Translate

Minggu, 22 September 2024

Babad Tanah Jawi (99): Negeri Kartasura kedatangan tenung Belanda

 Akisah di negeri Betawi, ketika itu datang surat dari Kumendur Selut Hendrik Yansah yang berloji di Jepara. Surat mengatakan kalau Sang Raja Amangkurat II telah pulang ke rahmatullah. Sekarang sang putra telah menggantikan tanpa persetujuan Kumpeni. Ada tanda-tanda raja baru hendak memutus persaudaraan dan janji yang telah diikat dengan Kumpeni ketika dulu meminta tolong memadamkan pemberontakan. Hal ini kemudian menjadi perhatian Gubernur Jenderal Orpek Usdiman[1] dan para Dewan Hindia. Mereka lalu menggelar rapat di kantor besar. Persoalan yang dibahas adalah raja baru Kartasura yang ingkar janji.        

Gubernur Jenderal dan para Dewan Hindia sepakat untuk melakukan tenung kepada Raja Amangkurat III. Mereka kemudian mencari tenung dari negeri seberang seharga lima belas kethi[2]. Si tenung berujud jin sebesar perahu, berambut gimbal dan kakinya tujuh cengkal[3]. Si tenung berangkat menuju Kartasura bersama angin pada tengah malam. Yang dituju adalah istana Kartasura. Ketika itu Sang Raja sedang keluar di bangsal Prabayasa. Si tenung melihat Sang Raja kemudian turun dari angkasa. Sang Raja kaget melihat kedatangan si tenung. Bulu kuduk Sang Raja berdiri, tubuhnya bergetar.

Sang Raja berkata, “Kamu ini apa?”

Belum sempat menjawab si jin tenung, Sang Raja ingat dengan makhluk halus yang membantu kakeknya Panembahan Senopati dulu, namanya si Juru Taman. Seketika Sang Raja hilang ketakutannya.

Sang Raja kembali berkata, “Apakah engkau si Juru Taman? Mengapa engkau besar sekali.”

Si tenung menjawab, “Aku bukan Juru Taman. Aku ini tenung orang Belanda. Siapa yang menjadi raja di tanah Jawa, apakah engkau?”

Sang Raja kembali ketakutan, dengan gugup menjawab, “Bukan saya yang menjadi raja. Rajanya masih paman saya. Dia itulah yang raja, rumahnya di Kapugeran.”

Si tenung segera melesat di Kapugeran. Sang Raja lega bisa menipu si tenung. Sementara itu si tenung telah sampai di Kapugeran. Pangeran Puger yang ketika itu beraa di luar sedang bermunajat kaget melihat si tenung datang. Pangeran awas bahwa yang dihadapi bukan manusia.

Pangeran berkata, “Engkau ini syetan atau jin. Mengapa wujudmu sangat besar.”

Si tenung menjawab, “Aku ini tenung. Mana yang menjadi raja?”

Pangeran berkata, “Engkau bertanya tentang rajaku ada perlu apa? Rajaku di keratonnya.”

Si tenung berkata, “Aku tadi dari istana, ada orang yang menemuiku. Orangnya tampan berkulit kuning. Dia katakan kalau yang menjadi raja itu paman dari orang tadi.”

Pangeran Puger tersenyum, “Insya Allah, akulah yang akan menjadi raja di tanah Jawa. Apa maumu datang ke sini?”

Si tenung berkata, “Aku disuruh menantang raja Jawa. Kalau rajanya sudah kalah dan aku bunuh, para prajuritku akan aku suruh menumpas seluruh orang Jawa.”

Pangeran Puger tersenyum, “Ayo lakukan segera.”

Pangeran Puger segera memohon kepada Tuhan, menyatukan pikiran dan berserah diri sepenuhnya kepadaNya. Si tenung yang besar dipandang mata, lambat laun makin mengecil, kecil sebesar bocah. Si tenung bergetar badannya tak mampu berkata-kata.

Pangeran Puger berkata, “Engkau sudah kalah. Pergilah segera dari tanah Jawa. Jangan membuat repot. Kalau engkau tidak segera pergi engkau akan terus mengecil sampai sebesar cacing. Engkau pergilah ke utara melewati gunung Kendeng. Carilah jalan keluar dari tanah Jawa. Di sepanjang jalan jangan engkau menganggu orang-orang karena mereka semua abdiku.”

Si tenung melesat melewati gunung Kendeng. Di sepanjang jalan yang dilewati banyak orang menderita meriang badannya. Pangeran Puger segera kembali ke tempat munajatnya.

Pagi harinya Sang Raja memanggil Patih Sumabrata. Sang Patih Sumabrata segera menghadap dan mencium kaki Sang Raja.

Sang Raja berkata, “Patih, kirimlah orang untuk memeriksa Paman Puger. Lakukan secara rahasia, jangan sampai ketahuan. Barangkali paman sakit atau tidak, periksalah.”

Patih Sumabrata menyembah dan segera melaksanakan perintah. Seseorang diutus untuk mencari tahu keadaan Pangeran Puger. Tak lama yang diutus telah kembali dan melaporkan di Kapugeran tidak terjadi apapun dan Pangeran dalam keadaan sehat wal afiat. Sang Raja yang mendapat laporan hanya tersenyum.

Sementara itu di Demak, Ki Tumenggung Demak meninggal dunia. Sudah dihaturkan kepada Sang Raja bahwa sang tumenggung mempunyai tiga orang anak. Yang tertua bernama Mas Malad, yang kedua bernama Mas Amad dan yang bungsu bernama Bagus Katam. Ketiga putra tadi diangkat menggantikan sang ayah dengan membagi tiga negeri Demak. Putra tertua diberi nama Tumenggung Suranata, putra kedua bernama Padmanagara dan putra bungsu bernama Martanagara. Selain itu ada putra dari mendiang Raden Patih Arya Sindureja yang bernama Mas Gerit, yakni adik dari Raden Sukra yang telah dihumum jerat. Mas Gerit sudah diangkat sebagai tumenggung dengan nama Tumenggung Sindureja. Putra Sang Raja yang tertua juga sudah meninggal, yang bernama Pangeran Buminata. Kedua adiknya telah diberi nama pangeran. Putra kedua Raden Mas Panenggak diberi nama Pangeran Mangkunagara dan putra ketiga Raden Mas Alit diberi nama Pangeran Mangkuningrat. Keduanya diberi tanah tiga ribu. Seorang kerabat bernama Raden Anggadimeja diberi nama Pangeran Balitar.

Ketika itu sudah seratus hari Sinuhun Prabu Amangkurat II wafat. Sang Raja berkehendak untuk memule[4] dengan mengadakan selamatan. Para istri bupati diminta masuk ke istana untuk membantu persiapan upacara selamatan. Ada salah seorang istri Adipati Cakraningrat yang cantik rupawan, yakni istri muda sang adipati. Sang putri bernama Raden Ayu Pakuwati, orangnya luwes dan menarik hati. Oleh Sang Raja Raden Ayu Pakuwati disuruh ke pemandian. Sesampai di sana Sang Raja telah menunggu.

Sang Raja berkata, “Bibi, mendekatlah ke sini. Anda sudah punya berapa putra bibi?”

Raden Ayu Pakuwati menjawab, “Belum punya putra paduka.”

Sang Raja tersenyum, “Pantas masih seperti gadis. Bibi saya ini sudah tiga hari sakit kepala. Aku minta tolong bibi untuk memijit.”

Raden Ayu Pakuwati sudah merasa ada yang tak beres, setelah bergeser segera menyembah dan akan keluar ruangan. Sang Raja dengan cepat memegang tangannya dan membujuk untuk bersebadan. Tiga kali sudah mereka melakukannya. Tetapi sang putri sungguh tidak ingin melakukan. Tetapi seberapa kuat seorang wanita di dalam istana, tidak kuasa untuk menolak. Meski menjerit seperti raksasa betina, takkan ada yang mendengar. Lagipula yang memperkosanya seorang raja, yang kuasanya tanpa batas. Maka sampai bisa diulang tiga kali. Sejak matahari codong ke barat sampai menjelang senja. Raden Ayu Pakuwati baru bisa keluar dari istana sore harinya. Segera Raden Ayu pulang ke Kasampangan dengan buru-buru.

Sesampai di Kasampangan Adipati Cakraningrat sedang bermain-main dengan burung. Adipati kaget melihat kedatangan sang istri, burung segera dikurung dan menyambut sang istri. Ketika akan dicium sang istri menolak. Sang Adipati tahu dari bau sang istri bahwa dia baru saja melakukan hubungan terlarang.

Sang Adipati Sampang berkata, “Mengapa engkau berlaku celaka wahai Dinda?”

Sang putri hanya menunduk serta menangis. Dengan terbata-bata Raden Ayu Pakuwati menuturkan kejadian yang baru saja dialaminya. Dia baru saja diperkosa oleh Sang Raja. Seberapa kuat sebagai wanita, dirinya tak kuasa menolak.

Pangeran Adipati Sampang bangkit amarahnya. Dengan seru Adipati Sampang berkata, “Sudah kehendak Tuhan bumi akan terbelah. Si raja akan mundur tanpa kehormatan. Belum berapa lama pesan ayahnya, kini telah dilupakan.”

Prajurit andalan Madura disiapkan. Ada dua ribu prajurit berani mati. Adipati Madura rasa-rasanya hendak segera menyerang istana. Tetapi lama-lama sadar bahwa dirinya hanyalah seorang abdi. Kemarahannya surut, tetapi sakit hatinya tak segera sembuh. Adipati Sampang mengundang Adipati Surabaya ke kediamannya. Tak lama kemudian Adipati Surabaya datang. Ketika itu Adipati Surabaya juga mempunyai masalah dengan Sang Raja. Wilayahnya hendak dibagi dua. Tetapi belum jadi dilaksanakan.

Berkata  Adipati Sampang., “Kanda Adipati Surabaya, aku hendak meninggalkan Sang Raja. Karena perbuatan raja itu sudah sangat nista. Ayo Kanda kita ke Kapugeran menghadap Kanda Pangeran Puger. Dia itu lebih pantas menguasai tanah Jawa. Lebih berbudi, belas kasih kepada bawahan, tenang dan bijaksana.”

Kedua punggawa segera berangkat ke Kapugeran. Ketika itu Pangeran Puger sedang bermunajat di pertapaan. Kedua punggawa diterima di pertapaan.

Pangeran Puger berkata, “Dinda, ada apa malam-malam datang?”

Kedua punggawa menyembah, Adipati Sampang berkata sambil menangis, “Duh paduka, kedatangan saya untuk meminta paduka agar mau merebut negeri ini. Paduka yang menjadi raja. Yang sanggup menjadi panglima perang saya dan Kanda Adipati Surabaya. Kalau ada izin paduka sekarang juga saya ke istana untuk memporak-porandakan istana bersama Kanda Adipati Surabaya.”

Pangeran Puger tertawa dan berkata, “Dinda, jangan bicara yang tidak-tidak. Durhaka kalau engkau melawan Sang Raja. Raja itu adalah penjabaran dari Tuhan. Aku tidak akan merebut tahta. Tugasku hanya mengasuh saja.”

Adipati Sampang menyembah, “Benar kalau Sang Raja lestari memegang pesan Kanda Raja dulu. Pesan Kanda Raja dulu kepada ananda, tidak boleh menyakiti kepada paduka dan saya. Sekarang dia telah berbuat sia-sia kepada paduka, dan saya pun mendapat perlakuan tidak senonoh. Juga kepada Kanda di Surabaya, negerinya hendak diminta setengahnya. Maka sepantasnya paduka membalas perlakuan Sang Raja yang buruk itu. Paduka tidak memulai, hanya sekedar membalas.”

Pangeran sangat kerepotan hatinya oleh permintaan Adipati Sampang dan Adipati Surabaya. Hati Pangeran menjadi sedikit goyah, tetapi disabarkan.

Pangeran Puger berkata pelan, “Pulanglah dulu kalian berdua. Besok kembalilah. Saya pikir dulu semalam ini.”

Kedua punggawa minta pamit.

Sementara itu di Semarang, Rangga Yudanagara susah hatinya. Ada orang Semarang bernama Ki Pusparaga mengabdi kepada Sang Raja di Kartasura. Dia sangat dikasihi Sang Raja sehingga diangkat kedudukan menjadi Tumenggung Jayaningrat. Kepada Sang Raja dia meminta negeri Semarang. Permintaannya itu didengar oleh Rangga Yudanagara sehingga membuatnya prihatin. Dia kemudian berembug dengan para saudaranya. Akhirnya memutuskan untuk mengutus seseorang ke Kartasura. Ki Tanpanaha yang ditunjuk sebagai utusan bersama Ki Sawunggaling. Dua utusan ke Kartasura menemui Pangeran Adipati Puger untuk menyerahkan surat dari Rangga Yudanagara. Pangeran Adipati Puger membaca surat dari Semarang tersebut.

Isi suratnya, “Sembah dari Rangga Yudanagara di Semarang untuk paduka Pangeran Adipati Puger, yang dipuja-puja para kawula, berwatak bijak dan berbudi, penuh kasih kepada para abdi. Hamba beranikan diri menyarankan kepada paduka untuk keluar dari negeri Kartasura dan mengundang paduka untuk datang ke Semarang. Sudilah paduka berdiri sebaga raja di Semarang. Tuan, Kumpeni mengharap-harap kedatangan paduka. Si Kenol sakit hatinya, juga Kumendur Selot Hendrik Yansah sakit hati. Juga di Betawi, Gubernur Jenderal Orpek Usdiman sakit hati karena telah ditinggalkan oleh raja baru di Surakarta.”

Surat telah selesai dibaca. Dua utusan ditanya namanya. Mereka menjawab bernama Tanpanaha dan Sawunggaling. Keduanya lalu diberi hadiah masing-masing tujuh riyal dan kain mori satu lembar. Untuk Rangga Yudanagara Pangeran mengirim kain bekas pakai Sang Pangeran. Surat sudah dibalas dan kedua utusan memohon pamit. Namun oleh Pangeran keduanya ditahan karena Pangeran Puger ingat perkataan dua Adipati tadi malam. Kedua adipati lalu dipanggil ke Kapugeran. Utusan dari Semarang disuruh menunggu.

Malam harinya kedua adipati menghadap ke Kapugeran. Kepada kedua adipati Pangeran Puger menunjukkan surat dari Semarang. Isinya satu kehendak dengan keduanya yang menginginkan Pangeran Puger menjadi raja. Kedua adipati merasa suka hatinya karena mendapat teman.

Tanpanaha dan Sawunggaling ditanya oleh Adipati Sampang, “Dua utusan, siapa namamu dan apa kedudukanmu di Semarang?”

Dua utusan menjawab, “Hamba pembantu Rangga Semarang, nama hamba Sawunggaling dan Tanpanaha. Di Semarang menjadi patih yang membawahi pasukan di Semarang.”

Berkata Adipati Sampang, “Sampaikan suratku kepada anakku Rangga.”

Kedua utusan diberi pakaian dan uang masing-masing sepuluh riyal oleh Adipati Sampang. Adipati Surabaya turut memberikan pula, pakaian dan uang sepuluh riyal kepada masing-masing utusan. Dua utusan segera mohon pamit kembali ke Semarang. Sepeninggal kedua utusan tiga punggawa andalan Kartasura melanjutkan berbincang.

Adipati Sampang berkata, “Kalau sudah sepakat seperti itu, paduka sekarang hendak memulai dari mana?”

Pangeran Adipati Puger berkata pelan, “Dinda, aku ingin mulai dari Demak. Kalau orang Kumpeni mau membantu bagus, kalau tidak juga bagus. Karena aku belum begitu percaya kepada mereka.”

Berkata Adipati Surabaya, “Benar pilihan paduka. Dunia akan kembali bergeser.”

Adipati Sampang berkata, “Kalau begitu saya pulang dulu ke Madura untuk meyiapkan pasukan besar. Kanda Adipati Surabaya tetap tinggal di sini agar tidak dicurigai.”

Sudah sepakat ketiga pembesar. Para lurah Kapugeran sudah diberi tahu semua. Semua menyambut rencana ini dengan sukacita. Kedua adipati diizinkan pulang.

Paginya Adipati Sampang pergi ke rumah Patih Sumabrata diiringi pasukannya. Ketika melihat kedatangan Adipati Sampang Patih Sumabrata kaget, kemudian segera menyambut di pintu gerbang. Tangan sang adipati digandeng, dibawa masuk ke dalam. Setelah duduk nyaman Adipati Sampang mengatakan keperluannya.

Berkata Adipati Sampang, “Dinda Patih, pamitkan ke Sang Raja aku hendak pulang ke Madura. Sudah dua tahun aku tidak ziarah ke makam leluhur di Madura.”

Ki Patih Sumabrata berkata, “Baik, sekarang kita menghadap Sang Raja.”

Kedua pembesar kemudian masuk ke istana. Patih melapor kepada penjaga perihal keperluannya menghadap. Sang Raja berkenan menemui kedua pembesar tersebut.

Sang Raja berkata, “Apakah ada pekerjaan besar di Madura sehingga paman akan pulang ke Sampang?”

Adipati Madura berkata, “Paduka, tidak ada keperluan penting. Hanya sudah lama saya meninggalkan negeri, sekarang ingin ziarah ke makam para leluhur di Madura.”

Sang Raja berkata, “Baiklah paman boleh pulang, tetapi jangan lama-lama.”

Sang Raja tak mengira Panembahan Madura akan berbalik melawan. Segera oleh Sang Raja Adipati Sampang diberi hadiah busana dan uang. Adipati Sampang menyembah dan keluar dari istana. Pasukan Madura segera berangkat. Sang Adipati membawa seluruh istri dan anak-anak. Di sepanjang jalan pasukan selalu waspada. Mereka tahu tuan mereka pulang ke Madura dengan perasaan marah. Singkat cerita perjalanan pasukan Madura sudah sampai di negerinya. Sang Adipati segera membuka gedong dan mengeluarkan harta benda untuk memberi hadiah kepada para kerabat dan prajurit. Para prajurit senang hatinya. Sudah terkumpul tujuh ribu prajurit berani mati.

Sementara itu di Semarang, utusan Rangga Yudanagara telah kembali, Demang Tanpanaha dan Sawunggaling. Surat balasan dari Pangeran Puger dan surat dari Adipati Madura telah disampaikan. Rangga Yudanagara sangat bersukacita karena Pangeran Puger menyambut baik undangan darinya. Juga surat dari Adipati Sampang-Madura menyatakan bahwa dirinya siap berganti raja. Mas Rangga Yudanagara menduga Kartasura akan hancur. Penjaga negeri sudah akan menyeberang dan tiang negara sudah berpindah. Negeri Kartasura ibarat digertak saja roboh.


[1] Menutur catatan sejarah Gubernur Jenderal saat itu dijabat Willem van Outhoorn (4 Mei 1635 – 27 November 1720). Dia menjabat sejak 1691-1704 M.

[2] Satu kethi = 100.000, jadi setara 1.600.000 riyal.

[3] 1 cengkal = 3.756 meter.

[4] Upacara menghormati orang yang sudah meninggal.


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/05/babad-tanah-jawi-99-negeri-kartasura-kedatangan-tenung-belanda/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...