Translate

Selasa, 17 September 2024

Babad Tanah Jawi (135): Kangjeng Ratu Kancana wafat

 Negeri Kartasura semakin banyak penghuninya. Tanda bahwa negeri ini semakin makmur sejahtera. Namun para pendatang merasa takut karena adanya Pangeran Purubaya. Sang Pangeran ibarat memegang jabatan patih. Semua pendatang menjadi sangat berhati-hati. Pangeran Purubaya begitu berpengaruh. Sanggup membuat orang sengsara dan mulia. Ki Patih Natakusuma ibarat hanya menjadi wakil saja. Kalah pengaruh dengan Pangeran Purubaya. Pangeran Purubaya juga sangat berani dalam mengubah aturan atau mengambil tindakan.

Kumpeni penjaga keraton dahulu bertempat di Sitinggil. Sudah berlaku sejak zaman mendiang sang kakek Kangjeng Sunan Pakubuwana. Sekarang digeser di barat Sitinggil oleh Pangeran Purubaya. Semua adipati kaget tetapi tak ada yang berani menyela. Semua takut dan turut. Ki Patih hanya bisa tertegun dan bengong. Namun dari situ kemudian ada alasan untuk bersepakat dengan para adipati senior. Mereka kemudian membuat kesepakatan dan rencana, tetapi belum berani mengungkapkan.

Sementara itu Kangjeng Ratu Kancana kembali melahirkan seorang putra perempuan. Namun sang putra tak berumur panjang. Setelah lahir tak lama kemudian berpulang. Sang permaisuri tak lama kemudian mengandung lagi. Selama mengandung Ratu Kancana banyak menderita. Selama itu pula Sang Raja merasa sedih. Selama permaisuri sakit warga berkabung dengan tidak menggelar pertunjukan dengan gamelan. Sunyi senyap seluruh negeri.

Para bupati sudah diperintah untuk mencari obat, tetapi tak jua derita permaisuri reda. Banyak dukun sudah didatangkan dari pelosok negeri, tapi tak mampu mengobati Sang Ratu. Banyak pertapa dan ulama didatangkan dari mancanagara untuk dimintai doa-doa, tetapi Sang Ratu tak kunjung membaik. Ketika sudah sampai waktunya permaisuri Kangjeng Ratu Kancana melahirkan putra laki-laki, tetapi si bayi tak lama kemudian meninggal dunia. Setelah melahirkan derita Ratu Kancana semakin menjadi. Sering permaisuri ditemukan dalam keadaan pingsan. Setiap hari datang dukun untuk menyembuhkan, tak ada yang ditolak. Namun tak satupun berhasil mengobati permaisuri.

Sang Raja sangat bersedih dengan keadaan permaisuri. Sang kakak permaisuri, Pangeran Purubaya siang malam selalu menjaga di istana.

Pada suatu hari permaisuri berkata kepada pangeran Purubaya, “Kanda, kalau kelak aku berpulang, Anda pensiunlah. Jangan mengambil pekerjaan.”

Pangeran Purubaya terdiam, hanya tersedu-sedu menahan tangis. Mendadak Sang Raja datang. Melihat Pangeran Purubaya menangis Sang Raja bertanya, “Kanda, ada apa ini?”

Pangeran Purubaya berkata, “Tidak ada perkembangan, hanya bisa sedikit bicara.”

Pangeran Purubaya menutupi apa yang dikatakan Sang Ratu. Tidak lama berselang Kangjeng Ratu Kancana sampai pada ajalnya. Pada hari Senin Legi, tanggal dua puluh satu bulan Besar, tahun Je Kangjeng Ratu wafat. Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan tahun: wruh rasa ngobahkên jagat[1]. Istana hujan air mata. Sang Raja sangat bersedih sampai tak mampu berkata-kata. Seluruh negeri merasa prihatin. Jenazah Sang Ratu segera dimandikan dan dikafani lalu dimakamkan di Mataram. Tiga wadana dan para panekarnya yang mengantar, Tumenggung Jayasudirga, Tumenggung Mangkuyuda dan Tumenggung Mangunnagara. Semua punggawa dikerahkan untuk mengiringi ke pemakaman. Waktu berangkat turun hujan rintik-rintik, seolah alam ikut bersedih dengan wafatnya Sang Ratu. Pepohonan tak ada yang bergerak, seolah tertegun menyaksikan peristiwa yang memilukan itu.

Sepeninggal Sang Ratu Kancana, Sang Raja selalu menyepi di tempat pemujaan. Ketiga putra tak diperkenankan mendekat. Berhari-hari Sang Raja berkabung. Namun segera Sang Raja sadar perannya sebagai hamba Tuhan dan sebagai khalifah di tanah Jawa. Sang Raja lalu memanggil abdi Suranata untuk mengadakan acara memuliakan kepada yang baru saja meninggal. Sang Raja juga sudah mulai tampil di hadapan para punggawa dan keluar di hari latihan keprajuritan. Hati orang seluruh negeri sudah tenang. Yang masih menjadi ganjalan kini negeri Kartasura tak mempunyai permaisuri.


[1] Sengkalan: wruh rasa ngobahkên jagat (1662 J.).


https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/10/12/babad-tanah-jawi-135-kangjeng-ratu-kancana-wafat/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANGKRIMAN

  BABAGAN CANGKRIMAN Kasusastran Djawa I Tugas Membaca Pemahaman BAB I PENDAHULUAN A.      Latar Belakang Cangkriman kuwi tetembungan utawa ...