Alkisah, di Kartasura Sang Raja sedang bertahta di hadapan para punggawa yang tersisa di keraton.
Berkata Sang Raja, “Hai Patih Sumabrata, bagaimana kabar berita pasukan yang pergi berperang ke Semarang. Apakah mereka menang dalam perang?”
Patih Sumabrata berkata, “Mohon maaf paduka, pasukan paduka belum melakukan perang. Masih berhadap-hadapan dengan pasukan Madura dan Surabaya.”
Berkata Sang Raja, “Lama benar mereka. Aku sudah menunggu-nungu. Bapak segera kirimlah surat agar mereka menyerang negeri Semarang. Segera tangkap Paman Puger.”
Patih Sumabrata menyembah dan menyatakan kesiapan. Belum selesai mereka berbincang mendadak datang utusan dari Mandurareja, Pangeran Arya Balitar dan Pangeran Surabaya. Tiga utusan datang bersamaan.
Berkata Sang Raja, “Hai utusan, engkau disuruh membawa pesan apa dari tuanmu?”
Utusan dari Demak berkata, “Paduka, kami diutus untuk meminta bantuan pasukan. Abdi paduka menderita kekalahan. Arya Mandurareja di Demak sudah kalah setelah bertempur habis-habisan. Banyak mantri yang tewas.”
Utusan dari Tegal tak jauh berbeda permintaannya, juga utusan dari Tumenggung Mangkuyuda. Mereka sama-sama minta bantuan. Sang Raja merasa kerepotan. Belum lagi mendapat jalan keluar mendadak ada gandek datang dari Ungaran. Dia dari abdi dalem panakawan yang selama ini mendampingi Tumenggung Jayaningrat, namanya Pangalasan. Begitu sampai Pangalasan bersimpuh dan menunduk.
Berkata Pangalasan, “Hamba beritahukan kepada paduka kalau abdi paduka si Jayaningrat sekarang menyeberang ke pihak musuh. Tunduk ke Semarang dengan membawa semua pasukannya. Pangeran Puger sudah menjadi raja di Semarang dengan gelar Susunan Pakubuwana Senapati Ngalaga Abdurahman Sayidin Panata Agama. Dan menurut berita sekarang sedang bersiap memberangkatkan pasukan hendak menyerang Kartasura. Sudah sepakat dengan para punggawa pasukan dari Semarang akan melewati Ungaran dan menuju Salatiga. Yang menjadi pembuka jalan adalah pasukan Madura.”
Setelah mendengar laporan utusan dari Ungaran Sang Raja berseru, “Hai Patih Sumabrata, segera bersiaplah engkau menghadang pasukan Semarang. Berbarislah di Salatiga. Ajaklah semua punggawa yang baru saja kalah perang untuk bergabung dengan pasukanmu.”
Ki Patih menyembah dan segera melaksanakan perintah. Bende sudah ditabuh, semua pasukan Kartasura berkumpul. Semua pasukan akan dibawa serta ke Salatiga. Hanya menyisakan prajurit gedhong dan keparak untuk menjaga Sang Raja. Setelah semua siap Ki Patih berangkat bersama pasukan besar Kartasura. Mereka berjalan seperti gelombang samudera. Singkat cerita mereka sudah sampai di Salatiga. Ki Patih lalu mengundang pasukan Mandurareja, Pangeran Balitar dan Pangeran Surabaya agar bergabung ke Salatiga. Maka terkumpullah jumlah prajurit yang sangat besar bersiaga di Salatiga. Pangeran Arya Mataram berbaris di Boyolali memimpin pasukan para kerabat raja.
Sementara itu di Semarang, Susunan Pakubuwana pagi hari tampil di hadapan para punggawa. Semua punggawa dari pesisir sudah lengkap menghadap. Panembahan Madura, Adipati Surabaya dan Adipati Semarang berada di depan.
Berkata Panembahan Madura, “Hamba beritahukan, si Tumenggung Tirtanata sekarang sudah tewas, diserang oleh si Abru yang membawa pasukan Kartasura. Si Abru itu anak Rangga Lelana, tetapi masih setia kepada Kartasura. Semula si Tirtanata saya suruh pulang untuk menjaga Pati, Si Rangga Lelana yang berjaga di Semarang.”
Berkata Sang Raja, “Dinda Madura, si Rangga Lelana kalau begitu mendapat hukuman. Segera tikam dia sampai tewas.”
Panembahan menyembah dan segera menyuruh prajurit Madura untuk melaksanakan perintah. Ki Rangga Lelana ditangkap dan ditikam. Rangga Lelana sudah tewas dan kepalanya dipanjar di alun-alun Semarang.
Sang Raja masih bertahta di balai pertemuan, mendadak Tuan Admiral Speelman datang dari negeri Betawi. Setelah dipersilakan Tuan Admiral Speelman segera menghadap. Kedua pembesar kemudian saling bersalaman.
Admiral Speelman berkata, “Tuan, saya diutus oleh tuan Gubernur Jenderal membawa bantuan perang kepada paduka. Saya membawa serdadu Kumpeni lima ratus orang. Dan perintah Jenderal si Kenol diangkat menjadi komisaris besar. Dan di semarang diangkat seorang kumendur, bila paduka berkenan. Di Japara masih dijaga oleh seorang petor. Kelak Adipati Semarang tidak boleh menghadap ke Kartasura bila tidak disertai kumendur. Dan juga, Jenderal berpesan agar kita lestari bersaudara. Siapa yang memulai hal buruk semoga tak selamat.”
Sang Raja menyetujui segala perintah Gubernur Jenderal. Pada hari Kamis, tanggal dua puluh sembilan Rabiul Akhir, tahun Jimawal, Tuan Admiral membuat buku perjanjian. Dentuman meriam berbunyi berkali-kali sebagai penghormatan atas perjanjian itu.
Sang Raja kemudian bersabda, “Segenap punggawa, kalian bersiaplah perang. Semua bupati pesisir undanglah semua.”
Panembahan Madura berkata pelan, “Paduka, abdi paduka sudah siap semua.”
Sang Raja berkata, “Kalau sudah siap, besok hari Senin aku hendak berangkat menyerang Kartasura.”
Panembahan Madura berkata, “Mohon maaf paduka, kalau kami boleh usul, paduka jangan berangkat sendiri ke medan perang. Paduka duduklah nyaman di Semarang. Adapun soal menyerang Kartasura serahkan kepadaku dan Kanda Jangrana. Paduka jangan khawatir Kartasura pasti takluk. Saya juga belum lega kalau belum beradu tombak dengan Raja Kartasura. Kalau sudah mendapat restu paduka dan berhasil menghancurkan Kartasura, saya akan kembali ke Semarang menjemput paduka.”
Sang Raja berkata, “Aku terima pernyataan kesetiaanmu Dinda dan juga Adipati Surabaya. Namun aku ingin menyaksikan sendiri bagaimana kalian berperang.”
Kedua punggawa menyembah dan kembali memohon agar Sang Raja tetap tinggal, tetapi kehendak Sang Raja tak dapat diredakan. Karena sangat besar pengabdian keduanya sampai-sampai mereka menitikkan air mata. Sang Raja beranjak meninggalkan balai pertemuan dan kembali ke pondokan, para punggawa yang menghadap membubarkan diri.
Pada hari Senin seluruh prajurit sudah bersiap. Mereka telah berjajar memenuhi lapangan. Bermacam-macam senjata yang mereka tenteng. Pakaian mereka berwarna-warni seperti lautan bunga. Juga pasukan Kumpeni sudah bersiaga. Mereka berbaris dengan pasukan Bugis dan Makasar. Tuan Admiral memimpin di depan. Sebelum berangkat Tuan Admiral menghadap Sang Raja di pondokan. Pasukan Sang Raja kemudian berangkat dari Semarang. Peristiwa hari itu ditandai dengan sengkalan tahun: ing wiyat gêni kawayang ing janma[1].
Iringan-iringan besar pasukan Susunan Pakubuwana dari Semarang memenuhi sepanjang jalan menuju Kartasura. Ada berbagai macam kesatuan pasukan. Ada prajurit Jawa, serdadu Kumpeni kulit putih, Bugis dan Makasar. Suara mereka bergemuruh di sepanjang jalan. Benar-benar menampakkan kewibawaan Sang Raja Pakubuwana sebagai raja besar. Sang Raja naik kuda berwarna gulagempung dengan pelana berwarna mencolok. Adipati Surabaya menempati posisi sayap kanan, Panembahan Madura menempati sayap kiri. Di bagian dada ditempati pasukan Kumpeni dipimpin Tuan Admiral. Di belakang berbaris pasukan dari pesisir. Patih Cakrajaya berada di belakang mengawal rombongan kerabat Sang Raja.
Singkat cerita perjalanan pasukan Sang Raja Pakubuwana telah sampai di Ungaran. Rombongan kemudian berhenti untuk beristirahat dan membuat pondokan. Adapun pasukan garis depan sudah sampai di Lopait.
Tuan Kumendur berkata kepada Tuan Admiral, “Mari kita menghadap Sang Raja. Mumpung masih sepi, baru pukul setengah lima. Kalau nanti banyak punggawa mustahil Adipati Semarang setuju.”
Tuan Admiral berkata, “Benar katamu. Ayo sekarang kita menghadap.”
Kedua pembesar Kumpeni segera menuju pondokan Sang Raja. Memang benar terlihat sepi. Adipati Semarang sudah kembali ke pondokannya. Tuan Admiral segera masuk dan menghadap Sang Raja.
Setelah bersalaman Tuan Admiral berkata, “Paduka, kami sekarang melaksanakan pekerjaan paduka. Perintah Tuan Jenderal walau kami harus mati kami tak boleh meninggalkan paduka. Namun kami juga meminta belas kasih paduka kepada kami. Siapa lagi yang kami harapkan kalau bukan paduka. Kami minta, bila paduka berkenan, berilah kami beras sebanyak seribu koyan setiap tahun sebagai jatah prajurit Kumpeni yang menjaga paduka. Kami sangat berharap belas kasih paduka.”
Sang Raja tidak berkata sepatah pun, hanya mengangguk tanda setuju. Tuan Admiral kemudian menuliskan dalam buku perjanjian dan kemudian ditandatangani. Suara senjata menyalak tiga kali sebagai pertanda sahnya perjanjian itu. Para bupati kaget mendengar bunyi senjata itu. Mereka mengira telah terjadi sesuatu. Segera mereka menuju ke pondokan Sang Raja. Semua bupati sudah menghadap.
Sang Raja berkata, “Hai Ki Besan, si Admiral tadi menghadap kepadaku bersama si Kenol.”
Semua yang terjadi telah diceritakan oleh Sang Raja. Adipati Semarang sangat menyesal.
Berkata Adipati Semarang, “Mengapa paduka tidak memanggil hamba. Kumpeni sungguh lancang. Kalau sekehendaknya diturut semakin lama semakin ngelunjak.”
Sang Raja berkata lagi, “Bagaimana lagi Ki Besan, sudah terlanjur. Namun besok kita harus berhati-hati.”
Para punggawa kemudian bubar dan kembali ke pondokan masing-masing.
Sementara itu di kubu pasukan Kartasura, Ki Patih Sumabrata telah memperkuat benteng. Parit-parit diperdalam dan senjata dilengkapi. Mereka menempati Kalicacing sebagai markas. Ki Patih sudah mendengar kalau Sang Raja Pakubuwana sudah berangkat dari Semarang dan sekarang berhenti di Ungaran. Para punggawa semua diperintahkan agar bersiap menata barisan karena musuh sudah dekat.
Berkata Ki Arya Mandurareja, “Mari kita sambut musuh di luar benteng, Ki Patih.”
Patih Sumabrata menjawab, “Saya tak setuju. Kita berada di dalam benteng saja. Hanya pasukan garis depan yang keluar. Kalau mereka terdesak bisa masuk ke dalam benteng. Para saudaraku, kalian yang mantap dalam perang. Yang utama bagi seorang lelaki adalah mati di medan perang karena pahalanya adalah surga. Dan para bupati semua jangan sampai kalian meninggalkan gelanggang, juga para mantri jangan sampai lari.”
Para punggawa menjawab kompak menyatakan kesiapan. Patih Sumabrata segera menyiapkan prajurit di dalam benteng. Arya Banyakwidhe diperintahkan menjadi panglima garis depan bersama Pangeran Balitar dan Pangeran Surabaya. Ketiga panglima Kartasura segera berangkat.
Sementara itu pasukan Sang Raja Pakubuwana yang berada di Ungaran pada pagi hari sudah menabuh tanda berangkat. Ringkik kuda dan sorak prajurit memenuhi jalanan. Segenap punggawa bersiap siaga dengan pasukan masing-masing.
Berkata Sang Raja Pakubuwana, “Dinda Madura, siapa yang akan engkau tunjuk sebagai panglima garis depan?”
Panembahan Madura berkata, “Bila paduka berkenan anak saya si Suradiningrat yang menjadi panglima garis depan didampingi Arya Jayapuspita dan Panji Surengrana. Ketiganya pemberani dan cakap.”
Sang Raja tersenyum, “Anakku Suradiningrat, Arya Jayapuspita dan Panji Surengrana, bolehlah mereka menjadi panglima garis depan. Namun pesanku kalau kalian kalah, mengungsilah ke belakang. Bersamaku kita hancur sekalian. Aku tak mau ketinggalan. Aku ingin bersama dengan para abdiku yang setia.”
Ketiga ksatria muda begitu mendengar perkataan Sang Raja segeran menyembah dan menangis, “Lebih baik abdi paduka mati duluan dan paduka lestarilah menjadi raja menguasai tanah Jawa.”
Sang Raja merangkul ketiganya dan menenangkan, “Aku terima kesetiaanmu kepadaku, sekarang berangkatlah.”
Ketiga ksatria menyembah dan segera berangkat beserta pasukannya. Di belakang barisan ketiga panglima garis depan menyambung pasukan Tuan Admiral yang menempati bagian dada. Kedua sayap ditempat Panembahan Madura dan Adipati Surabaya. Lalu di belakang mereka baru pasukan pengawal Sang Raja. Prajurit Sampang bertindak sebagai pengawal Sang Raja di kiri dan kanan. Lalu di belakangnya lagi menyambung pasukan pesisir. Sorak sorai prajurit kembali bergemuruh, ditingkah suara ringkik kuda, diselingi bunyi gamelan yang ditabuh sepanjang jalan. Pasukan Pakubuwanan sangat bersemangat di sepanjang jalan.
Di garis depan pasukan Raden Suradiningrat dan Arya Jayapuspita sudah bertemu dengan pasukan musuh yang dipimpin Pangeran Surabaya dan Pangeran Balitar. Segera mereka terlibat dalam perang yang dahsyat. Tidak perlu waktu lama pasukan Kartasura dapat dikalahkan. Pangeran Balitar sudah lari masuk ke benteng dan melapor kepada Patih Sumabrata.
Patih Sumabrata segera menabuh bende. Pasukan Kartasura waspada. Semua bersiap menghadapi perang. Tak lama musuh yang mengejar datang ke benteng. Meriam dan kalantaka segera dipersiapkan. Tiga panglima Semarang melihat musuh mereka masuk ke benteng.
Berkata Jayapuspita, “Hai prajurit Surabaya, berhentilah dulu. Bukan bobot kalian menyerang benteng. Kita tunggu pasukan yang dibelakang sampai. Pasukan Tuan Admiral dan Sang Raja.
Panji Surengrana berkata, “Jangan banyak pikir. Walau mereka banyak tapi saya berani. Kanda di belakang saja, saya akan menyerang duluan. Pikir saya, lebih berat kasih sayang raja daripada bobot musuh.”
Arya Jayapuspita tersenyum. Raden Suradiningrat menyambung, “Benar perkataan Anda.”
Suradiningrat dan Jayapuspita segera memberi aba-aba menyerang. Pasukan Madura dan Surabaya bergerak menerjang benteng. Prajurit Kartasura menyambut dengan tembakan meriam dan kalantaka serta berondongan senapan. Seketika medan perang menjadi gelap oleh asap mesiu. Pasukan Sampang dan Surabaya tak gentar, mereka terus maju menyerang benteng.
Sementara itu Sang Raja Pakubuwana mendengar bunyi rentetan tembakan dan dentuman meriam. Sang Raja menduga telah terjadi pertempuran dahsyat di garis depan. Sang Raja memerintahkan agar perjalanan dipercepat. Tak lama pasukan sampai di Kalicacing. Terlihat pasukan Sampang dan Surabaya sedang menyerang benteng. Pasukan Kumpeni kemudian nimbrung. Dari dalam benteng pasukan Kartasura semakin gencar menembak. Banyak prajurit Surabaya dan Madura yang tewas.
Raden Suradiningrat marah dan turun dari kuda. Arya Jayapuspita menyusul dan berseru, “Hai orang Surabaya, jangan ada yang mundur! Ayo segera injak benteng. Jangan mundur dalam perang!”
Pasukan Surabaya kembali bersemangat merebut benteng. Segera tembok benteng dinaiki dengan naik ke gagang tombak. Pasukan Kartasura terus menembak. Kedua pasukan saling berebut posisi. Yang dari luar ingin mendobrak benteng, yang dari dalam mempertahankan mati-matian agar benteng tidak jebol.
Di belakang Sang Raja hendak turun ke medan laga karena kasihan melihat sepak terjang para prajurit yang terlihat kesulitan merebut benteng. Sang Raja sudah menyiapkan pasukan. Patih Cakrajaya, Wirancana, Wirasantika, Citrasoma dan punggawa lain sudah menghadap.
Sang Raja bertanya kepada Wirasantika, “Hai Subah, aku tanya kakakmu si Malim tak kelihatan. Ada di mana?”
Wirasantika menjawab, “Abdi paduka si Malim tertembak kakinya, sekarang tak dapat berjalan.”
Sang Raja sangat menyesal, lalu berkata kepada Patih Cakrajaya, “Sudah takdir si Malim jauh dari keberuntungan. Dia urung jadi bupati.”
Sang Raja segera bersiap. Tombak Kyai Pleret sudah ditenteng, keris Kyai Maesanular sudah disandang. Pasukan Sampang dan Madura yang melihat gelagat Sang Raja akan maju perang segera mendahului menyerang benteng. Mereka kemudian naik ke benteng dan mengamuk. Sepak terjang mereka seperti macam galak. Tuan Admiral Speelman segera memerintahkan pasukan Kumpeni bersama-sama menerjang ke depan. Pasukan Kartasura tangguh tapi lama-lama mereka terdesak. Arya Jayapuspita berhasil masuk ke benteng. Panji Surengrana dan Raden Suradiningrat segera menyusul. Dan, brol… benteng pasukan Kartasura jebol. Pasukan Sampang dan Surabaya berhamburan masuk ke dalam.
Patih Sumabrata kaget melihat pasukan musuh telah masuk ke dalam benteng. Ki Patih segera memerintahkan pasukan yang ada untuk bertempur habis-habisan. Pertempuran dahsyat kembali pecah. Kedua pasukan saling tombak, saling tembak dan saling tikam. Tiga ksatria Semarang mengamuk seperti banteng terluka. Pasukan Kartasura tak mampu melawan amukan pasukan Semarang yang datang seperti aliran banjir.
Patih Sumabrata sadar pasukannya takkan mampu menahan serangan pasukan Semarang. Segera ki Patih memutar kudanya dan lari meninggalkan benteng. Para prajurit yang melihatpun ikut lari bersama panglima mereka. Di bawah berondongan senapan pasukan Semarang sisa pasukan Kartasura lari terbirit-birit.
Sementara itu Pangeran Arya Mataram sedang berbincang dengan para kerabatnya di markas desa Baledug. Pangeran Arya Mataram sudah menyatakan sanggup melawan pasukan Semarang. Sang Raja menjanjikan kedudukan yang tinggi kepadanya. Selain wewenang dan kekuasaan mengatur negara juga tanah garapan seluas sepuluh ribu karya. Hal itulah yang membuat pangeran berbesar hati. Di saat Pangeran Arya Mataram enak berbincang tiba-tiba datang Patih Sumabrata tanpa pemberitahuan. Kedatangan mereka buru-buru sehingga membuat kaget para prajurit di markas Boyolali.
Pangeran Arya Mataram bertanya, “Ki Patih, ada kabar apa Anda datang dengan tergesa-gesa?”
Patih Sumabrata menjawab, “Celaka Pangeran, kami melawan pasukan Madura, Surabaya dan Kumpeni serta pasukan seberang dari Ambon, Bugis dan Makasar. Mereka menerjang seperti pasukan kera. Tak berhenti oleh tembakan dan tak takut dengan meriam. Dua saudara Adipati Surabaya dan satu anak Cakraningrat mengamuk tanpa bisa ditahan. Pasukan saya terdesak dan hancur.”
Pangeran Arya Mataram ciut hatinya mendengar penuturan Patih Sumabrata.
Pangeran Arya Mataram bertanya, “Berapa teman kita yang tewas dalam perang?”
Berkata Sumabrata, “Aduh Nak, ratusan yang tewas di medan perang.”
Belum selesai kedua pembesar Kartasura berbincang mendadak prajurit sandi Pangeran Arya Mataram datang memberi laporan, namanya Wiragati.
Pangeran bertanya, “Bagaimana hasil pengamatanmu terhadap pasukan Semarang, hai Wiragati?”
Wiragati menyembah dan melapor, “Tuan, saya sudah pergi menelisik perjalanan kakak paduka Pangeran Puger. Kakak paduka sekarang sudah sampai di Salatiga. Yang menjadi panglima perang adalah Panembahan Cakraningrat dari Madura dan Adipati Jangrana dari Surabaya. Adipati Jangrana membawa pasukan tiga ribu prajurit dan Panembahan Madura juga membawa tiga ribu prajurit. Ditambah pasukan dari Ambon, Makasar dan Bugis serta pasukan Kumpeni. Saya dengar mereka sudah bersumpah seandainya kalah perang tidak akan mundur ke Semarang. Mereka bertekad masuk ke dalam api. Kalau Kartasura tidak takluk mereka memilih mati.”
Pangeran Arya Mataram sangat bersedih mendengar penuturan Wiragati. Nyali Pangeran Arya Mataram sudah habis. Sementara itu Ki Sumabrata buru-buru minta pamit pulang ke Kartasura dengan membawa semua pasukannya yang baru saja kalah perang.
[1] Sengkalan tahun:
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/10/babad-tanah-jawi-104-sinuhun-pakubuwana-memberangkatkan-pasukan-menyerang-kartasura/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar