Translate

Jumat, 20 September 2024

Babad Tanah Jawa (102): Sinuhun Pakubuwana mengadakan acara bersukaria dengan para prajurit

 Sementara itu di Semarang, Kangjeng Sinuhun Pakubuwana sudah mempunyai pasukan yang besar. Semua pasukan pesisir dan mancanegara sudah tunduk dan setia kepada Sang Raja. Satu per satu pasukan dari Kartasura sudah menyusul bergabung ke Semarang. Setelah beberapa kemenangan beruntun di beberapa tempat, Sang Raja bermaksud menghibur para prajurit dengan mengadakan acara bersukaria.

Pada hari Senin acara itu diadakan. Para punggawa, bupati dan mantri sudah hadir lengkap bersama para istri-istri mereka. Para putra Sang Raja semua hadir. Panembahan Madura dan para punggawa yang lain terlihat berada di depan. Kapten Kenol dan Adipati Surabaya juga sudah terlihat hadir.

Suara gamelan berbunyi lirih, sajian tari-tarian segera dimulai. Pangeran Adipati Anom menari bersama Panembahan Madura. Para bupati heboh. Pangeran menari sambil menyanyi lagu Kenya Kediri. Suaranya harum semanis madu, mempesona yang melihat. Penampilan Pangeran Adipati Anom membuat kepincut banyak wanita.

Ada seorang keponakan Adipati Sura Adimanggala, yakni Martayuda. Martayuda adalah anak dari Martayuda tua yang dulu menjemput Pangeran Puger ketika baru saja datang di negeri Semarang. Setelah Martayuda tua meninggal anaknya memakai namanya. Tetapi karena masih muda belum bisa menggantikan kedudukan bapaknya. Oleh Sang Raja Martayuda muda diangkat sebagai carik. Istri Martayuda Carik ini juga melihat penampilan Pangeran Adipati Anom. Tampak bahwa istri Martayuda kepincut berat dengan sang pangeran. Istri Martayuda cantik rupawan, masih muda, baru punya dua anak. Sepanjang pertunjukkan istri Martayuda tak henti-henti melirik sang pangeran. Duduknya gelisah, tampak wajahnya tak bisa menyembunyikan perasaan. Terdorong nafsu yang begitu besar, penampilannya menjadi berantakan. Sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat. Si pengasuh Mbok Garem melihatnya. Sebagai wanita sepuh tahu apa yang dirasakan oleh istri Martayuda.

Mbok Garem mencolek si wanita, “Nak, ayo pulang. Perilakumu tampak memalukan. Mengapa selalu ndelongop tertegun melihat orang tampan. Saya ini sudah nenek-nenek, tetapi juga masih terpesona melihat pangeran menari. Tetapi bukan bobot kita untuk mempunyai rasa suka kepada pangeran. Ibarat ayam kate ingin naik gunung. Tidak elok menyimpan suka kepada orang besar.”

Si wanita sudah keluar dengan sempoyongan menahan gejolak asmara. Sampai di luar malah bertemu lagi dengan sang pangeran.

Sang pangeran berkata kepada Nyai Garem, “Bibi, apakah tuanmu sakit kok berjalan sempoyongan. Saya lihat wajahnya begitu sayu.”

Mbok Garem tersenyum mengetahui rahasia si cantik, lalu berkata kepada Pangeran Adipati, “Sangat sakitnya paduka. Terkena tulah oleh yang menari perang. Berilah obat tuan agar bisa pulang.”

Sang Pangeran tersenyum dan mendekat si cantik yang berada di pojok, lalu dengan kata-kata manis Pangeran berkata, “Nanti malam aku datang wahai bibi. Engkau yang bisa menjaga rahasia. Jangan sampai ketahuan oleh suamimu. Sekarang pulanglah. Aku akan menghadap Sang Raja.”

Nyai Martayuda hanya melirik. Mbok Garem menyalakan lilin lalu keluar. Sesampai di rumah Nyai Martayuda menjatuhkan diri ke tempat tidur. Tidak ada yang dalam pikiran selain Pangeran Adipati. Nyai Martayuda meneteskan air mata. Hatinya selalu gelisah menahan gejolak asmara.

Sementara itu Sang Raja telah menutup pagelaran tayub. Pangeran Adipati sudah pulang ke pondokannya. Dalam hati Pangeran Adipati selalu memikirkan janjinya kepada Nyai Martayuda. Sambil bersenandung lagu cinta Pangeran Adipati menyempatkan diri untuk memenuhi janji. Si Bapak Garem yang akan dibawa serta mencuri cinta Nyai Martayuda. Lengkap sudah pasangan suami istri Garem dalam menjadi mak comblang. Yang pria diajak si pria, yang wanita diajak si wanita. Gejolak hati Pangeran Adipati tak tertahankan lagi. Bakda Isya’ Pangeran Adipati mengajak Pak Garem untuk menuju kediaman Martayuda.

Sementara itu, Nyai Martayuda gelisah menunggu si empunya janji. Suaminya telah pergi meronda di pondokan Sang Raja. Setelah kepergian sang suami Nyai Martayuda berhias dan memakai wewangian. Maksud hati menunggu si tampan yang telah berjanji datang. Di luar si pencuri cinta telah merapat ke dinding, mencari celah untuk masuk. Nyai Martayuda gelisah menunggu datangnya malam. Ketika sampai pukul sembilan yang ditunggu belum muncul hatinya menjerit. Batin merasa tersiksa oleh janji yang diingkari. Dalam hati menyumpah, kalau si tampan benar-benar ingkar janji semoga dimakan hantu pesisir.

Tidak lama kemudian Sang Pangeran datang. Si cantik menyambut dengan rajukan. Sang Pangeran memegang tangan si cantik, membujuk-bujuk agar rasa kecewanya reda. Si cantik tersenyum dan mencubit si tampan, tak sabar membawanya ke peraduan. Apa yang tak ingin dilihat orang sudah mereka lakukan. Tampak keduanya tamak oleh hasrat yang menggebu. Baru pukul empat mereka keluar dari peraduan. Sang Pangeran pergi ke belakang untuk bersuci. Setelah bersuci Sang Pangeran duduk di balai-balai. Si cantik duduk di lantai sambil melayani si tampan.

Sementara itu Ki Martayuda semalaman tidak tidur. Di perondaan hatinya tak tenang. Seolah sudah mendapat firasat bahwa rumahnya kemasukan pencuri. Ketika pagi menjelang dia mendahului pulang. Sesampai di pelataran rumah dia mendengar suara lelaki dari rumahnya. Dengan mengendap-endap dia mengintip. Tampak olehnya seorang tampan duduk di balai-balai, sedang istrinya duduk dilantai melayani. Semula rasa amarah dan penasaran memenuhi rongga dada. Namun kemudian dia sadar siapa yang berada di dalam. Pangeran Adipati berada di kamar tidurnya.

Hati Martayuda tidak karuan. Hendak berteriak, khawatir menjadi tontonan. Ki Martayuda berbatuk-batuk di luar. Pangeran Adipati yang mendengar suara batuk-batuk kaget. Seketika lari keluar lewat belakang. Si Bapak Garem masih setia menunggu di balik pagar bata. Kedua orang itu lalu lari meninggalkan rumah Martayuda.

Sementara itu, Ki Martayuda bangkit amarahnya. Sudah terbukti istrinya selingkuh dengan Pangeran Adipati. Ki Martayuda masuk ke dalam rumah. Ketika mendapati istrinya bersimpuh di lantai tangannya menjambak rambut istrinya. Tangan satu maju menempeleng. Sang istri tersungkur di lantai. Kaki Martayuda segera menyusul menginjak. Tak henti Ki Martayuda menghajar istrinya. Ditampar, ditempeleng dijotos. Si istri berteriak minta mati. Sadar bahwa dirinya telah khilaf.

Ki Martayuda berkata, “Jangan khawatir. Engkau pasti mati nanti. Aku ingin melampiaskan jengkel dulu. Nanti kalau sudah lega pasti engkau kubunuh.”

Martayuda terus menghajar istrinya. Rambut si istri sampai tercerabut oleh jambakan yang bertubi-tubi. Mukanya sudah tak karuan. Lama-lama timbul rasa kasihan. Martayuda berhenti mengamuk, lalu masuk ke kamar. Karena mengantuk semalaman tak tidur, Martayuda terlelap. Si istri tak menyia-nyiakan kesempatan, segera lari mencari selamat. Yang dituju adalah pondokan Sang Raja. Hendak mengadu kepada Sang Raja bahwa dirinya baru saja selingkuh dengan putra mahkota. Kini dia dihajar oleh suaminya.

Sesampai di pondokan Sang Raja, permaisuri lalu menanyai Nyai Martayuda apa yang terjadi. Sudah diceritakan semuanya. Sang permaisuri lalu melapor kepada Sang Raja bahwa putra mahkota telah berbuat zina dengan istri Martayuda. Sekarang istri Martayuda dihajar oleh suaminya. Sang Raja lalu menyuruh utusan untuk memanggil Ki Martayuda. Sesampai di rumah Martayuda si empunya rumah masih tidur. Segera dibangunkan oleh utusan dan disampaikan perintah Sang Raja. Dengan gugup Martayuda segera mengikuti si utusan. Sesampai di hadapan Sang Raja Martayuda menyembah dan mencium kaki.

Sang Raja berkata, “Anakku, aku sudah mendengar istrimu berbuat nista dengan si Adipati. Maafmu aku minta. Sebagai penyesalanku, aku akan ganti istrimu. Pilihlah puteri di dalam rumahku, siapapun yang engkau sukai. Nanti aku berikan padamu sebagai ganti. Dari selir-selirku atau anak-anakku, silakan engkau pilih. Namun maafkan adikmu si Pangeran Adipati. Dia baru saja terkena godaan Iblis dan lupa denganmu.”

Ki Martayuda hanya menangis tersedu. Air matanya deras mengalir. Kasih Sang Raja membuat hatinya luluh. Kemarahannya kepada istrinya pun reda. Dia tidak minta ganti puteri yang manapun. Dia hanya minta istrinya kembali.

Sang Raja berkata, “Baiklah, aku kabulkan permintaanmu. Namun istrimu jangan lagi engkau sakiti.”

Ki Martayuda tertunduk dan berkata, “Hamba tak berani menyakitinya lagi. Hamba takut kepada kasih paduka kepada hamba.”

Sang Raja lalu berkata kepada permaisuri, “Dinda, segera keluarkan istri Martayuda. Suruh pulang bersama suaminya.”

Permaisuri beranjak masuk ke pondokan. Tak lama kemudian keluar bersama istri Martayuda.

Sang Raja berkata Nyai Martayuda, “Pulanglah anakku.”

Si cantik sedikit ragu, tetapi takut kepada Sang Raja. Kedua suami istri itu kemudian pulang bersama ke rumahnya. Kasus ditutup!


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/08/babad-tanah-jawa-102-sinuhun-pakubuwana-mengadakan-acara-bersukaria-dengan-para-prajurit/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...