Translate

Senin, 02 September 2024

Babad Tanah Jawi (182): Raja Ternate diajukan ke medan perang

Alkisah, barisan Raden Suradiningrat yang berada di Awangga pada malam hari diserang pasukan Cina. Mereka datang dan menembaki markas Awangga. Pasukan Ponorogo gugup dan tak sempat membalas. Mereka pun lari menuju barisan Sanggung. Pasukan Cina kemudian berbelok ke Kadresanan dan memperkuat benteng mereka. Empat hari kemudian pasukan Cina menyergap barisan Sanggung yang ditempati Raden Adipati Suradiningrat dan Ki Rajaniti. Pasukan Ponorogo lari pontang-panting. Mereka lari meninggalkan kuda dan senjata-senjata. Pasukan Ponorogo lari ke timur menuju Picis. Setelah menyeberang sungai mereka terus saja lari ke Ponorogo. Pasukan mancananagara pun ikut pulang ke negeri masing-masing. Punggawa yang berada di Sanggung tinggal Ki Rajaniti. Ki Rajaniti lalu mengirim laporan kepada Sang Raja, bahwa pasukan Ponorogo dan mancanagara telah lari pulang. Sang Raja kaget dan langsung memanggil Kapten Hohendorff.

Berkata Sang Raja, “Hai Komandan, bagaimana ini pasukan mancanagara semua lari pulang?”

Kapten Hohendorff sedikit malu karena tak segera mengerahkan pasukan Kumpeni untuk membantu sehingga mereka kalah dan lari.

Berkata Kapten Hohendorff, “Paduka jangan bersedih. Besok pagi saya akan memukul musuh yang bermarkas di Kadresanan.”

Kapten segera mohon diri dan kembali ke Loji. Para opsir diperintahkan untuk bersiap menyerang Kadresanan besok pagi. Sore harinya Raja Ternate diminta datang ke Loji oleh Kapten. Bersamaan datangnya Raden Pringgalaya, Raja Ternate sampai di Loji. Keduanya kemudian menemui Hohendorff.

Kapten Hohendorff berkata, “Saya besok akan menyerang Kadresanan. Anda Raja Ternate besok saya ajak serta.”

Raja Ternate berkata, “Baik Tuan, saya sangat senang diadu perang melawan musuh. Saya malu kalau di sini hanya menganggur. Semoga besok pekerjaan saya bisa diterima oleh Sang Raja dan saudara Kumpeni. Karena saya ke sini memang untuk membantu melawan musuh.”

Pagi hari pasukan dari Kartasura sudah bersiap. Raja Ternate dan pasukannya memakai baju zirah, pelindung kepala dari besi dan menyandang senapan. Pasukan Kumpeni dan Ternate setelah siap segera berangkat. Raden Pringgalaya tak ketinggalan. Juga Rangga Wanengjiwa yang mengikuti di belakang. Singkat cerita perjalanan pasukan Kartasura sudah sampai di Karecek. Mereka kemudian berhenti untuk menata barisan. Raja Ternate ingin mendahului berangkat dengan maksud menyerang duluan. Komandan Hohendorff sangat mencegah.

Berkata Hohendorff, “Jangan berangkat dulu. Nanti ke Kadresanan bersama pasukan besar Kumpeni.”

Raja Ternate memaksa, “Benar Anda, tapi saya ingin mengetahui posisi musuh.”

Raja Ternate dan pasukannya kemudian berangkat duluan. Ketika musuh melihat kedatangan orang Ternate segera mereka menabuh bende dan bersiap menghadang. Pangeran Prangwadana sudah mengembangkan payung kuningnya dan menabuh carabalen. Segera maju Prangwadana bersama pasukannya.

“Ayo jangan mundur, kita lawan orang Ternate. Rajanya biar aku yang menghadapi. Jangan kalian mundur,” kata Pangeran Prangwadana.

Di lain pihak Raja Ternate juga telah mengembangkan payungnya. Pasukannya sudah membunyikan seruling dan gong. Tak lama kedua pasukan saling beradu senapan. Sampai lama mereka masing berimbang kekuatannya. Raja Ternate lalu menerjang bersama pasukan baju besinya. Prangwadana tangguh menahan. Dua prajurit Prangwadana terkena senjata dan tewas. Prajurit di belakangnya lari semua. Prangwadana berusaha memajukan kembali pasukannya, tetapi mereka telanjur ciut nyalinya. Pangeran Prangwadana ikut mundur. Pasukan Ternate mengejarnya. Payung Prangwadana berhasil direbut. Namun bantuan pasukan Cina Mataram segera datang. Dari arah timur mereka tak henti menembak ke arah pasukan Ternate. Pasukan Ternate banyak yang tewas. Mereka sudah turun dari kuda dan memakai kuda-kuda mereka sebagai perisai. Ada pula yang berlindung di balik pohon jarak. Hanya raja mereka yang masih menunggang kuda. Namun tidak lama kuda Raja Ternate terkena peluru. Sang Raja pun terluka betisnya. Adapun prajurit yang membawa payung tewas.

Pasukan Cina Matarm terus merangsek dan mendesak. Namun dari arah timur pasukan Kumpeni datang membantu. Pasukan Cina Mataram tak mampu menahan serangan pasukan Kumpeni, mereka pun bubar berlarian. Pasukan Kumpeni terus mengejar sampai desa Klepu. Tak lama kemudian mereka yang mengejar kembali ke Kadresanan. Setelah selesai perang mereka menghitung jumlah korban. Ada tujuh orang prajurit Cina yang tewas dan banyak yang luka-luka. Adapun dari pihak Kumpeni seorang serdadu ditemukan tewas. Benteng musuh di Karecek kemudian dihancurkan. Pondok-pondok dibakar agar tidak dipakai kembali sebagai markas. Pasukan Kumpeni kemudian memerintahkan para tukang pikul untuk membawa mayat-mayat prajurit Ternate dan Bali yang tewas. Pasukan Kartasura kemudian kembali ke kota.

Ketika pasukan Kartasura menuju ke kota Rangga Wanengjiwa menyimpang jalan dan kembali ke arah barat. Dia hendak menuju desanya di Awangga. Kemudian menyimpang jalan lagi menuju Sumber. Di tengah perjalanan Ki Rangga bertemu musuh yang tercecer. Hanya seorang saja. Dia bersembunyi dengan membawa senapan. Ketika akan ditangkap si musuh melawan dengan melepaskan tembakan. Ki Rangga terkena peluru dan jatuh berguling ke tanah. Pasukan Ki Rangga tak peduli lagi ke mana musuh lari. Mereka hanya fokus menolong Ki Rangga. Namun nyawa Ki Rangga tak tertolong.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada Arya Pringgalaya. Ki Pringgalaya sangat kaget dan menyesalkan kejadian itu. Hohendorff pun heran mengapa hal itu bisa terjadi. Komandan Hohendorff kemudian melapor kepada Sang Raja. Secara rinci Hohendorff melaporkan jalannya perang juga jumlah pasukan yang tewas. Dari pihak pasukan Cina tujuh orang mati dan banyak yang luka-luka. Dari pasukan Raja Ternate yang tewas tiga orang dan lima orang luka-luka. Kuda Raja Ternate juga terluka. Raja Ternate sendiri menderita luka di betis. Pembesar pasukan yang tewas adalah Rangga Wanengjiwa. Namun kematiannya tak diketahui oleh prajuritnya. Dia dibunuh oleh prajurit sandi musuh yang menyelinap.

Sang Raja berkata, “Aku terima semua pengorbanan prajuritku. Adapun si Rangga memang sudah takdir hanya sampai di sini. Bagaimana keadaan pasukan Cina apakah mereka sudah kapok ketika engkau pukul?”

Kapten Hohendorff berkata, “Sepertinya mereka takkan kembali lagi.”

Sang Raja kemudian memerintahkan agar Rangga Wanengjiwa digantikan anaknya. Kalau si anak belum cukup umur sebaiknya diganti dulu oleh saudaranya. Kapten Hohendorff menyatakan kesiapan menjalankan perintah Sang Raja. Komandan segera keluar menyampaikan perintah Sang Raja kepada Arya Pringgalaya. Pringgalaya mengusulkan agar saudara Wanengjiwa dulu yang menggantikan karena pekerjaannya sungguh berat.

Pagi hari berikutnya Raja Ternate datang ke Loji untuk menemui Kapten Hohendorff.

Berkata Raja Ternate, “Komandan, saya ingin minta kuda kepada Sang Raja. Adapun kuda yang saya inginkan yang berwarna dhawuk. Sebab saya meminta kuda karena kuda saya mati.”

Kapten Hohendorff segera berpesan kepada Ki Tohjaya untuk mengajukan permintaan kuda kepada Sang Raja. Kuda si Ganggong yang diminta sesuai ciri yang disebut Raja Ternate tadi. Tohjaya segera melapor kepada Sang Raja dan si kuda pun segera diberikan. Tohjaya keluar dari keraton sudah menuntun si Ganggong lalu diberikan kepada Raja Ternate. Raja Ternate sangat girang tak terkira. Sore hari sudah dibawa berjingkrak ke dekat pasar. Siang malam si Ganggong dibawa-bawa sampai si kuda menjadi kurus. Setelah si Ganggong menjadi kurus Raja Ternate bermaksud menukar dengan kuda Sang Raja yang lain. Yang ditunjuk adalah si Wagugen. Kuda pun diberikan lagi dan dipakai jalan-jalan sampai kurus. Setelah si Wagugen kurus Raja Ternate bermaksud menukarnya kembali dengan si Ganggong. Kapten Hohendorff jengkel dengan ulah Raja Ternate.

Kapten berkata, “Saya takut disebut orang tidak urus. Dan lagi apakah saudara kira Kangjeng Sunan itu kusir atau penitipan kuda?”

Raja Ternate terdiam. Dalam hati merasa malu. Tujuh hari kemudian Raja Ternate datang kembali ke Loji. Kali ini kedatangannya untum minta pamit hendak kembali ke Semarang. Kapten Hohendorff tampak berusaha mencegah, tetapi dalam hati merasa lega.

Berkata Kapten Hohendorff, “Kalau saudara ingin pulang ke Semarang, saya harus melapor dulu kepada Tuan Komisaris. Saya tak mau mengabulkan permintaan saudara bila belum mendapat izin.”

Pagi hari berikutnya Hohendorff mengirim surat pemberitahuan ke Semarang. Komisaris segera membalas surat Hohendorff. Dalam suratnya Tuan Komisaris menyetujui jika Raja Ternate ingin pulang. Tetapi disuruh meninggalkan pasukannya beserta kaptennya. Raja Ternate kemudian diundang ke Loji. Kepadanya diberitahukan surat dari Tuan Komisaris. Raja Ternate setuju.

Kapten Hohendorff bertanya, “Kapan saudara akan berangkat ke Semarang?”

Raja Ternate berkata, “Lusa.”

Kapten Hohendorff segera memerintahkan kepada Raden Pringgalaya untuk menyediakan kuda angkut untuk mengantar rombongan Raja Ternate ke Semarang. Hohendorff kemudian melapor ke istana bahwa Raja Ternate telah dipanggil Tuan Komisaris ke Semarang.

Sang Raja berkata, “Kapan akan berangkat?”

Kapten menjawab, “Lusa dia berangkat.”

Sang Raja berkata, “Syukurlah dia segera pergi. Di sini hanya mengganggu saja.”

Kapten Hohendorff keluar dari istana. Setelah sampai harinya Raja Ternate berangkat ke Semarang. Kapten Ternate ditinggal di Kartasura dengan pasukan sejumlah tiga puluh orang.

Sementara itu Ki Rajaniti yang berbaris di Sanggung setiap malam pergi dari markasnya karena takut kalau disergap musuh. Kalau siang dia kembali berjaga di markas. Kepergiannya di malam hari tak tentu keberadaannya.

Di tempat lain, orang Cina Mataram sudah mulai mengerahkan pasukan ke Kadresanan kembali. Mereka memperkuat barisan dengan tambahan pasukan dari Pagelen. Pemimpin mereka bernama Jayawinata. Desa-desa sekitar Kadresanan sudah ditaklukkan. Koripan dan Kuwel sudah dikuasai.

Di Kartasura Raden Pringgalaya sangat bersedih. Yang menjadi sebab kesedihannya adalah persoalan jatah makan Kumpeni. Raden Pringgalaya tak pernah putus mencari solusi bersama Komandan Hohendorff. Pringgalaya selalu mengeluhkan kerepotan dalam melayani makan para Kumpeni. Repotnya karena mereka tak punya kuli angkut satupun. Kalau tak ada juru angkut bagaimana bisa pekerjaan di dapur lancar. Kapten Hohendorff sendiri merasa sedikit malu karena lama tak menolong pasukan Jawa.

Berkata Hohendorff, “Besok saya serang pasukan Cina di Kadresanan lalu terus maju ke Mataram. Jangan sampai tanggung dalam melangkah. Supaya segera selesai. Namun saya dengar berita jalannya sangat sulit. Sebaiknya Anda mengirim utusan untuk memeriksa jalan yang akan dilalui pasukan kita. Carilah yang lebih mudah dilewati. Karena kabarnya jalan utama sudah diberi halangan dan dilubangi. Malah lubangnya dalam dan sangat sulit dilewati.”

Raden Pringgalaya menyatakan sanggup. Setelah mencapai kata sepakat keduanya berpisah ke pondokan masing-masing.

Sementara itu di barisan Sanggung, Ki Rajaniti menderita sakit. Oleh Sang Raja Rajaniti diizinkan pulang ke Kartasura. Tidak lama sampai di Kartasura Rajaniti meninggal dunia. Anaknya yang bernama Suramenggala kemudian menggantikan kedudukannya di markas Sanggung. Sudah diangkat sebagai tumenggung dan mengambil nama ayahnya, Tumenggung Rajaniti. Beberapa waktu kemudian Rajaniti di Sanggung kedatangan utusan dari Kadresanan. Yang mengutus Ki Kartileksana dan Ki Wangsanagara. Adapun si utusan bernama kecil Saju. Si utusan datang membawa surat. Oleh Rajaniti kemudian diantarkan kepada Raden Pringgalaya. Setelah diperiksa isi suratnya menyatakan kalau kedua petinggi tersebut ingin menyerah kepada Sang Raja dan tunduk kepada Kumpeni. Bila telah diizinkan akan segera menyeberang. Oleh Pringgalaya utusan dibawa masuk ke Loji dan diserahkan kepada Kapten Hohendorff. Kapten sangat gembira. Pringgalaya juga melaporkan kerepotan di jalan utama Sanggung ke barat yang banyak dipenuhi pasukan musuh sehingga kedua orang yang akan menyerah perlu diamankan.

Berkata Kapten Hohendorff kepada si utusan, “Engkau pulanglah dulu. Pastikan keinginan Ki Wangsanagara dan Ki Kartileksana. Kalau benar-benar ingin mengabdi kepada Sang Raja, tentukan waktunya kapan akan berangkat. Supaya saya mendapat kepastian untuk menjemput ke Kadresanan.”

Pringgalaya juga berpesan, “Katakan kepada Wangsanagara dan Kartileksana, kalau sungguh-sungguh hendak mengabdi kepada Sang Raja bawalah serta kabar mengenai musuh.”

Utusan segera kembali ke Kadresanan. Para punggawa yang berkumpul di Loji pun kembali ke rumah masing-masing. Dua hari kemudian si utusan kembali datang. Yang dituju adalah kediaman Raden Pringgalaya. Oleh Pringgalaya si utusan dibawa ke Loji dan diperiksa.

Si utusan berkata, “Kalau Tuan izinkan, besok pagi Ki Wangsanagara dan Ki Kartileksana akan berangkat dari Kadresanan. Keduanya khawatir kalau rencananya keburu terdengar oleh orang Mataram.”

Pringgalaya menyahut, “Kalau begitu Tuan, sebaiknya segera dilaksanakan agar hati mereka tenang. Besok pagi Tuan kirimlah pasukan untuk menjemput. Kalau Tuan setuju segeralah melapor kepada Sang Raja.”

Komandan Hohendorff lalu mengirim pesan kepada Ki Tohjaya dan Naladirja agar dimintakan waktu menghadap kepada Sang Raja. Tohjaya segera masuk ke istana untuk melapor. Kapten telah diiznkan menghadap. Segera Kapten ke istana. Sesampai di hadapan Sang Raja Hohendorff melaporkan bila ada musuh yang ingin bergabung mengabdi kepada Sang Raja. Namanya Kartileksana dan Wangsanagara.

“Bila paduka berkenan menerima besok pagi akan saya jemput,” kata Hohendorff.

Sang Raja berkata, “Benar langkahmu itu. Segera laksanakan.”

Hohendorff kembali menemui Pringgalaya untuk menyampaikan perintah Sang Raja.

Kapten berkata, “Raden, saya sudah mendapat izin untuk menjemput besok.”

Utusan segera disuruh kembali dengan janji besok pukul sebelas akan dilaksanakan penjemputan. Ki Wangsanagara dan Ki Kartaleksana diminta keluar dari benteng pada jam tersebut. Tempat yang akan dipakai bertemu adalah selatan Karecek. Setelah pesan selesai, si utusan melesat kembali ke Kadresanan.

Hari berikutnya pasukan penjemput sudah bersiap berangkat. Pukul sebelas mereka sudah menunggu di selatan Karecek. Ki Wangsanagara dan Ki Kartileksana sudah mendapat pesan melalui utusan. Bersama anak Ki Wangsanagara yang bernama Sajung mereka keluar dari benteng. Si Sajung berangkat duluan dan telah bertemu pasukan penjemput. Tak lama kemudian kedua petinggi telah datang. Mereka bertiga pun dibawa ke Kartasura.

Di Kartasura mereka bertemu Kapten Hohendorff di Loji. Arya Pringgalaya kemudian dipanggil ke Loji. Kepada keduanya Arya Pringgalaya menanyakan segala sesuatu tentang musuh. Berapa jumlahnya dan siapa saja pembesar pasukannya. Kedua petinggi menceritakan semuanya.

Kapten Hohendorff kemudian melapor kepada Sang Raja. Sang Raja memerintahkan kepada kedua petinggi untuk bergabung kepada wadana mereka dahulu. Juga nanti akan ditempatkan pada jabatan lamanya.

Setelah peristiwa ini selesai Kapten dan Pringgalya masih harus memikirkan musuh mereka di Randhulawang. Sudah menginjak bulan Maulud. Rencana untuk menyerang Randhulawang segera disusun.

Pringgalaya berkata, “Tuan, besok kalau berangkat ke Randhulawang, jangan khawatirkan soal peralatan Kumpeni. Para mantri nanti yang akan mengurusnya. Walau harus mengangkat barang bawaan sendiri pun kalau perlu harus dilakukan.”

Kapten merasa lega hatinya karena persoalan tukang pikul ini selalu menjadi halangan.

Kapten berkata, “Baik Raden, saya berencana ke Randhulawang setelah acara grebeg Maulud. Dan juga saudara segera berilah kabar kepada Raden Endranata agar dia mulai mengumpulkan tukang pikul untuk membawa peralatan Kumpeni.”

Pringgalaya pun sepakat dengan usulan Hohendorff. Tidak lama kemudian datang utusan dari barisan Kadresanan. Jayawinata mengirim utusan menyatakan ingin mengabdi kepada Sang Raja dan bersahabat dengan Kumpeni. Namun kalau menyerah sekarang posisinya tidak menguntungkan. Lebih baik bila nanti pasukan Kartasura menyerang Jayawinata akan melakukan sabotase dari belakang.

Kapten setuju dan menyambut baik rencana Jayawinata. Si utusan lalu diberi tanda berupa kain sutra biru selebar tiga jengkal dan panjang satu depa.

Berkata Kapten Hohendorff, “Kalau besok aku datang ke Kadresanan, segera kibarkan kain ini. Ini menjadi tanda kalau Ki Jayawinata berani memukul Cina dari belakang. Kalau tidak berani agar menyingkir saja.”

Utusan pun kembali ke Kadresanan. Hohendorff lalu melaporkan dua perkara kepada Sang Raja. Yang pertama perihal kedatangan utusan Jayawinata dan kesepakatan yang telah dia buat. Yang kedua, meminta izin untuk menyerang Randhulawang setelah grebeg Maulud. Hohendorff merencanakan setelah berhasil memukul Randhulawang akan terus menyerang ke Mataram.”

Sang Raja berkata, “Benar itu rencanamu, Kapten. Dan mengenai Jayawinata semoga yang dia katakan benar. Andai pun meleset aku yakin engkau tidak takut kepada Jayawinata. Mengenai waktu keberangkatan apakah si Pringgalaya sudah engkau beri tahu?”

Kapten berkata, “Kalau paduka izinkan sekarang juga saya panggil ke mari si Pringgalaya.”

Sang Raja pun memerintahkan Pringgalaya dipanggil sekarang juga. Tak lama kemudian yang dipanggil sudah menghadap. Sang Raja kemudian memberi perintah sesuai usulan Kapten Hohendorff. Pringgalaya menyatakan kesiapan.

Berkata Pringglaya, “Baik paduka, semua abdi paduka segera saya perintahkan untuk bersiap. Kemarin sudah saya tanya kesiapan para mantri. Mereka katakan sanggup berangkat meski harus memikul barang bawaannya sendiri. Mereka hanya ingin segera berangkat. Adapun si Endranata juga sudah diperintahkan untuk menyediakan tukang pikul.”

Sang Raja sudah menerima rencana kedua punggawanya itu. Keduanya lalu diperintahkan segera melaksanakan. Kedua punggawa menyembah dan keluar dari istana.

Pada bulan Maulud tanggal dua belas, pagi hari Sang Raja telah keluar istana untuk melaksanakan acara grebeg Maulud. Sang Raja bertahta di Sitinggil, di hadapan para punggawa lengkap yang berjajar-jajar. Segenap serdadu Kumpeni turut hadir. Para prajurit berbaris di alun-alun dengan menggelar senjata lengkap. Meriam pun disiagakan. Tidak lama kemudian gunungan telah keluar dari puri. Pasukan Kumpeni menandai keluarnya gunungan dengan tembakan senapan. Meriam kemudian dibunyikan satu kali. Setelah tembakan lagi sebanyak tiga kali, meriam berdentum sebanyak tujuh belas kali. Pasukan Jawa menyambung dengan berondongan senapan. Setelah itu Sang Raja turun dari Sitinggil dan menggelar pertunjukan tayub di bangsal Pangapit. Para opsir pun bersuka-suka sampai mabuk. Ketika mabuk bicaranya mengumbar kesanggupan. Ada yang ingin segera berperang melawan pasukan Cina. Ada yang mengatakan tak takut perang. Dan banyak lagi yang dikatakan orang mabuk.

Sang Raja sangat gembira karena melihat para abdi menikmati pertunjukkan. Juga terlihat mereka menyatakan kesanggupannya masing-masing. Sang Raja kemudian memberi perintah kepada Arya Pringgalaya untuk segera menyiapkan pasukan.

Berkata Sang Raja, “Engkau umumkan kepada para pasukan bahwa kita akan berangkat hari Selasa.”

Pringgalaya segera mengumumkan kepada para wadana dan mantri serta para kaliwon bahwa hari Selasa akan berangkat memukul Randhulawang. Segenap para mantri menyatakan siap. Sang Raja lalu masuk ke puri. Acara pertunjukkan dan grebeg Maulud selesai. Para opsir kembali ke Loji. Para punggawa pulang ke rumah masing-masing.

Sementara itu di Randhulawang, seorang prajurit sandi datang mengabarkan bahwa pasukan Kumpeni dan Kartasura akan segera menyerang.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/01/22/babad-tanah-jawi-182-raja-ternate-diajukan-ke-medan-perang/

Babad Tanah Jawi (183): Barisan pasukan Prabu Kuning di Randhulawang hancur

Prabu Kuning yang berada di Randhulawang kaget mendengar laporan prajurit sandi yang menyebut pasukan Kumpeni akan menyerang. Kapten Sapanjang segera dipanggil. Kepadanya diberitahukan bahwa pasukan Kumpeni akan menyerang. Kapten Sapanjang segera mengerahkan seluruh pasukan menuju Kadresanan. Hanya sedikit yang disisakan di Randhulawang untuk menjaga Sang Prabu. Pasukan pengawal Prabu Kuning dipimpin Jayadirana dari Rema atau namanya sekarang adalah Tumenggung Reksapraja. Si Reksapraja adalah punggawa kesayangan Prabu Kuning. Dia selalu dimanjakan dan juga dijanjikan seorang istri. Maka keberaniannya pun makin membara. Tidak gentar jika Kumpeni datang menyerang. Si Reksapraja berencana akan melakukan perang habis-habisan di Pamalon. Jika sampai barisan Kadresanan kalah maka Sang Prabu akan diungsikan ke Semarang untuk meminta perlindungan dari Kumpeni.

Hari Selasa sudah tiba. Di Kartasura pasukan Kumpeni dan Jawa sudah bersiap. Semua punggawa Kartasura berangkat ke medan perang. Hanya Raden Mlayakusuma, Adipati Wirareja dan Ki Kartinagara yang ditinggal untuk menjaga Sang Raja. Adapun barang-barang yang tidak terangkut oleh tukang pikul kemudian dibawa dengan kuda. Yakni yang berupa senjata tiktak dan bubuk mesiu. Semua sudah terangkut semua. Pasukan Kartasura pun berangkat. Sepanjang jalan suara barisan bergemuruh. Banyak senjata mereka pakai. Prajurit Bali memakai tombak panjang dan mengibarkan bendera putih bergaris sutra kuning. Pasukan Ternate yang ditinggalkan oleh rajanya sejumlah tiga puluh orang tidak ketinggalan ikut serta ke medan perang. Mereka tak boleh jauh dari komandan perang Kapten Baron Von Hohendorff. Senjata mereka tombak dan lembing. Mereka juga memakai bendera sendiri. Pasukan Kumpeni dari Kartasura bergerak bergelombang seperti aliran ombak samudera.

Gerak pasukan Kumpeni sudah sampai di Delanggu. Sudah terlihat letak musuh di utara Karecek. Ketika pasukan musuh di Karecek melihat pasukan Kumpeni mereka mundur ke bentang mereka di Kadresanan. Pasukan Kumpeni terus mendekat ke arah musuh di Kadresanan. Ketika sudah dekat terdengar dari kubu musuh bende ditabuh. Mereka pun bersiap menghadang pasukan Kumpeni.

Pertempuran pun pecah di Kadresanan. Kedua kubu saling beradu senapan. Tiktak dan kalantaka menyalak bersama. Suaranya menggelegar memenuhi langit. Jatuhnya peluru deras seperti air hujan. Pasukan Kumpeni terus menyerang dengan tiktak dan senapan. Langit Kadresanan seakan runtuh oleh ledakan di bawahnya. Pasukan Kumpeni terus merangsek dan mengepung benteng. Pagar benteng berusaha didobrak. Setelah menyerang secara gencar benteng berhasil bedah. Pasukan Cina bubar berlarian. Banyak yang tertangkap dan dibunuh. Yang lari terus dikejar sampai di Tembelang. Benteng Kadresanan berhasil dikuasai sepenuhnya. Pasukan Kumpeni lalu memakainya untuk bermalam.

Pagi hari pasukan Kumpeni langsung melanjutkan perjalanan menuju Gondang. Musuh sudah tak terlihat di sepanjang jalan. Perjalanan pasukan Kumpeni lancar. Lalu mendadak terlihat kira-kira seratusan orang berkuda. Ketika melihat rombongan pasukan Kumpeni mereka lari. Tanpa rintangan pasukan Kumpeni telah sampai di Gondang. Di Gondang pasukan Kumpeni beristirahat semalam. Rencananya mereka akan berangakat pagi hari menuju Randhulawang.

Sementara itu sisa pasukan Cina yang lari dari Kadresanan telah bergabung ke Yogya. Adapun di Randhulawang tinggal tersisa pasukan Tumenggung Reksapraja dari Rema. Ketika itu Ki Tumenggung sudah memajukan pasukannya ke Pamalon. Tidak lama kemudian pasukan Kumpeni terlihat mendekati mereka. Pasukan Kumpeni terlihat berhenti menata barisan. Pasukan dada dan sayap telah menempati posisi mereka masing-masing. Setelah pasukan siap Kumpeni menyulut meriam. Satu kali tembakan musuh tak bergerak. Lalu disusul lagi dengan tembakan beruntun dengan meriam dan tiktak. Terlihat pasukan musuh bergerak mengindar. Pasukan Kumpeni darat dimajukan dan pasukan berkuda disiapkan di kiri kanan. Sejenak kemudian pasukan Kumpeni bersamaan menerjang. Barisan musuh diinjak begitu saja. Seketika pasukan Reksapraja bubar berlarian. Banyak dari mereka tertangkap. Yang lari terus dikejar. Tumenggung Reksapraja telah lari karena pasukannya telah habis. Dengan bergegas Reksapraja menuju Randhulawang untuk mengamankan Prabu Kuning.

Reksapraja sudah membawa Prabu Kuning meninggalkan Randhulawang. Sangat tergesa-gesa larinya sampai tak sadar kalau yang mengejar mereka hanya empat orang. Mereka hampir tertangkap. Raden Serada kudanya terkena peluru. Dengan terbirit-birit akhirnya mereka berhasil lolos setelah menyeberang sungai. Yang mengejar pun segera kembali menuju markas Randhulawang.

Kapten Hohendorff telah menduduki markas Randhulawang. Peristiwa takluknya Randhulawang terjadi di tahun Ehe, diperingati dengan sengkalan tahun: gajah nênêm ngobahakên bumi[1]. Pasukan Kumpeni sudah lega karena markas musuh sudah dihancurkan. Lalu ada yang melapor kalau Prabu Kuning berada di Pajarakan. Hohendorff segera mengambil kuda dan mengejar. Namun tidak ditemukan jejaknya. Hohendorff hanya bertemu dengan empat orang yang tadi mengejar Reksapraja dan Prabu Kuning.

Empat orang kemudian melapor, “Tuan, kalau saja saya punya banyak teman pasti tertangkap. Karena kami hanya berempat kami tak berani terus mengejar. Prabu Kuning dikawal sekitar lima puluh orang. Mereka bukan orang Cina dan bersenjata senapan.”

Hohendorff lalu mengejar ke ke Pajagalan. Namun tetap tak ditemukan jejak Prabu Kuning. Hohendorff lalu kembali ke Randhulawang. Tidak lama kemudian ada prajurit menemukan seorang tua renta bernama Sutakithung. Dia adalah abdi Prabu Kuning yang dulu ikut ke Sri Lanka. Kapten memerintahkan agar si Sutakithung dibunuh. Dia dianggap telah mengajarkan keburukan kepada tuannya. Setelah Sutakithung dibunuh mereka berembug hendak mengejar Sunan Kuning.

Arya Pringgalaya berkata, “Saran saya sebaiknya Prabu Kuning terus dikejar ke manapun larinya. Pasti dia akan kehabisan prajurit. Di sepanjang jalan pasti pengikutnya banyak berkurang.”

Kapten Hohendorff tidak menyetujui. Karena sudah kehabisan prajurit sebaiknya dibujuk saja agar menyerah. Ki Saradipa kemudian ditugaskan untuk mengejar dengan membawa surat. Waktu tengah malam Ki Saradipa berangkat. Pagi harinya Kapten Hohendorff berangkat duluan ke Yogya dengan membawa pasukan berkuda Kumpeni. Pasukan darat akan menyusul di belakang. Perjalanan Hohendorff dipercepat. Tidak lama segera sampai di Yogya. Ternyata Yogya sudah sepi. Hanya satu orang ditemukan di markas pasukan Cina. Ketika ditanya dia menjawab bahwa Prabu Kuning menuju ke selatan lalu naik ke Gunung Kidul. Hohendorff lalu beristirahat. Tidak lama kemudian Arya Pringgalaya datang membawa pasukan Jawa bersama serdadu Kumpeni darat.

Kapten Hohendorff berkata, “Raden, saya bermalam di sini menunggu kabar dari Ki Saradipa.”

Sampai dua hari kemudian Saradipa tidak nongol. Hohendorff kemudian menyuruh agar Saradipa dicari. Rajaniti kemudian menugaskan Jayawinata dan Jayasamodra untuk mencari Saradipa. Tidak lama kemudian Saradipa telah dibawa menghadap kepada Hohendorff.

Ki Saradipa berkata, “Tuan, saya tidak berhasil menemukan Prabu Kuning. Sudah lari jauh.”

Kapten Hohendorff hanya melengos mendengar alasan Saradipa. Kapten lalu membuat surat undang-undang berisi perintah kepada seluruh penduduk Mataram agar pulang ke rumah masing-masing. Ketika penduduk Mataram mengetahui ada undang-undang mereka pun pulang ke rumah mereka. Kehidupan di Mataram kembali tenteram seperti sedia kala. Untuk sementara Kapten Hohendorff melupakan musuh. Hohendorff masih terbuai hasil kemenangan di Mataram.

[1] Sengkalan: gajah nênêm ngobahakên bumi (1668 A.J., 1743/1744 A.D.).


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/01/26/babad-tanah-jawi-183-barisan-pasukan-prabu-kuning-di-randhulawang-hancur/

Kajian Sastra Gendhing (1:1-3): Sang Dipengrat Jawa

Pupuh 1, pada 1 sampai 3, Sinom (8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat Sastra Gendhing, ajaran dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram.

Sri Nata Dipengrat Jawa, Jeng Sultan Agung Matawis, kang ngadhaton aneng Karta, Ing jaman sakeh pra Mulki, ngrat Jawa Nyakrawati, Sabrang Pasisir syud, Amiril Muminina, Sayidina Panata Gama. Kyatireng ngrat wus sineksen saking Ngarab,

winenang among dirjeng ngrat. Jeng Sultan Agung Matawis, awit jaksuh tranging tingal, lir surya angkara wening, wikan pranateng gaib, sakarsanira Hyang Agung. Agung parosanira, Jawa den ulet lan kadis, mardikeng ngrat mustikaning jagad

Narendra moncol sasama, mrojol ing kerep tan wigih, pinarak ngideri jagad, tyasnya maruta jinaring mumpuni agal rempit. Kridhaning ngrat wus kawengku, miguna ing aguna, wujud langgeng datan lali, rasa mulya tinrusken rasa panedya


Kajian per kata:

Sri Nata (Sang Raja) Dipengrat (dipa ing rat, pelita dari jagad) Jawa (Jawa), Jeng (Kangjeng) Sultan (sultan) Agung (Agung) Matawis (Mataram), kang (yang) ngadhaton (berkeraton) aneng (ada di) Karta (Karta). Sang Raja pelita jagad Jawa, Kangjeng Sultan Agung Mataram, yang berkeraton di Karta.

Karta adalah nama sebuah tempat di tenggara kota Yogyakarta sekarang. Di tempat itulah dulu berdiri keraton Sultan Agung raja terbesar dari dinasti Mataram. Sebelum pindah ke Karta keraton Mataram berpusat di Kotagedhe, bagian timur kota Yogya sekarang.

Ing (di) jaman (zaman) sakeh (semua) pra (para) Mulki (raja), ngrat (jagad) Jawa (jawa) Nyakrawati (menguasai jagad), sabrang (tanah seberang) pasisir (pesisir) syud (tunduk berserah), Amiril (pemimpin) Muminina (para mukmin), Sayidina (tuan) Panata (pengatur) Gama (agama). Di zaman semua para raja jagad Jawa yang menguasai jagad tanah seberang dan pasisir tunduk berserah, pemimpin para mukmin tuanku pengatur agama.

Di sini disebutkan sifat-sifat Sultan Agung yang kekuasaannya meliputi raja-raja di tanah jawa dan pesisir serta di tanah seberang. Beliau seorang raja yang menjadi pemimpin para mukmin, dan tuan yang juga mengatur urusan agama. Gelar Amirul mukminin artinya pemimpin kaum mukminin. Sayidin Panatagama, berarti pemimpin yang mengatur urusan agama. Konsep raja Mataram memang khalifatullah, wakil Tuhan yang mengurus urusan di dunia.

Kyatireng (kyatira ing, kemasyhurannya di) ngrat (jagad) wus (sudah) sineksen (disaksikan) saking (dari) Ngarab (tanah Arab), winenang (diberi wewenang) among (menguasai) dirjeng (dirja ing, keselamatan dari) ngrat (jagad). Kemasyhurannya di jagad sudah disaksikan dari Tanah Arab, diberi wewenang menguasai keselamatan dunia.

Kemasyhuran Raja ketiga Mataram ini sudah sampai ke Tanah Arab sebagai seorang pemimpin para mukmin di tanah Jawa. Sehingga penguasa Mekkah waktu itu memberi gelar Sultan kepada Sang Raja. Inilah awal mula raja Mataram ketiga ini menggunakan gelar Sultan.

Jeng (Kangjeng) Sultan (Sultan) Agung (Agung) Matawis (Mataram), awicaksuh (bijaksana) tranging (terang dalam) tingal (penglihatan), lir (seperti) surya (matahari) angkara–wening (bersinar terang), wikan (mengetahui) pranateng (aturan yang) gaib (ghaib), sakarsanira (sekehendak) Hyang (Tuhan) Agung (Maha Agung). Kangjeng Sultan Agung Mataram, bijaksana terang dalam penglihatan, seperti matahari bersinar terang, mengetahui aturan yang ghaib, sekehendak Tuhan Maha Agung.

Sultan Agung adalah raja yang bijaksana. Tajam penglihatan batinnya, seperti tajamnya matahari yang bersinar terang, mampu menembus berbagai kegelapan. Beliau juga mengetahui segala aturan-aturan dunia ghaib, seolah-olah sudah mengetahui kehendak Tuhan Yang Maha Agung.

Agung (besar) parosanira (kekuatannya), Jawa (tanah Jawa) den ulet (dicampur) lan (dengan) kadis (hadits), mardikeng (menguasai) ngrat (dunia, jagad) mustikaning (permata dari) jagad (jagad). Besar kekuatannya, Tanah Jawa dicampur dengan hadits, menguasai dunia permata dari jagad.

Kekuatan Sultan Agung sangat besar. Seluruh tanah Jawa dibubuhi dan dicampur dengan pengajaran agama. Den ulet artinya dibubuhi dan dicampur sehingga rata, seperti mengulek sambal. Hadits adalah perlambang dari pengajaran agama yang diemban oleh Sultan Agung sebagai penegak hukum Allah. Kekuasaannya merdeka, tidak dikuasai oleh negeri lain. Beliau seolah permata jagad, artinya menonjol dan sangat kelihatan di antara semua manusia.

Narendra (Raja) moncol (melebihi) sasama (sesama raja), mrojol ing kerep (lolos dari yang rapat, peribahasa untuk penyebutan kemampuan yang melebihi rata-rata) tan (tak) wigih (segan), pinarak (berkunjung) ngideri (mengitari) jagad (jagad), tyasnya (hatinya) maruta jinaring (sanggup menjaring angin) mumpuni (mumpuni) agal (yang kasar) rempit (remit, halus). Raja yang melebihi sesama, mempunyai kemampuan di atas rata-rata, tak segan untuk berkunjung mengitari jagad, hatinya seolah sangguh menjaring angin, mumpuni dalam hal yang kasar dan yang halus.

Moncol sasama artinya primur interpares, lebih unggul dari sesamanya. Ungkapan lainnya adalah punjul ing apapak. Mrojol ing akerep artinya halangan apapun tak sanggup menghentikannya karena kemampuannya melebihi rata-rata. Sang Sultan tak segan untuk turun ke seluruh wilayah, mengitari daerah kekuasaannya. Blusukan kalau istilah zaman sekarang. Hatinya sangat peka, ibarat bisa menjaring angin karena sanggup mengetahui hal-hal yang halus. Beliau mumpuni dalam ilmu yang halus maupun yang kasar.

Kridhaning (kiprah dalam) ngrat (jagad) wus (sudah) kawengku (dikuasai), miguna (beguna) ing (dalam) aguna (kepandaiannya), wujud (wujud) langgeng (langgeng) datan (tidak) lali (lupa), rasa (rasa) mulya (bahagia) tinrusken (diteruskan) rasa (pada) panedya (kehendak). Kiprahnya dalam jagad sudah dikuasainya, berguna dalam kepandaiannya, wujud langgeng tidak lupa, rasa bahagia diteruskan dalam kehendak.

Sang Sultan kiprahnya dalam menguasai dunia sudah sangat mahir, tidak akan salah lagi. Seorang yang berguna dalam kepandaiannya, miguna ing aguna. Artinya ilmunya sungguh bukan sekedar pengetahuan yang membuat takjub belaka tetapi bermanfaat bagi banyak orang. Pandangannya terhadap dunia tak melupakan wujud langgeng, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Rasa bahagia dalam hati diwujudkan dalam tindakan untuk kebaikan. Meski seorang raja yang berkuasa beliau tidak memandang rakyat sebagai obyek kekuasaan. Kebijakannya tetap berpijak pada kebaikan untuk seluruh rakyat.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2020/08/05/kajian-sastra-gendhing-11-3-sang-dipengrat-jawa/

Babad Tanah Jawi (184): Raden Pangulu di Tembayat memberontak

Enam hari sudah Kapten Hohendorff berada di Yogya. Ada prajurit yang melapor bahwa di desa Tembayat muncul pemberontakan. Ada orang memaksa menjadi raja, namanya Raden Pangulu. Desa-desa yang ditaklukkan adalah sebelah selatan Tembayat sampai ke Gunung Kidul. Mendengar laporan tersebut Komandan Hohendorff sangat marah. Segera diperintahkan pasukan untuk naik ke Tembayat. Yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas adalah seorang kaliwon dari Kawiragunan, namanya Ki Wirawangsa. Segera Ki Wirawangsa berangkat bersama para panekarnya. Ketika perjalanan Wirawangsa sampai di Wedi dia mendengar kabar yang menyebutkan kalau Raden Suryakusuma ikut-ikutan ulah Raden Pangulu. Dia melihat ada enam orang berkuda yang mencurigakan menuju Tembayat.

Pagi harinya Ki Wirawangsa bersiap berangkat dari desa Wedi. Ketika sampai di Tembayat musuh sudah mengetahui kedatangan Wirawangsa. Raden Pangulu bersama pasukannya sejumlah tiga ratus orang telah menghadang. Mereka bertekad hendak perang sabil melawan serdadu Kumpeni Belanda yang telah mulai masuk ke tanah Jawa dan menguasai keraton. Maka semangat mereka pun menyala dan tidak takut mati. Ketika Wirawangsa datang mereka langsung menerjang. Ki Wirawangsa tak sempat mengokang senjata, pasukan Raden Pangulu telah menubruk dan memojokkan pasukan Wirawangsa. Karena merasa ciut hatinya Ki Wirawangsa dan pasukannya melarikan diri. Pasukan Ki Wirawangsa lalu mundur ke Gondang. Mereka berhenti di desa Trunuh dan kemudian beristirahat di dekat pasar.

Ki Wirawangsa lalu mengirim utusan ke Yogya untuk melapor kepada Komandan Hohendorff bahwa pasukannya kalah perang. Ki Wirawangsa meminta bantuan pasukan Kumpeni. Hohendorff segera menanggapi dengan menyiapkan pasukan Jawa dan Kumpeni. Hohendorff sendiri yang akan maju ke Tembayat. Pagi hari berikutnya pasukan Kumpeni dan Jawa sejumlah tujuh ratus prajurit sudah siap berangkat.

Sementara itu di Tembayat, Raden Pangulu setelah berhasil mengusir Ki Wirawangsa lalu berembug dengan para pembantunya. Mereka sepakat untuk menyerang musuh di Gondang. Alasan mereka mengincar Gondang karena tempat itu strategis dan menjadi lalu lintas pasukan Kumpeni yang akan ke Yogya. Kalau sewaktu-waktu pasukan Kumpeni lewat mereka bisa menyergap. Raden Pangulu sudah meminta pendapat Raden Suryakusuma yang juga setuju dengan rencana itu.

Namun belum sempat rencana itu dilaksanakan keburu datang pasukan Kumpeni di bawah pimpinan Kapten Hohendorff. Kapten hanya membawa sedikit prajurit, sembilan belas serdadu Kumpeni berkuda dan prajurit Ternate berkuda sejumlah dua puluh dua orang. Adapun serdadu darat Kumpeni masih tertinggal di belakang. Posisi mereka masih berada di Kajoran bersama Raden Arya Pringgalaya. Ketika Kapten Hohendorff melihat musuh di depan dia memberi isyarat kepada pasukan agar berhati-hati.

Di pihak lain Raden Pangulu ketika melihat pasukan Kumpeni datang langsung menerjang. Banyak para kaum yang ikut berperang dengan alasan jihad fi sabilillah. Mereka maju ke medan perang sambil membawa kitab Al Qur’an dan mengulum jampi-jampian. Namun mereka tidak memakai kuda, hanya menjadi prajurit darat. Hanya pemimpin mereka Raden Pangulu yang naik kuda.

Kumpeni telah bersiap menahan serangan pasukan Raden Pangulu. Ketika sudah dekat serdadu Kumpeni menyambut serangan Raden Pangulu dengan tembakan senapan. Namun semua senapan tiba-tiba ngadat. Sampai ditembakkan tiga kali senapan tak menyalak. Dicoba keempat kali pun tetap mejan. Raden Pangalu leluasa menyerang seolah tanpa perlawanan. Para kaum terus menyemburkan jampi-jampian dari mulut mereka. Mereka berteriak hendak jihad fi sabilillah. Ketika mereka sudah dekat Kapten Hohendorff membidik dengan pistol, tapi lagi-lagi senjata Kumpeni mejan. Tiga kali sang Komandan menarik pelatuk, senjata tak berbunyi sama sekali. Andai musuh membawa tombak, pasti Hohendorff sudah tewas karena sudah sangat dekat dengan musuh. Serdadu Kumpeni dan prajurit Ternate ketakutan karena senjata mereka tak berguna. Sedangkan pasukan Kumpeni Islam masih jauh di belakang.

Sementara itu di belakang, Raden Arya Endranata sudah meninggalkan barisan Pringgalaya dan bermaksud menyusul Kapten Hohendorff. Namun tak lama dia berbalik lagi. Orang-orang menertawakan pasukan Arya Endranata yang sok jagoan.

Di garis depan perang masih berlangsung. Kapten Hohendorff tak gentar meski pistolnya mejan. Sekali lagi dia mencoba menbidik. Kali ini pistolnya berbunyi. Seorang prajurit musuh di belakang Raden Pangulu terkena peluru. Si prajurit berteriak pamit mati. Raden Pangulu menoleh ke belakang. Tiba-tiba semua senapan Kumpeni berbunyi. Banyak prajurit Raden Pangulu yang terkena tembakan dan seorang lagi tewas. Raden Pangulu segera memutar kuda dan lari mundur. Seorang prajurit Jawa mengejarnya. Raden Pangulu jatuh dari kuda. Si pengejar hendak menombak. Kapten datang dan mencegahnya. Namun dari belakang tiba-tiba datang prajurit Ternate dan langsung menombak Raden Pangulu. Si Pangulu tewas di tempat. Komandan Hohendorff memarahi si Ternate karena sedianya si Pangulu akan ditangkap hidup-hidup. Semula Hohendorff mengira si Pangulu adalah Raden Suryakusuma karena kelewat berani.

Pasukan Raden Pangulu sudah bubar. Raden Suryakusuma lari ke timur dengan diiringi lima prajurit berkuda. Dalam perang singkat ini sebanyak tiga puluh tujuh prajurit dari kubu Raden Pangulu tewas. Adapun serdadu Belanda yang mati seorang. Setelah pertempuran selesai Kumpeni Islam yang berjalan darat di belakang baru sampai bersama Raden Pringgalaya dan kawan-kawan. Kapten segera memerintahkan Raden Pringgalaya untuk membakar rumah-rumah di Tembayat. Pukul tiga sore pasukan Hohendorff kembali ke Yogya. Sampai di Yogya sudah pukul sebelas malam. Pagi hari berikutnya Kapten Hohendorff mengirim utusan untuk melapor kejadian di Tembayat kepada Sang Raja. Sesampai di Kartasura utusan segera menghadap Sang Raja dan menyampaikan surat dari Hohendorff. Isi suratnya menyatakan bahwa musuh di Tembayat telah sirna.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/01/31/babad-tanah-jawi-184-raden-pangulu-di-tembayat-memberontak/

Babad Tanah Jawi (185): Mangunoneng dan Prabu Kuning tertangkap

Alkisah, Sang Raja sangat lega mendengar laporan Hohendorff. Surat Hohendorff sudah dibalas, utusan segera kembali ke Yogya. Dalam surat Sang Raja disebutkan bahwa setelah barisan Randhulawang hancur Prabu Kuning mengungsi ke Madiun. Kapten Sapanjang dan sisa-sia pasukan Cina juga sudah berada di Madiun. Kapten Hohendorff merasa bingung dalam bersikap. Dia masih ingin berada di Yogya karena wilayah Yogya belum sepenuhnya tunduk. Orang Bagelen belum kelihatan menghadap. Hohendorff berharap agar dirinya ada yang menggantikan berjaga di tanah Mataram.

Tidak lama kemudian datang utusan yang membawa surat dari Tumenggung Banyumas Yudanagara. Isi suratnya memberi tahu bahwa Mangunoneng telah tertangkap di Ledhok. Yang menangkap pasukan Tegal dan Kapten Baheman. Istri Sang Raja yang dibawa Mangunoneng dahulu, bernama Raden Ayu Dana, telah diamankan. Juga barang milik Sang Raja yang dijarah Mangunoneng berupa keris dan cincin. Kerisnya bernama Kyai Jakung. Adapun cincin  bernama Kyai Menjanganbang. Semua sudah dibawa ke Tegal.

Kapten Hohendorff lalu membalas surat Yudanagara. Utusan yang ditugaskan membawa surat adalah Ki Wangsanagara dan Ki Kartileksana. Sekalian mereka berdua nanti pulang ke Bagelen dan menaklukkan wilayah tersebut. Namun baru dua puluh satu hari di Bagelen keduanya dipanggil kembali ke Yogya. Karena waktunya singkat keduanya belum berhasil membawa seluruh orang Bagelen. Yang bernama Anggawangsa dan Cakrajaya belum mau menghadap. Kedua orang itu meminta tempo untuk menghadap besok saja. Tanah Mataram sudah bisa dikatakan dikuasai sepenuhnya. Kapten dan Arya Pringgalaya lalu membagi wilayah. Untuk wilayah bekas keraton Mataram diserahkan kepada Endranata. Adapun tanah di luar keraton diserahkan kepada Ki Rajaniti dan Ki Jayawinata. Kapten Hohendorff dan Pringgalaya kemudian pulang ke Kartasura.

Pada hari pisowanan Hohendorff dan Pringgalaya menghadap Sang Raja di Sitinggil. Sang Raja memberikan selamat dan menanyakan kabar mengenai musuh.

Hohendorff berkata, “Randhulawang sudah hancur, paduka. Mataram sudah kembali dalam kekuasaan paduka. Abdi paduka Endranata, Jayawinata, Rajaniti dan Jayasamodra hamba tinggal di sana. Namun ada abdi paduka dari Bagelen yang belum menghadap. Namanya Anggawangsa dan Cakrajaya. Keduanya masih meminta tempo. Mereka akan datang bersama kakak paduka Pangeran Danupaya.”

Sudah rinci laporan Kapten Hohendorff. Sang Raja bersukacita. Sang Raja masuk ke dalam puri. Para punggawa kembali ke rumah masing-masing. Kapten Hohendorff dan Arya Pringgalaya kembali ke Loji. Tidak berapa lama datang kiriman makanan berupa nasi dan ikan dari istana ke Loji. Ratu Ageng yang mengirimkan.

Kapten Hohendorff berkata kepada Pringgalaya, “Raden, tadi Sang Raja menyuruh saya untuk mempercepat kedatangan Pangeran Danupaya dan para abdi dari Bagelen.”


Arya Pringgalaya berkata, “Kalau begitu kita kirim saja Wangsanagara untuk membawa segera Pangeran dan para abdi Bagelen. Hohendorff sepakat. Sore harinya Hohendorff mengirim Raden Ayu Sumilah masuk ke dalam istana. Sang Raja sangat bersukacita. Namun mendadak pukul enam datang surat dari Komisaris Semarang. Surat itu berisi perintah kepada Hohendorff untuk meminta Raden Ayu Sumilah. Hohendorff kembali masuk ke istana dengan perasaan tidak enak. Baru saja diserahkan kini Raden Ayu Sumilah hendak diminta kembali.

Sesampai di hadapan Sang Raja dengan menghiba-hiba Hohendorff meminta maaf kepada Sang Raja. Raden Ayu Sumilah diminta kembali atas perintah Tuan Komisaris. Tuan Komisaris mengirim surat yang isinya meminta Raden Ayu Sumilah untuk dibawa ke Semarang. Hohendorff memohon agar Sang Raja tidak kecewa.

Sang Raja berkata, “Jangan khawatir engkau dalam perkara ini, komandan. Apa yang menjadi kehendak saudaraku Komisaris aku turuti.”

Raden Ayu Sumilah kemudian dikeluarkan dari istana dan segera dibawa ke Semarang. Pagi hari berikutnya, Ki Wangsanagara berangkat ke Bagelen. Sepuluh hari kemudian Surawikrama dikirim untuk menyusul ke Bagelen dengan diberi dua tugas. Pertama untuk memeriksa gua Karangbolong. Tugas kedua untuk mempercepat kedatangan para punggawa Bagelen yang sampai hari ini belum menghadap. Setelah selesai memeriksa gua Karangbolong Surawikirama segera menemui Wangsanagara, Anggawangsa dan Cakrajaya. Ketiganya disuruh segera menghadap ke Kartasura. Keempat orang sepakat mereka akan datang bersama Pangeran Danupaya. Raden Ayu Puspadirja, bibi Prabu Kuning juga akan dibawa serta. Sementara itu di Kartasura Kapten Hohendorff dan Arya Pringgalaya sudah menunggu-nunggu kedatangan Ki Wangsanagara.

Pada saat itu ada prajurit yang datang memberi tahu kalau putri Sang Raja yang bernama Raden Ajeng Warsah datang diantar oleh Mangkupraja. Bersamaan juga datang punggawa wanita dari di istana bernama Mbok Ajeng Piyaka. Bersamaan waktunya datang pula mantri lurah Niyaka bernama Demang Kramadaya. Mereka minta dijemput di Awangga. Sudah dijemput dan dibawa ke Kartasura.

Tidak lama kemudian datang utusan Ki Rajaniti dari Mataram. Utusan memberi tahu kalau Pangeran Danupaya sudah sampai di Mataram disertai Ki Anggawangsa dan Ki Cakrajaya. Pangeran Danupaya sekarang tinggal bersama Endranata di Kapurancak. Kapten Hohendorff lalu mengutus juru tulis Ki Puspayuda untuk berangkat menjemput. Waktu Ashar Ki Puspayuda berangkat, pukul tiga malam sampai di Pajejeran. Pagi hari Ki Puspayuda menemui Ki Rajaniti, lalu langsung dibawa ke Kapurancak di kediaman Raden Endranata. Ki Puspayuda sudah dipertemukan dengan Pangeran Danupaya. Ki Pasupayuda menyampaikan salam dari Kapten Hohendorff.

Berkata Ki Puspayuda, “Pangeran, perjalanan paduka diminta oleh saudara paduka Tuan Hohendorff untuk dipercepat. Saudara paduka sudah menunggu-nunggu. Juga adik paduka Sang Raja sangat mengharap kedatangan paduka.”

Pangeran Danupaya berkata, “Aku kemarin akan berangkat, tapi aku tunggu persetujuan Komandan.”

Pangeran Danupaya lalu berkata kepada Endranata, “Kalau demikian Paman, Anda katakan kepada teman-teman dari Bagelen kalau aku berangkat besok pagi.”

Sudah diberitakukan kepada semua bahwa pagi-pagi mereka akan berangkat. Setelah sehari berjalan mereka menginap di Wotgalih, lalu pagi hari berjalan lagi. Sesampai di Lusah mereka bermalam lagi. Ketika di Lusah Ki Puspayuda menemui Raden Aryu Puspadirja.

Raden Ayu Puspadirja berkata, “Bagaimana kabar Dinda Sumilah? Apa benar kabar yang mengatakan dia diberikan sebagai isteri orang Belanda?”

Ki Puspayuda berkata, “Benar dibawa ke Semarang, tapi belum pasti siapa yang akan menikahinya.”

Raden Ayu Puspadirja berkata, “Kalau seperti itu saya khawatir. Bagaimana nasib diriku nantinya.”

Berkata Ki Puspayuda, “Saya punya saran kepada Anda. Kalau ada barang milik ayah paduka Sang Raja atau pusaka, sebaiknya dihaturkan. Kelak kalau Anda diminta oleh Kumpeni barangkali ayah paduka tidak berkenan memberikan.”

Raden Ayu Puspadirja berkata, “Yang saya bawa Kyai Bicak. Namun saya tinggal di Bagelen. Dirawat oleh seorang kaum dan digantung di masjidnya.”

Ki Puspayuda lalu mengirim surat kepada kaum dimaksud untuk meminta Kyai Bicak. Pagi hari rombongan berangkat dari Lusah.  Sesampai di Delanggu mereka bermalam. Namun Ki Puspayuda tidak bermalam. Dia terus melanjutkan perjalanan sampai di Kartasura dan melapor kepada Kapten Hohendorff perihal Kyai Bicak yang dibawa Raden Ayu Puspadirja. Kapten Hohendorff kemudian melapor kepada Sang Raja. Sang Raja sangat lega karena Kyai Bicak sudah ditemukan. Karena Kyai Bicak merupakan pusaka perang yang sangat penting. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk mengambilnya.

Pagi hari, rombongan Pangeran Danupaya, orang Bagelan dan Raden Ayu Puspadirja sudah sampai di Loji. Kapten segera membawa mereka menghadap Sang Raja. Sang Raja  menerima mereka dan memberi perintah agar mereka bergabung kembali dengan para wadana lama mereka. Pangeran Danupaya pun diperintahkan agar menempati rumahnya yang dulu. Sedangkan Raden Ayu Puspadirja masih ditinggal di Loji. Adapun Cakrajaya diambil masuk istana sebagai pengasuh Pangeran Adipati.

Delapan hari sejak kedatangan rombongan dari Bagelen, datang surat dari Komisaris yang ditujukan kepada Kapten Hohendorff. Isi suratnya memberi tahu bahwa Prabu Kuning sudah sampai di Semarang. Juga dalam surat Tuan Komisaris meminta Raden Ayu Puspadirja agar dibawa ke Semarang. Kapten Hohendorff lalu melapor kepada Sang Raja bahwa Tuan Komisaris telah mengirim surat. Suratnya memberi tahu kalau Prabu Kuning telah berada di Semarang. Oleh Tuan Komisari Prabu Kuning sudah diganti nama menjadi Pangeran Selong. Dan, Raden Ayu Puspadirja diminta agar dibawa ke Semarang.

Sang Raja berkata, “Baiklah Kapten, segera bawalah ke Semarang. Itu tidak menjadi persoalan bagiku. Yang aku pikirkan hanyalah kemuliaan negeriku.”

Kapten Hohendorff berkata, “Jangan khawatir paduka, selama saya masih hidup.”

Pagi hari berikutnya Kapten Hohendorff segera melaksanapan perintah Sang Raja. Raden Ayu Puspadirja diberangkatkan ke Semarang. Sesampai di Semarang Raden Ayu Puspadirja dipertemukan dengan Pangeran Selong. Setelah peristiwa di tersebut, Ki Cakrajaya dikeluarkan dari kediaman Pangeran Adipati. Wangsadipa Kalegen yang kemudian menggantikan sebagai pengasuh Pangeran Adipati.

Beberapa waktu kemudian datang surat dari Tuan Komisaris Prisel di Loji. Surat ditujukan kepada Sang Raja dan kepada Kapten Hohendorff. Surat untuk Sang Raja segera dihaturkan oleh Kapten. Sang Raja membaca surat dengan seksama. Setelah salam dan pembukaan, isinya menyatakan: “Paduka Sang Raja saya minta datang ke Semarang. Sebab saya lancang meminta paduka datang karena saya ingin membuat perjanjian baru. Sekarang pekerjaan Kumpeni sudah selesai dan negeri sudah kembali aman. Saya berharap tanah Jawa kembali sejahtera.”

Setelah membaca surat Sang Raja merasa kerepotan. Adat kebiasaan tidak pernah seorang raja Kartasura datang ke Semarang. Sang Raja menyimpulkan Kumpeni hanya ingin berulah. Sang Raja menjadi marah, tetapi kemarahannya disamarkan.

Kapten Hohendorff berkata, “Paduka, bagaimana isi surat dari Semarang?”

Sang Raja berkata, “Surat ini memintaku pergi ke Semarang untuk membuat perjanjian baru setelah kita selesai perang.”

Hohendorff berkata, “Benar paduka, surat yang ditujukan kepada saya juga seperti itu isinya. Kalau pendapat saya, Tuan Komisaris itu orang tak tahu diri. Bagaimana jadinya kalau paduka pergi ke Semarang? Itu bukan tatakrama yang berlaku selama ini.”

Sang Raja berkata, “Aku serahkan kepadamu bagaimana baiknya balasan surat untuk Komisaris.”

Hohendorff berkata, “Kalau pendapat saya, sebaiknya Tuan Komisaris yang datang ke Kartasura untuk membuat kesepatakan baru itu. Jangan terlalu dipikirkan paduka.”

Sang Raja berkata, “Baiklah, ajaklah si Surawiguna ke Loji dan buatlah surat balasan kepada Komisaris.”

Hohendorff segera kembali ke Loji disertai Ki Surawiguna. Isi suratnya memaksa Tuan Komisaris, dengan sukarela atau terpaksa harus datang ke Kartasura. Setelah selesai surat segera dikirim ke Semarang.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2023/02/01/babad-tanah-jawi-185-mangunoneng-dan-prabu-kuning-tertangkap/

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...