Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (115-117): Aja Ngalem Lan Mada

 Pada (bait) ke-114-116, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Dene kang wus kaprah ing masa samangkya,
yen ana den senengi,
ing pangalemira.
Pan kongsi pandirangan,
matane kongsi malirik.
Nadyan alaa,
ginunggung becik ugi.

Aja ngalem aja mada lamun bisa.
Yen uga masa mangkin
iya ing sabarang,
yen nora sinenengan,
den poyok kapati pati,
nora prasaja,
sabarang kang den pikir.

Ngandhut rukun becike ngarep kewala,
ing wuri angrasani,
ingkang ora-ora,
Kabeh kang rinasanan,
ala becik den rasani,
tan parah-parah,
wirangronge gumanti.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Adapun yang sudah lazim di zaman sekarang,
kalau ada yang disenangi,
dipuji-puji.
(Dipuji) sampai terbelakak,
matanya sampai melotot.
Walaupun burukpun,
dipuji-puji sebagai baik juga.

Jangan memuji atau mencela kalau bisa.
Kalau zaman sekarang,
juga dalam semua perbuatan,
kalau tidak disukai,
dicela habis-habisan,
tidak apa adanya,
semua yang dipikir.

Bersikap rukun dan baik di depan saja,
di belakang menggunjing,
yang tidak-tidak.
Semua digunjingkan,
buruk atau baik pun digunjingkan,
tidak memakai kira-kira,
rasa malunya berganti.


Kajian per kata:

Dene (adapun) kang (yang) wus (sudah) kaprah (lazim) ing (di) masa (zaman) samangkya (sekarang), yen (kalau) ana (ada) den senengi (yang disenangi), ing (dalam) pangalemira (pujian). Adapun yang sudah lazim di zaman sekarang, kalau ada yang disenangi, dipuji-puji.

Apa yang sudah menjadi kelaziman pada zaman sekarang adalah kalau sudah senang dengan seseorang akan dipuji-puji.  Semua hanya berdasar kecenderungan hati, sebagaimana halnya kalau tidak suka akan nyinyir sepanjang hari seperti yang dijelaskan dalam bait yang lalu.

Pan (akan) kongsi (sampai) pandirangan (terbelalak), matane (matanya) kongsi (sampai) malirik (melotot). (Dipuji) sampai terbelakak, matanya sampai melotot.

Sampai-sampai yang dipuji kaget, terbelalak matanya sampai melotot. Mungkin karena merasa aneh dengan pujian-pujian yang berlebihan itu.

Nadyan (walaupun) alaa (burukpun), ginunggung (dipuji-puji) becik (sebagai baik) ugi (juga). Walaupun burukpun, dipuji-puji sebagai baik juga.

Yang ini lebih parah lagi, hal-hal buruk pun dipuji. Bagi orang yang mengerti akan sangat malu diperlakukan demikian, tetapi bagi yang haus pujian akan menjadi besar kepala. Membuatnya senang dan tidak sayang untuk merogoh kocek. Ah zaman now, pujian pun bisa dibeli!

Aja (jangan) ngalem (memuji) aja (jangan) mada (mencela) lamun (kalau) bisa (bisa). Jangan memuji atau mencela kalau bisa.

Jangan begitu! Jadi orang jangan dibiasakan terlalu gampang memuji atau mencela orang. Jika bisa jangan memuji sekalian atau mencela. Kedua hal itu biasanya satu paket, siapa yang suka memuji A biasanya juga suka mencela B.

Yen (kalau) uga (juga) masa (zaman) mangkin (sekarang) iya (juga) ing (dalam) sabarang (sembarang, semua), yen (kalau) nora (tidak) sinenengan (disukai), den poyok (dicela) kapati pati (habisan-habisan), nora (tidak) prasaja (jujur, apa adanya), sabarang (semua) kang (yang) den pikir (dipikir). Kalau zaman sekarang juga dalam semua perbuatan, kalau tidak disukai, dicela habis-habisan, tidak apa adanya, semua yang dipikir.

Zaman sekarang dalam semua hal, kalau tidak suka akan mencela habis-habisan. Ucapannya menjadi tidak jujur, tidak keluar dari hati nurani, tidak apa adanya mengungkapkan kebenaran. Pokoknya tak suka berarti jelek. Namun biasanya jika orang memuji akan terang-terangan di depan yang dipuji, kalau mencela biasanya di belakang orang yang dicela. Ini disebut ngrasani, atau kalau dalam bahasa Indonesia: menggunjing.

Ngandhut (mengandung, dalam hal ini: bersikap) rukun (rukun) becike (dan baik) ngarep (depan) kewala (saja), ing (di) wuri (belakang) angrasani (menggunjing), ingkang (yang) oraora (tidak-tidak). Bersikap rukun dan baik di depan saja, di belakang menggunjing, yang tidak-tidak.

Orang seperti itu kalau di depan bersikap seolah-olah akur saja, setuju atau mendukung. Namun itu depan saja, di belakang mereka mengatakan yang tidak-tidak, ditambah-tambah dengan opini sendiri, menjadi bahan obrolan asyik, sambil cekikikan.

Kabeh (semua) kang (yang) rinasanan (digunjing), ala (buruk) becik (baik) den rasani (digunjingkan), tan (tak) parahparah (kira-kira). Wirangronge gumanti (rasa malunya berganti). Semua digunjingkan, buruk atau baik pun digunjingkan, tidak memakai kira-kira, rasa malunya berganti.

Semua hal digunjingkan, yang baik dinyinyiri, yang buruk diumpat-umpat. Tak ada kira-kira dalam bercakap. Nyacat, maoni, ngrasani, mada, adalah kumpulan sifat buruk yang berasal dari lidah.  Jika salah satunya ada, yang lain akan ikut serta. Maka tak aneh jika sifat-sifat tersebut biasanya berkumpul dalam satu hati.

Wirangronge gumanti adalah kode akan masuk Pupuh Wirangrong, tetapi dalam konteks bait itu juga bisa dibaca: wirang ronge gumanti, diartikan rasa malunya berganti. Bukan yang digunjing yang malu tetapi seharusnya yang menggunjing karena gunjingannya tidak berdasar kebenaran.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-115-117-aja-ngalem-lan-mada/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...