Translate

Jumat, 20 September 2024

Babad Tanah Jawi (101): Pangeran Adipati Puger menobatkan diri sebagai raja di Semarang dengan gelar Sinuhun Pakubuwana

 Di Semarang Pangeran Puger sudah mendapat banyak dukungan. Orang-orang pesisir sudah banyak yang datang ke Semarang menyatakan bergabung. Pati dan Kudus dalam posisi terbelah, tetapi mereka telah mengirim utusan ke Semarang. Di Pati Ki Wija sudah meninggal. Penggantinya adalah dua puteranya, Tirtanata dan Rangga Lelana. Mereka sepakat kalau Tumenggung Tirtanata menghadap ke Semarang, sedangkan Rangga Lelana menghadap ke Kartasura. Kudus mengirim patih untuk menghadap ke Semarang, bernama Ki Patrajaya.

Adipati Madura dan Adipati Surabaya sudah berangkat ke Semarang dengan membawa pasukan masing-masing. Sepanjang jalan para prajurit dari timur itu bersorak-sorai. Sampainya dua adipati wilayah timur itu bersamaan dengan mendaratnya Rangga Yudanagara. Mereka bertiga kemudian bersama-sama menghadap Pangeran Adipati Puger. Ketiga punggawa menyembah dan menyentuh kaki Pangeran. Ketiganya dirangkul oleh Pangeran Puger.

Adipati Sampang berkata, “Nah, paduka, sekarang bagaimana kehendak paduka. Abdi dari wilayah timur sudah tunduk semua. Tidak ada yang menghalangi lagi.”

Pangeran Puger berkata, “Dinda, terima kasih.”

Mas Rangga Semarang maju menghaturkan surat dari Gubernur Jenderal. Surat telah diterima dan dibaca dengan seksama. Pangeran sangat kaget membaca surat dari Gubernur Jenderal.

Pangeran Adipati Puger berkata, “Ki Besan, aku tak mengira kepergianmu sangat lama. Sempat aku kira tak mendapat hasil.”

Mas Rangga berkata, “Lama karena sangat alot pembicaraannya. Saya di Betawi sampai dikurung tiga kali. Masing-masing seminggu lamanya. Bekal saya dua belas ribu riyal habis semua saya pakai untuk membeli hadiah kepada Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia. Walau demikian saya usahakan tetap menemui selamat.”

Rangga Semarang kemudian menceritakan perjalanannya dari awal sampai akhirnya mendapat persetujuan dari Gubernur Jenderal. Sekarang semua sudah selesai. Gubernur menyetujui pengangkatan Pangeran Puger menjadi raja. Juga sudah mengirimkan bantuan pasukan dari Makasar dan Bugis.

Pangeran berkata pelan, “Dinda Adipati Madura, bagaimana pendapatmu kalau sekarang aku berdiri menjadi raja di negeri Semarang karena Gubernur Jenderal sudah mempersilakan aku menjadi raja.”

Adipati Madura berkata, “Duhai paduka, tunggu apa lagi. Mari sekarang paduka laksanakan. Semua abdi sudah setuju, tak ada penghalang lagi.”

Mas Rangga berkata sambil menyembah, “Pada hari Senin besok kita adakan penobatan.”

Semua sudah sepakat penobatan akan dilakukan hari Senin. Panembahan Wijil Kadilangu sudah diminta kedatangannya ke Semarang untuk menyaksikan upacara penobatan tersebut.

Pada hari Senin para punggawa, Adipati Madura, Adipati Surabaya, Mas Rangga Yudanagara sudah mempersiapkan tempat. Para pembesar Kumpeni di Semarang sudah hadir. Pangeran Adipati Puger keluar dan duduk di singgasana. Pangeran Adipati Sampang berdiri di depan, dengan suara yang keras berkata:

“Hai orang pesisir dan segenap para bupati, kalian patuhilah. Kangjeng Pangeran Adipati Puger sekarang berdiri sebagai raja atas kehendak sendiri dan juga saya angkat, juga sudah mendapat persetujuan Gubernur Jenderal. Adapun gelar yang dipakai adalah Sinuhun Pakubuwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panata Agama. Gelar ini adalah pusaka dari Kangjeng Sultan Mataram.”

Segenap bupati bersahutan menyatakan patuh. Panembahan Wijil segera maju ke depan membaca doa-doa untuk keselamatan Sang Raja. Kapten Kenol segera menyuruh operator meriam untuk membunyikan meriam. Tak lama meriam berdentum menandai berdirinya Kangjeng Pangeran Adipati Puger sebagai Susuhunan di Semarang. Pasukan Madura dan Surabaya bersamaan membunyikan musik keprajuritan.

Para bupati kemudian merayakan pengangkatan Sang Raja dengan bersukaria. Pasukan Madura sejumlah dua ribu prajurit menjadi pengawal Sang Raja. Penampilan mereka gagah dengan kumis sekepal. Perilakunya galak menakutkan seperti raksasa mencari mangsa.

Sang Raja kemudian berpidato untuk pertama kali, “Wahai segenap para bupati dengarkanlah. Sekarang Dinda Adipati Madura aku beri gelar Panembahan Cakraningrat ing Madura dan membawahi para prajurit pesisir. Besanku Rangga Yudanagara aku ganti nama Adipati Sura Adimanggala. Tumenggung Surabaya aku tetapkan sebagai Adipati Jangrana di Surabaya. Tumenggung Jepara saya beri negeri Kudus dan aku beri  nama Arya Jayasantika. Si Setrajaya aku angkat sebagai patih dengan nama Tumenggung Cakrajaya dan sebagai pasangan si Banyakpatra juga aku angkat sebagai patih dengan nama Tumenggung Kartanagara. Si Jiwasuta aku angkat sebagai wedana dengan nama Tumenggung Citrasoma. Sebagai pasangan aku angkat si Citrasoma dengan nama Tumenggung Wirancana. Si Kartajaya aku angkat sebaga wedana luar dengan nama Kanduruan Wilatikta, memimpin mantri Sewu. Sebagai pasangannya aku angkat si Kartawangsa dengan nama Tumenggung Jayasudirja memimpin Numbakanyar.”

Para pembesar negeri tidak ada yang membantah, semua siap melaksanakan perintah Sang Raja.

Sang Raja berkata lagi, “Bocahku si Subah sekarang aku beri nama Ngabei Wirasantika, menjabat sebagai lurah gandek. Si Bayu aku beri nama Rangga Wirasantika dan menjadi lurah gandek kanan. Si Kartanala aku beri nama Rangga Wanengjiwa. Si Sutakarti aku beri negeri Cengkalsewu dengan nama Ngabei Kartajaya. Si Bawa aku beri nama Ngabei Secaranu, menjadi mantri keparak. Si Sodara aku beri nama Ngabei Kartawirya. Si Koplo aku beri nama Ngabei Kartayuda, menjadi mantri dalam.”

Semua abdi Pangeran Puger sudah diangkat menjadi punggawa. Mereka yang telah ikut bersusah payah telah mendapat kedudukan sesuai kecakapannya masing-masing. Ada yang menjadi mantri, ada yang menjadi punggawa, tumenggung, rangga dan ngabei. Para abdi yang baru saja diangkat maju mengerubuti Sang Raja untuk berebut mencium kaki.

Sang Raja kemudian mewisuda para putra. Raden Wangsataruna diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom Amangkunagara. Raden Martataruna diberi nama Pangeran Upasanta. Raden Antawirya diberi nama Pangeran Prangwadana. Raden Dipataruna diberi nama Pangeran Dipanagara. Raden Soka diberi nama Pangeran Purubaya. Dan terakhir Raden Sudama diberi nama Pangeran Balitar. Semua putra yang mendapat kedudukan baru kemudian sungkem dan mencium kaki Sang Raja.

Belum selesai acara hari itu mendadak datang pasukan darat dari Sampang dan Surabaya. Mereka langsung menghadap Sang Raja.  Saudara-saudara dari Surabaya segera melapor bahwa Gresik dan Lamongan hendak memanfaatkan situasi yang masih kacau. Patih Sumabrata menghasut agar kedua wilayah menyerang Surabaya. Lalu pasukan Surabaya mendatangi mereka dan dengan mudah menaklukkannya. Bupatinya telah lari. Adipati Jangrana Surabaya panas hatinya mendengar laporan pasukannya.

Berkata Adipati Surabaya, “Gresik dan Lamongan diserang dan dibakar karena mereke menyalahi kesepakatan. Adapun yang menyerang adalah abdi paduka, yakni dua saudara saya yang muda.”

Adipati Surabaya lalu menjelaskan duduk perkaranya. Sang Raja dapat menerima.

Sang Raja berkata, “Adipati Surabaya, dua saudaramu aku minta menjadi punggawa. Aku beri nama, yang tua Arya Jayapuspita dengan tanah seribu, ambilkan dari tanah Surabaya. Adiknya saya beri nama Panji Surengrana dan menjadi bupati di Lamongan.”

Sang Raja berkata kepada Panembahan Cakraningrat, “Anakmu yang tua sekarang aku beri nama Tumenggung Suradiningrat.”

Panembahan Cakraningrat dan Adipati Surabaya merasa sukacita. Di tengah perbicangan Adipati Semarang memberi kabar duka.

Berkata Adipati Semarang, “Paduka, hamba beritahukan bahwa abdi paduka si Martayuda meninggal dunia.”

Sang Raja sangat kaget, teringat kepada abdi yang menjemput ketika datang di Semarang dulu.

Sang Raja berkata, “Ki Besan, apakah adikmu itu punya anak?”

Yang ditanya menjawab, “Punya satu anak, namanya Sumadiningrat. Tetapi dia masih sangat muda.”

Sang Raja berkata, “Kalau begitu saya minta keponakanmu itu dan namanya aku ganti dengan nama bapaknya Martayuda. Karena masih muda aku karyakan sebagai carik ketika aku masih di sini. Aku belum punya carik yang bisa menulis bagus.”

Adipati Semarang berkata, “Saya serahkan paduka, tetapi anak itu sangat bodoh. Saya serahkan hidup-matinya kepada paduka.”

Selesai Sang Raja mewisuda para abdi. Sang Raja kemudian kembali ke kediamannya. Perisitiwa penobatan Sang Raja ditandai dengan sengkalan: lawang kêkalih karêngya  ing janma[1].

Sementara itu pasukan Kartasura telah menempati beberapa posisi. Yang berada di Demak di bawah pimpinan Wirawangsa, Arya Mandurareja dan Wirasastra. Yang berada di Kaliwungu di bawah pimpinan Ki Mangkuyuda dan Natayuda. Pangeran Balitar memimpin pasukan di Tegal, menggelar barisan di selatan Tegalwangi. Banyakwidhe dan Pangeran Surabaya berbaris di Banyumas. Ki Tumenggung Jayaningrat abdi kesayangan Sang Raja sudah diberikan harta dari istana. Dua pertiga harta disuruh membawa untuk membayar gaji para prajurit dari Ambon, Makasar, Bugis Cina dan prajurit Jawa yang berbaris di Ungaran.

Sementara itu pasukan Sang Raja Pakubuwana telah berbaris di Pudhakpayung. Sudah dilaporkan bahwa pasukan musuh telah bersiap menyerang mereka. Ki Wiranagara dan Ki Reksanagara dari Tegal segera pamit hendak melawan musuh yang akan menyerang negerinya. Keberangkatan bupati Tegal disertai pasukan Kumpeni di bawah pimpinan Letnan Jaisman.

Panembahan Madura juga sudah memerintahkan pasukannya untuk menyerang Demak. Jangpati dan Jangkewuh membawa seribu prajurit Sampang dipimpin Raden Suradiningrat. Pasukan Surabaya dipimpin Panji Lamongan juga membawa seribu prajurit. Pasukan Kumpeni satu brigade dibawah pimpinan Kapten Kenol berangkat melalui laut. Pasukan Jawa melalui darat.

Pasukan yang ditugaskan memukul barisan Tugu di Kedu adalah prajurit Madura seribu delapan ratus dengan pimpinan dua orang putra Madura bernama Raden Sastradiningrat dan Raden Rangga. Pasukan Surabaya terdiri dari seribu prajurit dengan pimpinan Arya Jayapuspita. Pasukan Kumpeni dipimpin Kapten Gusman.

Sementara itu di Tegal, Wiranagara dan Reksanagara beserta Letnan Jaisman sudah berhadapan dengan pasukan Kartasura pimpinan Pangeran Surabaya dan Banyakwidhe. Prajurit Tegal segera menabuh genderang perang dan pertempuran pun pecah. Pasukan dari Banyumas menahan, pasukan Tegal terus memberondong tembakan. Letnan Jaisman membawa pasukan Kumpeninya memukul bagian dada pasukan musuh. Setelah ditembaki bertubi-tubi pasukan Banyumas terdesak. Wiranagara dan Reksanagara segera menerjang dari kiri dan kanan. Sepak terjangnya seperti raksasa lapar mencari mangsa. Pasukan Banyumas bubar tak mampu menahan. Pasukan Tegal terus mendesak, yang lari terus dikejar. Banyak yang tertangkap dan tewas.

Di Demak, pasukan Kartasura yang menjaga Demak adalah Tumenggung Arya Mandurareja, Tumenggung Wirasastra dan Tumenggung Wirawangsa. Ketiga punggawa sudah mendengar kalau pasukan Madura dan Surabaya datang. Pasukan Surabaya dipimpin Panji Lamongan dan pasukan Madura dipimpin dua mantri, Jangkewuh dan Jangpati, serta seorang anak muda bernama Raden Suradiningrat. Sedangkan pasukan Kumpeni dipimpin Kapten Kenol berangkat melalui laut.

Pasukan Demak sudah bersiap di alun-alun. Mereka membagi pasukan menjadi dua. Satu bagian dipimpin para punggawa Demak, Raden Wiranagara dan Raden Padmanagara serta Ki Suranata, akan menghadang pasukan Kumpeni yang lewat laut. Satu bagian lagi terdiri dari prajurit dari Kartasura dipimpin tiga punggawa dari Kartasura, akan manghadapi pasukan Surabaya dan Madura.

Pasukan Kapten Kenol sudah mendarat, lalu segera masuk kota. Pasukan Demak sudah menabuh tanda perang. Pasukan Belanda yang sudah datang bergerak bergerombol-gerombol. Setiap gelombang pasukan dipimpin seorang alperes didampingi sersan di kanan-kiri. Para kopral di depan dan belakang. Kapten Kenol mengarahkan dari belakang. Pasukan Demak menerjang dan mengamuk. Serdadu Kumpeni membalas dengan berondongan senapan. Pertempuran berlangsung dengan sengit.

Di lain tempat pasukan Surabaya dan Madura juga sudah sampai. Mereka telah berhadap-hadapan dengan parjurit Kartasura. Tidak lama pecah pertempuran dahsyat. Pasukan Surabaya dan Madura bersamaan menerjang musuh. Bagian dada digempur habis-habisan, juga sayap kanan dan kiri. Pasukan Madura mengamuk seperti raksasa seribu mencari daging. Panji Lamongan membawa tiga ratus prajurit pilihan menerjang pasukan Kartasura. Orang Madura terus mendesak tanpa takut mati. Berondongan senapan sampai asapnya seperti mega-mega tak membuat surut para prajurit Madura. Mereka semakin beringas tak takut melihat tajamnya senjata. Pasukan Surabaya mengamuk seperti banteng terluka. Tidak perlu waktu lama, pasukan Kartasura bubar tak mampu bangkit. Banyak prajurit Kartasura tewas.

Pasukan Kumpeni pimpinan Kapten Kenol juga sudah berhasil memukul mundur pasukan Demak. Sisa pasukan Demak bergabung dengan sisa pasukan Kartasura, kemudian mundur berbaris di Tambiring. Kumpeni sudah masuk kota, sedangkan pasukan Surabaya dan Madura terus mengejar musuh yang lari. Pertempuran kembali pecah di Tambiring. Pasukan Demak-Kartasura tak bertahan lama, segera mundur berlarian tak mampu bangkit lagi. Pasukan Surabaya dan Madura kembali ke kota Demak untuk berjaga-jaga.

Dari Kadilangu Pangeran Rangga menyatakan bergabung dengan Sang Raja Pakubuwana di Semarang. Kadilangu tetap dibagi dua, satu bagian dipimpin Pangeran Wijil dan satu bagian dipimpin Pangeran Rangga.

Di lain tempat, pasukan Surabaya dan Madura yang hendak menyerang barisan Kartasura di Tugu sudah sampai di timur Tugu. Orang-orang di Kedu sudah mendengar kalau mereka akan diserang. Pangeran Balitar dan dua kakak-beradik Mangkuyuda-Natayuda segera menata barisan. Bagian dada diperkuat dan bagian sayap ditata kembali. Pangeran Balitar berada di dada. Sayap kiri ditempati Natayuda dan sayap kanan ditempati Mangkuyuda. Pasukan Kartasura sudah menabuh tanda perang.

Dari pihak Semarang, serdadu Kumpeni menempati dada. Sayap kanan ditempati pasukan Surabaya dan sayap kiri ditempati pasukan Madura. Pasukan Semarang sudah menabuh tanda perang, tambur dan galaganjur berbunyi bersahutan. Kedua pasukan bersamaan menerjang. Tumenggung Mangkuyuda duduk dengan dipayungi. Kedua pasukan sama-sama berani mati. Pasukan Kartasura kuat dan tangguh. Serdadu Kumpeni terus memberondong dengan tembakan. Banyak prajurit Kartasura tewas, tetapi mereka masih kokoh bertahan. Mangkuyuda dan Natayuda tidak bergeser dan tetap tenang karena orang di Kedu berani mati.

Pasukan Sampang dan Surabaya meningkatkan serangan. Para mantri turun ke medan perang. Raden Sasradiningrat membawa pasukan Madura menerjang dengan berani, Raden Rangga mengiringi di belakang. Arya Jayapuspita dari Surabaya mengamuk bersama pasukannya. Medan perang telah diselimuti asap dari bubuk mesiu. Suasana gelap karena asap tebal meliputi seluruh tempat.

Arya Jayapuspita menantang orang-orang Kedu dan meledek mereka. Seorang mantri panas mendengarnya. Ki Sarapati mendatangi dengan menenteng tombak. Arya Puspita menyambut dengan tertawa.

Berkara Jayapuspita, “Hai, ini ada orang bungkuk berani mendekat. Apa ingin diiris punukmu. Ke sinilah saya iris.”

Sarapati menombak, Jayapuspita mundur menghindar. Pasukan Jayapuspita maju mengeroyok Sarpati. Dihujani senjata Sarapati tewas seketika. Mangkuyuda yang melihat Sarapati tewas memberi aba-aba agar pasukan Kedu menerjang maju. Jayapuspita awas, segera memberi aba-aba kepada pasukan Surabaya untuk menghadang. Jayapuspita mengerahkan prajurit pilihan. Prajurit Kedu bergeming. Pasukan Madura membantu menerjang dari samping. Pasukan Kedu hancur tak bersisa.

Natayuda sambil menangis mengajak sang kakak mundur, “Ayo Kanda kita menyingkir. Kita takkan mampu menahan musuh yang semakin banyak. Sudah kehendak Tuhan wahyu keraton telah berpindah tempat. Pasukan kita tak bisa bertempur. Melihat musuh saja kelihatan besarnya dua kali orang biasa.”

Tumenggung Mangkuyuda membenarkan perkataan sang adik. Segera Mangkuyuda memutar kuda meninggalkan gelanggang. Pangeran Balitar melakukan hal yang sama. Para prajurit mengikuti mundur. Pasukan Sampang terus mengejar. Pasukan Kartasura dan pasukan Kedu pontang-panting. Banyak berlarian masuk hutan dan jurang. Mereka lari sampai ke Kaliwungu, masih masuk wilayah Kedu. Pasukan Surabaya-Madura serta Kumpeni lalu berhenti di Kaliwungu.

Di Tegal pasukan Tumenggung Wiranagara dan Reksanagara yang baru saja menang terus bergerak ke arah Pekalongan. Mereka sudah sampai di perbatasan. Orang-orang Pekalongan geger. Kedatangan pasukan dari Tegal segera dilaporkan bupati Pekalongan Nitiyuda dan bupati Batang Raden Maduretna. Mereka berdua melarikan diri di malam hari ketika mendengar barisan di Tugu juga sudah dikalahkan. Yang mereka tuju adalah wilayah Kedu. Pasukan Tegal dengan mudah masuk Pekalongan. Tumenggung Wiraganara dan Reksanagara berserta Kumpeni sudah masuk kota Pekalongan dan Batang. Mereka menemukan kota telah sepi.

Sementara itu pasukan Sampang-Surabaya yang berada di Kaliwungu terus menaklukkan wilayah sekitar. Orang-orang telah banyak yang menyerah dan tunduk. Setelah mengangkat mantri setempat pasukan Kumpeni dan Madura-Surabaya kembali ke Semarang. Di Demak setelah para mantri diangkat pasukan gabungan Kumpeni dan Surabaya-Madura juga mundur ke Semarang. Kapten Kenol kembali berlayar melalui laut.

Di Kartasura Sang Raja Amangkurat sangat bersedih mendengar laporan pasukannya kalah di berbagai tempat. Wilayah pesisir telah tunduk ke Semarang. Kesusahan Sang Raja makin bertambah ketika Patih Sumabrata melaporkan di Gunung Kidul terjadi pemberontakan oleh Wirawangsa. Pasukan pemberontak telah turun gunung dan berbaris di Wanglu. Sang Raja segera memerintahkan menyerang pemberontak. Tidak berapa lama pasukan Kartasura sudah sampai di Wanglu dan pertempuran pun pecah. Pasukan pemberontak segera dapat dikalahkan. Wirawangsa kepalanya dipenggal dan dibawa ke Kartasura. Sang Raja sedikit terhibur dengan kemenangan kecil ini. Kepala Wirawangsa diperintahkan untuk dipanjar di alun-alun.


[1] Sengkalan: lawang kêkalih karêngya ing janma (1629 A.J., 1705/1706 A.D.).


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/07/babad-tanah-jawi-101-pangeran-adipati-puger-menobatkan-diri-sebagai-raja-di-semarang-dengan-gelar-sinuhun-pakubuwana/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...