Di Kartasura, Pangeran Adipati Puger sangat bersedih. Setiap hari mengurangi makan dan tidur, selalu meminta kepada Tuhan Yang Maha Suci agar mendapat petunjuk apakah sudah diizinkan untuk menjadi raja. Di saat bersamaan datang berita kalau Raden Suryakusuma sudah ditangkap di desa Losari. Raden Suryakusuma berhasil diringkus karena tipudaya Ki Banyakwidhe. Para prajuritnya juga sudah diborgol. Pangeran Puger segera memanggil para putra dan para punggawa Kapugeran. Telah menghadap semua di depan Setrajaya, Banyakpatra, Jiwasuta dan Jadarma.
Pangeran Puger berkata, “Semua prajuritku di Kapugeran, lurah dan sinom. Siapa yang masih patuh dan ingin mengabdi kepadaku, segera bersiaplah. Yang sudah tidak ingin ikut denganku silakan mencari hidup sendiri.”
Para punggawa semua menyatakan ikut serta, tak ada yang inggin tinggal. Suka duka bahkan mati ingin ikut dengan Sang Pangeran. Segera mereka bersiap dan ketika waktu orang-orang tidur mereka berangkat dari Kapugeran lewat pintu belakang. Pada malam itu, hari Selasa, tanggal dua Dulkangidah, tahun Alip mereka meninggalkan Kartasura. Peristiwa itu ditandai dengan sengkalan: naga kalih ngoyak jagat[1].
Sementara itu, ada seorang warga Kapugeran yang ternyata tidak ikut serta, namanya Ki Wangsamenggala. Setelah Pangeran Puger berangkat Wangsamenggala lari ke kediaman Patih Sumabrata untuk memberi tahu sang Patih bahwa Pangeran Puger telah lolos dari kotaraja. Sang Patih kaget, dengan tergesa-gesa menuju istana untuk melapor kepada Sang Raja.
Patih Sumabrata berkata, “Hamba beritahukan, paman paduka Pangeran Puger sekarang sudah lolos dari kota. Tidak ada satupun warga Kapugeran yang ditinggal. Semua ikut pergi.”
Sang Raja sangat kaget dan murka. Segera meraih Kyai Bicak dan dipukul bertalu-talu. Suara Kyai Bicak menggema ke angkasa Kartasura, membuat kaget para prajurit. Segera yang mendengar Kyai Bicak bersiaga. Ada seorang demang, namanya Demang Malang. Si Demang sedang enak-enak menari tayub di tengah malam bersama para prajuritnya. Ketika mendengar bunyi Kyai Bicak segera si demang lari dan berganti pakaian perang. Semua prajurit Demang Malang sudah bersiap di hadapan Sang Raja di depan Sitinggil.
Sang Raja berkata, “Hai Demang Malang, segeralah engkau berangkat duluan bersama pasukanmu. Susulah paman dan tangkaplah kalau bisa dikejar. Kalau melawan selesaikan.”
Demang Malang menyembah dan segera berangkat malam itu juga. Sementara itu para bupati yang mendengar Kyai Bicak berbunyi satu per satu berdatangan membawa pasukan ke hadapan Sang Raja untuk bersiap menerima perintah.
Sang Raja berkata, “Hai Adipati Surabaya, engkau segeralah berangkat mengejar paman. Para prajurit mancanegara dan prajurit pesisir bawalah semua. Kalau terkejar di jalan segeralah ditangkap. Kalau melawan bunuhlah.”
Adipati Surabaya segera berangkat dengan tergesa-gesa. Sementara itu pasukan Demang Malang yang berangkat duluan sudah berhasil menyusul Pangeran Puger. Terlihat rombongan Pangeran sangat kerepotan. Para istri dan anak-anak banyak tertinggal di belakang, juga para wanita yang ikut. Oleh Demang Malang mereka diberikan kuda agar cepat sampai, supaya tidak tersusul oleh para pengejar yang lain. Pangeran Puger sudah hampir menyeberang sungai Tuntang.
Pasukan pengejar lain di bawah pimpinan Adipati Surabaya juga sudah dekat. Oleh Adipati Surabaya diatur agar jangan sampai mendahului. Adipati Surabaya sengaja memperlambat bila terlihat Pangeran Puger akan tersusul. Adipati Surabaya sebenarnya satu hati dengan Pangeran Puger, makanya Pangeran tidak tertangkap. Pangeran Puger sudah berhasil menyeberang sungai Tuntang.
Sementara itu di Semarang, Rangga Yudanagara telah mengirim pasukan untuk menjemput Pangeran Puger. Punggawa yang ditunjuk adalah Ngabei Martayuda. Dengan membawa tukang pikul dan kuda Ngabei Martayuda berangkat. Rombongan penjemput sudah berhasil bertemu dengan Pangeran Puger di desa Karamas. Ngabei Martayuda turun dari kuda dan menyembah Pangeran Puger.
Pangeran Puger berkata, “Engkau disuruh untuk apa?”
Ki Martayuda berkata, “Hamba diutus agar menjemput, Anda dipersilakan masuk ke kota Semarang beserta abdi paduka semua. Raden Rangga menghaturkan kuda pengangkut dan tukang pikul untuk membawa barang.”
Pangeran Puger berkata “Baik saya ucapkan terima kasih.”
Semua warga Kapugeran yang kerepotan sudah mendapat kuda angkut dan tukang pikul barang bawaan. Rombongan kembali meneruskan perjalanan. Singkat cerita Pangeran Puger sudah masuk kota Semarang pada hari Kamis, tanggal empat Dulkangidah, tepat di tengah malam. Ketika itu sedang memasuki mangsa keempat. Rangga Semarang menyambut kedatangan Pangeran Puger di Peterongan. Rangga Yudanagara menyembah dan mencium kaki Pangeran. Lalu mengiringi Pangeran masuk ke kota Semarang. Yang dituju adalah kediaman Rangga Yudanagara. Untuk sementara Pangeran menginap di situ. Pagi hari Mas Rangga memberi tahu ke Loji Kumpeni di Semarang.
Berkata Mas Rangga kepada alperes yang berjaga, “Alperes, sekarang Pangeran Puger menginap di rumah saya. Apakah engkau akan menemui Pangeran?”
Alperes menjawab, “Saya belum berani menemui sebelum melapor kepada Tuan Kumendur di Jepara. Tetapi pesanku jagalah Pangeran di rumahmu dan jamulah dengan baik. Sekarang aku mengirim utusan ke Jepara untuk memberi tahu Tuan Kumendur. Engkau pulanglah dulu.”
Mas Rangga pulang ke rumahnya, alperes segera mengirim utusan ke Jepara. Singkat cerita Tuan Kumendur sangat suka hati mendengar Pangeran sudah berada di semarang. Tiga hari kemudian Kapten Kenol dan Petor Jumlut berangkat ke Semarang untuk menemui Pangeran Puger. Pertemuan diadakan di Loji Semarang. Pangeran didampingi oleh Rangga Yudanagara, sedangkan dari Kumpeni yang hadir Kapten Kenol, Petor Jumlut dan Alperes Baromas.
Kedatangan Pangeran Puger di Loji disambut dengan tembakan kehormatan. Setelah bunyi senjata reda para pembesar duduk.
Petor Jumlut berkata, “Selamat datang tuan di negeri Semarang.”
Pangeran Puger menjawab, “Terima kasih Petor.”
Kapten Kenol berkata, “Segenap abdi paduka Kumpeni di Semarang sangat suka hati dengan kedatangan paduka. Tetapi bila Pangeran mempunyai perintah, sebaiknya kami segera diberi tahu.”
Pangeran tidak berkata sepatah pun, hanya memberi isyarat agar Rangga mendekat. Mas Rangga tanggap dan mendekati Kapten Kenol.
Berkata Rangga Yudanagara dengan berbisik, “Pangeran belum berkenan berunding sekarang. Belum tenang dari memikirkan banyak perkara. Kalau ada persoalan katakan kepadaku dulu.”
Pangeran Puger sudah kembali ke kediamannya, Kapten Kenol dan Petor Jumlut mengantar sampai di rumah Rangga Yudanagara.
Kapten Kenol berkata, “Hai Rangga, pesaku engkau berhati-hatilah menjaga Pangeran Puger. Jangan sampai tidak terjamin makannya. Dan kalau ada Belanda yang berani menganggu kepada Pangeran atau abdinya, segera tangkaplah dan antarkan ke Loji.”
Kapten Kenol kembali pulang. Malam harinya Pangeran Puger dan Rangga Yudanagara berembug.
Rangga berkata, “Bila paduka berkenan segeralah mengirim utusan ke negeri Betawi dengan disertai surat meminta tolong kepada Gubernur Jenderal.”
Pangeran berkata pelan, “Hai Besan, kalau sekarang aku malu mengatakan permintaan itu kalau belum ada tanda-tanda aku mendapat dukungan dari para punggawa Kartasura. Kalau Dinda Adipati Sampang dan Adipati Surabaya sudah merapat ke Semarang aku baru yakin.”
Rangga berkata, “Benar kehendak paduka. Kalau demikian saya akan mengirim utusan ke Sampang dan ke Surabaya agar mereka mempercepat perjalanan.”
Pangeran Puger berkata pelan, “Aku serahkan padamu. Tetapi Dinda Adipati Sampang sudah pulang ke Madura. Tinggal si Jangrana yang masih berada di Kartasura.”
Mas Rangga berkata pelan, “Tuan, saya ada permintaan. Bila paduka nanti berhasil menjadi raja, saya minta tanah di sepanjang jalan sejumlah seribu menjadi tanah garapan saya. Dan permintaan saya lagi kalau paduka berhasil menjadi raja, jangan sampai meniru kakak paduka Sinuhun Amangkurat, istrinya ikut memerintah.”
Pangeran Puger berkata, “Ki Besan, segala permintaanmu jangan khawatir, aku turuti.”
Mas Rangga Yudanagara segera memerintahkan orangnya agar berangkat ke Surabaya dan ke Madura. Surat sudah dibawa, utusan segera berangkat. Di saat yang sama ada utusan dari Betawi datang ke Semarang. Si utusan membawa surat panggilan untuk Pangeran Puger agar menghadap Gubernur Jenderal di Betawi. Pangeran Puger berkelit dengan mengatakan kalau dirinya berangkat ke Betawi orang Jawa kehilangan kepercayaan padanya. Para punggawa dan kawula di tanah Jawa mengira dirinya menjadi pesakitan atas perbuatan anak Prabu di Kartasura. Karena itu Pangeran tak ingin datang ke Betawi.
Mas Rangga berkata, “Sudah benar alasan paduka.”
Pangeran Puger berkata, “Hai Ki Besan, aku ingin engkau pergi ke Betawi menjadi penggantiku untuk berunding dengan Gubernur Jenderal.”
Mas Rangga menyembah, “Saya bersedia. Jangankah nanti repot atau sakit, matipun saya tak menghindar. Tetapi saya punya permintaan besok setelah kepergian saya kalau paduka diminta oleh Kapten Kenol datang ke Loji jangan bersedia. Dan kalau Kapten Kenol bicara apapun jangan paduka layani. Tundalah sampai saya datang. Katakan kepada Belanda segala urusan sudah aku serahkan kepada si Rangga.”
Pangeran berkata, “Baik Ki Besan, jangan khawatir. Semoga kelak tercapai apa yang kau pesankan.”
Mas Rangga berkata lagi, “Dan besok sepeninggal saya si Adipati Surabaya dan Adipati Sampang paduka perintahkan segera menyatakan kalau melawan Sang Raja Kartasura. Supaya mereka terlihat sudah tunduk kepada paduka. Kalau Adipati Semarang, Adipati Surabaya dan Adipati Sampang sudah menyatakan tunduk, artinya tanah wilayah timur sudah satu tekad mendukung paduka. Dua pembesar dari timur itu takkan ada yang berani melawan. Kalau sudah demikian akan mudah saya mengajukan permintaan kepada Gubernur Jenderal agar memberi izin paduka menjadi raja.”
Pangeran Puger berkata, “Ki Besan, perkiraanku Dinda Adipati Madura tidak akan menelantarkanku sepeninggalmu ke Betawi. Dan Adipati Surabaya aku kira takkan ingkar janji.”
Mas Rangga berkata dengan menyembah, “Ini sebagai tanda bakti saya untuk paduka. Emas bobot tujuh kati dan riyal dua ribu untuk membeli pakaian perlengkapan menjadi raja di Semarang.”
Pangeran berkata, “Ki Besan, atas pemberian ini aku ucapkan terima kasih. Tetapi bawalah untuk bekal karena aku tidak pergi-pergi. Kamu yang lebih memerlukan biaya. Semoga kelak mendapat pertolongan Tuhan.”
Ki Rangga menyembah dan segera berangkat ke Betawi dengan naik kapal. Mas Rangga membawa bekal dua belas ribu riyal. Berangkat dari Semarang pada bulan Muharam tanggal tujuh, hari Rabu. Berangkat bersama utusan Tuan Gubernur Jenderal. Setengah bulan kemudian Mas Rangga sampai di Betawi. Setelah istirahat delapan hari Mas Rangga diberi waktu untuk bicara. Mas Rangga menghadap Gubernur Jenderal di Kota Intan.
Gubernur Jenderal sudah tahu kalau Mas Rangga datang mewakili Pangeran Puger. Gubernur menerima Mas Rangga diiringi para Dewan Hindia sejumlah dua belas orang. Semua menyambut Mas Rangga dengan hormat dan Mas Rangga segera menyerahkan surat dari Pangeran Adipati Puger. Surat sudah diterima Gubernur Jenderal dan dibaca dengan seksama. Selesai membaca surat terdengar bunyi tembakan kehormatan sembilan kali. Mas Rangga sudah dipersilakan kembali ke pondokannya.
Tujuh bulan sudah Mas Rangga berada di Betawi. Pembicaraan dengan Belanda berlangsung sangat alot. Antara Gubernur dan para Dewan Hindia belum satu pendapat. Yang menjadi ganjalan adalah Pangeran Puger sudah masyhur sebagai perwira yang berani kepada Belanda. Ketika Kapten Francois Tack gugur dalam perang di alun-alun Kartasura ternyata Pangeran Puger lah pembunuhnya dengan menyamar sebagai prajurit Surapati.
Pada suatu pagi Mas Rangga dipanggil oleh Dewan Hindia. Setelah sampai di hadapan Dewan Hindia Mas Rangga ditanyai berbagai hal.
Berkata Dewan Hindia, “Hai Rangga Yudanagara, engkau adalah orang Kumpeni di Semarang. Sekarang engkau aku uji maka katakan yang sebenarnya. Jangan kecewa hatimu karena Tuan Gubernur Jenderal tak berkenan mengangkat Pangeran Adipati Puger sebagai raja. Kalau engkau bisa carilah keturunan Mataram yang mau melawan rajanya, itu engkau bujuklah. Tuan Gubernur Jenderal hendak melestarikan persaudaraan dengan raja Jawa. Tuan Jenderal sudah sakit hati dengan Susunan Amangkurat Mas, tetapi carilah orang lain yang pantas menjadi raja selain Pangeran Puger. Gubernur Jenderal tidak setuju kalau Pangeran Puger yang menjadi raja karena berani melawan Belanda.”
Mas Rangga berkata, “Wahai para tuanku semua, sangat keliru keputusan Tuan Jenderal itu. Ketika dulu siapa yang menjadi raja? Siapa yang menguasai tanah Jawa? Tidak lain adalah Sunan Amangkurat. Pangeran Puger hanya menurut perintah Sang Raja karena bertindak menjadi abdi yang harus patuh pada tuannya. Walau banyak keturunan Mataram, sungguh tidak sama dengan Kangjeng Pangeran Puger. Pangeran ditakuti oleh para prajurit. Dan kalau saja Pangeran hendak menjadi raja, itu sudah pernah dilakukan ketika di Mataram dulu. Atas perintah sang ayah Prabu Amangkurat Agung sang pangeran menjadi raja di Mataram. Orang Mataram sudah tunduk semua kepadanya. Ketika sang kakak bersama Belanda berkeraton di Kartasura, Pangeran Puger menyerahkan kekuasaan. Sekarang sang kakak telah wafat, tidak usah mengulang dari awal semua prajurit tunduk kepadanya. Walau tak diangkat oleh Kumpeni pun, Pangeran bisa menjadi raja bila Pangeran menginginkan. Semua prajurit dan bupati sudah menyatakan tunduk kepadanya.
Tuan, saya ini menjadi bawahan Kumpeni di Semarang. Daging saya ada karena makan dari pemberian Anda semua. Maka sebagai balasan kepada Anda, saya menyayangkan bila Anda semua keliru sehingga membuat kerusakan untuk Anda sendiri. Dan saya pun tak hendak pulang ke Semarang kalau Kumpeni tak menyetujui pengangkatan Pangeran Puger sebagai raja. Saya akan tinggal di Betawi sampai mati. Tidak akan kuat saya melihat tanah Jawa rusak. Orang-orang pesisir semua tak urung membuat huru-hara dan membuat orang kecil menjadi korban. Tanah pesisir akan dilarang bagi orang seberang yang berdagang. Siapa yang akan menderita kerugian besar?”
Para Dewan Hindia terdiam, tidak ada yang bisa menjawab perkataan Mas Rangga. Akhirnya pertemuan hari itu bubar tanpa keputusan. Gubernur Jenderal sangat marah karena kehendaknya ditentang. Mas Rangga kemudian dikurung. Setiap minggu dikeluarkan dan diuji lagi pendapatnya. Tetapi setiap kali ditanya jawaban Mas Rangga tetap sama. Mas Rangga sudah tidak berhitung kepada nasibnya sendiri. Semua karena sangat besar kasihnya kepada Pangeran Puger. Hanya Pangeran Puger yang selalu dipikirkan, maka dia tak takut mati lagi. Mas Rangga kembali dikurung selama tujuh hari sebelum akhirnya dipanggil oleh Gubernur Jenderal untuk yang terakhir kali.
Di hadapan sidang para Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal Mas Rangga ditanya, “Hai Rangga Semarang, sekarang aku bertanya kepadamu, apa untungnya bagi Belanda jika mengangkat Pangeran Puger menjadi raja?”
Mas Rangga berkata, “Tuan saya bertanya apa untungnya bagi Kumpeni selain sudah mendapat perjanjian sejak dulu dengan sang kakak ketika masih menjadi raja Kartasura? Perjanjian itu sudah menyebutkan tanah Pasundan dan Cirebon dan Pamekasan menjadi milik Kumpeni. Kumpeni juga yang menguasai pesisir tanah Jawa. Orang seberang selain Kumpeni tak boleh datang kalau tak mendapat izin dari Kumpeni. Masih mau apalagi? Itu sudah terlalu banyak Tuan-Tuan.”
Masih berlangsung pembicaraan mereka, mendadak ada utusan datang dari Semarang. Kapten Kenol dan Petor Jumlut memberi tahu kepada Gubernur Jenderal bahwa negeri Kartasura sekarang digoyang kekuatan dari wilayah timur dan pesisir. Dua adipati dari Sampang dan Surabaya sudah menyatakan keluar dari Kartasura. Yang masih ikut Kartasura tinggal negeri Demak, Kendal, Kaliwungu dan Pekalongan. Adipati Sampang sekarang masih di Madura berjaga-jaga kalau Adipati Pasuruan Surapati ikut nimbrung. Adipati Madura sudah mengirim utusan ke Semarang dengan membawa prajurit untuk menjaga Pangeran Puger. Seribu prajurit yang bosan hidup ditugaskan mengawal Sang Pangeran. Mereka meminta agar Pangeran segera mengumumkan menjadi raja di negeri Semarang. Tetapi Pangeran Puger belum setuju karena masih menunggu keputusan Gubernur Jenderal.
Gubernur Jenderal segera berembug dengan para Dewan Hindia menanggapi surat dari Semarang itu. Tiga hari kemudian Mas Rangga dipanggil lagi ke kantor besar kegubernuran. Sesampai di kantor Mas Rangga dihormati dengan tembakan senjata berkali-kali. Suara tembakan berdentum seperti seribu petir. Mas Rangga kemudian diberi julukan anak jenderal dan diberi perintah segera pulang ke Semarang. Tuan Jenderal mengirim berbagai hadiah kepada Pangeran Puger berupa pakaian bagus dan harta benda. Juga mengirim bantuan berupa pasukan dari seberang dari Makasar, Bugis, Ambon dan Sumbawa. Semua diserahkan kepada Mas Rangga. Empat hari kemudian setelah semua persiapan selesai rombongan Mas Rangga berangkat ke Semarang.
Pada hari Ahad, tanggal satu bulan Jumadilakhir Mas Rangga berangkat dengan membawa oleh-oleh dari Tuan Gubernur Jenderal untuk Pangeran Puger. Juga persetujuan agar Pangeran Puger segera berdiri menjadi raja di negeri Semarang. Gubernur Jenderal dan semua anggota Dewan Hindia sudah mendukung. Mas Rangga pulang ke Semarang dengan berlayar.
Sementara itu di Kartasura, Kangjeng Sinuhun Amangkurat sudah mengirim utusan ke Semarang meminta agar buronan diserahkan ke Kartasura. Yang ditunjuk ke Semarang adalah Antagopa. Dengan membawa surat dari Sang Raja Antagopa berangkat menuju Loji Semarang. Di Loji Antagopa diterima Kapten Kenol. Surat sudah diserahkan dan dibaca oleh Kenol. Isi surat meminta buronan kerajaan Pangeran Puger yang lari ke Semarang agar diserahkan.
Kapten Kenol berkata kepada si utusan, “Hai utusan, katakan kepada Kangjeng Susuhunan, aku tidak tahu keberadaan Pangeran Puger di Semarang. Aku tidak mengundangnya. Dia datang sendiri. Dan juga orang pesisir dan mancanegara datang ke Semarang atas kehendak masing-masing. Siapa yang bisa menghalangi mereka? Kalau rajamu berani Pangeran tangkaplah sendiri. Hai utusan, engkau pulanglah. Surat tidak perlu aku balas.”
Antagopa segera melesat ke Kartasura. Semua hasil perjalanannya sudah dilaporkan kepada Sang Raja. Sang Raja sangat marah sehingga hendak melampiaskan kepada Raden Suryakusuma yang sekarang menjadi tawanan di Kartasura. Ketika Raden Suryakusuma hendak dibunuh tiba-tiba gunung Merapi meletus. Orang Kartasura heboh. Raden Suryakusuma gagal dieksekusi. Hari berikutnya kembali akan dilakukan eksekusi terhadap Raden Suryakusuma, tetapi lagi-lagi gagal karena setiap akan dilakukan gunung Merapi kembali meletus. Sang Raja menjadi ragu, lalu memutuskan patih dari Raden Suryakusuma saja yang dibunuh. Raden Suryakusuma tak bisa menolak, Patih Ki Jomblang segera dieksekusi. Raden Suryakusuma lalu diampuni dan diberi kedudukan dan rumah serta tanah garapan seluas seribu karya.
Sang Raja kemudian mengundang segenap pasukan Kartasura untuk bersiap menyerang Semarang dan wilayah lain. Pagi hari pasukan berangkat di bawah pimpinan Ki Arya Mandurareja. Pasukan berangkat dengan membawa seribu tukang pikul. Kyai Wirawangsa berserta para panekarnya tidak ketinggalan. Juga Kyai Wirasastra. Ketiga punggawa berangkat melalui Demak.
Sang Raja juga mengirim pasukan lain di bawah pimpinan kakak-beradik Ki Mangkuyuda dan Ki Natayuda. Pasukan ini berangkat melalui Kaliwungu menuju Semarang. Masih ada pasukan lain yang dikirim menyerang Tegal, dipimpin Pangeran Balitar. Sedangkan pasukan yang menyerang ke Banyumas dipimpin Pangeran Surabaya dan Arya Banyakwidhe.
[1] Sengkalan: naga kalih ngoyak jagat (1628 A.J., 16 Februari 1705 A.D.)
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/06/babad-tanah-jawi-100-pangeran-adipati-puger-lolos-ke-semarang/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar