Pangeran Arya Mataram tinggal sendirian di desa Baledug. Karena hatinya sudah ciut mendengar laporan sepak terjang pasukan Pakubuwanan dari Semarang, Pangeran Arya Mataram tak ingat lagi akan kesanggupannya kepada Sang Raja Kartasura. Timbul keinginan untuk menyeberang ke pihak sang kakak Raja Pakubuwana. Pangeran Arya Mataram segera membuat surat dan mengirim abdi kesayangannya yang bernama Wangsamenggala. Setelah diberi surat dan beberapa pesan utusan segera berangkat ke Salatiga.
Sesampai di Salatiga Wangsamenggala menemui Panembahan Madura. Setelah berhasil bertemu sang Panembahan semua pesan dan surat segera dihaturkan. Panembahan Madura sangat gembira mendengar penyerahan diri Pangeran Arya Mataram. Wangsamenggala segera dibawa menghadap kepada Sang Raja Pakubuwana di pondokannya.
Pada saat itu Sang Raja sedang berbincang dengan Patih Cakrajaya, Sujanapura, Wirancana, Wiransatika, Citrasoma dan Adipati Jangrana. Tak ketinggalan juga hadir Adipati Semarang Sura Adimanggala.
Berkata Sang Raja, “Wahai Ki Besan Semarang, kemarin pasukan Sampang dan Surabaya aku perkirakan kalah dalam perang berebut benteng. Karena itu aku bersegera menyusul. Kalau mereka terdesak aku hendak maju membantu.”
Jayapuspita berkata, “Para abdi paduka semua tak menoleh lagi ketika melihat musuh banyak. Kami bertekad terus maju bersama Dinda Panji dan Suradiningrat. Setelah kami mengamuk benteng berhasil kami jebol dan kami bertarung jarak dekat dengan mereka. Abdi paduka banyak yang terluka, dan pasukan Kartasura banyak yang tewas.”
Sang Raja sangat bersukacita mendengar penuturan Arya Jayapuspita. Ketiga panglima muda kemudian masing-masing diberi sebilah keris dan berbagai pakaian. Di tengah perbincangan hangat Panembahan Madura menghadap dengan membawa utusan Pangeran Arya Mataram.
Setelah menyembah dan duduk nyaman Panembahan berkata, “Hamba beritahukan, adik paduka Pangeran Arya Mataram telah mengirim utusan kepada hamba. Orang ini yang diutus.”
Sang Raja berkata, “Hai utusan, diutus apakah oleh Dinda Arya Mataram?”
Wangsamenggala menyembah dan berkata, “Hamba diutus oleh adik paduka untuk menghaturkan bakti dan hidup-mati adik paduka. Adik paduka hendak menyerahkan diri kepada paduka. Besok kalau pasukan paduka bertemu, adik paduka hendak pura-pura melawan dan kalah sehingga menyerah.”
Berkata Sang Raja, “Baiklah kalau begitu. Aku terima penyerahan Dinda Arya Mataram. Segera kembalilah dan katakan kepada tuanmu.”
Wangsamenggala menyembah dan segera lengser dari hadapan Sang Raja. Pagi hari berikutnya pasukan dari Semarang berangkat dari Salatiga. Bergemuruh suara para prajurit di sepanjang jalan, tiada beda dengan ketika berangkat dari Semarang dahulu. Formasi masing-masing panglima tetap seperti semula. Tuan Admiral Speelman menempati bagian dada. Kedua sayap ditempati Panembahan Madura dan Adipati Jangrana. Adapun panglima garis depan tetap ditempati dua saudara Adipati Jangrana, yakni Arya Jayapuspita dan Arya Surengrana dan putra Panembahan Raden Suradiningrat.
Sementara itu pasukan Pangeran Arya Mataram telah bergerak dari Baledug ke Kenteng. Kalau dilihat barisan pasukan Kartasura jumlahnya tak terbilang. Tidak lama kemudian pasukan Semarang datang. Kedua kubu segera terlibat pertempuran dahsyat. Pasukan Kartasura terdesak dan lari, seperti yang telah direncanakan oleh Pangeran Arya Mataram. Larinya pasukan Pangeran Arya Mataram menuju ke benteng Asem yang dipimpin Ki Tumenggung Wiraguna.
Sementara itu di benteng Asem Ki Wiraguna sudah bersiap menghadapi datangnya pasukan dari Semarang. Di benteng ini pula Sang Raja Mangkurat Mas akan memimpin jika pasukan pelapis sudah kalah. Para prajurit di benteng Asem sudah diberi hadiah dengan uang dan pakaian yang bagus. Mereka siap bertempur sampai mati. Sambil menunggu dengan harap cemas mereka berharap Pangeran Arya Mataram dapat mengatasi musuh. Karena sang pangeran kemarin sudah sanggup kepada Sang Raja. Pasti Pangeran Arya Mataram kokoh hatinya dan tak ragu lagi membela sang keponakan. Apalagi anak Pangeran Arya Mataram telah dinikahkan dengan putra Sang Raja. Raden Suryataruna memperistri Raden Ajeng Wulan. Jadi ikatan antara Pangeran Arya Mataram dengan Sang Raja sudah bukan lagi antara paman dan keponakan, tetapi antara ayah dan anak. Pasti melebihi ikatan antara kakak dan adik yang terjalin dengan Pangeran Puger di Semarang. Sangat mustahil Pangeran Arya Mataram berbalik menyeberang ke pihak musuh.
Di tengah penantian kabar dari pasukan Pangeran Arya Mataram tiba-tiba sang pangeran datang dengan tergopoh-gopoh bersama rombongan pasukannya.
Pangeran Arya Mataram berkata, “Wahai para prajurit Kartasura. Sekarang kalian semua bubar saja. Musuh datang dalam jumlah yang sangat besar. Aku tak mampu lagi melawan. Lebih baik kita kembali ke istana dan menyelamatkan Sang Raja.”
Tumenggung Wiraguna segera membubarkan barisan dan bergegas ke istana. Sesampai di istana bersama Pangeran Arya Mataram segera menemui Sang Raja Amangkurat Mas.
Di depan Sang Raja Pangeran menepuk dada dan berseru, “Anakku Sang Raja, si bapak ini celaka karena kalah perang di Baledug. Abdi paduka banyak yang tewas karena banyaknya musuh. Pasukan kita kalah jumlah. Pasukan mereka didukung pasukan Surabaya dan Madura serta pesisir. Juga pasukan Kumpeni dan prajurit bayaran dari seberang. Saya perkirakan sehari lagi mereka sampai di sini. Paman paduka rupanya sudah tak ingat dengan keponakan sendiri. Paman paduka sudah tertutup oleh keinginan untuk hidup mulia. Ibarat orang yang mengulum gula, terasa manis enggan memuntahkan. Kalau saja saya tidak segera mundur sudah pasti tewas. Mereka sudah kesetanan. Kalau si bapak ini sudah ikhlas kalau mati di medan perang, tetapi bagaimana dengan anakku Sang Raja. Maka saya segera kembali memberi kabar. Tekad mereka sudah ngawur. Saya mendengar sendiri pesan Cakraningrat dan Jangrana kepada para prajuritnya: Hai bocah, kalau engkau berhasil menangkap kerabat Kartasura, jangan dibunuh. Tapi telanjangilah dan naikkan ke atas kerbau dengan posisi terbalik. Kalau sampai Raja Amangkurat tertangkap, perlakukan yang sama.”
Sang Raja bergidik mendengar penuturan Pangeran Arya Mataram. Dengan gugup Sang Raja kemudian mengundang seluruh isi istana agar berkumpul. Sang Raja memutuskan untuk hengkang dari istana. Kelak bila berhasil menyusun kekuatan istana dapat direbut kembali. Sekarang yang penting menyelamatkan diri. Demikian tekad Sang Raja. Pangeran Arya Mataram sangat setuju. Pamrihnya agar sang keponakan segera pergi dari istana.
Berkata Pangeran Arya Mataram, “Paduka keluar dulu, saya berjaga di sini bersama Kanda Mas Panular dan Paman Natakusuma. Barangkali pasukan musuh mengejar. Mereka akan bapak tahan supaya paduka lebih leluasa menyelamatkan diri.”
Sang Raja semakin gugup, para istri saling menjerit. Dengan tergesa-gesa mereka mengambil apa yang bisa diraih. Pikirannya hanya mencari selamat secepatnya. Sudah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Raja kali ini begitu menurut. Melalu pintu selatan benteng istana Sang Raja keluar. Sambil berjalan Sang Raja menahan air mata. Para punggawa mengiringi kepergian raja mereka. Pada hari Kamis, tanggal tujuh Jumadilawal, tahun Jimawal, mangsa ketiga, Sang Raja lolos dari istana melalui Lawiyan. Perjalanan Sang Raja terus mengambil rute ke tenggara menuju Giyanti di tanah Kaduwang.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/09/11/105-raja-amangkurat-mas-hengkang-dari-keraton-kartasura/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar