi kepercayaan lamanya. Raja Lembupeteng mengingat sebagai keturunan Brawijaya Majapahit, merasa malu jika berganti agama menuruti agama pendatang. Syekh Maulana Ishaq dan Sayid Kusen tak henti mengingatkan dengan menyampaikan berbagai kisah para nabi. Akan tetapi Lembupeteng belum terbuka hatinya. Bahkan segala nasihat membuatnya marah. Kedua bapak-anak itu diusir dari Madura.

Kegagalan Syekh Maulana Ishaq di Madura membuatnya merasa malu untuk kembali ke Ampeldenta. Syekh Maulana Ishaq kemudian menetap di Malaka. Di sana Syekh melakukan pertapaan dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Adapun Sayid Kusen setelah pergi dari Madura kembali Ke Ampeldenta untuk mengabarkan kegagalan mereka mengislamkan raja Madura. Sunan Ampeldenta menghiburnya dengan mengatakan bahwa belum datang masanya. Kalau sudah waktuna kelak, pasti tak diajak pun akan datang sendiri. Untuk sementara Sayid Kusen kemudian menetap di Ampeldenta.

Sementara itu di Madura, setelah kepergian dua sayid, Syekh Maulana Ishaq dan Khalifah Kusen, raja Madura Sri Lembupeteng mendengar tentang pendatang di Surabaya yang juga mengajarkan agama baru tersebut. Namanya Sunan Ampeldenta. Menurut berita yang diterima Lembupeteng pengikut Sunan Ampeldenta sudah banyak dan semakin mendesak agama sang ayah Prabu Brawijaya. Sayid dari Arab itu aktif mengajak orang Jawa untuk mengganti agama mereka dengan agama sang sayid. Banyak orang Surabaya telah berganti agama. Bahkan sudah membuat masjid sebagai sarana ibadah mereka. Berita ini membuat Sri Lembupeteng marah. Timbul keinginannya untuk mencoba kesaktian sang sunan. Dengan sendirian Sri Lembupeteng berangkat ke Surabaya.

Sesampai di Ampeldenta Sri Lembupeteng menyamar sebagai penjaga. Ketika itu telah datang waktu Isya’. Raja Madura itu mendekati tempat bersuci yang berupa kulah berisi air. Letaknya berada di dekat masjid. Dia bersembunyi di situ menunggu kedatangan Sunan Ampel. Ketika Kangjeng Sunan Ampel datang beliau pura-pura tidak melihat ada orang dekat tempat bersuci. Sri Lembupeteng segera menarik keris hendak menusuk Sunan Ampel. Namun karena karamah Kangjeng Sunan Sri Lembupeteng seketika jatuh pingsan lalu tercebur ke dalam kulah. Kangjeng Sunan kaget mendengar ada orang jatuh ke kulah. Beliau lalu menyuruh para sahabat untuk memeriksa. Yang disuruh segera melaksanakan. Sekali lagi timbul keanehan karena tubuh Sri Lembupeteng tak dapat ditarik dari air. Mereka baru berhasil menolong ketika Sunan Ampel sudah mengizinkan. Baru setelah itu tubuh dapat diselamatkan dari dalam air. Ketika sudah siuman Sri Lembupeteng disuruh melanjutkan kehendaknya. Sri Lembupeteng hanya tertunduk minta tobat.

Kangjeng Sunan Ampel berkata, “Bila tuan memang sudah bertobat apa tandanya?”

Sri Lembupeteng Madura kemudian menunduk mencium kaki Sang Sunan. Kangjeng Sunan sangat suka hatinya.

Sunan Ampel berkata, “Saya sudah mengetahui kesungguhan tobat tuan. Tetapi saya belum puas kalau tuan belum memeluk agama kami. Pertobatan tuan kurang ikhlas.”

Raja Madura berserah diri kepada kehendak Sunan Ampel. Kangjeng Sunan Ampeldenta kemudian mengambil syahadat Sri Lembupeteng. Raja Madura itu sekarang sudah memeluk Islam. Sudah menyandang iman yang suci, tobatnya sudah merasuk ke dalam hati. Bersiap sedia melaksanakan syariat agama Islam.

Pada suatu pagi hari Sunan Ampel berkata kepada Raja Madura agar sang Raja segera pulang ke Madura. Karena sudah memeluk Islam maka sebaiknya segera menyebarkan ajaran suci yang luhur. Raja Madura tak menolak. Sri Lembupeteng segera kembali ke Madura dengan diiringi Khalifah Kusen. Raja Madura Sri Lembupeteng pulang ke negerinya, sedangkan Khalifah Kusen melanjutkan perjalanan menuju Sumenep.

Di Sumenep Khalifah Kusen menemui raja Sumenep Sri Jaranpanolih. Khalifah Kusen menyampaikan surat dari Sunan Ampel. Surat segera diterima oleh Sri Jaranpanolih dan dibaca dengan seksama. Surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam itu diterima dengan baik. Sri Jaranpanolih tak keberatan memeluk agama Islam.

Khalifah Kusen melanjutkan perjalanan menuju wilayah lain di pulau Madura. Raja Sumenep menyambut sepenuhnya ajakan Kangjeng Sunan Ampel untuk memeluk agama Islam. Khalifah Kusen lalu menuju Balega. Penguasa Balega pun menyambut baik ajakan Kangjeng Sunan Ampel. Setelah semua wilayah Madura menyatakan memeluk Islam Khalifah Kusen kembali ke Madura. Sri Lembupeteng menyambut dengan baik dan Khalifah Kusen kemudian tinggal di Madura.

https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/04/05/serat-walisana-3-syekh-maulana-ishaq-dan-upaya-islamisasi-pulau-madura/

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...