Translate

Rabu, 08 Januari 2025

Kajian Wulangreh (109;110): Telung Perkara Sesiku

 Pada (bait) ke-109;110, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Apan ana sesiku telung prakara,
nanging gedhe pribadi,
puniki lilira.
Yokang telung prakara,
poma ywa nggunggung sireki.
Sarta lan aja,
nacat kepati pati.

Lawan aja maoni sabarang karya,
sithik-sithik memaoni,
samubarang polah.
Tan kena wong kumlebat,
ing masa mengko puniki,
apan wus lumrah,
uga padha maoni.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Maka ada tiga hal yang perlu dihindari,
tetapi ini besar pengaruhnya pada diri sendiri,
yang ini sadarilah.
Yaitu tiga perkara itu,
ingatlah jangan memuji diri seindiri.
Serta jangan sekalipun,
mencerca orang lain dengan kebencian yang sangat.

Dan jangan nyinyir dalam semua pekerjaan,
sedikit-sedikit nyinyir,
dalam semua perbuatan (orang).
Tak boleh melihat orang berkelebat,
di saat sekarang ini,
memang sudah lumrah,
juga pada nyinyir.


Kajian per kata:

Apan (maka) ana (ada) sesiku (yang perlu dihindari) telung (tiga) prakara (perkara, hal), nanging (tetapi) gedhe (besar) pribadi (sendiri), puniki (yang ini) lilira (sadarilah). Maka ada tiga hal yang perlu dihindari, tetapi ini besar pengaruhnya pada diri sendiri, yang ini sadarilah.

Setelah kita mengetahui akan tujuan hidup kita maka kita semestinya melangkah dengan ke arah yang benar. Menjauhi segala hal yang akan merintangi jalan kita dan menjauhkan pada tujuan. Diantara rintangan jalan keselamatan itu ada tiga perkara yang perlu dihindari. Ketiga perkara ini sangat besar pengaruhnya bagi perjalanan hidup kita. Sadarilah dan ketahuilah.

Yokang (yaitu) telung (tiga) prakara (perkara, hal), poma (ingatlah) ywa (jangan) nggunggung (memuji) sireki (diri sendiri). Yaitu tiga perkara itu, ingatlah jangan memuji diri seindiri.

Dari tiga perkara itu, pertama jangan memuji diri sendiri. Sudah menjadi kebiasaan bahwa seseorang suka dengan pujian, namun memuji diri sendiri bukan perbuatan yang elok. Mana mungkin kita bisa menilai diri sendiri dengan obyektif, wong melihat diri sendiri dengan utuh saja kita tak mampu. Jangankah tentang kebaikan yang ada di dalam hati, yang letaknya jauh tersembunyi, kita melihat diri kita itu ganteng apa tidak kita tak mampu. Perlu bantuan sebuah cermin yang keakuratannya belum tentu valid. Apalagi kita memaksakan menilai diri sendiri, yang kita lakukan hanya duga-duga saja. Dan sudah pasti bias kepentingan.

Sarta (serta) lan aja (jangan), nacat (mencerca, mencari kesalahan orang) kepati pati (dengan kebencian sangat). Serta jangan mencerca orang lain dengan kebencian yang sangat.

Yang kedua, jangan mencerca, mencela orang lain dengan penuh kebencian. Apabila kita benci maka semua menjadi kelihatan buruk, ibarat kencana katon wingka, emas kelihatan grabah. Menilai orang dengan kebencian di hati juga akan bias dan tak obyektif.

Lawan (dan) aja (jangan) maoni (nyinyir) sabarang (dalam semua) karya (pekerjaan), sithiksithik (sedikit-sedikit) memaoni (nyinyir), samubarang (semua) polah (perbuatan).  Dan jangan nyinyir dalam semua pekerjaan, sedikit-sedikit nyinyir, dalam semua perbuatan (orang).

Yang ketiga jangan pernah nyinyir dalam semua pekerjaan orang, sedikit-sedikit nyinyir, sembarang polah orang dinyinyiri. Mulut ringan sekali berkomentar tidak baik, mengkritik ini dan itu. Sebenarnya baik apabila menunjukkan kesalahan orang itu, agar yang bersangkutan memperbaiki diri, tetapi orang nyinyir tak ada baiknya karena tujuannya menjatuhkan orang lain.

Tan (tak) kena (boleh) wong (orang) kumlebat (berkelebat, bergerak sedikit saja), ing (di) masa (masa) mengko (sekarang) puniki (ini), apan (memang) wus (sudah) lumrah (lazim), uga (juga) padha maoni (dinyinyiri). Tak boleh melihat orang berkelebat, di saat sekarang ini, memang sudah lumrah, juga pada nyinyir.

Perilaku nyinyir sudah menjadi watak yang lumrah sekarang ini, tidak ada orang berkelebat sedikit saja tanpa menjdi korban nyinyir. Begini dianggap salah, begitu dianggap salah juga. Lebih-lebih di jaman ketika perikehidupan masyarakat dikuasai aroma politik, menjatuhkan orang lain agar kelompoknya naik adalah menu akhlak sehari-hari, nyinyir adalah bumbunya.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/08/kajian-wulangreh-109110-telung-perkara-sesiku/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...