Ada seorang putri dari sang paman yang diambil istri Sang Raja, namanya Raden Ayu Kusuma. Penampilannya cukup menarik, tetapi Sang Raja tidak berkenan. Putra sang paman itu masih saudara sepupu, anak dari Pangeran Herucakra. Meski sudah menjadi suami istri pernikahan mereka tak lestari. Para adipati menjadi sedih karena harapan untuk memiliki permaisuri pupus sudah.
Ada sepenggal cerita, Mangunoneng setelah dicopot sebagai bupati Pati dikaryakan sebagai panewu besar, ikut dengan Raden Arya Mlayakusuma. Mangunoneng kemudian dipanggil Pangeran Purubaya.
Pangeran Purubaya berbisik, “Hai Mangunoneng, engkau banyak wawasan. Di mana ada wanita yang cantik, yang kecantikannya melebihi orang senegeri. Dari pesisir sana. Syukur kalau keturunan orang mulia. Walau keturunan orang biasa, kalau cantik tak apa.”
Mangunoneng menyembah, “Duh paduka, sudah terlambat sekarang. Memang ada wanita cantik, samar-samar saya dengar dari Pati. Si wanita itu cucu dari pembesar di Giri, Raden Singasari yang gugur ketika kakek paduka Sunan Amangkurat menaklukkan Giri. Raden Singasari tewas oleh Panembahan Natapraja, seorang pangeran dari Kadilangu. Raden Singasari mempunyai anak yang juga bernama Singasari. Si Singasari menikah dengan wanita dari Pati. Anaknya yang tertua namanya Raden Ajeng Taman, wanita yang cantik di seluruh negeri. Tanpa tandingan kalau dicari orang di bumi ini. Dicari ke tiga dunia pun takkan ditemui bandingannya. Semua wanita di tanah Jawa ini hanya pantas menjadi pembantunya. Namun sayangnya dia sudah berumah tangga. Hanya diberi seserahan delapan ratus koin. Suaminya saudara dari Ngabei Trebaya.”
Berkata Pangeran Purubaya, “Walau demikian, ambillah dengan tipudaya. Bunuhlah suaminya. Kalau terlaksana dia akan menjadi janda kembang. Aku berani menghaturkan kepada Sang Raja. Pantas dia menjadi pengganti permaisuri. Kalau benar katamu cantiknya mengalahkan orang sedunia. Segera laksanakan perintahku.”
Mangunoneng diberi uang dua ratus riyal. Boleh dipakai sekehendaknya untuk memuluskan rencana.
Berkata Pangeran Purubaya, “Syukur bila engkau sendiri yang turun tangan membunuh suami Raden Ayu Taman. Aku beri engkau negeri Jepara dan menjadi wadana bagi orang pesisir ke kanan, tempat Ki Citrasoma.”
Ki Mangunoneng keluar dari kediaman Pangeran Purubaya lalu segera berangkat ke negeri pesisir. Mangunoneng tidak mau melakukan sendiri. Dia kemudian mencari pembunuh bayaran. Dengan uang seratus riyal dia mencari durjana yang bisa melakukan eksekusi. Namun walau Mangunoneng telah membayar tak kunjung mendapatkan hasil.
Ki Citrasoma lalu mendengar adanya permufakatan Mangunoneng dan Pangeran Purubaya itu. Kalau terlaksana tak urung anak cucunya melarat karena wilayahnya akan diambil. Ki Citrasoma lalu membuat sayembara diam-diam dengan hadiah lima ratus riyal kepada yang bisa membunuh Raden Ayu Taman. Seorang durjana dari Jepara menyatakan sanggup. Setelah waktu Isya dia pergi ke Trebaya dan masuk ke rumah Raden Ayu Taman. Sesampai di dalam dia segera menikam Raden Ayu Taman dan tewas seketika. Tujuan Ki Citrasoma melakukan itu adalah agar negeri Jepara tak diambil darinya. Karena dia sudah mengetahui permufakatan Pangeran Purubaya dengan Mangunoneng.
Pangeran Purubaya mendengar perihal tewasnya Raden Ayu Taman. Malah suaminya tidak meninggal. Pangeran Purubaya berpikir pasti akan terbongkar permufakatannya dengan Mangunoneng. Mangunoneng dipanggil dan dipecat sehingga terlunta-lunta hidupnya.
Peristiwa ini tak urung menyebar di kalangan orang pesisir. Mereka semakin berburuk sangka kepada Pangeran Purubaya. Apalagi ada peristiwa lain di pesisir yang membuat heboh. Ada seorang abdi Pangeran Purubaya yang disuruh membuat rusuh di Tuban, namanya Dipasana. Namun si Dipasana ini kurang pintar dalam membuat siasat. Dia hanya bisa mengamuk kalau malam hari, menyerang desa-desa pinggiran. Adipati Tuban Suradiningrat mendengar kalau yang mengamuk adalah Dipasana, seorang magang di tempat Pangeran Purubaya. Suradiningrat lalu menempatkan prajurit di desa. Ketika Dipasana menyerang desa dia ditangkap dan dibawa ke kota.
Adipati Citrasoma dan Jayaningrat sudah sepakat untuk mengadu kepada Ki Patih Natakusuma. Orang-orang sudah tak tahan dengan segala perbuatan Pangeran Purubaya. Ki Patih merasa kalau hanya diam saja akan semakin rusak keadaan orang Jawa. Ki Patih lalu berupaya memakai tangan Kumpeni untuk mengatasi Pangeran Purubaya. Mereka berusaha agar Kumpeni bertindak. Alasannya Kumpeni pun juga dirugikan. Dulu awalnya mereka menempati Sitinggil sebagai pos jaga. Sekarang dilengserkan tempatnya. Kalau Pangeran Purubaya dibiarkan ibarat memelihara musuh, karena perbuatannya serba ngawur. Asal tabrak saja. Kumpeni tanggap akan dibawa dalam siasat para punggawa untuk menyingkirkan Pangeran Purubaya, maka mereka bertindak hati-hati. Kumpeni tidak mau grusah-grusuh. Sementara itu Patih Natakusuma telah menghadap Sang Raja dan melapor bahwa di Tuban ada orang berbuat rusuh.
Berkata Ki Patih, “Hamba menerima surat dari Kumendur Semarang kalau adik paduka Pangeran Purubaya melepas orang gila. Semua orang pesisir merasa takut paduka. Yang diperintah adalah Dipasana di Tuban. Sebaiknya Dipasana segera paduka panggil dan diadu melawan macan. Dia telah berbuat keburukan yang besar.”
Sang Raja menuruti laporan Ki Patih. Dipasana diminta oleh Sang Raja kepada Pangeran Purubaya. Pangeran sangat kaget ada permintaan seperti itu tanpa melalui Kapatihan. Namun dia segera percaya diri.
Ketika pisowanan hari Senin, Sang Raja mengadakan acara adu macan. Dipasana dan teman-teman sejumlah tujuh orang dipanggil ke gelanggang. Namun mereka membawa keris Pangeran Purubaya sehingga petugas takut mengambil. Dengan mudah mereka berhasil membunuh macan dan ketujuh orang itu bebas.
Pangeran Purubaya terlanjur jengkel. Malam hari berbincang dengan para punggawanya. Ada Patih Sumawicitra dan Candrawilasita. Juga ada Mas Gandakusuma, anak bupati Banyumas Tumenggung Yudanagara. Gandakusuma namanya dulu Mas Konthing. Juga ada Trunanggadara dan Ki Sutayuda.
Pangeran berkata, “Bagaimana diriku ini, kehendak Sang Raja aku harus bagaimana. Orang Jawa itu tidak bisa diajak berbuat baik. Kalau dihukum atas kesalahannya malah salah terima. Lalu membalas dengan keburukan.”
Ki Sutayuda menyembah, “Paduka, orang Kartasura sekarang menganggap paduka telah membuat susah. Ibarat kulit tergores kelak negeri ini akan berubah menjadi koreng yang membusuk.”
Pangeran Purubaya tertawa, “Ya, semoga ini menjadi jalan derajatku dinaikkan Tuhan Yang Maha Mulia. Sudah mentok orang Jawa itu diajak kepada kebaikan tak mau. Bupati itu semua durjana, kalau mencuri tepergok diingatkan malah menombak dan tak terima. Memang kehendaknya perbuatan buruknya dibiarkan menjadi-jadi.”
Semua yang diajak bicara malam itu tak dapat tidur. Siang harinya Pangeran menggelar aneka jamuan untuk orang yang datang. Semua tersaji di halaman. Tak lama datang Raden Mas Said yang masih bocah sedang berjalan-jalan dari puri bersama para pembantunya. Sesampai di rumah sang paman Raden Mas Said dipanggil.
Berkata Pangeran Purubaya, “Mendekatlah, duduk di sini.”
Raden Mas Said lalu disuruh berdiri di depan Pangeran Purubaya. Lalu disuruh duduk lagi. Tangan Pangeran Purubaya dimasukkan ke mulut Raden Mas Said. Pangeran Purubaya tertawa. Waktu itu ada Ki Megasutayuda, Sumawicitra dan Gandakusuma dan para tetua.
Berkata Pangeran Purubaya, “Bocah ini kelak akan menjadi prajurit andalan. Akan menjadi panglima besar yang tangguh dalam perang.”
Para prajurit Kapurubayan melihat si raden yang diramal. Mereka berbisik-bisik dengan teman-temannya menanggapi ramalan. Sepertinya mereka kurang yakin. Pangeran Purubaya menjadi sebal. Raden Mas Said pulang, bertiga bersama saudaranya. Keadaannya sungguh memprihatinkan. Sehari-hari hanya bersama para pembantunya. Semua pekerjaannya tak dilakukan di dalam puri. Dia menjadi tersingkir oleh perbuatan anak-anak orang yang berambisi, yang mencari belas kasih Sang Raja.
Di Pati, suami Raden Ayu Taman mendengar kabar bahwa kematian istrinya akibat permufakatan yang dibuat Pangeran Purubaya. Dia segera berpamitan kepada orang tuanya meninggalkan rumah. Sudah mengucap sumpah di depan kerisnya, Kyai Kasur, peninggalan Adipati Martalaya, aku takkan pulang kalau keris Kyai Kasur ini tak menancap di perut Purubaya. Saudara-saudaranya menangisi kepergiannya, tapi kehendaknya tak dapat dicegah lagi. Dengan berkelana dan bertapa di gunung dia berharap mendapat ajian panglimunan, supaya dapat menikam Purubaya tanpa terlihat. Dan juga selalu dia meminta kepada Tuhan agar yang telah berbuat susah mendapat balasan. Dia bertapa sampai di tepi samudera dan bertemu dengan sesama orang susah.
Lain cerita, Ki Kanduruan wedana Sewu meninggal dunia karena sedih kudanya dibunuh atas perintah pangeran Purubaya. Pada pisowanan hari Senin si kuda ditikam ramai-ramai. Jenazah Kanduruan sudah dipulasara dan dimakamkan. Yang menggantikan kedudukannya adalah Garwakanda, keponakan Wiraguna.
https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2022/10/13/babad-tanah-jawi-136-raden-ayu-taman-seorang-cantik-dari-pati/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar