Alkisah, di negeri Betawi sudah masyhur makmur sejahtera. Karena dikelola oleh Kumpeni Betawi menjadi kota besar. Kemakmuran Betawi termasyhur sampai ke negeri seberang. Para pedagang dari mancanengara banyak berkunjung ke Betawi, membuat kota itu menjadi kota dagang yang ramai. Semua pendatang merasa nyaman tinggal di Betawi karena makmurnya negeri.
Penguasa di Betawi adalah gubernur jenderal yang berkedudukan di kota Intan. Yang menjadi punggawa adalah dua belas ideler yang tergabung dalam Dewan Hindia. Bawahan langsung sang Gubernur Jenderal adalah seorang direktur. Saat ini yang menjadi gubernur jenderal adalah Ardiaan Valckenier. Adapun yang menjabat sebagai direktur dalah Gustaf William Baron Van Imhoff. Para Dewan Hindia satu persatu adalah; Her Johanis Tedheng, Her Van Kelon, Van der Bun, Her Wispalen Render Sagru, Menir Patras, Aslar Nestidhenes, Van Begun, Witresarhotan Dulkup, Sutilem Van Igin dan ada seorang ideler muda yang cakap bernama Wicaksana Al Pisin.
Pada suatu waktu di Betawi ada sebuah peristiwa. Para penduduk Betawi etnis Cina yang tinggal di perdesaan dan di pinggir gunung yang menanam sayur-sayuran banyak dianiaya oleh budak-budak Kumpeni. Para budak kalau menemui orang Cina langsung merampas harta mereka. Kalau melawan dipukuli. Setiap hari terjadi demikian itu. Sungguh nyawa orang Cina tak berharga. Para penduduk etnis Cina sangat bersedih mendapat tekanan yang demikian.
Ada seorang tetua Cina yang sangat dihormati oleh kalangan penduduk Cina, namanya Cik Sapanjang[1]. Rumahnya di Panggiling, tanah Gandariasewu. Cik Sapanjang merasa bahwa perlakuan para budak Kumpeni kepada orang-orang Cina tak dapat dibiarkan terus terjadi. Cik Sapanjang menyuruh para orang Cina untuk melawan Kumpeni dan orang-orangnya.
Cik Sapanjang menyuruh orang-orang Cina menyerang markas-markas Kumpeni di Betawi. Setiap malam mereka bergerak mencuri dan merampas. Kalau mereka tepergok boleh melawan dan membunuh. Betawi menjadi geger oleh perlawanan orang-orang Cina ini. Orang-orang Cina sudah bertekad akan melawan Kumpeni sekuat tenaga. Mereka pun kemudian menggalang persekutuan dengan bangsa pribumi, yang mau membantu perlawanan mereka. Namun selama ini orang pribumi belum berani bertindak, meski sudah sama-sama muak dengan ulah para Kumpeni dan begundalnya.
Perlawanan orang Cina menjadi perhatian segenap Dewan Hindia. Direktur Gustaf Baron Van Imhoff kemudian memerintahkan agar para orang Cina ditangkap. Dua ratus orang Cina berhasil ditangkap dan dikurung di Loji. Direktur kemudian melapor kepada Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Gubernur Jenderal memerintahkan agar para orang Cina dibawa ke seberang untuk membantu berperang. Setiap orang diberi uang dua puluh lima dinar dan diberi kain hitam dan putih. Baron Van Imhoff yang disuruh memberangkatkan. Sesampai di tengah laut para orang Cina ditumpas dan diceburkan ke laut. Namun ternyata orang Cina tangguh. Banyak dari mereka yang bisa berenang. Hanya dengan naik sebilah papan mereka berhasil mendarat. Adapun orang Cina yang tidak bisa berenang memilih melawan dengan menubruk Kumpeni yang berada di atas kapal. Banyak dari mereka kemudian dibunuh di atas kapal.
Orang-orang Cina yang selamat kemudian pulang ke Gandariasewu dan melapor kepada Cik Sapanjang. Cik Sapanjang bangkit dan menggalang kekuatan seluruh orang Cina yang berada di Betawi. Para orang Cina berhasil dikumpulkan. Jumlah mereka cukup besar.
Berkata Cik Sapanjang sambil menggebrak meja, “Wahai bangsaku semua, Kumpeni sudah memulai merusak orang Cina. Ayo kita lawan. Segera kita berkumpul dan sewaktu-waktu bila aku telah memberi tanda, kita serang Kumpeni.”
Para orang Cina menyambut seruan Sapanjang. Mereka bersiap dengan peralatan tempur yang mereka punya.
Sementara itu Gubernur Jenderal sudah mendengar kabar kalau orang Cina berkumpul di Panggiling dan bersiap melawan Kumpeni. Gubernur Jenderal segera memanggil dua puluh empat kapten ke kota Intan. Setelah berkumpul mereka semua ditanya apakah sudah mendengar kabar perihal orang Cina yang akan melawan Kumpeni di Panggiling. Mereka semua menjawab tidak tahu. Dua puluh empat kapten lalu disuruh keluar.
Tidak lama kemudian datang Baron Van Imhoff yang baru datang dari lautan. Dia melaporkan bahwa di kapal banyak orang Cina merasa menyesal karena telah menuruti kata-kata Sapanjang. Juga ada laporan bahwa Sapanjang telah memobilisasi orang Cina untuk melakukan perlawanan. Maka sebaiknya perang di negeri Kucing dihentikan dulu karena di sini orang Cina akan melakukan pergerakan yang membahayakan negeri.
Di tengah perbincangan para pembesar Kumpeni datang Cik Lim Co, seorang Cina penjual teko yang kurus kering. Tanpa pemberitahuan dia menerobos para pembesar Kumpeni. Para anggota Dewan Hindia kaget.
Gubernur Jenderal bertanya, “Apa maksud kedatanganmu?”
Cik Lim Co berkata, “Saya berkata jujur. Karena merasa bahwa selama di Betawi dapat hidup dan makan karena jasa Kumpeni, maka saya katakan yang sebenarnya. Sekarang bangsa saya ingin melawan Kumpeni. Sudah saling sepakat mereka, Sapanjang yang memimpin. Semua orang Cina di gunung dan desa di Panggiling sudah satu tekad untuk menyerang kota Betawi.”
Para anggota Dewan Hindia tersenyum.
Berkata Gubernur Jenderal Valckenier, “Lim Co, apakah semua yang kaukatakan benar? Karena para kapten sejumlah dua puluh empat orang baru saja saya tanyai. Tak satupun dari mereka yang mengaku mengetahu berita ini. Apakah mereka semua telah berbohong?”
Gubernur Jenderal lalu memberi Cik Lim Co uang sejumlah delapan puluh dinar. Cik Lim Co menerima dengan suka hati.
Gubernur Jenderal berpesan, “Aku sangat berterima kasih atas berita yang kau sampaikan. Kalau engkau ingin berdagang di darat atau di laut, aku akan memberimu modal. Kalau kelak engkau selamat, aku akan angkat engkau menjadi kapten.”
Cik Lim Co segera pulang. Setelah Cik Lim Co pergi para pembesar Kumpeni berunding untuk menentukan langkah selanjutnya. Gubernur Jenderal lalu memanggil seorang kapten Cina tua, namanya Kapten Kan. Kapten Kan diutus secara pribadi untuk menemui Cik Sapanjang di Panggiling, wilayah Gandariasewu. Kepergian Kapten Kan dengan disertakan satu talam emas dan satu talam tanah. Setelah sampai di Panggiling dan bertemu dengan Cik Sapanjang Kapten Kan menyampaikan perintah Gubernur Jenderal.
“Hai, Sapanjang, dengarkanlah. Gubernur dan Dewan Hindia menyuruhku agar menemuimu. Kumpeni bermaksud mengakhiri pertikaian yang dulu-dulu. Sekarang kita hidup berdampingan secara damai. Kasihan orang kecil jika terjadi perang. Nah, ini ada emas satu talam dan tanah. Engkau pilih yang mana?”
Sapanjang memukul meja. Bangkit dan dengan bengis berkata, “Tak sudi aku berbaikan dengan Kumpeni. Walau hancur menjadi debu, aku tak ingin emas. Apalagi tanah. Kalau pilihannya berperang aku takkan menolak. Apa untungnya berbuat baik kepada Kumpeni yang telah memulai keburukan. Sekarang hatiku sudah putus asa, dan juga kawan-kawan sebangsaku. Semua orang Cina di Panggilingan sudah bertekad berperang dengan Kumpeni. Tak ingin lagi berdamai.”
Kapten Kan berusaha membujuk, “Duh Sapanjang, Kumpeni sudah punyak maksud baik. Ingat semua kesalahan dan ingin menebusnya dengan kebaikan. Lebih baik orang lupa yang sudah ingat kembali. Jangan engkau membuat susah orang banyak.”
Sapanjang menukas dengan bengis seraya menggelang, “Apa engkau bukan seorang lelaki? Pantas karena engkau Cina dari dalam benteng. Beda dengan orang Cina dari Panggilingan, semuanya lelaki. Berani berperang dan berani mati. Katakan kepada Gubernur Jenderal. Kiriman emas satu talam dan tanah ini, aku tidak inginkan. Yang aku inginkan adalah perang. Sudahlah Kapten Kan, aku tak ingin berdamai. Engkau pulang sajalah.”
Kapten Kan pulang ke kota Intan. Semua yang dikatakan Sapanjang sudah dilaporkan kepada Gubernur Jenderal. Sapanjang menolak pemberian emas atau tanah. Yang diinginkan hanya perang. Gubernur Jenderal sangat heran. Kapten Kan lalu disuruh keluar. Para Dewan Hindia kembali bersidang. Mereka sepakat memutuskan bahwa orang Cina di Panggilingan adalah musuh yang perlu ditumpas. Penduduk Cina di dalam kota lalu diundang dan disuruh memilih, kalian akan ikut siapa. Kalau tetap ikut Kumpeni maka akan diberi modal kalau berdagang. Kalau engkau lebih memilih bergabung dengan saudara sebangsa di Panggilingan, silakan meninggalkan rumah kalian dalam sehari ini. Kalau sampai sore hari masih berada di dalam kota, artinya berpihak kepada Kumpeni. Banyak dari mereka kemudian memilih ikut Kumpeni. Mereka lalu dicukur jenggot dan kumisnya sebagai tanda menyerah.
Sementara itu di Panggilingan, Sapanjang sudah mengumpulkan barisan prajurit Cina dari gunung dan desa-desa. Setelah berkumpul bende tanda perang dibunyikan. Cik Sapanjang lalu mengangkat diri sebagai Kapten Sapanjang. Di bawah Kapten Sapanjang diangkat kepala prajurit Cik Ngau dan Cik Eng. Sudah terkumpul empat ribu prajurit Cina. Tujuh puluh kecu turut bergabung di bawah pimpinan Cik Teng Mulu. Para kecu disebar di setiap barisan. Setiap satu bendera ada kecu seorang atau dua orang. Pasukan Cina terdiri dari ratusan bendera.
Pasukan Kapten Sapanjang dibagi menjadi tiga bagian. Dua bagian ditugaskan membakar-bakar di luar kota dan di dalam kampung-kampung di Betawi. Satu bagian lagi terdiri dari dua ribu prajurit akan dipakai sebagai pasukan pemukul. Gong beri sudah ditabuh, pasukan Cina segera berangkat. Di sepanjang jalan mereka melaksanakan rencana membakar pemukiman. Orang-orang geger berlarian.
Pasukan garis depan sudah sampai di batas kota. Mereka memanggil orang Cina di dalam kota agar keluar bergabung. Namun para orang Cina penghuni kota diam tak menanggapi. Kumpeni sudah waspada. Semua pintu gerbang sudah dikunci. Semua orang Cina di kota sudah diberi pengumuman agar memadamkan pelita. Malam itu jangan ada yang memakai pelita di rumah mereka. Juga mereka harus menyerahkan senjata pedang atau walau hanya sebilah pisau lipat.
Pasukan Kapten Sepanjang menyerang kota pada pukul setengah enam sore. Pasukan Cina mengepung kota dari seluruh penjuru, timur, selatan dan barat. Hanya bagian utara yang kosong karena adanya lautan. Para prajurit Cina terus berdatangan sampai malam. Kumpeni menyambut serangan itu dengan menyiapkan meriam. Pasukan Kumpeni tetap tinggal di kota, tak bergerak sedikitpun. Mereka menunggu perintah Gubernur Jenderal untuk melawan. Meriam telah disiagakan dan diisi dengan mesiu.
Pasukan Cina sangat percaya diri mampu menaklukkan kota. Mereka terus melepaskan tembakan ke dalam kota. Semakin malam semakin banyak pasukan Cina yang datang. Mereka datang dengan senjata seadanya. Ada kapak, gobang, pisau, pentungan dan segala benda yang dapat dipakai.
Pada saat menjelang fajar datang perintah kepada pasukan Kumpeni untuk membalas serangan. Operator meriam segera menyalakan meriam mereka. Secara bersamaan meriam di barat, selatan dan timur berbunyi. Banyak prajurit Cina tewas diterjang hujan peluru meriam. Mayat-mayat prajurit Cina bergelimpangan seperti kebun pisan yang dibabat. Pasukan Cina bubar kebingungan.
Kapten Sapanjang pantang mundur. Dengan segala kekuatan Sapanjang berusaha menembus benteng kota. Namun lagi-lagi tembakan meriam membuat mereka terhenti. Menjelang pagi Kapten Sapanjang terpaksa mundur. Pasukan Cina mundur sambil membakar rumah di luar benteng. Di Gadhungmalathi Kapten Sapanjang berhenti untuk mengumpulkan pasukan. Pasukan Kumpeni tetap tinggal di kota, mereka tak mau mengejar. Gubernur Jenderal memanggil para kelasi yang berada di kapal untuk masuk kota. Mereka diberi senjata dan tugas untuk menumpas semua orang Cina di dalam kota. Orang-orang Cina yang sebelumnya telah menyerahkan senjata dengan mudah dibantai. Hanya beberapa yang sempat melarikan diri. Sementara mayat-mayat mereka dibuang ke sungai, membuat sungai menjadi merah darah oleh aliran darah orang-orang Cina.
Kumpeni mengundang pasukan muslim dari berbagai etnis, Betawi, Sembawa, Bugis, Bali, Mandar dan Makasar. Ada dua ribu pasukan Kumpeni Islam yang berhasil dikumpulkan. Mereka disatukan dibawah pimpinan Daeng Mabelah dan Kapten Timah dari Makasar serta Kapten Bandung dan Kapten Barak dari Bali. Setiap seratus orang prajurit Kumpeni Islam mempunyai satu Kapten. Ada Kapten Semangun, Layar, Dulmanap, Dulkatib, Dulkahar, Cakrajaya dan Arbobahudin.
Ada seorang narapidana dari Semarang, anak dari Adipati Suradimenggala dahulu, yakni Martayuda. Martayuda mempunyai empat orang anak, mereka juga diangkat menjadi kepala pasukan. Namanya Kapten Rangga, Kapten Mas, Letnan Mas serta sersan Mas. Kepada para prajurit baru telah diberikan harta rampasan dari para orang Cina dan para wanita mereka.
Orang-orang Cina yang tewas kemudian dihitung. Ada sembilan ribuan yang tewas dibantai di dalam kota. Semua harta dan wanita mereka telah dijarah dan diberikan kepada para kapten dan pasukannya. Mereka sangat gembira mendapat harta dan wanita. Mereka kemudian diundang untuk berperang melawan pasukan Cina pimpinan Sapanjang yang berada di Gadhungmlathi.
Pasukan Kumpeni berangkat di bawah pimpinan Ideler Baron Van Imhoff. Dua komisaris menyertai mereka, namanya Parhisel dan Johan Arman Teling. Terdapat empat mayor dan delapan kapten. Jumlah pasukan Kumpeni kulit putih adalah delapan ratus serdadu. Adapun Kumpeni Islam terdiri dua ribu prajurit. Mereka membawa meriam yang ditarik oleh kuda sejumlah empat puluh buah. Pasukan Kumpeni menyerang dengan gelar sapit urang. Di bagian kedua sapit ditempatkan pasukan Kumpeni Islam dengan didampingi masing-masing seratus serdadu Kumpeni kulit putih.
Sementara itu Kapten Sapanjang yang berbaris di Gadhungmlathi kedatangan orang-orang Cina yang selamat dari pembantaian di dalam kota. Mereka melapor kepada Sapanjang bahwa para orang Cina di dalam kota telah dibantai. Kumpeni melakukan tipudaya dengan pura-pura akan memberi modal bagi orang Cina yang mau menyerah dan ikut Kumpeni. Setelah mereka menyerahkan senjata kemudian dibantai. Ada sembilan ribu orang Cina yang tewas. Kapten Sapanjang lalu mengundang orang-orang Cina yang tersisa untuk ikut bertempur. Bagi yang tidak mau langsung dibunuh. Jadi banyak orang Cina yang kemudian ikut berperang karena takut. Mereka semua telah dikumpulkan di Gadhungmlathi. Pasukan Kapten Sapanjang semakin bertambah besar. Pemimpin pasukan Cina hanya Kapten Sapanjang. Sudah sah menjadi penguasa para prajurit Cina.
Kapten Sapanjang sudah mendengar kalau pasukan Kumpeni menyerang ke Gadhungmlathi. Sapanjang memerintahkan agar pasukan Cina bersiaga. Tidak lama kemudian pasukan Kumpeni datang. Mereka terbagi dalam tiga bagian, karena memakai gelar sapit urang. Satu bagian badan dan dua bagian sapit.
Pasukan Cina di bawah komando Kapten Sapanjang tak gentar. Mereka segera menerjang pasukan Kumpeni. Pasukan Kumpeni menahan dengan tembakan. Terjadi hujan peluru di medan perang. Pasukan Cina terus menerjang tanpa takut. Pasukan Kumpeni terdesak dan lari ke belakang. Dari belakang bantuan segera tiba. Meriam-meriam mereka berbunyi menyambut serangan pasukan Cina yang mengejar. Banyak pasukan Cina tewas bergelimpangan.
Serangan pasukan Cina tak efektif lagi. Mereka tak bebas bergerak karena medan terbatas. Peluru meriam tak bisa mereka hindari karena tempat yang sempit. Sementara di kedua sisi ada sungai yang membatasi gerak. Empat puluh meriam tak berhenti berdentum. Pasukan Cina kocar-kacir. Kapten Sapanjang memberi aba-aba mundur ke Paninggaran. Tempatnya lebih luas dan lapang. Kumpeni terus mengejar. Mereka menghitung prajurit Cina yang tewas. Ada seribu tujuh ratus delapan puluh sembilan.
Di Paninggaran pertempuran kembali pecah. Namun lagi-lagi serangan pasukan Cina tak efektif. Banyak dari mereka tewas di medan perang. Banyaknya prajurit Cina yang tewas karena kurangnya kemampuan militer mereka. Dengan hanya modal berani mereka bukan lawan dari serdadu Kumpeni yang terlatih. Serangan mereka ringan dan tak efektif. Di bawah hujan peluru mereka tak bisa berbuat banyak. Apalagi serangan Kumpeni di bawah komando Baron Van Imhoff sangat massif. Tembakan senapan disusul granat dan meriam membuat pasukan Cina tak berkutik. Medan perang menjadi gelap gulita. Sejak perang mulai pukul sembilan sampai selesai pukul empat sudah dua kali pasukan Kumpeni mendapat pasokan mesiu. Sementara di pihak pasukan Cina, mereka kehabisan mesiu dan tak ada yang memasok. Pasukan Cina sudah hancur. Pukul setengah lima kedua pasukan kecapaian. Pasukan Kumpeni tetap menduduki Paninggaran malam itu. Adapun pasukan Cina malam itu juga mundur ke Panggiling.
Pagi hari Baron Van Imhoff memerintahkan agar menghitung prajurit yang tewas. Dua pertiga pasukan Cina tewas. Jumlahnya mencapai tiga ribu seratus enam puluh dua orang. Sedangkan dari pihak Kumpeni, sejumlah dua ratus tujuh puluh sembilan serdadu Kumpeni kulit putih tewas. Pasukan Kumpeni Bugis-Bali yang tewas sejumlah empat ratus orang. Pasukan Makasar-Ambon-Sumbawa tak lebih dari jumlah tersebut. Semua mayat pasukan Kumpeni sudah dibawa ke kota dengan kereta. Pasukan Kumpeni lalu mundur dari Paninggaran.
Sesampai di kota Direktur van Imhoff segera mengirim orang untuk menelisik pasukan Cina di Panggiling. Sudah pasti tempatnya dan rencana mereka. Pasukan Cina sedang mempersiapkan serangan kembali. Mereka sedang membuat senjata-senjata. Pasukan mereka sudah kembali bersiap perang.
Sementara itu Direktur Baron Van Imhoff sudah menghadap Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal dan para Dewan Hindia sudah mendengar kabar kemenangan pasukan Kumpeni. Semua yang terjadi di medan perang sudah dilaporkan secara detail oleh Direktur Van Imhoff. Gubernur Jenderal lalu memerintahkan Direktur untuk sekalian menumpas prajurit Cina yang berada di Panggiling.
Ideler Baron Van Imhoff segera memerintahkan kepada semua opsir dan kapten Kumpeni Islam untuk menyerang Panggiling. Empat mayor Kumpeni disertakan. Pasukan Kumpeni membawa dua belas meriam dengan dua ratus operator. Tujuh hari kemudian pasukan Kumpeni telah sampai di Panggiling. Terjadi pertempuran sengit antara kedua pasukan.
[1] Souw Pan Chiang
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/10/18/babad-tanah-jawi-139-peristiwa-geger-pacina-di-betawi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar