Translate

Selasa, 01 Oktober 2024

Kajian Wulangreh (175-177): Datan Eling Ing Mulane

 Pada (bait) ke-175-177, Pupuh ke-10, Mijil, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Nanging arang ing mangsa samangkin,
kang kaya mangkono.
Kang wus kaprah iyo salawase,
yen wis ana lungguhe sathithik,
apan nuli lali,
ing wiwitanipun.

Pangrasane duweke pribadi,
sabarang kang kanggo,
datan eling ing mula mulane.
Awiting sugih sangkaning mukti,
panrimaning ati,
kaya nggone nemu.

Tan ngrasa kamurahaning Widdhi,
jalaran Sang Katong.
Jaman mengko ya iku mulane,
arang turun wong lumakweng kardi,
tyase tan saririh,
kasusu ing angkuh.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Tetapi jarang pada zaman kini,
yang seperti demikian.
Yang sudah lazim selama ini,
kalau sudah mendapat kedudukan sedikit saja,
segera lupa,
pada awal mulanya.

Anggapannya kepunyaan sendiri,
semua yang dipakai,
tidak ingat pada awal mulanya.
Awal dari kekayaan dan asal mulanya hidup berkecukupan,
penerimaan hatinya,
seperti dirinya menemukan saja.

Tidak merasa sebagai kemurahan Tuhan,
karena perantaraan sang Raja.
Zaman sekarang itu awalnya,
jarang terlahir orang yang melakukan (seperti itu) dalam pekerjaan,
hatinya tidak halus,
tergesa-gesa bersikap angkuh.


Kajian per kata:

Nanging (tetapi) arang (jarang) ing (pada) mangsa (zaman) samangkin (kini), kang (yang) kaya (seperti) mangkono (demikian). Tetapi jarang pada zaman kini, yang seperti demikian.

Pada kajian yang lalu disebutkan tentang sikap menerima ketentuan yang baik, yakni dengan menerima keadaan yang ada lalu berupaya untuk mencapai yang lebih baik. Sesudah itu perlihatkanlah rasa penerimaan dengan penuh kegembiraan kepada Tuhan dan kepada yang membantu dalam usaha itu. Itulah yang disebut bersyukur. Tetapi di zaman sekarang sikap seperti ini jarang ditemukan.

Kang (yang) wus (sudah) kaprah (lazim) iya (iya) salawase (selamanya), yen (kalau) wis (sudh) ana (ada) lungguhe (kedudukan, jabatan) sathithik (sedikit), apan nuli (segera) lali (lupa), ing (pada) wiwitanipun (awal mulanya). Yang sudah lazim selama ini, kalau sudah mendapat kedudukan sedikit saja, segera lupa, pada awal mulanya.

Yang umum dilakukan orang manakala sudah mendapat kedudukan barang sedikit saja kemudian lupa asal muasalnya. Lupa bahwa yang dicapainya berkat pertolongan orang lain, juga atas anugrah Yang Kuasa.

Pangrasane (anggapannya) duweke (kepunyaan) pribadi (sendiri), sabarang (semua) kang (yang) kanggo (dipakai), datan (tidak) eling (ingat) ing (pada) mula (awal) mulane (mulnya). Anggapannya kepunyaan sendiri, semua yang dipakai, tidak ingat pada awal mulanya.

Dianggapnya semua miliknya sendiri. Tak ingat lagi jika itu semua adalah anugrah  dari Tuhan dan dari Raja. Lupa bahwa kedudukannya kini juga diperoleh atas ijin dari para atasan dan usulan dari mereka. Ibarat kacang lupa pada kulitnya.

Awiting (awal dari) sugih (kaya) sangkaning (asal mulanya) mukti (berkecukupan), panrimaning (penerimaan) ati (hati), kaya (seperti) nggone (dirinya) nemu (menemukan). Awal dari kekayaan dan asal mulanya hidup berkecukupan, penerimaan hatinya seperti dirinya menemukan saja.

Kata mukti dari bukti yang artinya pangan, mukti artinya berkecukupan dalam pangan. Gatra ini menyorot tentang perilku terhadap kekayaan dan kecukupan akan kebutuhan. Mereka tidak ingat lagi dari mana mendapatkan itu semua. Bagaimana dia sampai pada kedudukannya kini, mereka lupa. Seolah-olah apa yang mereka punya kini hanya yang menemukan saja. Karena hanya menemukan lantas berlaku seperti rejeki nomplok, berhambur-hambur dalam membelanjakannya, tanpa ingat amanat yang menyertainya.

Tan (tidak) ngrasa (merasa) kamurahaning (kemurahan) Widdhi (Tuhan), jalaran (karena perantaraan) Sang Katong (Raja). Tidak merasa sebagai kemurahan Tuhan, karena perantaraan sang Raja.

Tidak menampakkan hartanya sebagai kemurahan Tuhan dengan perantaraan Raja. Jika dia menyadari bahwa semua kekayaan adalah anugrah dari Tuhan lewat sang Raja, tentu akan lain cara membelanjakannya. Dia akan membelanjakan sebagaimana yang sudah disebutkan dalam bait yang lalu, yakni bermanfaat kepada anak-istri dan orang-orang di sekitarnya. Tetapi karena dia merasa hanya “menemukan” maka membelanjankannya pun sekehendak hatinya.

Jaman (zaman) mengko (sekarang) ya iku (yaitu) mulane (awalnya), arang (jarang) turun (keturunan, terlahir) wong (orang) lumakweng (melakukan dalam) kardi (pekerjaan), tyase (hatinya) tan (tidak) saririh (sabar, halus), kasusu (tergesa-gesa) ing (dalam) angkuh (angkuh). Zaman sekarang itu awalnya, jarang terlahir orang yang melakukan (seperti itu) dalam pekerjaan, hatinya tidak halus, tergesa-gesa bersikap angkuh.

Zaman sekarang memang jarang terlahir orang yang melakukan itu dalam pekerjaannya. Yang ada adalah orang yang hatinya tidak halus, tergesa-gesa bersikap angkuh. Tak sabar untuk mempertontonkan kekuasaan, umuk dan sok kuasa, sok kaya, sok hebat. Mereka lupa hanya seorang abdi.

Zaman sekarang yang dimaksud dalam bait ini adalah pada masa serat Wulangreh ini ditulis, bukan zaman now!


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-175-177-datan-eling-ing-mulane/

Kajian Wulangreh (178;179): Anganggowa Sabar Rereh Ririh

 Pada (bait) ke-178;179, Pupuh ke-10, Mijil, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Arang kang sedya males ing sih,
Ing gusti Sang Katong.
Lan iya ing kabehing batine,
nora nedya narimeng Hyang Widdhi.
Iku wong tan wruh ing,
kanikmatanipun.

Yeku wong kurang narima ugi,
luwih saka awon.
Barang gawe aja age-age,
anganggoa sabar rereh ririh.
Dadi barang kardi,
resik tur rahayu.

 Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Jarang yang berkehendak membalas belas kasihi,
gusti sang Raja.
Dan juga dalam segenap batinnya,
tidak berkehendak bersyukur kepada Tuhan.
Itulah orang yang tak mengetahui pada,
kenikmatannya.

Orang yang kurang bersyukur itu juga,
lebih (buruk) dari buruk.
Dalam sembarang pekerjaan jangan tergesa-gesa,
lakukanlah dengan sabar tenang dan perlahan.
Menjadikan semua pekerjaan,
bersih dan baik.


Kajian per kata:

Arang (jarang) kang (yang) sedya (berkehendak) males (membalas) ing (pada) sih (belas kasih), ing (pada) gusti Sang Katong (gusti sang Raja). Jarang ada yang berkehendak membalas belas kasih gusti, yakni sang Raja.

Jarang orang berkehendak membalas belas kasih Raja. Balasan yang sesuai sebenarnya hanyalah tunduk dan patuh kepada segala perintah Raja, yang telah memberi kenikmatan berupa hadiah kedudukan dan pangkat kepadanya.

Ini adalah konsep relasi Raja dan kawula yang mirip relasi Tuhan dan manusia. Oleh karena memang sistem yang dipakai pada masa itu adalah sistem kawula-gusti, yang dalam sistem ini rakyat memang diposisikan sebagai kawula dan raja sebagai gusti. Bahkan untuk para pejabat negara mereka harus lebih patuh lagi kepada raja, oleh karena itu disebut sebagai abdi. Relasi antara rakyat dan raja, lambat laun mengalami pergeseran menjadi raja dan wong cilik. Ini terjadi menjelang kemerdekaan RI. Dr. Kuntowijoyo dalam berbagai bukunya mengulas hal ini secara detail. Silakan merujuk ke karya-karya cendekiawan asal Jogja tersebut untuk lebih jelasnya.

Lan (dan) iya (iya, juga) ing (dalam) kabehing (seluruh, segenap) batine (batinnya), nora (tidak) nedya (berkehendak) narimeng (beersyukur) Hyang Widdhi (kepada Tuhan). Dan juga dalam segenap batinnya, tidak berkehendak bersyukur kepada Tuhan.

Karena konsep wakil Tuhan itulah, posisi Raja pararel dengan Tuhan. Yang dalam hatinya ada keengganan untuk patuh dan menerima segala perintah Raja juga berarti dalam hatinya terbersit rasa tidak bersyukur kepada Tuhan.

Iku (itulah) wong (orang) tan (tak) wruh (mengetahui) ing (pada), kanikmatanipun (kenikmatannya). Itulah orang yang tak mengetahui pada, kenikmatannya.

Itulah orang yang tak tahu nikmat, tak tahu budi, tak ingat bagaiman asal mulanya dari setiap yang diperolehnya. Tak ingat awal kejadiannya.

Yeku (yaitu) wong (orang) kurang (kurang) narima (bersyukur) ugi (juga), luwih (lebih) saka (dari) awon (buruk). Orang yang kurang bersyukur itu juga, lebih (buruk) dari buruk.

Orang yang kurang menerima, kurang bersyukur tadi lebih buruk dari buruk. Atau buruk kuadrat. Karena sudah ingkar nikmat dari Raja juga tak mau bersyukur kepada Tuhan.

Barang (sembarang) gawe (pekerjaan) aja (jangan) ageage (tergesa-gesa), anganggoa (lakukanlah) sabar (dengan sabar) rereh (tenang) ririh (perlahan). Dalam sembarang pekerjaan jangan tergesa-gesa, lakukanlah dengan sabar tenang dan perlahan.

Sekarang kita akan beralih ke topik lain. Dalam setiap pekerjaan janganlah tergesa-gesa, lakukanlah dengan sabar, tenang dan perlahan-lahan. Ada tiga kata yang sering dipakai secara bersamaan, rarah, rereh, ririh. Rarah adalah mengira-ira hasil atau akibat dari tindakan. Rereh adalah cara melakukan tindakan dengan hati tenang, tidak tergesa-gesa. Ririh adalah melakukan pekerjaan dengan perlahan. Ini bukan dalam arti lemot, tetapi terukur, tidak grusa-grusu.

Dadi (menjadi) barang (semua, sembarang) kardi (pekerjaan), resik (bersih) tur (dan) rahayu (baik, selamat). Menjadikan semua pekerjaan, bersih dan baik.

Jika dilakukan dengan cara demikian maka akan menghasilkan pekerjaan yang bersih dari kesalahan, tidak perlu mindho-gaweni lagi. Juga hasil pekerjaan akan lebih baik. Yang melakukan juga akan mendapat keuntungan berupa pengalaman dan keahlian, ketrampilan dan kepercayaan.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-178179-anganggowa-sabar-rereh-ririh/

Kajian Wulangreh (180-182): Tan Narima Ing Ngilmu

 Pada (bait) ke-180;182, Pupuh ke-10, Mijil, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Wong kang tan narima dadi bêcik,
titahing Hyang Manon.
Iki uga iya ta rupane,
kaya wong kang angupaya ngèlmi,
lan wong sêdya ugi,
kapintêran iku.

Uwis pinter nanging iku maksih,
nggonira ngupados,
undhaking ing kapinterane.
Lan undhake kawruh ingkang yekti,
durung marem batin,
lamun durung tutug.

Ing pangawruh kang densenengi,
kang wus sem ing batos.
Miwah ing kapinteran wusdene,
ing samubarang pakaryan uwis.
Nora nana lali,
kabeh wus kawengku

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

(Ada lagi) contoh orang yang tidak menerima tapi berakhir baik,
terhadap ketetapan Yang Maha Tahu.
Ini terjadi pada,
orang yang mencari ilmu,
dan orang yang mencari,
kepandaian.

Walau sudah pandai tetapi masih,
berupaya mencari,
tambahan kepandaian.
Dan tambahan pengetahuan yang sejati,
belum puas hatinya,
kalau belum tuntas.

Dalam pengetahuan yang disenangi,
yang sudah merasuk dalam hati.
Serta dalam kepandaian lebih-lebih,
dalam semua pekerjaan sudah selesai.
Tidak ada yang lupa,
semua sudah dikuasai.


Kajian per kata:

Wong (orang) kang (yang) tan (tidak) narima (menerima) dadi (menjadi, akhirnya) bêcik (baik),  titahing (ketentuan) Hyang (Yang) Manon (Maha Tahu). (Ada lagi) contoh orang yang tidak menerima tapi berakhir baik, terhadap ketetapan Yang Maha Tahu.

Ada lagi contoh orang yang tidak menerima ketetapan Tuhan, dan berakhir baik. Yakni orang yang tidak menerima begitu saja apa yang sudah ditetapkan baginya pada awalnya, kemudian dengan segenap daya upaya berusaha menggapai hal yang lebih baik.

Iki (ini) uga (juga) iya (iya) ta rupane (wujudnya), kaya (seperti) wong (orang) kang (yang) angupaya (mencari) ngèlmi (ilmu), lan (lan) wong (orang) sêdya (hendak) ugi (juga), kapintêran (kepandaian) iku (itu). Ini terjadi pada, orang yang mencari ilmu, dan orang yang mencari kepandaian.

Yakni pada orang yang mencari ilmu, dan yang berupaya mencari kepandaian. Jika seseorang tidak melakukan apa yang disebut belajar atau berguru dan merasa cukup sebagai orang bodoh saja, maka dia akan tetap bodoh. Yang demikian justru tidak baik, penerimaan atas ketetapan Allah tidak berarti meniadakan usaha.

Uwis (sudah) pinter (pandai) nanging (tetapi) iku (itu) maksih (masih), nggonira ngupados (berupaya mencari), undhaking (menambah) ing (dalam) kapinterane (kepandaian).  Walau sudah pandai tetapi masih, berupaya mencari, tambahan kepandaian.

Orang-orang yang mencari ilmu sebaliknya, tetap mencari ilmu walau sudah pandai. Masih ingin menambah pengetahuannya setiap saat.

Lan (dan) undhake (tambahan) kawruh (pengetahuan) ingkang (yang) yekti (sejati), durung (belum) marem (puas) batin (hatinya),  lamun (kalau) durung (belum) tutug (tuntas). Dan tambahan pengetahuan yang sejati, belum puas hatinya, kalau belum tuntas.

Dan masih mencari tambahan pengetahuan yang sejati. Belum akan berhenti kalau belum puas dalam hatinya, takkan mandeg belajar kalau belum tuntas. Padahal ilmu itu takkan pernah tuntas dipelajari. Selalu saja ada hal-hal baru yang membuat seorang pandaipun merasa masih bodoh.

Ing (dalam) pangawruh (pengetahuan) kang (yang) densenengi (disenangi), kang (yang) wus (sudah) sem (sangat senang, merasuk di hati, dari kata sengseming (dalam) batos (hati). Dalam pengetahuan yang disenangi, yang sudah merasuk dalam hati.

Lebih-lebih dalam pengetahuan yang disenangi, yang kesenangannya itu merasuk ke dalam hati. Sengsem adalah rasa suka yang sangat, tergila-gila pada pengetahuan.

Miwah (dan) ing (dalam) kapinteran (kepandaian) wusdene (lebih-lebih), ing (dalam) samubarang (semua) pakaryan (pekerjaan) uwis (sudah selesai). Serta dalam kepandaian lebih-lebih, dalam semua pekerjaan sudah selesai.

Serta dalam kepandaian apapun, lebih-lebih ilmu-ilmu praktis, semua sudah selesai dipelajari. Yang dimaksud adalah ilmu yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan, atau teknik.

Nora (tidak) nana (ada) lali (lupa), kabeh (semua) wus (sudah) kawengku (dikuasai). Tidak ada yang lupa, semua sudah dikuasai.

Tidak ada yang lupa, semua sudah dipelajari. Inilah watak baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Seseorang hendaknya jangan cepat berpuas diri terhadap ketentuan Allah berkaitan dengan pengetahuan. Belajarlah agar semakin pintar dari hari ke hari. Sampai menguasai seluruh ilmu, semaksimal mungkin.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-180-182-tan-narima-ing-ngilmu/

Kajian Wulangreh (183-185): Tan Kena Den Waoni

 Pada (bait) ke-183;185, Pupuh ke-10, Mijil, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Lan maninge babo dipun eling.
Ing pituturingong,
sira uga padha ngempek-empek,
iya marang kang jumeneng Aji.
Ing lair myang batin,
den ngarsa kawengku.

Kang jumeneng nata ambawani,
wus karseng Hyang Manon.
Wajib padha wedi lan bektine,
aja mampang parintahing Aji.
Nadyan anom ugi,
lamun dadi Ratu,

nora kena iya den waoni,
parentahing Katong.
Dhasar Ratu bener parentahe,
kaya priye nggonira sumingkir,
Yen tan anglakoni,
pasti tan rahayu.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Dan lagi, Duhai, harap diingat!
Pada nasihatku,
engkau juga sama-sama berlindung,
juga kepada yang menjadi Raja.
Dalam lahir dan batinnya,
mendekatlah dalam kekuasannya.

Yang menjadi Raja memerintah negara itu,
sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Tahu.
Wajib bagi semua takut dan berbakti,
jangan mogok dari perintah Raja.
Walau masih muda juga,
kalau menjadi raja,

tidak boleh juga dicela,
segala perintahnya.
Seudah ketentuan kalau Raja selalu benar perintahnya,
bagaimana engkau akan mengelak?
Kalau tak melaksanakan,
pasti takkan selamat.


Kajian per kata:

Lan (dan) maninge (lagi) babo (Duhai) dipun (di) eling (ingat), ing (pada) pitutur (nasihat) ingong (aku), sira (engkau) uga (juga) padha (sama) ngempekempek (berlindung),  iya (juga) marang (kepada) kang (yang) jumeneng (menjadi) Aji (Raja). Dan lagi, Duhai, harap diingat! Pada nasihatku, engkau juga sama-sama berlindung, juga kepada yang menjadi Raja.

Dan lagi, Duhai, harap diingat! Satu lagi nasihatku! Engkau semua juga sama-sama berlindung kepada yang menjadi Raja. Siapaun dia yang telah ditetapkan sebagai Raja, kepadanyalah engkau berlindung.

Ing (dalam) lair (lahir) myang (dan) batin (batin), den ngarsa (mendekatlah) kawengku (dalam kuasa). Dalam lahir dan batinnya, mendekatlah dalam kekuasannya.

Secara lahir dan dalam batin, mendekatlah dalam kekuasaannya. Karena engkau telah berlindung maka masuklah dalam kuasanya, jangan pernah membangkang atau berselisih dengannya.

Kang (yang) jumeneng (menjadi) nata (raja) ambawani (memerintah), wus (sudah) karseng (kehendak) Hyang Manon (Yang Maha Tahu). Yang menjadi Raja memerintah negara itu sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Tahu.

Karena siapapun yang telah diangkat menjadi Raja dan memerintah negeri, sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Tahu. Sudah atas seizinnya, karenanya Dia telah meridhoinya menjadi Raja. Jika tidak pastilah Dia yang akan menurunkannya. Ini sudah takdir!

Wajib (wajib) padha (sama, semua) wedi (takut) lan (dan) bektine (berbakti), aja (jangan) mampang (mogok) parintahing (perintah) Aji (Raja). Wajib bagi semua takut dan berbakti, jangan mogok dari perintah Raja.

Maka wajib bagi semuanya untuk takut dan berbakti. Jangan ada yang mogok tidak menjalankan perintahnya. Apapun alasannya!

Nadyan (walau) anom (muda) ugi (juga), lamun (kalau) dadi (jadi) Ratu (Raja), nora (tidak) kena (boleh) iya (juga) den (di) waoni (cela, nyinyir), parentahing (perintah) Katong (raja). Walau masih muda juga, kalau menjadi raja, tidak boleh juga dicela, segala perintahnya.

Walau lebih muda juga, kalau menjadi Raja, tidak boleh engkau cela. Yang harus dilakukan hanyalah tunduk dan patuh. Tidak ada opsi mencela raja, itu termasuk pembangkangan namanya.

Dhasar (sudah ketentuan) Ratu (raja) bener (benar) parentahe (perintahnya), kaya (seperti) priye (bagaimana) nggonira (engkau) sumingkir (mengelak), yen (kalau) tan (tak) anglakoni (melaksanakan), pasthi (pasti) tan (takkan) rahayu (selamat). Seudah ketentuan kalau Raja selalu benar perintahnya, bagaimana engkau akan mengelak? Kalau tak melaksanakan, pasti takkan selamat.

Sudah ketentuan hukum bahwa Raja selalu benar perintahnya. Itulah hukum yang berlaku pada sistem kerajaan. Bagaimana engkau akan mengelak, tak melaksanakan perintah? Jika demikian pasti hidupmu takkan selamat.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-183-185-tan-kena-den-waoni/

Senin, 30 September 2024

Kajian Wulangreh (186;187): Den Eling Sangkaning Kamukten

 Pada (bait) ke-186;187, Pupuh ke-10, Mijil, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV.

Krana ingkang kaprah mangsa iki,
anggone angrengkoh,
tan rumangsa lamun ngempek empek.
Ing batine datan nedya eling,
kamuktene iki,
ngendi sangkanipun.

Lamun eling jalarane mukti,
pasthine tan ngrengkoh.
Saka durung bisa ngrasakake,
ing pitutur engkang dhingin-dhingin.
Sarta tan praduli,
ing wong sepuh.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Karena yang lazim di zman ini,
dalam bersikap,
tidak merasa kalau berlindung.
Dalam batinnya tidak hendak ingat,
bahwa hidupnya yang berkecukupan ini,
darimana asalnya.

Kalau ingat sebab berkecukupan,
pastinya takkan bersikap seperti itu.
Karena belum bisa merasakan,
pada nasihat orang dulu-dulu.
Serta tak peduli,
ajaran para orang tua.


Kajian per kata:

Krana (karena) ingkang (yang) kaprah (lazim) mangsa (zaman) iki (ini), anggone (dalam) angrengkoh (bersikap), tan (tidak) rumangsa (merasa) lamun (kalau) ngempek empek (berlindung). Karena yang lazim di zman ini, dalam bersikap, tidak merasa kalau berlindung.

Karena yang lazim di zaman sekarang ini, dalam bersikap tak merasa sebagai orang yang berlindung. Tidak sadar bahwa dirinya menerima pengayoman dari Raja. Tidak sadar bahwa dirinya hanya menumpang hidup di kerajaan.

Ing (dalam) batine (hati) datan (tidak) nedya (hendak) eling (ingat), kamuktene (kecukupannya) iki (ini), ngendi (darimana) sangkanipun (asalnya). Dalam batinnya tidak hendak ingat, bahwa hidupnya yang berkecukupan ini, darimana asalnya.

Dalam batinnya juga tidak berkehendak mengingat, bahwa hidupnya yang sekarang berkecukupan, dengan terpenuhinya sandang pangan, kedudukan dan jabatan, itu semua diperoleh lewat perantaraan Raja. Jika Raja tak memberi kesempatan untuk berkarir dan memegang jabatan maka mustahi semua itu diperoleh, tapi kok ya tidak menyadari itu semua.

Lamun (kalau) eling (ingat) jalarane (sebab) mukti (berkecukupan), pasthine (pastinya) tan (tidak) ngrengkoh (bersikap seperti itu). Kalau ingat sebab berkecukupan, pastinya takkan bersikap seperti itu.

Jika memang mengingat asal muasal dari apa yang dicapainya kini, tentulah sikapnya tidak demikian, abai atau membantah atau menghindar perintah Raja.

Saka (karena) durung (belum) bisa (bisa) ngrasakake (merasakan), ing (pada) pitutur (nasihat) engkang (yang) dhingindhingin (dulu-dulu). Karena belum bisa merasakan, pada nasihat orang dulu-dulu.

Atau dia bersikap demikian itu karena belum memahami nasihat orang dulu-dulu. Boleh jadi karena ketidaktahuannya akan sikap yang semestinya dilakukan.

Sarta (serta) tan (tak) praduli (peduli), wuruking (ajaran) wong (orang) sepuh (tua). Serta tak peduli, ajaran para orang tua.

Atau mungkin memang karena tidak peduli dengan ajaran para orang-orang tua. Itu bisa saja terjadi karena memang orang-orang muda belum berpengalaman dalam kehidupan.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/12/10/kajian-wulangreh-186187-den-eling-sangkaning-kamukten/

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...