Pada (bait) ke-158;160, Pupuh ke-9, Pucung, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Kang tinitah dadi anom aja masgul,
ing batin ngrasaa,
saking karsaning Hyang Widdhi.
Yen masgula ngowahi kodrating Suksma.
Nadyan bener yen wong anom dadi luput,
yen ta anganggoa,
ing pikirira pribadi.
Pramilane wong anom aja ugungan.
Yen dadi nom weruha ing enomipun,
kang ginawe tuwa,
dikaya banyu neng beji,
den awening paningale aja samar.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Yang terlahir sebagai muda jangan masygul,
dalam hati sadarilah,
(semua itu) kehendak Yang Maha Benar.
Kalau masygul seolah mengubah ketetapan Tuhan.
Walau benar kalau orang muda menjadi salah,
kalau memakai,
pikirannya sendiri.
Maka dari itu anak muda jangan manja.
Kalau menjadi orang muda ketahuilah posisi mudanya,
yang terlahir tua,
jadilah seperti air di kolam,
jernihkan pandangan jangan sampai kabur.
Kajian per kata:
Kang (yang) tinitah (terlahir) dadi (sebagai) anom (muda) aja (jangan) masgul (masygul), ing (dalam) batin (hati) ngrasaa (sadarilah), saking (dari) karsaning (kehendak) Hyang (Yang) Widdhi (Maha Benar). Yang terlahir sebagai muda jangan masygul, dalam hati sadarilah, (semua itu) kehendak Yang Maha Benar.
Yang terlahir sebagai orang muda jangan masygul kalau dinasihati para tetua. Dalam batin rasakan kebenarannya. Jika benar, itu adalah kehendak Yang Maha Agung.
Yen (kalau) masgula (masygul) ngowahi (mengubah) kodrating (ketetapan) Suksma (Tuhan). Kalau masygul seolah mengubah ketetapan Tuhan.
Jika diingatkan tentang kebenaran kok masygul, itu tanda telah mengubah ketetapan Tuhan. Sudah kodrat manusia mengikuti kebenaran, terlebih apabila disampaikan oleh para tetua dari keluarga sendiri. Itu termasuk cabang dari bakti kepada orang tua, bagian ini sudah kita kaji pada bait terdahulu.
Nadyan (walau) bener (benar) yen (kalau) wong (orang) anom (muda) dadi (menjadi) luput (salah), yen (kalau) ta anganggoa (memakai), ing pikirira (pikirannya) pribadi (sendiri). Walau benar kalau orang muda menjadi salah, kalau memakai, pikirannya sendiri.
Walau benar orang muda menjadi salah kalau mengikuti pikiran sendiri, tidak berdasar hukum dan aturan moral yang pasti. Bagi orang muda sikap terbaik adalah mengikuti sambil terus belajar. Kelak akan diketahui apakah nasihat para tetua itu perlu dipakai ataukah tidak. Walau begitu membantah perkataan tetua dengan tidak sopan bukanlah sikap yang baik.
Pramilane (maka dari itu) wong (orang) anom (muda) aja (jangan) ugungan (manja). Maka dari itu anak muda jangan manja.
Anak-anak muda jangan dibiasakan manja. Ugungan adalah sebutan untuk anak yang selalu diuruti kemauannya oleh orang tuanya. Anak ugungan kerap menjadi anak manja yang suka membantah orang tua. Sebaiknya jangan terlalu menuruti kemauan anak agar kelak tidak dapat bersikap baik kepada tetua.
Yen (kalau) dadi (menjadi) nom (orang muda) weruha (ketahuilah) ing enomipun (posisi mudanya), kang (yang) ginawe (terlahir) tuwa (tua), dikaya (jadilah seperti) banyu (air) neng (di) beji (kolam), den awening (jernihkan) paningale (pandangan) aja (jangan) samar (kabur). Kalau menjadi orang muda ketahuilah posisi mudanya, yang terlahir tua, jadilah seperti air di kolam, jernihkan pandangan jangan sampai kabur.
Inilah aturan baku yang membuat keharmonisan keluarga besar terjaga, bagi yang muda ketahuilah posisinya sebagai orang muda. Bagi orang tua mengasahlah akal budi, jernihkan hati supaya hati tidak saja seluas samudra, namun juga sebening air kolam yang ada mata airnya, jernih menyejukkan.
Dalam bait ini hati para tetua diharap seperti beji, memuat air yang sejuk dan bening. Jika Anda pernah tinggal di lereng gunung, ada banyak mata air yang membentuk kolam. Airnya dingin dan sejuk karena berasal dari dalam tanah, juga bening karena belum dikotori debu dunia. Seperti itulah perumpamaannya.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-158160-ing-papane-dhewe-dhewe/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar