Translate

Senin, 13 Januari 2025

Kajian Wulangreh (72;73): Bekti Mring Raja

 Pada (bait) ke-72;73, Pupuh ke-5 Maskumambang, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Kaping lima dununge sembah puniki,
mring Gusti Kang Murba.
Ing pati kalawan urip,
aweh sandhang lawan pangan.

Wong neng dunya kudu manut marang Gusti,
lawan dipunawas.
Sapratingkahe den esthi,
aja dumeh wus awirya.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Yang kelima, tempat melakukan bakti adalah,
kepada Raja yang berkuasa.
Dalam hal mati maupun hidup,
yang memberi dan sandang pangan.

Orang dihup di dunia harus menurut kepada Raja,
dan diharap selalu waspada (menjaga diri).
Dalam segala tindak tanduk harap dipikirkan,
jangan mentang-mentang sudah berpangkat.

Kajian per kata:

Kaping (yang ke) lima (lima) dununge (tempatnya) sembah (berbakti) puniki (yakni, adalah), mring (kepada) Gusti) Kang Murba (Raja yang berkuasa). Yang kelima, tempat melakukan bakti adalah kepada Raja yang berkuasa.

Kata sembah di sini kami artikan sebagai bakti, hal itu karena kedua kata itu sudah saling dipertukarkan di bait-bait yang lalu. Selain itu juga untuk menghindari kerancuan dengan sembah kepada Tuhan. Meski sama-sama disebut menyembah, antara menyembah raja dengan menyembah Tuhan terdapat perbedaan yang sangat prinsip.

Menyembah raja sebenarnya merupakan kiasan dari penghormatan yang sangat kepada orang yang berkuasa dan menentukan nasib kita. Pada jaman serat ini ditulis sistem kenegaraan yang dipakai adalah kerajaan. Sistem ini menempatkan raja sebagai wakil Tuhan di bumi, maka kepadanya layak diberikan sembah. Dalam hal ini kita pakai kata bakti saja.

Ing (dalam) pati (mati) kalawan (dan) urip (hidup), aweh (memberi) sandhang (sandang) lawan (dan) pangan (pangan). Dalam hal mati maupun hidup, yang memberi dan sandang pangan.

Karena rajalah yang menentukan hidup mati seseorang. Zaman itu titah raja adalah hukum yang berlaku. Anda pun hukum tak mendukung kehendak raja karena bertentangan dengan prinsip dasar negara, maka bisa saja raja bertindak diluar koridor hukum. Intrik politik dan penggunaan wewenang yang tak terbatas membuar raja seolah memegang nasib peruntungan orang.

Dalam hal memberi sandang pangan sudah jelas bahwa raja memang melakukan itu. Sistem jaman dahulu semua tanah adalah milik raja, sedangkan orang-orang awam hanyalah menggarap saja. Mereka tidak punya hak milik, dan bisa saja dicabut hak menggarapnya sewaktu-waktu. Demikian juga jabatan-jabatan di pemerintahan, rajalah yang menentukan, yang mengangkat dan membehentikan. Karena demikian kuasanya memang sepantasnya kepada raja kita harus berbakti. Inilah tatakrama yang dipakai pada jaman dahulu.

Wong (orang) neng (di) dunya (dunia) kudu (harus) manut (menurut) marang (kepada) gusti (raja), lawan (dan) dipun awas (harap waspada). Orang dihup di dunia harus menurut kepada Raja, dan diharap selalu waspada (menjaga diri).

Orang hidup di dunia harus menurut kepada raja. Dr Kuntowijoyo menyebut relasi antara raja dan rakyat adalah relasi kawula-gusti. Rakyat berada dalam posisi sebagai kawula (abdi) yang harus menurut segala perintah raja. Mereka harus selalu hati-hati dan mawas diri, jangan sampai membuat raja marah atau tidak berkenan. Jika itu terjadi pertanda karir mereka akan habis. Hal ini berlaku untuk semua, baik para pejabat negara atau orang kebanyakan.

Sapratingkahe (segala tindak-tanduk) den esthi (dipikirkan), aja (jangan) dumeh (mentang-mentang) wus (sudah) awirya (berpangkat, kedudukan). Dalam segala tindak tanduk harap dipikirkan, jangan mentang-mentang sudah berpangkat.

Segala tindak tanduknya jangan sampai menentang raja, harus tetap patuh walau mereka sudah berpangkat tinggi. Karena itu semua adalah pemberian dari raja. Kedudukan raja dalam sistem tatanegara lama memang menjadi wakil Tuhan. Oleh karena itu sebutan bagi mereka pun mirip dengan nama-nama Tuhan, misalnya Gusti, Pangeran, dll.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/07/kajian-wulangreh-7273-bekti-mring-raja/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...