Alkisah, Ki Tumenggung Jayaningrat di Ungaran sudah mendengar bahwa pasukan Kartasura di Demak, Tegal dan Kaliwungu sudah dikalahkan pasukan Pakubuwanan. Hati Jayaningrat menjadi ciut. Dengan bergegas Ki Tumenggung kemudian mengirim Pusparudita ke Semarang dengan membawa surat. Sesampai di Semarang Pusparudita menghadap Panembahan Madura dan menyerahkan surat dari Tumenggung Jayaningrat. Surat diterima dan dibaca dengan seksama. Oleh Panembahan Madura surat segera dilaporkan kepada Sang Raja.
Berkata Panembahan Madura, “Duhai paduka, hamba beritahukan bahwa si Jayaningrat yang menggelar pasukan di Ungaran mengirim surat kepada saya. Adapun yang diutus adalah adiknya si Pusparudita. Suratnya menyatakan si Jayaningrat menyerahkan hidup-matinya kepada paduka dan bermaksud hendak mengabdi. Namun si Jayaningrat meminta tanah paduka di Rembahrawa sebagai tempat tinggal bagi para abdinya. Semua abdinya dan pasukan Bugis serta Cina akan dibawa semua mengabdi kepada paduka.”
Sang Raja sangat bersukacita menanggapi penyerahan Jayaningrat, “Aku terima penyerahan si Tumenggung Jayaningrat. Namun Rembahrawa itu aku masih kerepotan karena aku sudah berjanji memberikan kepada Ki Besan Semarang.”
Ki Adipati Semarang Suradimenggala berkata, “Saran saya berikan saja Rembahrawa kepada Jayaningrat agar semua lestari sebagai teman.”
Sang Raja lega hatinya setelah Adipati Semarang merelakan tanah Rembahrawa.
Berkata Sang Raja, “Dinda Madura, si utusan suruh pulang. Buatkan surat balasan, terserah padamu agar si Jayaningrat senang hatinya. Kalau bisa dia dijadikan sekutu, beri janji hadiah dariku sebagai punggawa.”
Panembahan Cakraningrat menyatakan kesiapan, lalu membawa Pusparudita ke pondokannya.
Setelah mereka duduk nyaman Cakraningrat berkata, “Hai utusan, sungguh saudara sedang beruntung. Kalau menurut saran saya pasti akan diangkat menjadi punggawa besar. Sang Raja sudah tak mengurusi baik-buruknya negara, semua sudah diserahkan kepadaku. Mengenai permintaan kakakmu atas tanah Semarang, seberapa toh luas Semarang? Aku mintakan besok negeri Pekalongan. Itu lipat delapan kali dibanding Semarang.”
Pusparudita berkata, “Paduka, mustahil kakak hamba membantah perintah paduka. Tekadnya sudah bulat mengabdi kepada Sang Raja.”
Berkata lagi Panembahan Cakraningrat, “Ada berapa prajurit yang dikuasai kakakmu, yang sedang berbaris di Ungaran? Dan berapa bupatinya?”
Pusparudita berkata, “Bupatinya ada empat. Adapun prajurit bayaran dari berbagai suku Jawa, Bugis, Makasar, Ambon, Cina dan Sumbawa ada tujuh ribu.”
Menggeleng-geleng Panembahan Cakraningrat. Lalu berkata, “Bawalah surat ini dan sedikit oleh-oleh dariku. Malam ini berangkatlah. Upayakan sebelum esok engkau sudah sampai di Ungaran. Besok aku akan melakukan perang secara sandi. Semua rencanaku sudah aku uraikan di dalam surat.”
Pusparudita segera lengser dari hadapan Panembahan Cakraningrat. Malam itu juga Pusparudita kembali ke Ungaran. Pukul enam pagi telah sampai di Ungaran. Tidak ada yang curiga atas kepergiaannya. Pusparudita segera menemui sang kakak. Surat segera diterima dan dibaca oleh Jayaningrat.
Isi suratnya: “Salam dan doa dari Panembahan Cakraningrat Madura, manggala perang dan banteng tanah Jawa, prajurit penata barisan dan senapati perang yang melayani Sang Raja. Surat dariku untuk Jayaningrat, panglima perang dari Sunan Mangkurat Mas, kepada pasukan yang berbaris di Ungaran. Suratmu kepadaku sudah aku terima dan aku laporkan kepada rajaku. Penyerahanmu dan usahamu membuka jalan dengan membubarkan barisan di Ungaran sudah diterima. Adapun mengenai permintaanmu atas tanah Bahrawa juga sudah dikabulkan. Semua pesanku selain yang tertulis di dalam surat ini sudah aku katakan kepada saudaramu si Pusparudita.”
Setelah membaca surat Ki Tumenggung Jayaningrat segera mengundang prajuritnya. Dengan berbisik mereka diperintahkan membawa pergi harta benda. Dalam semalam semua sudah selesai. Pagi harinya Ki Jayaningrat mengundang para bupati yang berada di garis depan di Pudhakpayung. Mereka diminta bergabung dengan barisan besar di Karamas. Sejumlah tujuh ribu pasukan sudah berkumpul memenuhi hutan.
Sementara itu pasukan utusan dari Panembahan Cakraningrat sudah sampai. Mereka terdiri dari empat ribu prajurit Sampang dan Surabaya. Pemimpin pasukan adalah putra Panembahan, yakni Tumenggung Suradiningrat dan adik Adipati Surabaya si Arya Jayapuspita. Setelah menyeberang Jatingalih segenap pasukan berkirab sambil menabuh carabalen. Suaranya bergema dan terdengar oleh pasukan Kartasura yang sedang berbaris di Karamas. Ki Jayaningrat sudah memantapkan diri sesuai kesepakatan. Ketika barisan musuh terlihat sayap yang berisi pasukan bayaran segera menyongsong ke barat. Tujuh ribu pasukan bergabung ke pihak musuh bersama Ki Jayaningrat. Pada bupati kebingungan karena panglima mereka menyeberang ke pihak musuh. Mereka segera berlari tunggang-langgang. Musuh terus mengejar dan menguasai benteng. Pasukan Kartasura lari meninggalkan Ungaran.
Tumenggung Suradiningrat dan Arya Jayapuspita segera memberi tahu kepada Panembahan Madura bahwa mereka telah berhasil menjemput Jayaningrat. Utusan segera berangkat. Sesampai di Semarang utusan disuruh kembali lagi untuk memanggil sang putra dengan membawa Jayaningrat. Sementara barisan Madura di Ungaran kemudian dipimpin para mantri, Jangpati, Jangkewuh, Demang Konangpasir dan Demang Kaburanggalawe. Tumenggung Jayaningrat pergi ke Semarang dengan membawa dua ribu pasukan dan dua ratus ikat senjata dan lima ratus tukang pikul. Sesampai di pondokan Panembahan Cakraningrat segera dibawa menghadap Sang Raja.
Sang Raja sudah menerima penyerahan diri Jayaningrat. Kemudian Jayaningrat diberi tanah Pekalongan. Adapun Pusparudita diberi tanah Batang dan diberi gelar Tumenggung Puspanagara. Para bupati bersuka hati, terlebih Panembahan Cakraningrat. Dengan bubarnya barisan Ungaran kekuasaan Kartasura semakin tipis. Panembahan Cakraningat sudah memerintahkan agar para prajurit bersiaga. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menggempur Kartasura. Para prajurit dari pesisir barat dan pesisir timur sudah memenuhi Semarang.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/09/babad-tanah-jawi-103-tumenggung-jayaningrat-menyerah-kepada-raja-pakubuwana/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar