Pada (bait) ke-111;112, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.
Mung tindake dhewe datan winaonan,
ngrasa bener pribadi,
Sanadyan benera,
yen tindake wong liya,
pasti den arani sisip.
Iku wong ala,
ngganggo bener pribadi.
Nora nana panggawe kang luwih gampang,
kaya wong memamaoni,
sira eling-eling,
aja sugih waonan,
den sami raharjeng budi,
ingkang prayoga,
sapa-sapa kang lali.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Hanya perbuatan sendiri yang tidak dinyinyiri,
merasa perbuatan sendiri sudah benar.
Walaupun benar pun,
kalau perbuatan orang lain,
pasti dianggap salah.
Itu orang berkelakuan buruk,
memakai ukuran kebenaran sendiri.
Tidak ada pekerjaan yang lebih mudah,
seperti orang menyinyiri.
Engkau ingat-ingatlah,
jangan suka banyak nyinyir,
harap semua memuliakan budi pekerti,
yang sepantasnya,
siapapun yang lupa.
Kajian per kata:
Mung (hanya) tindake (perbuatan) dhewe (sendiri) datan (tidak) winaonan (dinyinyiri), ngrasa (perasaannya) bener (benar) pribadi (sendiri). Hanya perbuatan sendiri yang tidak dinyinyiri, merasa perbuatan sendiri sudah benar.
Betapa parahnya penyakit nyinyir ini bagi perkembangan jiwa manusia, bait ini secara khusus menbahas tentang sikap tak pantas ini. Orang nyinyir yang pertama adalah menganggap perbuatan sendiri yang paling benar. Jadi mirip dengan sikap sombong. Memang keduanya biasanya satu paket dalam diri seseorang. Kalau ada sifat nyinyir itu karena ada unsur kesombongan. Orang nyinyir tidak bisa melakukan otokritik, karena dia menganggao dirinya selalu benar.
Sanadyan (walaupun) benera (benar pun), yen (kalau) tindake (perbuatan) wong (orang) liya (lain), pasti (pasti) den arani (dianggap) sisip (salah). Walaupun benar pun, kalau perbuatan orang lain, pasti dianggap salah.
Walau benar pun, kalau orang lain yang melakukan akan dianggap salah. Karena tujuannya memang bukan untuk mencari kebenaran, namun hanya memuaskan egonya saja. Atau mungkin memang ada kepentingan tertentu yang mengharuskan dia melakukan itu. Kalau zaman sekarang nyinyir bisa jadi pekerjaan, dengan menjadi buzzer untuk nyinyir kepada lawan politik. Menjatuhkan lawan agar yang dipuja kelihatan unggul.
Iku (itu) wong (orang) ala (berkelakuan buruk), ngganggo (memakai) bener (kebenaran) pribadi (sendiri). Itu orang berkelakuan buruk, memakai ukuran kebenaran sendiri.
Yang demikian itu watak yang buruk. Apapun motifnya memakai kebenaran sendiri untuk menilai orang lain adalah sikap tak pantas.
Nora (tidak) nana (ada) panggawe (pekerjaan) kang (yang) luwih (lebih) gampang (mudah), kaya (seperti) wong (orang) memamaoni (menyinyiri). Tidak ada pekerjaan yang lebih mudah, seperti orang menyinyiri.
Kalau hanya seperti itu semua orang bisa melakukan. Itu hanya pekerjaan yang gampang saja. Prinsipnya hanya waton sulaya, kalau si ini ngomong A, kita ngomong B, kalau si itu ngomong C kita ngomong D. Meski tampak berbeda dengan orang, hidupnya hanya menjadi bulan-bulanan opini orang karena hanya ikut permainan lawan.
Sira (engkau) eling-eling (ingat-ingat), aja (jangan) sugih (kaya, banyak) waonan (nyinyiran), den sami (harap semua) raharjeng (memuliakan) budi (budi pekerti), ingkang (yang) prayoga (sepantasnya), sapa–sapa (siapa pun) kang (yang) lali (lupa). Engkau ingat-ingatlah, jangan suka banyak nyinyir, harap semua memuliakan budi pekerti, yang sepantasnya, siapaun yang lupa.
Ingat-ingatlah, jangan banyak nyinyir. Toh walau gampang dilakukan tidak banyak juga orang nyinyir to? Itu karena sebagian besar dari kita enggan memakai sikap buruk itu. Oleh karena itu tidak usah lah kita nyinyir, sebagai gantinya marilah kita memuliakan budi pekerti, selalu berupaya agar menjadi manusia yang lebih baik. Ingat-ingatlah bagi siapapun yang lupa.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-111112-aja-sugih-waonan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar