Translate

Selasa, 17 September 2024

Babad Tanah Jawi (138): Sang Raja menunaikan nazar melawat ke Mataram

 Pada suatu hari Sang Raja berkenan menunaikan nazarnya. Sewaktu sang putra Pangeran Adipati sakit Sang Raja mempunyai nazar bila nanti sembuh akan melakukan pesiar ke Kapanasan. Sudah terlaksana nazar Sang Raja. Ada satu lagi nazar yang belum dilaksanakan yakni berziarah ke Mataram. Maka setelah semua urusan negeri selesai Rang Raja segera menunaikan nazar tersebut.

Sang Raja berangkat dari Kartasura seperti Girindrakusuma. Segenap pasukan diberi busana yang elok berwarna-warni karena negeri sudah sejahtera. Pasukan berjajar-jajar dipimpin para adipati. Para istri naik tandu berada di dalam rombongan besar. Hanya Ratu Ibu yang ditinggal di istana. Punggawa yang berjaga ada dua, dari punggawa luar dan dalam. Juga Ki Patih tidak ikut serta, tinggal di istana untuk berjaga. Selain dari mereka bertiga semua ikut ke Mataram. Berangkat pada hari Rabu Pon, tanggal sebelas Jumadilakhir, ditandai dengan sengkalan: catur anggas rasa tunggal[1]. Selama empat hari perjalanan Sang Raja sampai di Garjitawati, di Yogya. Setelah empat hari bermalam di Yogya ada berita yang membuat seorang kerabat sangat bersedih.

Menjelang rombongan berangkat Pangeran Arya Tepasana telah menyarankan agar sang kakak Pangeran Wiramanggala ikut serta sekalian berziarah. Pangeran Wiramanggala tidak mau ikut. Sekarang Pangeran Tepasan mendapat laporan dari Ki Jimat, juru kunci astana Imogiri bahwa sang kakak Pangeran Wiramanggala telah mendahului sampai di Imogiri. Kedatangannya sudah sejak tiga hari yang lalu. Pangeran Wiramanggala berusaha masuk ke kawasan pemakaman, tetapi juru kunci tak memberikan jalan. Juru kunci tidak mengizinkan seseorang mendahului Sang Raja. Namun Pangeran Wiramanggala memaksa, membuat penjaga di Imogiri marah. Sekarang pasukan di Imogiri telah berkumpul dengan bersenjata lengkap. Akan membahayakan bila tak dicegah. Pangeran Tepasana sangat heran.

Pangeran mengelus dada sambil berkata, “Mengapa Kanda Wiramanggala berbuat seperti itu? Hai Setrajaya, pergilah ke Imogigi. Kepada Kanda Wiramanggala, tanyakan mengapa ketika masih di kota saya persilakan ikut tidak mau. Sekarang malah ingin mendahului Sang Raja. Membawa berapa prajurit Kanda ke Imogiri? Apa ada separuh dari pasukan Sang Raja sampai berani melawan kuasa raja. Laporkan kepada Sang Raja pasti aku yang nanti disuruh menyelesaikan kemarahan Kanda Wiramanggala. Apa yang dia pikirkan sampai berniat memberontak.”

Utusan segera berangkat ke Imogiri menyampaikan kemarahan Pangeran Tepasana. Mereka mengatakan bila Pangeran Wiramanggala tak pergi hari ini dari kawasan pemakaman Imogiri akan dilaporkan kepada Sang Raja. Tak urung Sang Raja marah dan akan menyuruh Pangeran Tepasana untuk menjatuhkan hukuman.

Pangeran Wiramanggala ketika mendengar perkataan utusan sang adik hatinya khawatir. Lalu pergi bersama para pasukannya yang berjumlah tiga belas orang. Mereka pergi dengan menerobos desa-desa dan sampailah di Kartasura.

Sementara itu Sang Raja setelah lima hari bermalam di markas Garjitawati lalu melanjutkan perjalanan ke Imogiri. Setelah berziarah kemudian berkunjung ke Pasar Gedhe Imogiri dan Panitikan. Lalu mengadakan acara selamatan dengan sedekah dan pengajian. Setelah selesai Sang Raja mengajak para punggawa untuk berburu hewan hutan. Banteng, kijang dan kancil serta kerbau hendak mereka tangkap.

Sang Raja kemudian masuk ke arena perburuan yang telah diberi pagar. Sang Raja berada di dalam rombongan dengan pengawalan para mantri. Para adipati diperkenankan mengejar banteng dari atas kuda. Mereka berganti-ganti melakukan aksi berburu hewan hutan. Acara hari itu berlangsung meriah. Terdengar sorak-sorai dari para penonton yang memberi semangat. Sang Raja sangat bersukacita. Banyak banteng berhasil ditangkap. Para abdi Suranata lalu menyembelih dan menghidangkan kepada Sang Raja.

Setelah para adipati dan para mantri beraksi, ganti para wadana yang masuk gelanggang. Wadana Sewu memulai. Ki Garwakanda maju naik kuda dengan menenteng tombak. Ki Garwakanda mengejar buruan. Seekor anak sapi melompat menerjang Ki Garwakanda. Ki Garwakanda kaget dan lari menghindar. Tombak Ki Garwakanda jatuh. Orang-orang bersorak. Ki Garwakanda tersengal-sengal. Ketika melihat aksi Ki Garwakanda Sang Raja merasa malu bercampur marah. Lalu memerintahkan agar kedudukan Ki Garwakanda diambil sementara. Lalu masyhur Ki Garwakanda disebut Garwakanda pedet (anak sapi).

Kemudian maju seorang kaliwon Ki Garwakanda, anak mantan Patih Danureja yang bernama Ngabei Cakrajaya. Ki Cakrajaya bermaksud membalas rasa malu yang diderita tuannya. Dengan naik kuda Ki Cakrajaya memegang cambuk dan tombak. Seekor banteng liar menghadang di tengah gelanggang. Para penonton bersorak-sorai. Ada yang menyangsikan kemampuan Cakrajaya. Tadi melawan anak sapi saja wadananya lari. Ini hanya kaliwon mustahil mampu melawan banteng. Ki Cakrajaya sudah bertarung melawan si banteng. Sangat luwes gerakan Cakrajaya dalam mengendalikan kuda. Si banteng dihadapi sambil berputar. Sesekali Cakrajaya menghunjamkan tombak ke lambung si banteng. Para penonton bersorak kagum. Sang Raja sangat gembira. Si banteng masih tangguh meski telah beberapa kali terkena tikam. Sang Raja lalu memerintahkan agar Cakrajaya dibantu. Dua paneket gedhong keparak maju membantu.Ki Ekawangsa dan Ki Martabaya. Si banteng dikeroyok tiga orang. Si banteng yang telah terluka semakin hebat mengamuk. Tiga orang menahan. Si banteng melompat. Dua tanduknya menghujam dada kuda Ki Ekawangsa. Orang-orang bersorak. Ada yang bertiak, si Ekawangsa pasti mati. Siapa yang sanggup menahan diterjang banteng terluka. Namun Ekawangsa tangkas, segera membuang tombak dan menarik kerisnya. Si banteng ditikam lutut kirinya. Ki Martabaya dan Cakrajaya menolong. Keduanya sudah membuang tombaknya. Cakrajaya berganti memakai kelewang. Si banteng ditebas kakinya dari belakang. Si banteng kaget dan melompat. Ekawangsa lepas tetapi tak jatuh dari kuda. Banteng berhasil dibunuh.

Sang Raja sangat suka melihat aksi ketiga orang tersebut. Selama pertunjukan baru kali ini ada orang bisa menandingi kekuatan banteng. Ki Cakrajaya sudah dijanjikan jabatan bupati kalau kelak kembali ke Kartasura. Karena Ki Patih yang akan memproses kenaikan jabatan berada di Kartasura. Memang Ki Patih tidak diajak serta ke Mataram.

Demikianlah Sang Raja setiap hari menggelar pertunjukan berburu. Kalau tidak berburu Sang Raja mengadakan latihan perang tombak. Para tukang pikul pun disuruh bertanding. Ketika mereka beraksi tombak diganti pelepah daun pisang. Karena tukang pikul tak pandai naik kuda banyak dari mereka berjatuhan. Suasana menjadi semakin meriah oleh aksi para tukang pikul yang jenaka.

Selama Sang Raja di Mataram di kotaraja muncul pertanda buruk. Banyak rumah orang di kota ditandai dengan coretan darah. Di pintu atau di gebyok, hampir merata seluruh kota. Banyak tanda-tanda akan datangnya musibah. Buah pohon beringin berganti warna. Ada pohon pisang bertandan susun. Sang Raja di Mataram selama empat puluh hari. Kedatangan Sang Raja disambut oleh seluruh kawula Kartasura. Hati mereka kembali tenang. Namun ada pula desas-desus dari kabar tak jelas. Sudah adat orang Jawa seperti itu kalau ditinggalkan Sang Raja.

Sang Raja sudah masuk ke istana. Tiga hari kemudian diperintahkan kepastian pemecatan wadana Sewu Ki Garwakanda. Seorang pelayan Sang Raja yang bernama Ki Wirapati diangkat menjadi wadana dalam gedhong kanan. Jabatan yang semula dipegang Ki Mangunnagara. Nama Ki Wirapati diganti menjadi Ki Tumenggung Wirareja. Adapun Ki Mangunnagara digeser ke luar menjadi wadana Sewu, jabatan yang semula dipegang Ki Garwakanda. Kaliwon Sewu Ngabei Cakrajaya diangkat sebagai bupati Batang. Tumenggung Batang dipecat dari jabatannya. Ki Tumenggung sekeluarga sangat bersedih. Namun segera dipanggil Sang Raja dan ditempatkan di Suraprameyan.

Demikian negeri Kartasura sangatlah makmur. Tak pernah dalam kurun waktu yang lama seperti sekarang negeri dalam keadaan sejahtera. Tak ada kawula yang menderita. Besar kecil dan para pendatang tak kekurangan. Hanya saja ada ramalan yang menyebut bahwa kelak ada pangeran dari Sri Lanka yang akan menjadi raja. Siapa lagi yang dilirik kalau bukan Pangeran Tepasana. Maka banyak orang Jawa mengabdi ke para pangeran dari Sri Lanka.

Pada suatu hari ada kejadian aneh. Kulah di mushola pangeran Sri Lanka mengeluarkan air terus menerus seperti mata air. Pada waktu itu Pangeran Tepasana sudah berangkat menghadap ke istana. Oleh sang kakak Pangeran Tepasana diperintahkan untuk disusul. Pangeran Wiramanggala sangat percaya diri bahwa air yang keluar dari kulah adalah pertanda nubuat keraton telah berpindah. Di Kamlayan Pangeran Tepasana berhasil disusul, lalu langsung diajak menuju kulah tempat air keluar. Di situ Pangeran Wiramanggala telah menunggu. Pangeran Tepasana agak khawatir hatinya.

Berkata Pangeran Wiramanggala, “Dinda, jangan punya pikiran buruk. Ini pertanda baik. Ini melengkapi pertanda yang sudah ada di panangkilan. Beringin yang berasap dan pohon soka yang berasap di Sitinggil itulah pertanda buruk.”

Pangeran Wiramanggala kemudian berbisik kepada sang adik, “Sudah kehendak Tuhan, kita tak bisa menghindar. Kalau ada pertolongan bagi orang Jawa tandanya ada mata air.”

Pangeran Tepasana hanya mengangguk untuk menyenangkan hati sang kakak. Dalam hati Pangeran Tepasana sangat khawatir. Pangeran Tepasana kemudian pulang ke rumahnya dan tidur. Adapun Pangeran Wiramanggala sudah terlalu jauh berangan-angan. Sudah sangat yakin bahwa nubuat keraton akan berpindah kepadanya. Padahal bukan itu yang akan terjadi. Timbulnya mata air adalah pertanda kemarahan Sang Raja akan segera menimpa. Semua kejadian hari ini adalah pertanda buruk. Pangeran Wiramanggal hatinya seperti anak gembala, bodoh dalam melihat pertanda-pertanda.

Pangeran Wiramanggala lalu mengambil langkah lebih jauh. Pangeran Wiramanggala menyuruh menantunya Ki Wiradirja untuk membujuk Kumpeni. Kepada mereka dijanjikan keuntungan yang berlipat jika kelak Pangeran Wiramanggala menjadi raja. Kapten Kumpeni berbasa-basi dengan jawaban yang meyakinkan.

Sementara itu Sang Raja sudah mendengar ramalan yang menyebut bahwa kelak kedudukan raja akan kembali kepada pangeran dari Sri Lanka. Sang Raja kemudian memanggil Ki Patih Danureja.

Sang Raja berkata, “Paman sudah mendengar seperti apa yang aku dengar? Bahwa Kanda Tepasana dan Kanda Wiramanggala menurut perkiraan orang banyak akan menjadi raja kelak?”

Patih Natakusuma menjawab, “Benar paduka, tetapi itu tak pantas dipikirkan. Karena kabar itu tanpa dasar. Paduka kalau marah kepada mereka akan membuat perpecahan. Kalau saya tetap meyakini paduka sebagai penguasa tanah Jawa. Mustahil perhitungan seperti itu lolos dari tangan saya.”

Sang Raja tersenyum dan berkata, “Baik Paman, jangan terlena dalam sembarang pekerjaan. Semua ketahuilah. Seperti sudah dekat dengan peristiwa besar. Sudah ada tanda-tandanya. Ada pohon pisang bertandan susun empat, lima malah ada yang susuh tujuh sampai delapan. Banyak pohon pinang kembar yang berasap. Pohon beringin berasap di Panangkilan. Bintang berekor di waktu malam. Gerhana bulan dan matahari. Kayu soka di Sitinggil berasap. Meriam Kyai Gunturgeni mengeluarkan air.”


[1] Sengkalan tahun


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/10/18/babad-tanah-jawi-138-sang-raja-menunaikan-nazar-melawat-ke-mataram/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...