Pada (bait) ke-123, Pupuh ke-8, Wirangrong, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Den gemi marang ing lathi,
aja ngakehke pepisoh,
cacah cucah srengen ngabul-abul.
Lamun andukani,
den dumeling dosanya,
mring abdi kang manggih duka.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Harap hemat dengan lidah,
jangan banyak mengumpat,
semena-mena, galak, mengungkit-ungkit.
Kalau memarahi,
agar jelas diingat kesalahannya,
oleh pesuruh yang kena marah.
Kajian per kata:
Den (harap) gemi (hemat) marang ing (dengan) lathi (bibir, lidah, alat untuk berkata), aja (jangan) ngakehke (banyak) pepisoh (mengumpat), cacah cucah (semena-mena) srengen (galak, keras) ngabul-abul (mengungkit-ungkit). Harap hemat dengan lidah, jangan banyak mengumpat, semena-mena, galak, mengungkit-ungkit.
Gemi adalah sifat pandai merawat sesuatu. Jika orang lain sudah membuang suatu barang tapi kita masih bisa memanfaatkannya, itulah gemi. Jika orang lain sudah merosokkan suatu barang tapi kita masih bisa memakai untuk yang lain, itulah gemi. Jika orang lain sudah mengganti suatu barang tapi kita masih mau memakainya, itulah gemi.
Gemi terhadap perkataan maksudnya jangan terlalu obral kata, jangan memakai lidah untuk berkata sembarang yang tidak berguna. Terlebih-lebih jangan memakai untuk berkata tak pantas, misuh adalah berkata kotor, cacah cucah artinya semena-mena terhadap orang, srengen artinya berkata keras dengan emosi tinggi, ngabul-abul artinya mengungkit-ungkit keburukan orang.
Lamun (kalau) andukani (memarahi), den (agar) dumeling (jelas diingat) dosanya (kesalahannya), mring (oleh) abdi (abdi) kang (yang) manggih (kena) duka (marah). Kalau memarahi, agar jelas diingat kesalahannya, oleh pesuruh yang kena marah.
Jikalau terpaksa harus memarahi orang, lakukan dengan cara yang berguna, efektif bagi perbaikan diri orang yang bersangkutan. Katakan apa salahnya agar selalu diingat, dumeling dosanya. Agar orang yang kita marahi menjadi ingat kesalahannya dan tidak mengulang lagi, bukan malah mengingat cara kita marah dan menjadi sakit hati.
Dumeling adalah terngiang-ngiang. Ini bisa jadi yang terngiang-ngiang adalah kesalahannya jika kita bisa menunjukkan kesalahannya dengan tepat. Tapi bisa juga yang terngiang-ngiang malah cara kita memarahinya, jika kita tak menjaga lisan dengan baik.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/09/kajian-wulangreh-123-den-gemi-ing-lathi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar